
Waktu berlalu dengan cepat. Hari ini adalah sidang pertama perceraian Aurorae dan Herjuno di gelar dengan agenda mediasi.
Aurorae memutuskan untuk tidak hadir , tidak juga mengirim kuasa hukum. Ia tidak ingin lagi bertatap muka dengan Herjuno, laki-laki itu sudah sangat membuatnya terluka. Toh mereka akan tetap bercerai , untuk apa mediasi lagi.
Aurorae memutuskan pindah ke luar kota. Bandung, meski banyak hal menyenangkan, tapi juga tidak sedikit kenangan menyakitkan.
Semua barang-barang pribadi miliknya dan anak-anak sudah lebih dulu di pindahkan kemarin. Hari ini, mereka hanya tinggal membawa beberapa barang kecil dan perlengkapan anak-anak selama di perjalanan.
"Aku akan sering mengunjungimu jika Sasha sudah sedikit lebih besar." Dea memeluk erat Aurorae. Sasha adalah anak bungsu Dea yang baru berusia dua tahun.
Aurorae mengangguk. Lalu beralih menatap Dira yang hampir menangis.
"Cih dasar cengeng. Aku tidak pindah jauh. Hanya satu jam perjalanan dengan pesawat terbang." Aurorae memeluk erat Dira, mengusap pelan punggungnya.
"Aku akan sering datang, hum?" Dira mengusap kasar air matanya yang mengalir.
Aurorae mengangguk. "Rahasiakan dari siapapun kemana aku pindah. Tidak ada yang tahu kecuali Ayah , Bi Izza , Mba Dea , dan kau."
Aurorae menoleh lagi, menatap untuk terakhir kalinya rumah yang baru satu tahun ini ia tinggali. Rumah pemberian dari Herjuno , yang saat itu ia terima dengan sukacita. Ia tersenyum , dalam hatinya berjanji tidak akan lagi membenci siapapun. Ia hanya akan menjalani hidupnya dengan baik bersama kedua anaknya.
Mereka berpisah di depan rumah. Aurorae menuju ke bandara diantar oleh Dira dan Gumilar. Sedang Dea harus ke kantor.
Selama di perjalanan , Dira terus menciumi Ryana yang ada di gendongannya. Bayi berusia tujuh bulan itu sering tergelak , seolah ingin menghibur semua orang yang sedang bersedih.
__ADS_1
"Rae , hanya fokus pada dirimu dan anak-anak. Aku berjanji akan membuat bisnis catering dan frozen food kita semakin besar sampai kita tidak perlu khawatir lagi tentang uang." Dira menasehati.
Aurorae terkekeh. "Baiklah. Maafkan aku tidak bisa datang lagi ke ruko."
"Tidak masalah. Tidak perlu khawatir , aku akan mengawasi produksi dan operasional. Lagipula tentang keuangan dan promosi sosial media bisa dikerjakan dari jarak jauh. Selama tidak ke ruko pasca melahirkan , kau mengatasi semua dengan baik dari rumah."
Mereka bertiga memang membagi tugas. Dira lebih banyak menghabiskan waktu di ruko untuk mengawasi produksi dan distribusi. Aurorae hanya sesekali datang karena menangani soal keuangan dan promosi online. Sedangkan Dea , lebih sering menangani kerjasama dengan pihak ketiga untuk kebutuhan promosi.
Jika Aurorae pindah ke luar kota , itu tidak akan terlalu berdampak pada bisnis mereka.
Aurorae melambaikan tangannya pada Gumilar dan Dira. Setelah berpelukan dan lagi-lagi menangis tentu saja.
Aurorae berjalan masuk lebih dalam ke area ruang tunggu bandara dengan mendorong stroler Ryan. Sedang stroler Ryana, di dorong Bi Izza.
Selamat tinggal Mas. Aku tidak membencimu. Hanya saja , aku tidak ingin lagi berada di sekitarmu.
**
Herjuno keluar dari lift dengan raut wajah tidak bersahabat. Langkahnya cepat sekali menyusuri koridor menuju ruangan tempat ia bekerja.
Ketika sampai di deretan kubikel staffnya , Herjuno berhenti , menatap tajam ke arah Farhan yang sedang duduk seperti tidak menyadari keberadaannya.
Herjuno mengepalkan kedua tangannya yang ada di dalam saku celana. Beberapa hari yang lalu ia memutuskan tidak lagi membuat perhitungan dengan Aurorae maupun Farhan. Herjuno bahkan tidak meminta penjelasan apapun setelah Megumi membeberkan fakta perselingkuhan Aurorae dan Farhan.
__ADS_1
Tapi hari ini luka hati yang ia coba tutup kuat-kuat , seperti dipaksa terbuka lagi. Aurorae tidak hadir di sidang pertama mereka. Membuat Herjuno merasa di rendahkan dan tidak diinginkan kembali.
Rasanya ingin sekali meninju wajah Farhan yang memuakkan karena bersikap seperti tidak terjadi apapun.
Farhan yang sejak tadi menunduk dengan pekerjaan akhirnya menyadari dia sedang diperhatikan. Saat mengangkat wajahnya , ia mendapati Herjuno menatapnya dengan marah.
Farhan mengernyit.
"Apa aku melakukan kesalahan?" batinnya bingung.
Ia melangkah mendekati Herjuno, membungkukkan badannya sedikit untuk menyapa. Ia berniat akan berlalu ke toilet setelah itu, tapi siapa yang menyangka belum sempat ia melangkah , Herjuno sudah melayangkan tinjunya tepat di wajah Farhan membuat pria itu tersungkur.
Semua yang ada disana terperanjat. Ketika Farhan bangkit hendak membalas , Farel lebih dulu menahannya.
"Lepas! Nih orang belum pernah di patahin hidungnya!" Farhan meronta , berteriak tepat di depan wajah Herjuno.
Farel memeluknya semakin erat , Rama juga segera berlari memberi bantuan, memegangi salah satu lengan Farhan karena Farel terlihat kuwalahan.
Herjuno menyodorkan wajahnya. "Patahkan! Sebelum aku melemparmu kedalam penjara!" ujarnya dengan amarah yang sama sekali tidak mereda.
"Dasar gila! Hanya karena kau manager disini, bukan berarti bisa menghajar orang sembarangan! Aku staffmu , bukan samsak tinju! Jika ingin berkelahi ayo diluar , brengsek!" Farhan masih mengamuk membabi buta. Tubuhnya meronta-ronta karena di tahan kedua temannya.
"Aku tidak sedang menghajar staffku, tapi aku sedang memberi pelajaran pada selingkuhan istriku!"
__ADS_1
**