Atap Yang Kau Janjikan

Atap Yang Kau Janjikan
Bagian 8 - Resign


__ADS_3

“Menikahlah denganku. Ku mohon .. “


Herjuno menatap Aurorae lekat.


“ Apa ini Pak Juno? Bukankah tadi kita sudah sepakat, untuk mengakhiri semuanya dengan baik-baik? Aku bahkan belum memulai hidupku yang damai, dan kau sudah kembali mengusikku. Aku akan pura-pura tidak mendengar ini. Permisi..” Aurorae berbalik. Hendak melangkah lagi.


“ Rae... melepaskanmu tadinya aku pikir tidak apa. Tapi ternyata , melihatmu bersama dengan laki-laki lain bukan hal yang mudah untuk aku tangani. Ku mohon Rae.. jangan begini.” Tanpa disangka, Herjuno meneteskan air mata. Aurorae bergeming. Ia tidak menoleh lagi. Digenggamnya erat tangan Farhan, lalu beranjak pergi dari sana menuju lift yang akan membawa mereka ke lantai tiga.


Herjuno menatap punggung Aurorae nanar.


Saat pintu lift tertutup, Aurorae luruh ke lantai. Kaki yang sedari tadi berusaha berdiri tegak , akhirnya menyerah. Ia terisak , memeluk kedua lututnya.


“Rae...” Farhan berjongkok , mengusap bahu Aurorae pelan.


“Han.. biarkan aku begini sejenak. Setelah ini, aku janji akan melupakan semuanya.” Potong Aurorae cepat.


**


Sudah satu jam Megumi menatap keluar jendela kamar hotelnya dengan air mata yang tidak berhenti keluar. Satu jam lalu, ia keluar dari kamar berniat menunggu kepulangan suaminya di lobby hotel. Berharap dengan begitu, bisa sedikit memperbaiki hubungannya dengan Herjuno. Tapi apalah daya , sepertinya hanya dia yang ingin memperbaiki rumah tangganya. Herjuno tidak. Dia melihat suaminya memohon agar wanita itu, Aurorae, tidak meninggalkan nya. Herjuno bahkan meminta Aurorae untuk menikah dengannya. Megumi terpaku , saat Aurorae bahkan sudah beranjak pergi. Hatinya sakit sekali. Diapun kembali ke kamarnya dengan diam-diam. Akan berpura-pura tidur agar Herjuno tidak membahas soal pernikahan lagi. Tapi tidak seperti dugaannya , Herjuno bahkan tidak kembali ke kamarnya. Entah kemana dia , sudah satu jam berlalu.


-“ Saat kau meminta Aurorae menikah denganmu, apa kau tidak mempertimbangkan perasaanku Mas?”- gumam Megumi seorang diri.


**


Sudah dua hari Herjuno dan Megumi kembali ke rumah sejak Rakernas berakhir , dan sejak itu pula Megumi menghindarinya. Tidak lagi menyapanya hangat , bahkan tersenyum pun tidak. Tapi Herjuno tidak peduli. Libur dua hari yang diberikan perusahaannya terasa sangat lama, ia ingin segera ke kantor , agar bisa melihat wajah Aurorae. Saat ini , hanya Aurorae yang memenuhi pikirannya.


Sedang apa dia.


Apa dia banyak menangis.


Apa dia masih marah padaku.


Kenapa dia tidak pernah membalas pesan atau menjawab telponku.


Apa dia merindukanku.


Herjuno mendesah frustasi. Dia benar-benar merindukannya. Dia bahkan tidak peduli pada perubahan sikap Megumi. Atau mungkin malah tidak menyadarinya sama sekali.


“Papa... Haidar ingin pesawat terbang , apa boleh?” Suara nyaring Haidar memecah lamunannya. Herjuno menoleh, mengernyitkan keningnya.


“Pesawat terbang?”


“Hem , ayo kita beli.”


“Kan Haidar sudah punya bukan pesawat terbang?”


“Tapi tidak bisa terbang. Haidar ingin yang seperti milik Dito, yang benar-benar bisa terbang. Pakai remote.”


