Atap Yang Kau Janjikan

Atap Yang Kau Janjikan
Bagian 77 - Meminta Restu


__ADS_3

Ryan menggelar karpet tipis yang mereka bawa dari rumah , ia memilih tempat yang cukup teduh dengan pemandangan danau hijau yang indah. Hari ini tidak terlalu ramai , karena memang bukan hari libur. Ia merebahkan tubuhnya dengan kepala beralaskan bantal. Astaga , mereka benar-benar menyiapkan semuanya dengan baik, sampai bantal pun mereka bawa dari rumah.


"Jauh-jauh ke danau hanya untuk belajar , kenapa tidak dirumah saja!" Ryana mengomel sebal saat melihat Ryan berbaring sembari membaca buku yang ia bawa dari rumah.


Herjuno terkekeh , ia membantu Ryana mengeluarkan berbagai macam makanan yang dibawa dari rumah.


"Berbaringlah juga , ini sangat menyenangkan." Ryan menepuk ruang di sisinya.


Ryana tidak menanggapi, langsung meraih bantal dan tengkurap di samping Ryan , mengintip buku apa yang sedang dibaca kakaknya.


Ryan bergegas menegakkan tubuhnya. Menatap tajam adiknya itu. "Pakai selimutmu ! Astaga , kau ini!" Ia melempar sebuah selimut sambil melirik kesal pakaian Ryana.


"Kenapa juga memakai dress! Sudah ku bilang, pakai celana panjang saja! Kau tidak lihat ini di tempat umum?" Anak itu mengomel panjang.


"Cih. Ini bahkan masih dibawah lutut." Ryana tak kalah kesal tapi tetap memakai selimutnya.


"Jika tersingkap angin baru kau tau rasa!" Ryan kembali merebahkan tubuhnya setelah memastikan selimut itu melindungi tubuh adiknya.


Kali ini , Ryan berbaring tengkurap seperti Ryana agar mereka bisa membaca buku bersama.

__ADS_1


Herjuno terkekeh melihat interaksi kedua anaknya. Ryan yang sangat posesif kepada adiknya tapi Ryana menganggapnya kakak yang galak dan menyebalkan.


"Ayah , kemarilah. Benar kata Abang , ini sangat menyenangkan." Ryana melambai pada Herjuno yang sedang melepaskan sepatunya.


"Kalian senang?" tanya Herjuno saat sudah semakin mendekat.


"Hum!" Ryana mengangguk. "Ini lebih menyenangkan daripada jalan-jalan ke mall."


"Aku bilang apa , kau tidak percaya. Selalu saja ke mall, itu membosankan." Ryan membalik satu lembar halaman bukunya.


"Ajak kami lebih sering, Ayah! Lain kali dengan Ibu dan Kakek juga, ya?" Ryana bersorak sambil menggerak-gerakkan kedua kakinya.


Ryana mencebik. "Ayah, lihat! Abang selalu saja mengomel."


"Itu karena Abang menyayangimu." Herjuno ikut berbaring tengkurap di sisi Ryana.


"Lihat! Banyak pria dewasa disini." Ryan menangkup dagu Ryana lalu menggerakkannya ke kanan dan ke kiri. Benar ada banyak orang disana , meski tidak terlalu ramai.


"Kau ini sudah akan menjadi mahasiswa, jaga dirimu dengan benar!" Anak itu masih kesal , tidak habis-habis menatap tajam adiknya.

__ADS_1


Ryana tidak menanggapi lagi , dia hanya segera membetulkan letak selimutnya agar kakaknya itu berhenti mengomel. Ryana semakin mendekat untuk bisa membaca buku dengan lebih jelas. Tidak lama kemudian , Ryana tertidur. Di susul Ryan , yang juga segera memejamkan mata saat bukunya sudah habis ia baca.


"Ayah , biarkan kami tidur sebentar. Ini sangat menyenangkan." Ryan bersuara sebelum benar-benar memejamkan mata.


Herjuno terkekeh , lalu mengangguk. Mengusap pelan kepala kedua anaknya bergantian. Anak-anak manis ini, yang sekarang sangat menyayanginya , dulu sekali pernah ia telantarkan. Andai bukan Aurorae, Herjuno tidak yakin masih memiliki hubungan baik dengan anak-anaknya.


Ah , mengingat Aurorae membuat Herjuno rindu melihatnya. Saat dia mengatakan Aurorae masih terlihat cantik, ia tidak berbohong. Selama ini Herjuno sudah bersusah payah menahan diri agar tidak mendekati Aurorae dengan berlebihan. Ia tidak ingin Aurorae merasa tidak nyaman lalu menjauh.


Saat hari mulai terik , Ryan dan Ryana terbangun. Setelah mengisi perut , Herjuno meminta perhatian mereka mengatakan akan membicarakan hal penting. Hatinya berdegup kencang, meski yakin kedua anaknya akan memberi restu tapi tetap saja ia gugup.


"Untuk semua kesalahan-kesalahan Ayah di masa lalu, Ayah minta maaf." Herjuno menatap bergantian anak-anaknya yang diam tidak menginterupsi.


"Jika itu bukan Ibu kalian , mungkin seumur hidup Ayah tidak akan bertemu dengan anak-anak Ayah. Ibu kalian wanita luar biasa , entah terbuat dari apa hatinya. Kakek Gumilar juga sama , jika Ibu Rae adalah putri orang lain, mungkin Ayah sudah di hajar habis-habisan oleh Ayahnya." Herjuno mendesah. Ada banyak penyesalan juga rasa terima kasih di setiap kalimatnya.


"Apa yang Ayah lakukan selama delapan belas tahun ini, sama sekali tidak bisa menghapus kesalahan Ayah di masa lalu."


"Ayah, kenapa bilang begitu?" Ryana sudah berkaca-kaca, entah kenapa dia merasa sedih ketika Ayahnya mengungkit hal yang menyakitkan di masa lalu.


Herjuno terkekeh. "Ayah hanya ingin kalian tahu, bahwa Ayah tidak pernah melupakan apa yang Ayah perbuat di masa lalu. Ayah tidak ingin menjadi laki-laki tidak tahu diri yang berani melamar lagi mantan istrinya setelah pernah sangat menyakitinya. Ayah tidak pernah meremehkan rasa sakit yang Ibu rasakan , kalian juga. Ayah janji akan menanggung sesal seumur hidup Ayah, jadi apa kalian setuju jika Ayah dan Ibu kembali bersama?"

__ADS_1


**


__ADS_2