
Herjuno kembali merebahkan dirinya di atas ranjang. Wajahnya terlihat pucat dengan kantung mata yang menggelap.
"Sudah ku bilang tidak usah menemani Haidar bermain, dia pasti mengerti jika Papanya lelah." Megumi mengulurkan segelas air putih lalu berbalik untuk mengunci pintu.
Setelah mandi tadi , mereka bergegas makan malam. Dan setelahnya , Herjuno masih sempat menemani Haidar dan Zhafran bermain.
Herjuno menatap Megumi yang membereskan beberapa barang di atas meja riasnya. Istrinya itu sangat cantik , banyak teman-teman nya yang mengatakan ia beruntung menikahi Megumi. Cantik , lembut , kembang kampus.
Lihatlah di usinya yang sudah dua puluh delapan tahun, Megumi masih terlihat seperti mahasiswi tingkat awal.
Pernikahannya bisa dibilang sempurna sebelum Aurorae hadir. Ia memiliki istri yang cantik , putra yang pintar , dan hidup yang berkecukupan meski tidak sangat kaya raya. Apa lagi?
Semua orang pasti mengatakan ia tidak tahu diri, sehingga memilih menikah lagi di usia yang masih muda.
Ya meski Aurorae juga sangat cantik , tapi Megumi tidak kurang satu apapun.
Tapi orang lain tidak bisa melihat keseluruhan apa yang ada di dalam rumah tangganya. Dan Herjuno, tidak pernah menyesali keputusannya menikahi Aurorae.
"Kemarilah. Apa yang kau kerjakan?" Herjuno menepuk pelan sisi kanan ranjangnya.
"Beberapa make up milikku sudah kadaluwarsa. Aku memilahnya." jawabnya tersenyum sembari berjalan mendekat.
Herjuno merengkuh pinganggnya. Membawa Megumi naik ke atas pangkuannya.
"Kau cantik sekali." Herjuno menyusuri seluruh wajah Megumi.
"Benarkah?" Megumi meraih tangan Herjuno di pipinya. "Tapi kau tidak merasa cukup."
Herjuno tersenyum. Meraih bibir Megumi untuk dikecupnya. Perlahan kecupan itu menjadi lumaatan. Tangan kanannya menekan belakang tengkuk Megumi, dan tangan kirinya meremas perlahan bagian pinggang.
Megumi melenguhh.
Saat ciuman Herjuno beralih ke lehernya , ia meremas kuat rambut suaminya.
Herjuno menarik tali simpul kimono yang dikenakan Megumi dan melemparnya asal, hingga terpampang jelas di depan matanya tubuh sempurna wanita yang jadi dambaan banyak pria.
__ADS_1
Herjuno merematt kuat payyudaraa Megumi yang hanya tertutup setengahnya. Gaun malam berbelahan dadaa rendah itu membuat sepasang payudaraa Megumi menyembul terlihat sesak.
Herjuno membalik posisi mereka , merebahkan Megumi di atas ranjang. Ciumannya turun dari leher ke dadaa , meninggalkan banyak jejak merah keunguan.
Turun lagi semakin kebawah , Herjuno menyentak kasar celanaa dalamm Megumi. Meraba perlahan inti tubuh istrinya itu membuat Megumi mendesahh.
"Mas.." Megumi melenguh , menggerakkan bokonggnya gelisah saat ibu jari Herjuno menekan dibawah sana.
"Ya , sayang?" Herjuno menatap wajah Megumi yang sudah bergairahh.
"Plis.." rengek Megumi lagi, terdengar seksi di telinga Herjuno.
"Katakan."
"Mas jangan menyiksaku , ku mohon." Megumi meraih kepala Herjuno dan melumatt bibirnya.
Herjuno melolosnan gaun malam Megumi dan melemparnya ke bawah.
Lihatlah. Tubuh wanita ini sangat sempurna meski telah melahirkan seorang anak.
Terlihat jelas tatapan Herjuno memujanya.
Herjuno melucutii sendiri pakaiannya. Pandangannya tidak pernah lepas dari tubuh telanjangg Megumi.
"Kau sangat seksi." bisiknya saat menindih tubuh istrinya. "Ini selalu bisa menggodaku." ucapnya lagi sembari meremass sebelah payudaraa kesukaannya.
Ia melumatt lagi bibir Megumi, melesakkan lidah ke dalam sana. Tangannya jangan ditanya , sudah menjalar kemana-mana.
"Mas , masukkan." Megumi meraba dadaa Herjuno sambil dibawah sana bergoyangg menggoda.
Ia memejamkan mata saat Herjuno memenuhi inti tubuhnya.
Sesaat kemudian , ia menggoyangkann bawah pinggullnya.
Membuat Herjuno mengerang.
__ADS_1
Malam itu , mereka habiskan malam panas berdua. Saling bertukar peluh dan kalimat-kalimat memuja.
Megumi berharap , akan datang waktu dimana Herjuno merasa cukup memilikinya.
**
Herjuno memasuki ruang rawat inap yang di tempati Rama. Ia datang bersama Tita , staff yang bekerja langsung dibawahnya.
"Sudah lebih baik?" Herjuno menatap Rama yang terbaring di ranjang dengan infus di punggung tangan kirinya.
"Ya , Pak. Terimakasih sudah repot-repot datang." Rama tersenyum , kemudian melirik Farhan yang ada di sisi kiri ranjangnya.
"Kenapa matamu masih di perban? Bukankah sudah lebih dari tujuh hari sejak di operasi?" tanya Herjuno lagi.
Selain Herjuno dan Tita , ada juga Farhan dan Tania disana. Meski mereka tidak datang bersama. Juga adik laki-laki Rama , yang usianya mungkin belum genap dua puluh tahun.
"Ah , ini beberapa hari lalu sudah dibuka , tapi dokter menyarankan untuk di tutup lagi beberapa hari agar tidak terlalu lelah." Rama menyentuh pelan mata kirinya yang tertutup perban.
Herjuno mengangguk. "Syukurlah jika sudah baik-baik saja."
Rama tersenyum , tapi lagi-lagi melirik Farhan. Dan temannya itu , menggeleng samar.
Selanjutnya mereka mengobrol tentang kejadian yang dialami Rama sekitar seminggu yang lalu. Ia terlibat perdebatan dengan pengguna jalan lain , lalu laki-laki itu menghajarnya membabi buta , hinggq melukai mata kirinya dan harus di operasi. Beruntung, lukanya tidak menyebabkan kebutaan.
Orang tuanya histeris dan tidak terima , ingin melaporkan ke polisi tapi Rama tidak berkenan. Dengan alasan ia tidak mengingat plat nomor mobil laki-laki itu, dan juga entah siapa yang bisa bersaksi.
Rama membujuk orang tuanya agar tidak memperpanjang masalah.
"Lain kali berhati-hatilah. Kendalikan emosimu. Jika situasinya memburuk , lebih baik memanggil bantuan. Menelepon polisi misalnya." Herjuno menasihati.
"Akan saya ingat Pak. Ini sudah membaik, jika tidak ada halangan besok saya sudah boleh pulang."
Herjuno mengangguk. "Istirahatlah tiga sampai empat hari dirumah , sebelum kembali bekerja. Aku sudah menandatangani surat izinmu sampai tanggal dua puluh."
Rama susah payah menahan senyumnya. "Terima kasih Pak." Empat hari bersantai tanpa memikirkan pekerjaan , belum tentu kesempatan seperti ini datang lagi seumur hidupnya.
__ADS_1
**