“Ah , baiklah. Ayo kita beli. Dimana Dito membelinya?”


Herjuno mengangkat tubuh Haidar ke pangkuannya. Mengusap lembut kepalanya.


“Di Mall.”


“Mau pergi sekarang?”


Haidar mengangguk cepat dan tersenyum lebar. Ia melompat dr pangkuan Ayahnya , berlari ke dapur menuju Ibunya.


“Mama , ayo kita pergi ke mall. Haidar ingin pesawat terbang.” Ucapnya menarik narik sisi kanan rok ibunya.


“Pergilah dengan Papa.” Megumi menunduk menatap putranya tersenyum.


“Mama tidak ikut?”


“Tidak.”

__ADS_1


“Kenapa? Mama mau kemana?”


“Tidak kemana-mana. Mama dirumah saja.”


“Apa mama lelah?”


Megumi menangguk tersenyum.


“Kalau begitu, besok saja ke mall nya.” Ucap Haidar pelan, menunduk lesu.


“Tidak apa-apa, pergilah dengan Papa. Besok Papa sudah mulai masuk kerja , tidak akan sempat.”


Ucapnya mengusap pelan pipi putranya.


“Ayo pergi dengan papa saja berdua. Biarkan Mama istirahat dirumah.” Herjuno yang sedari tadi memperhatikan anak dan istrinya , menghampiri.


Megumi berdiri , memalingkan muka. Dan Herjuno benar-benar tidak peduli.


**


Aurorae mematung di depan pintu kamarnya. Menatap lurus ke arah ruang keluarga , dimana Ayahnya sedang duduk termenung sembari memeluk sebuah bantal sofa. Dia melangkah mendekat, tapi semakin dekat , semakin ia gelisah. Jantungnya berdebar , langkahnya gemetar.


“Ayah..” sapanya pelan saat tinggal selangkah di samping Ayahnya.


Lelaki paruh baya itu menoleh. Sudah nampak jelas keriput di kedua sudut matanya, yang saat tersenyum keriputnya jadi terlihat semakin jelas.


“Kemarilah. Kenapa keluar? Istirahat saja.” Gumilar mengulurkan tangannya.


Aurorae menjatuhkan bokongnya di sofa yang sama.


“Ayah..” ucapnya lagi. Kali ini lebih pelan. Dan tidak berani menatap wajah Ayahnya.


“Katakan. “ Gumilar tahu , ada yang salah dengan putrinya.


“Apa... tidak apa-apa kalau Rae resign dari kantor?”


“Benar tidak apa-apa?” kali ini Aurorae memberanikan diri mengangkat wajahnya.


Gumilar mengangguk.


“Ayah tidak bertanya alasannya?”


“Apa kau bersedia memberitahu Ayah?”


“Sepertinya.. tidak.” Aurorae menunduk lagi.


“Baiklah.” Gumilar mengusap lembut kepala putrinya.


Aurorae tahu, Ayahnya tidak akan menyelidik. Sebagai pensiunan TNI Angkatan Udara Gumilar tidak terbiasa berbasa-basi . Ucapannya selalu tegas , dan tepat pada intinya.


“Ayah.. kontrak kerja Rae tersisa enam bulan lagi. Rae akan bertahan sampai saat itu. Setelah itu Rae akan resign, bagaimana kalau kita kembali saja ke kampung halaman Ayah? Rae bisa memulai bisnis kecil disana.”


“Jika kau tidak nyaman , berhenti saja sekarang. Untuk apa menunggu enam bulan?”


“Tidak bisa. Rae harus membayar penalti kalau begitu.”


“Bayar saja. Memang berapa?”


“Rae akan bekerja saja, Yah. Enam bulan tidak akan lama. “


Gumilar menatap putrinya lama. Lalu kembali mengelus puncak kepalanya.


“Rae.. Ayah menyayangimu. Dan Ayah mempercayaimu. Keputusan apapun yang kau buat, Ayah tahu kau tidak akan gegabah.” Gumilar menjeda ucapannya sejenak.


“Karenanya, kau juga bisa mempercayai Ayah. Apapun yang sedang kau risaukan , kau bisa memberitahu Ayah segalanya.”

