
Selang beberapa detik ibunda Jennie datang ia terkejut melihat kepanikan suaminya terlebih saat Jennie tergeletak di lantai. Dengan cepat ayahnya mengangkat tubuh Jennie dan membawanya ke rumah sakit.
----
Kini mereka sudah tiba di rumah sakit. Seorang dokter memeriksanya. Ia pun menekan bagian perut Jennie. Lalu meminta Jennie untuk menampung Urinenya saat ia sudah siuman. Sebenarnya Jennie sangat takut, takut bahwa dokter itu akan tahu kalau dirinya tengah hamil. Dan sepertinya ketakutan itu benar-benar terjadi.
benar saja setelah mengecek urine dan mengetahui hasilnya. Dokter itu berbicara kepada orang tua Jennie.
"Mohon maaf bapak, ibu, apa Nona Jennie ini masih sekolah?" tanya dokter tersebut.
"Iya betul dok."
"Emmm, berarti dia belum memiliki suami ya."
"Iya jelas belum dok, memang ada apa?" tanya Ayah Jennie.
"Begini pak, bu, cukup berat sebenarnya saya mengatakan ini. Hanya saja masalah seperti ini tidak bisa saya tutupi kan?"
"Katakan saja dok, anak saya sakit apa?" tanya Ayah Jennie yang mulai panik.
"Bapak tenang saja. Anak bapak tidak sakit, namun dia hanya kelelahan dan sedikit mengalami depresi ringan, mungkin karena?" Kata-kata dokter itu terjeda. "Saya harap bapak dan ibu bisa tenang ya. Karena anak bapak sedang mengandung."
Jegeeeerrrr Rasanya seperti sebuah petir yang menyambar di dekat telinga keduanya.
"Ti...tidak mungkin dokter." Ayah Jennie membeku.
"Ini pak, hasil tes urine menyatakan bahwa ananda Jennie positif hamil." jawab Dokter tersebut.
Tangan ayah Jennie terkepal ia pun hendak beranjak namun Ibunda Jennie sudah menahannya dengan memegangi lengannya itu, ia menggeleng pelan sembari menangis.
"Tolong bapak, ibu, bincangkan ini baik-baik dengan putri kalian ya. Dan saya mohon untuk memberikannya dukungan atas apapun yang sedang ia alami."
"Dokter tidak perlu mengajarkan saya. Saya sudah paham apa yang akan saya lakukan pada putri saya itu." tegas pak Ridwan yang tengah menahan amarahnya.
"Ayah jangan seperti ini. Tenang kan diri mu yah." ucap Istrinya sembari terisak berusaha menenangkan.
"Tidak usah menangis di sini. Cepat suruh anak kita keluar. Biar ayah tunggu di parkiran." tuturnya pak Ridwan pun melenggang keluar.
"Dokter maafkan suami saya ya." ucap ibu Sukma.
Dokter itu memegangi tangan ibu Sukma. "Tidak apa-apa bu, saya memahami kok."
__ADS_1
"Kalau begitu saya permisi dan terimakasih banyak dokter." tuturnya sembari menjabat tangan lalu keluar, menyusul Jennie di ruangan tindakan, lalu pulang ke rumah.
Walaupun ayah dan ibunya masih diam namun firasat tidak baiknya terus berkecamuk di dada. Ia yakin kedua orang tuannya pasti sudah tahu apa yang terjadi padanya. Hanya menunggu saja apa yang akan ayahnya itu lakukan setibanya di rumah nanti.
---
"Masuk!" titah pak Ridwan pada Jennie di depan pintu rumah itu. Jennie pun melangkah masuk.
Di dalam rumahnya.
Plaaaaaaaakkk Jennie mendapat tamparan keras di pipinya.
"Tidak punya rasa malu!" Plaaaaaakk sekali lagi ia menampar keras pipi Jennie, hingga jeritan dan tangisan Jennie terus memenuhi rumah mereka. Di tambah dengan tangisan ibu Sukma yang berusaha melindungi Jennie dari amukan suaminya.
"Sudah ayah, tolong hentikan ayah. Ampun anak kita." rengek istrinya meminta pengampunan dari suaminya untuk Jennie.
"Sini kau anak tidak berguna! Kau ingin membunuh ayah dan ibu mu hah?"
"Kau ingin membunuh kami dengan perbuatan memalukan mu itu?!" Plaaaaaakk.
"Aaayyaaaahhh ampun, sakit ayah." Jennie masih terus menutupi wajahnya agar tidak mendapati pukulan terus menerus dari ayahnya.
