Atap Yang Kau Janjikan

Atap Yang Kau Janjikan
Bagian 49 - Sekali Tepuk, Dua Nyamuk


__ADS_3

Megumi melemparkan tas dan kunci mobilnya ke sembarang arah.


Membuka pintu lemari es , dan meneguk satu botol air mineral.


Tidak lama , terdengar suara pintu depan dibuka. Haidar yang baru saja pulang dari sekolah dengan Bi Lilis.


"Mama tidak ada urusan penting?" Haidar menghambur ke pelukan Megumi.


"Ya. Mama menemani Haidar hari ini." Megumi tersenyum cerah. "Cuci tangan dan kaki, ganti bajumu , lalu mama temani makan siang." titahnya menurunkan Haidar dari gendongannya.


Anak itu mengangguk lalu berlari riang. Megumi menatapnya sayang , menghela napasnya pelan.


Jika begini terus , Aurorae dan anak-anaknya benar-benar akan merebut semua perhatian Mas Juno.


Tidak. Aku tidak boleh diam saja.


Megumi terus membatin , menyugar rambutnya kasar. Suasana hatinya sedang tidak baik.


Berhari-hari Herjuno tidak pulang, dan tadi saat ia menemuinya di kantor , pria itu seperti enggan berbicara lama.


Dan Satya , semalam mengirim pesan jika hari ini ia akan keluar kota.


Haidar datang dengan setengah berlari setelah mengganti baju seragam sekolahnya dengan yang lebih santai. Megumi menyambutnya dengan senyuman.


"Sudah cuci kaki dan tangan?" tanyanya membantu Haidar duduk dengan benar disampingnya.


"Hum. Sudah." Anak itu memainkan kedua tangannya diatas meja.


Di saat yang sama , terdengar suara bel dari pintu depan.


"Baiklah. Haidar tunggu disini. Mama akan minta Bi Lilis menyiapkan makan siang."


Megumi berlalu ke dapur setelah Haidar mengangguk. Ia meminta Bi Lilis menyiapkan makanan , lalu berjalan ke depan membuka pintu.


Seorang kurir menyerahkan sebuah amplop dengan logo pengadilan.


Megumi mendelik. Jantungnya berdebar kencang. Ia meremat kuat surat itu.

__ADS_1


Apa Mas Juno akan menceraikanku?


Tidak , kan?


Megumi terduduk lemas di sofa ruang tamu. Dengan gemetar tangannya membuka isi amplop dan membacanya.


Sesaat kemudian , wajahnya tersenyum cerah.


Memang surat panggilan sidang cerai , tapi bukan untuknya , melainkan untuk Herjuno.


Disana tertulis jelas bahwa Herjuno menggugat cerai Aurorae.


Rasanya Megumi ingin melompat dan berteriak saking senangnya. Ia memasukkan kembali surat ke dalam amplop, lalu masuk menghampiri putranya untuk makan siang.


Suasana hatinya jauh lebih baik.


**


Malam harinya, Herjuno benar-benar menepati janji untuk pulang ke rumah Megumi. Setelah makan malam , Herjuno menemani sebentar Haidar bermain lalu masuk ke dalam kamarnya saat Haidar sudah tertidur.


"Aku merindukanmu." ucapnya lagi.


Herjuno mengernyit. Siang tadi saat datang ke kantor Megumi seakan ingin menelannya hidup-hidup. Cepat sekali amarah wanita ini mereda.


Lihatlah penampilannya.


Istrinya itu seperti sengaja menggodanya. Hanya berbalut sebuah baju tidur tipis setengah paha yang Herjuno yakin tidak ada kain apapun lagi di baliknya.


Harum tubuhnya semerbak , dan rambut panjang yang terurai semakin membuat Megumi terlihat menggairahkann.


Tapi Herjuno bergeming , semua itu seperti tidak membuat hasrattnya terpancing keluar.


Herjuno mendorong tubuh Megumi untuk melepaskan diri.


"Aku sangat lelah. Biarkan aku istirahat." Ia melangkah malas ke arah ranjang dan merebahkan tubuhnya begitu saja.


Megumi memicing kesal , tapi sekuat tenaga ia coba menahan amarahnya.

__ADS_1


"Mas , ada surat panggilan dari pengadilan." Megumi mengedikkan dagu ke arah meja kecil di samping tempat tidur.


Herjuno hanya bergumam pelan lalu membalikkan tubuhnya memunggungi Megumi yamg masih berdiri.


"Kenapa tiba-tiba menggugat cerai Aurorae? Bukankah kau sangat mencintainya?" Megumi benar-benar tidak bisa membaca situasi. Sudah jelas Herjuno enggan berbicara dengannya.


"Apa lagi. Tentu saja karena perselingkuhan. Kesalahan apapun akan aku maafkan , kecuali yang satu itu. Terlebih , jika sampai menghasilkan seorang anak." Herjuno menjawab tanpa membalik badannya. Berharap Megumi berhenti.


Megumi menahan senyumannya.


Ah apa Mas Juno menemukan hasil tes DNA itu.


"Aurorae berselingkuh? Anak kembar itu bukan anakmu?" Ia masih saja ingin tahu lebih banyak meski Herjuno jelas terlihat enggan.


Herjuno membalik tubuhnya. Dahinya mengernyit.


"Kau tahu Aurorae melahirkan anak kembar?" Rasanya ia tidak pernah memberitahu Megumi soal itu.


Megumi mendelik terkejut. "Ah ya , aku tahu." suaranya mendadak gugup.


Melihat Herjuno yang masih mengernyit seperti menuntut jawaban lebih , Megumi membuka suaranya lagi.


"Sebenarnya.. beberapa bulan lalu temanku mengirim sesuatu. Tapi aku takut memberitahumu Mas." ia harus cepat mencari alasan.


"Apa?" Kali ini Herjuno duduk bersandar di atas ranjang.


Megumi meraih ponselnya lalu duduk di samping Herjuno.


"Ini. Temanku bekerja di rumah sakit , dia yang mengambil foto itu. Ia bertanya bukankah wanita di foto itu adalah istri keduamu? Kenapa dia datang dengan laki-laki lain ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungannya." Megumi menjeda sejenak ucapannya.


Ia memperhatikan raut wajah Herjuno yang menegang. Terlihat jelas pria itu sangat marah. Bagaimana tidak? Ia melihat di foto itu Aurorae yang sedang hamil besar tersenyum lebar di samping Farhan yang juga memamerkan deretan giginya. Latar foto itu diambil jelas adalah ruang tunggu rumah sakit.


"Temanku itu juga yang memberitahu kalau Aurorae melahirkan bayi kembar. Maaf , Mas. Temanku tidak bermaksud apapun. Dia hanya memberitahu." Megumi mencoba menyelamatkan dirinya sendiri sekaligus menjatuhkan Aurorae.


Sekali tepuk, dapat dua nyamuk.


**

__ADS_1


__ADS_2