__ADS_1


Aurorae terisak.


“Ayah...”


“Tidak apa-apa. Menangis saja. Ceritakan semua saat kau siap.”


“Rae ingin pindah saja dari kota ini, Yah.. “


“Baiklah. Semua yang kau mau.”


“Rae tidak ingin bertemu lagi dengan Mas Juno, Yah..”


“Herjuno? Kenapa?”


Aurorae mendongakkan kepalanya. Menatap mata Gumilar yang mulai terbaca kemarahannya. Dia tahu, laki-laki yang namanya baru saja ia sebut, pasti telah melukai putrinya.


Aurorae mulai menceritakan semua. Selama ini Gumilar hanya tahu jika Aurorae memiliki kekasih, Herjuno. Tapi tentang Herjuno yang sudah beristri, dia sama sekali tidak tahu. Kali ini Aurorae tidak ingin lagi menyembunyikan apapun dari Ayahnya. Dia katakan semua , tentang Herjuno yang sudah menikah dan memiliki seorang putra , tentang Herjuno yang mengaku sedang dalam proses perceraian , dan tentang semua yang terjadi sejak ia membongkar hubungannya di hadapan Megumi.


Aurorae semakin terisak. Ia tahu, Ayahnya pasti kecewa.


Gumilar mendekap putrinya erat. Membiarkan Aurorae menumpahkan semua air matanya.


“Terimakasih karena tidak terlambat menyadari kesalahanmu, Rae. Karena itukah kau ingin keluar dari perusahaan?”


Aurorae mengangguk.


“Keluarlah segera. Ayah akan urus kepindahan kita.”


“Tapi, Yah..”


“Segera Rae. Perasaanmu bisa jadi semakin memberatkanmu. Lakukan ini bukan untuk menjaga keutuhan rumah tangga orang lain. Tapi untuk dirimu sendiri.”


**


“Tita , bawa laporan penjualan bulan ini ke ruangan saya.” Herjuno datang lebih siang dari biasanya. Energinya benar-benar terkuras karena pertengkaran dengan Megumi setiap pagi.


“Baik Pak.” Tita, salah satu staf Herjuno di Divisi Marketing mengangguk. Segera meraih laporannya dan mengekori Herjuno.


“Andra , marketing baru kita itu, bagaimana menurutmu?” tanya Herjuno, saat mereka sudah berada di dalam ruangannya.


“Sepuluh hari pertama ini dia sudah menjual empat unit tipe 2 pak. Cukup bagus untuk pemula.”


“Pantau terus sampai dua bulan kedepan. Apa dia tahu masa percobaannya tiga bulan, sebelum diangkat menjadi karyawan tetap?”


“Iya Pak.”


“Bagus. Realisasikan rencana promosi yang sudah di sepakati direksi di Rakernas kemarin, dan laporkan progresnya pada saya setiap akhir pekan.” Herjuno masih terus sibuk membolak balik laporan yang tadi dibawa Tita.


Tita mengangguk. Sebagai staff leader , yang posisinya tepat dibawah Herjuno, ia sudah terbiasa menerima perintah langsung.


“Ah, dan minta Aurorae ke ruangan saya sekarang.” Lanjut Herjuno sebelum Tita benar-benar keluar dr ruangannya.


“Maaf Pak, Aurorae sudah resign per hari ini. Pagi tadi dia datang menyerahkan surat pengunduran diri langsung ke HRD.”


“Resign?”


Tita mengangguk.


“Per hari ini? Bukannya dia masih terikat kontrak beberapa bulan lagi?”


“Iya Pak , sepertinya mendesak. Jadi dia tidak bisa menunggu.”


Herjuno mengangguk. Mempersilahkan Tita keluar dengan isyaratnya.


Hatinya berdebar hebat. Apa ini. Aurorae mengundurkan diri tanpa bicara apapun padanya. Apa untuk menghindarinya?

__ADS_1


Perlahan ,air matanya tumpah. Herjuno Ardhi, menangisi kehilangannya.


**


__ADS_2