
Waktu berlalu sangat cepat , sudah hari ke tujuh sejak Herjuno pergi dari rumah setelah menceraikan Aurorae.
Aurorae menghela napas pelan. Memandangi ponselnya yang tergeletak di atas meja rias.
Seandainya saja Herjuno menelepon nya dan meminta maaf, Aurorae akan dengan senang hati menerimanya kembali.
Tapi ternyata tidak , pria itu tidak menghubunginya sama sekali.
Aurorae duduk di atas ranjang dengan memeluk kedua lututnya dan menenggelamkan wajahnya disana. Ia terisak lagi, entah apa kali ini yang ia tangisi.
Dira masuk ke dalam kamar tanpa mengetuk pintu. Dan langsung memeluknya erat. Membiarkan Aurorae menangis sampai puas.
"Malam ini saja. Aku hanya akan menangis sekali lagi. Besok , aku janji akan baik-baik saja." ucapnya disela-sela isak tangis.
Dira mengangguk. "Habiskan air matamu malam ini."
"Terimakasih , sudah menginap setiap hari. Aku tidah tahu , andai tidak ada kau dan Mbak Dea." Aurorae memang tidak memiliki lagi teman dekat sejak memutuskan keluar dari pekerjaannya.
"Tidak masalah. Aku senang bermain dengan si kembar."
Malam itu Aurorae benar-benar menangis semalaman , dan Dira sama sekali tidak menginterupsi. Ia hanya memeluk dan sesekali mengusap pelan punggungnya.
Keesokan harinya , Aurorae bangun dengan wajah lebih segar. Ia turun ke lantai bawah untuk sarapan dan ternyata sudah ada Dea disana. Sedang mengobrol dengan Gumilar dan juga Dira.
Aurorae tersenyum. "Kenapa pagi-pagi sudah disini?"
"Tidak boleh? Aku ingin menumpang sarapan."
Gumilar terkekeh. "Ayo kita sarapan dulu setelah itu bicara."
__ADS_1
Dea diam-diam tersenyum senang memperhatikan Aurora yang lebih ceria. Aurorae mengunyah makanannya dengan lebih ceria, tidak ada lagi adegan mengaduk-ngaduk nasi sampai belasan kali sebelum menyuapkan satu sendok ke dalam mulut.
Setelah sarapan , Gumilar meminta Bi Izza menemani si kembar di atas. Sedang Aurorae Dea dan Dira diminta tinggal untuk bicara.
"Ada apa, Yah?" tanya Aurorae setelah mereka semua duduk berkumpul di sofa ruang tengah.
Gumilar membuka sebuah map berwarna putih susu. Mengeluarkan semua isinya. Ada satu buah kertas , dan beberapa lembar foto.
Gumilar menyerahkan kertas itu ke tangan Aurorae.
Surat pernyataan dengan logo rumah sakit tempat Aurorae melahirkan.
Aurorae mengernyit. Membaca satu persatu kalimat yang tertera, entah pada detik ke berapa tangannya sedikit bergetar. Matanya berkaca-kaca.
Dira yang berada tepat disebelahnya , reflek mengelus punggungnya pelan.
"Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja." Aurorae menoleh pada Dira sambil tersenyum.
Aurorae mengangguk. "Terima kasih Ayah." Ia memeluk kertas yang baru saja dia baca. Sebuah surat dari rumah sakit yang menyatakan mereka tidak pernah melakukan tes DNA dengan sampel atas nama Herjuno Ardhi dengan Ryan dan Ryana.
Sudah jelas , hasil tes DNA tempo hari palsu. Entah darimana datangnya.
"Dan ini, pelakunya." Gumilar menyodorkan beberapa lembar foto yang tadi juga ia keluarkan dari dalam map. Beberapa foto yang jelas diambil dari rekaman CCTV.
Aurorae meraihnya. Foto pertama memperlihatkan seorang wanita dengan pakaian perawat , yang terlihat tidak sengaja menyenggol tas milik Aurorae.
Foto kedua dan ketiga, saat wanita itu berjongkok memunguti barang-barang Aurorae.
Foto keempat , terlihat jelas wanita itu diam-diam meraih amplop dari saku bajunya.
__ADS_1
Foto kelima, saat wanita itu memasukkan amplop ke dalam tas Aurorae.
Foto keenam, saat wanita itu mengulurkan tas kepada Aurorae sambil sedikit membungkuk.
Ah , Aurorae ingat. Ini adalah kejadian beberapa bulan lalu di rumah sakit saat ia dan Bi Izza datang untuk kunjungan dokter anak. Beberapa hari setelah si kembar lahir.
Foto ketujuh , adalah saat sepasang pria dan wanita mengulurkan dua buah amplop kepada perawat gadungan itu , salah satunya jelas terlihat amplop hasil tes DNA yang beberapa hari lalu di temukan di tas Aurorae.
Dan foto terakhir, saat wanita itu menerima kedua amplop di tangannya.
Foto terakhir itulah yang di remat kuat oleh Aurorae.
Dia marah , bukan sebagai istri. Tapi sebagai Ibu , dia tidak bisa menerima ketika asal usul anak-anaknya di pertanyakan.
"Apa ini Satya?" Aurorae bertanya menatap Dira. Pasalnya ia mengenali wanita yang mengulurkan dua buah amplop pada perawat itu adalah Megumi.
Dira mengangguk.
"Ayah bisa menyeret perempuan itu kesini kalau kau ma--" ucapan Gumilar terjeda saat terdengar bunyi bel dari pintu depan.
"Biar saya saja Om." Dea beranjak , memeriksa siapa yang datang pagi-pagi begini.
Terdengar samar-samar suara Dea berbicara dengan seseorang , lalu menutup pintu.
Ia kembali ke ruang tengah dengan sebuah amplop di tangannya.
"Kurir surat." ucapnya memberitahu sebelum semua orang bertanya. Ia mengulurkan surat itu pada Aurorae.
Deg.
__ADS_1
"Dari pengadilan." gumam Aurorae lirih, dengan sedikit senyum yang dipaksakan.
**