
Aurorae mengangguk samar. Hanya sebuah anggukan , itupun tidak terlihat jelas tapi seolah bisa mengangkat beban berat di hati Herjuno.
Herjuno yang sejak tadi cemas dan gelisah , mendadak tubuhnya sangat ringan. Ia menyandarkan punggungnya seolah-olah terlepas dari kekangan.
"Tidak apa-apa kan Mas?" tanya Aurorae karena Herjuno tidak mengatakan apapun.
"Sejak kedatangan Mbak Dea terakhir kali , aku mulai memikirkan sarannya untuk mempertimbangkan apa harus kembali ke Bandung atau tidak. Sepertinya anak-anak menginginkan hal yang sama. Jadi aku dan Ayah berpikir akan lebih baik jika kami pindah ke Bandung."
"Terima kasih Rae. Terima kasih. Meski bukan aku yang menjadi pertimbanganmu , aku tetap berterima kasih." Herjuno menatap dalam manik mata Aurorae.
"Aku memang mempertimbangkan dirimu, Mas. Ku pikir anak-anak butuh waktu lebih banyak bersama Ayahnya. Jika kami tetap tinggal disini, kalian akan kurang leluasa bertemu." jelas Aurorae lagi.
"Terima kasih. Aku bersungguh-sungguh. Kau tahu, aku selalu ingin lebih sering menghabiskan waktu bersama anak-anak. Tapi waktuku terbatas. Dua bulan lalu aku bahkan sudah mengajukan mutasi ke Surabaya, tapi itu di tolak." Mata Herjuno sudah berkaca-kaca. Sekali saja ia berkedip, pasti akan langsung tumpah.
"Mas , maaf. Aku pikir selama ini tidak masa--"
"Sejujurnya aku tidak punya keberanian meminta lebih padamu dan Ayah. Kalian sudah sangat bermurah hati. Aku akan jadi tidak tahu diri jika banyak mengeluh." potong Herjuno cepat , ia tidak ingin Aurorae merasa bersalah.
**
Satu bulan setelah kedatangan Herjuno di Surabaya, Aurorae beserta seluruh penghuni rumah benar-benar pindah ke Bandung.
Mereka menempati rumah yang selama ini di tempati Herjuno, rumah yang ia beli dulu di awal pernikahan mereka.
Aurorae ingin menolak , tapi Herjuno memaksa. Rumah ini dari awal memang Herjuno beli untuk Aurorae.
Sekarang, Herjuno tinggal tidak jauh dari sana. Hanya beberapa menit dengan mengendarai mobil.
__ADS_1
Aurorae menghela napas pelan. Kamar utama , benar-benar tidak berubah. Warna catnya , tatanan furniture nya, aroma pewanginya , bahkan foto pernikahannya dengan Herjuno masih menggantung di salah satu dindingnya.
Apa lagi yang kau harapkan, Mas. Kita sudah lama selesai.
Aurorae turun ke bawah setelah memanggil anak-anak di kamar mereka masing-masing.
"Ibu , jadi dulu saat bayi kami tinggal disini?" Ryana bergelayut di lengan Aurorae sembari menuruni tangga.
"Hum , sampai kira-kira usia enam bulan."
"Kamar Ryana beraroma bayi." Ryan berjalan mendahului adik dan Ibunya.
Ryana mengangguk membenarkan. Saat baru masuk tadi, ia memang mencium aroma khas wangi bayi yang menyengat. Harum sekali.
Aurorae mengernyit. Kamar yang ditempati Ryana sekarang memang kamar yang dulu di tempati anak-anak saat bayi. Tapi tidak mungkin kan , aroma mereka masih tertinggal bahkan setelah delapan tahun berlalu.
Atau Herjuno sengaja memilih aroma bayi untuk pewanginya.
"Ibu , makan malam nanti boleh kita undang Ayah?" Ryana menatap lagi Ibunya.
Aurorae mengangguk. "Bukan masalah besar, rumah Ayah tidak jauh dari sini."
"Ryana senang sekali. Kita bisa lebih sering makan bersama Ayah. Terima kasih Ibu." gadis itu berlari menjauh untuk melihat halaman belakang.
Rumah ini, tidak berbeda jauh dengan yang mereka tinggali di Surabaya. Di bawah , ada satu kamar yang di tempati Bi Izza. Ada halaman belakang juga yang cukup untuk seisi rumah berkumpul santai sambil bercengkrama.
Sedangkan diatas , ada empat kamar yang masing-masing ditinggali Aurorae, Gumilar, Ryan dan Ryana.
__ADS_1
Aurorae menatap punggung putrinya nanar. Hatinya mendadak seperti diremas. Melihat Ryana begitu senang , ia merasa bersalah kenapa butuh waktu lama untuk kembali ke kota ini.
**
"Ayah , terima kasih rumahnya. Ryana senang sekali kembali ke sini, kata Ibu kami dulu tinggal disini sampai usia enam bulan." Ryana berceloteh riang selama makan malam.
Mata Herjuno sudah berkaca-kaca. Rumah ini memang milik Aurorae dan anak-anak, putrinya itu mengucapkan terima kasih karena kembali kesini , tanpa mereka tahu dia lah yang delapan tahun lalu menyebabkan mereka semua pergi.
"Rumah ini memang milik Ibu dan kalian. Ayah hanya merawatnya." Herjuno melirik Aurorae sekilas yang nampak tidak ingin menanggapi.
"Setelah ini, Ayah harus lebih sering makan bersama kami. Benar kan Abang?" Ryana menoleh menatap Ryan disampingnya.
Ryan mengangguk sebal. "Kau ini cerewet sekali, sudah berapa kali Ibu bilang itu bukan masalah karena rumah Ayah dekat dari sini."
Herjuno terkekeh. "Benar , sangat dekat bahkan bisa dengan berjalan kaki."
Herjuno menoleh menatap Aurorae di sampingnya.
"Terima kasih." ucapnya saat Aurorae membalas tatapannya.
"Apa kau tidak bosan mengucapkan terima kasih?" kali ini Gumilar yang menjawab untuk mencairkan suasana.
Herjuno terkekeh. "Terima kasih saja rasanya belum cukup, Ayah tahu itu." ia menatap Gumilar dengan perasaan yang sama. Terima kasih.
"Cukup lebih sering datang, Ayah. Maka Kakek dan Ibu akan senang. Benar kan , Bu?"
Uhuk. Uhuk. Aurorae terbatuk-batuk mendengar kalimat spontan Ryana.
__ADS_1
Senang dia bilang , dasar anak itu.
**