"SAKIT KATA MU? SETELAH MELEMPAR KOTORAN KE WAJAH ORANG TUA MU? KAU MASIH BILANG INI SAKIT?!" tidak puas hanya menampar saja pak Ridwan melepas gesper nya, ia pun meluncurkan sabetan ke tubuh Jennie sebanyak tiga kali. Sehingga membuat bu Sukma histeris.
"Kau lihat ini Jennie? Kau membuat ibu mu menangis karena melihat ku memukuli mu." Suara pak Ridwan serak.
Di sisi lain Jennie menyeret tubuhnya mendekati ayahnya ia memeluk kaki ayahnya itu. "Ayah, tolong ampuni aku ayah. Tolong ampuni aku."
"Pengampunan ku tidak membuat putri ku kembali seperti dulu Jennie." tuturnya dengan suara parau.
"Hiks, Jennie sadar ayah Jennie memang bersalah."
"Teganya kau Jennie, melakukan ini pada kedua orang tua mu. Kenapa kau bisa hamil Jennie. Kenapa? Ya Tuhan... Apa salah ku?" Pak Ridwan terisak. "Kenapa kau lakukan ini pada kami Jennie, apa salah ayah dan ibu mu?"
"Ayah, tolong maafkan Jennie. Tolong maafkan Jennie ayah."
"Ambil pisau itu di dapur Jennie." Pinta Ayahnya.
Jennie membulat kan bola matanya. "Tidak ayah."
"AMBIL DAN BUNUH SAJA AYAH MU INI JENNIE!!" Jennie menggeleng cepat.
__ADS_1
"Suami ku tolong jangan lakukan ini, tolong ampuni Jennie. Ku mohon suami ku." Bu Sukma masih memeluk tubuh suaminya itu.
"Itu lebih baik bu, dari pada aku harus mendapati kenyataan anak ku hamil di luar nikah." gumamnya. Ia pun melepas pelukan istrinya. Lalu menyingkirkan tangan Jennie dari kakinya.
Beliau duduk di bangku tidak jauh dari tempat Jennie tersungkur.
Sembari memijat keningnya pak Ridwan masih menangis, bagaimana tidak, Jennie adalah anak satu-satunya, namun kenapa ia harus mengalami nasib seperti ini. Cukup lama ia terdiam hingga beberapa menit.
"Siapa pria itu?" tanyanya kemudian.
"Ayah Jennie mohon ampun ayah."
"Ayah tanya siapa pria yang membuat mu hamil!!!" Pekik pak Ridwan.
"Jennie sayang, tolong katakan kepada kami, siapa pria yang sudah membuat mu begini." tanya bu Sukma halus.
"Jen...Jennie tidak berani mengatakannya."
"Kenapa?" tanya bu Sukma. "Dia harus bertanggung jawab Jennie."
"Cepat katakan Jennie!!" bentak ayahnya keras sehingga membuat Jennie terkesiap.
"Pe...pria itu, anak salah satu penyumbang terbesar di sekolah Jennie ayah."
"Siapa namanya?" tanya pak Ridwan.
"Kak Andi anaknya Pak Iskandar Luthfi." jawab Jennie.
Pak Ridwan menepuk keningnya. Kenapa bisa Jennie menjalin hubungan dengan anak dari seorang pejabat seperti Iskandar Luthfi. "Kau yakin?" tanya ayahnya. Jennie mengangguk pelan.
Bu Sukma mendekati suaminya "Bagaimana ini suami ku? Tidak mungkin kita meminta pertanggungjawaban dari keluarga berkelas itu."
"Tapi kita tetap harus datang ke sana malam ini juga."
"Pak, keluarga itu pasti sangat sibuk. Sepertinya akan sulit untuk menemui mereka."
Pak Ridwan pun hanya beranjak lalu berjalan menuju arah kamarnya. "Ganti pakaian mu Jennie. Kita siap-siap ke rumah mereka sekarang." tuturnya sembari masuk ke dalam kamarnya.
Bu Sukma pun mendekati putrinya. "Jennie" Memeluk dengan penuh kasih sayang.
"Bu, Jennie takut. Jennie takut ibu, ibu tolong maafkan Jennie." isak Jennie.
__ADS_1
"Iya sayang, iya. coba ibu lihat tangan mu nak." Bu Sukma memeriksa bagian tubuh Jennie yang terkena cambukan itu. Dan bagian wajah yang sedikit merah. "Ya Tuhan, putri ku." bu Sukma kembali memeluk putrinya dengan sangat prihatin. Ia tidak menyangka putri akan mengalami nasib seperti ini.