
Aurorae fokus menatap jalanan sembari sesekali memukul pelan dadanya. Sudah sepuluh menit sejak ia berpisah dengan Herjuno di halaman cafe tadi , tapi sampai sekarang jantungnya masih berdegup kencang.
Gila , pria itu memang tidak waras. Bagaimana bisa dia membahas tubuh wanita di hadapan orangnya langsung.
Ehm. Berkali-kali Aurorae berdehem hanya untuk mengurangi rasa gugupnya. Astaga bahkan pipinya mulai memanas, sudah delapan belas tahun sejak terakhir kali hatinya di penuhi cinta seorang pria. Ia kira , cinta itu sudah habis tidak berbekas lagi. Ternyata jejak-jejaknya masih tertinggal disana , yang bisa dengan mudah tumbuh lebat hanya dengan sedikit gombalan.
Ia mengulum senyumnya , ada sudut hatinya yang kembali merasakan bahagia. Bahagia kali ini berbeda , tidak seperti saat melihat anak-anaknya tumbuh, tidak seperti saat melihat laporan laba bulanan dari perusahaan catering miliknya dengan Dea dan Dira.
"Om Gumilar bilang kau sudah pergi sejak sebelum makan siang, dari mana saja?" Dea menyelidik. Pasalnya mereka memang janji bertemu di kantor untuk membahas beberapa hal tentang perusahaan catering yang mereka jalankan.
"Makan siang dengan Mas Juno." jawab Aurorae santai sembari menjatuhkan bokongnya di sofa yang ada disana.
"Jadi bagaimana? Paket diet lemak dan gula tiga puluh hari , kapan bisa launching?" tanyanya sembari membuka tablet yang ia bawa.
Aurorae mendongak , saat Dira maupun Dea tidak menjawab apapun.
"Kau makan siang dengan Herjuno? Dimana?" Dea mengalihkan pembicaraan. Ini lebih penting daripada perkara diet lemak.
"Di cafe dekat SG. Kenapa?" Aurorae memasang raut kebingungan.
"Kau mendatanginya kesana?" Dira tak kalah penasaran.
__ADS_1
Aurorae mengangguk. "Hum, kami janjian. Ada apa?"
"Cih. Ada apa kau bilang? Seharusnya kita yang tanya , ada apa?" Dea mencebik. "Kau jauh-jauh mendatanginya, sebagai apa?"
"Astaga. SG tidak terlalu jauh." Aurorae enggan membahas itu lebih jauh. Kedua orang ini pasti tidak akan berhenti menggodanya.
**
Seperti banyak malam sebelumnya, malam ini Herjuno juga datang ke kediaman Aurorae sepulang kerja. Hal ini sudah rutin ia lakukan sejak sembilan tahun lalu saat Aurorae pindah kembali ke kota Bandung.
Jika sampai waktu makan malam ia tidak datang, Ryana akan menelepon merengek mengganggunya hingga larut. Anak itu tidak akan memutus sambungan telepon sebelum mendengar alasan yang masuk akal. Bagi Ryana, makan malam bersama seperti hal wajib.
"Tidak di kampus yang sama dengan Abang?"
Ryan memang sudah pasti di terima di salah satu universitas terbaik di kota ini melalui jalur prestasi. Jadi baik Herjuno maupun Aurorae berpikir, Ryana akan mendaftar di kampus yang sama nanti.
"Tidak mau. Abang akan selalu menghardik temanku. Di sekolah saja , aku tidak punya teman Ayah." Ryana merengek , tapi ia tidak berbohong.
"Mana ada teman diantara pria dan wanita." Ryan mendengus. Selama ini dia memang sering memperingatkan para siswa laki-laki yang terlihat jelas mendekati Ryana.
"Kau terlalu kolot! Berteman saja tidak boleh!" Ryana bersungut-sungut lalu menatap Herjuno lagi.
__ADS_1
Herjuno melirik Aurorae untuk meminta bantuan. Tidak mungkin kan dia memutuskan sendiri apa Ryana boleh atau tidak mendaftar ke universitas lain.
Aurorae mengangguk samar, membiarkan Herjuno mengambil keputusan untuk putrinya. Selama ini, Herjuno tidak pernah mendahului dirinya , apapun tentang anak-anak , Herjuno akan berdiskusi dengan Aurorae lebih dulu.
"Baiklah , Ryana boleh mendaftar ke universitas lain. Tapi tetap harus di pertimbangkan hal lainnya, bukan hanya ingin menghindari Abang lantas Ryana memilih universitas asal-asalan." ucap Herjuno setelah tadi Aurorae memberi isyarat tidak keberatan.
Ryana bersorak riang. Senyumnya lebar sekali, dalam bayangannya sudah tergambar jelas masa-masa universitas yang menyenangkan.
Setelah makan malam , Herjuno mendekati Gumilar yang sedang duduk bersantai di halaman belakang. Sedang Aurorae, menemani anak-anak mengobrol di ruang keluarga.
"Ayah , apa sibuk?" Herjuno merutuki kebodohannya, kenapa pertanyaan tidak penting itu yang keluar dari bibirnya.
Gumilar terkekeh. "Memangnya bisa sibuk apa lansia seperti Ayah ini? Ingin bicara sesuatu? Duduklah."
Herjuno mengusap tengkuknya canggung, lalu duduk di samping Gumilar setelah pria tua itu sedikir bergeser.
"Bicaralah. Ada apa?"
Herjuno berdehem pelan. "Jika aku melamar Aurorae kembali, apa Ayah keberatan?"
**
__ADS_1