Atap Yang Kau Janjikan

Atap Yang Kau Janjikan
Bagian 72 - Tentang Herjuno


__ADS_3

Akhir-akhir ini semua orang seperti sedang mendorong Aurorae untuk kembali pada Herjuno. Selain Dea dan Dira yang sudah seperti sales panci menawarkan dagangannya , Gumilar pun sama , tidak ada angin tidak ada hujan sering sekali tiba-tiba menyebutkan semua kebaikan Herjuno.


Herjuno laki-laki yang bertanggung jawab.


Herjuno penyayang.


Herjuno tampan.


Herjuno setia.


Dan entah apa lagi. Aurorae sampai bosan mendengarnya.


Bosan? Benarkah? Entahlah , jika ingin lebih dalam menggali isi hatinya , sejujurnya apa yang disebutkan Ayahnya tentang Herjuno memang benar adanya.


Herjuno laki-laki yang bertanggung jawab? Tentu saja. Hampir dua puluh tahun mereka saling mengenal , Aurorae lah yang paling tahu bagaimana pria itu tidak pernah lari dari tanggung jawabnya. Mencari keberadaan Aurorae dan si kembar kemana-mana , sama sekali tidak menyerah. Dan meski bertahun-tahun tinggal jauh di luar kota , Herjuno hampir selalu hadir di momen penting anak-anaknya.


Herjuno penyayang? Siapa yang berani membantahnya. Seumur hidup Ryan dan Ryana, coba tanyakan pernahkah Ayahnya itu menyakiti hati mereka?


Herjuno tampan? Sudahlah , yang ini bahkan tidak perlu diperdebatkan. Usianya sudah empat puluh enam tahun tapi lihatlah , tubuhnya masih tegap kokoh tanpa perut yang membuncit.


Herjuno setia? Beberapa orang mungkin akan mengumpatinya jika Herjuno dengan percaya diri memproklamirkan dirinya setia. Dia bahkan pernah menikah lagi saat sudah memiliki seorang istri yang sangat cantik hampir sempurna.


Tapi Aurorae dan orang-orang di sekitarnya tahu, Herjuno pria yang paling setia asal tidak lebih dulu di khianati.


Hitung saja sudah berapa tahun ia menduda , tapi masih pantang menyerah untuk mendapatkan kembali mantan istrinya.

__ADS_1


Aurorae menghela napas pelan. Menarik rapat masing-masing sisi cardigannya karena udara malam ini cukup dingin. Ia mematung, menatap langit malam yang sedang cantik-cantiknya. Di dalam hatinya , diam-diam ia berhitung kira-kira berapa banyak jumlah bintang diatas sana.


Bagaimana perasaannya pada Herjuno? Orang paling bodoh di dunia pasti tahu Aurorae masih mencintai pria itu. Kalau tidak , untuk apa delapan belas tahun ini dia mengatur jarak sedemikian rupa dengan macam-macam pria yang mencoba mendekatinya.


Tapi kembali pada mantan suaminya itu? Tidak semudah itu.


Aurorae tidak ingin membangun harapan-harapan yang mungkin saja akan menghancurkannya , lagi. Dia pernah sangat terluka , rasa sakitnya tidak terkira. Kenapa ingin mengulang lagi?


Suara notifikasi ponselnya , memaksa Aurorae menurunkan pandangan dari langit di atas sana.


Kenapa belum tidur?


Herjuno. Laki-laki itu mengirim pesan , Aurorae mengernyit. Kenapa dia bisa tahu aku belum tidur?


Aurorae mendongak. Menatap sebuah jendela kamar diatas sana , asal foto itu diambil.


Kamar Ryana.


Ah , ya. Jangan lupakan gadis itu, selain Dira Dea dan Gumilar , Ryana juga seringkali menggoda Ibunya jika Herjuno datang.


Cie Ibu cie. Begitulah godaan ala-ala Ryana. Dasar anak itu, apa dikira Ibu dan Ayahnya anak kecil.


Hanya belum mengantuk. Minta Ryana untuk segera tidur, kenapa diam-diam memata-matai Ibunya.


Balas Aurorae, sambil tersenyum tentu saja.

__ADS_1


Merindukanku? Haruskah aku kesana?


Astaga laki-laki ini. Begini saja sudah membuat kedua pipi Aurorae memerah.


Tidurlah , Mas. Aku juga akan tidur.


Begitulah , Aurorae. Selalu. Tidak pernah membuka pintu lebar-lebar meski Herjuno terang-terangan ingin masuk.


Aurorae mendengus , menatap sekali lagi kamar Ryana diatas sana , lalu berbalik untuk masuk ke dalam rumah.


Aurorae merebahkan tubuhnya di atas ranjang , memeriksa sekali lagi ponselnya , barangkali ada balasan pesan dari Herjuno. Lihat , tanpa sadar dia mengharapkannya. Memang pesan seperti apa yang ia tunggu setelah tadi kembali membangun benteng kokoh diantara mereka? Ucapan selamat malam? Yang benar saja.


Dalam remang-remang lampu kamarnya, Aurorae kembali mengingat kalimat Dira beberapa hari yang lalu.


Beri kepastian! Kau menggantung perasaan orang lain delapan belas tahun, jika itu aku sudah pasti aku akan mencekikmu.


Benar! Jika tidak mau, tolak dengan tegas. Agar Herjuno bisa mencari wanita lain. Kau pikir sampai kapan dia harus hidup sendiri begitu! Dea ikut-ikutan.


Hah. Tidak salah juga. Selama ini Aurorae hanya memberi jawaban mengambang , seperti ingin fokus dulu dengan anak-anak, belum memikirkan hal lain , dan sebagainya. Alasan yang ia buat-buat. Anehnya , Herjuno tidak pernah protes. Ia akan bicara lagi lain kali, begitu terus selama belasan tahun ini.


Jika besok tidak sibuk, aku akan datang ke cafe dekat kantor. Kita makan siang bersama , bagaimana?


Sebuah pesan yang Aurorae kirimkan ke nomor Herjuno.


**

__ADS_1


__ADS_2