
Sudah habis waktu ia menangis di dalam kamarnya. Bahkan sampai tertidur akibat pusing yang mendera.
Sebuah ketukan dari luar pintu.
Ibu Sukma membuka pintu kamar putrinya. Melihat Jennie tertidur masih dengan mengenakan seragam SMAnya.
Senyum hangat ia Sungging kan sembari berjalan pelan mendekati Jennie yang masih tertidur pulas. Duduk di atas ranjang itu lalu menggoyangkan pelan tubuh sang putri. "Jennie, Jen?" Panggilnya.
Jennie menggeliat, ia merenggangkan tubuhnya sejenak lalu menutupi mulutnya yang tengah menguap itu.
"Jen, sudah hampir magrib bangun yuk, mandi dulu sana?"
"Sebentar lagi bu, kepala Jennie pusing." jawabnya. Jelas saja ia pusing sedari tadi ia menangis bahkan sejak pagi mungkin.
"Kamu sakit?" tanya Ibu Sukma.
"Tidak bu, hanya kelelahan." jawab Jennie.
"Ini kenapa?" tanya ibunya. Ia baru menyadari kedua pipi anaknya seperti merah dan lagi, luka di bibirnya itu. Jennie memalingkan wajah saat sang ibu akan menyentuhnya.
"Tidak apa-apa bu, tadi Jennie itu tidak sengaja jatuh." Jawabnya sangat Klise.
"Bohong ya, ini mah habis di pukul orang Jennie." Ibu Sukma kembali mengecek.
"Emmm maaf bu, Jennie itu sebenarnya ikut ekstrakurikuler pecak Silat, dan Jennie terkena pukulan tadi." berbohong untuk yang kedua kalinya. Namun sepertinya lebih masuk akal sehingga membuat Ibunya hanya manggut-manggut.
"Duh, ya sudah kalau begitu mandi saja gih, nanti ibu kompres wajah mu itu."
__ADS_1
"Iya bu." Jawab Jennie merasa bersalah karena harus berbohong. Namun tidak mungkin juga ia mengatakan yang sesungguhnya kan? Kalau luka di wajah itu akibat tamparan kekasihnya.
Jennie beranjak dari posisinya, meraih handuk dan berjalan keluar menuju bilik kamar mandi untuk bebersih.
Di depan pintu kamar mandi itu. Ia mencium aroma hidangan makan malam yang seharusnya lezat namun tidak kali ini. Rasanya sungguh mual mencium aroma sayur itu. Jennie berlari masuk ke dalam bilik kamar mandi dan menutupnya cepat, lalu menyalakan keran airnya.
Di dalam sana ia memuntahkan isi perutnya selama beberapa detik. "Aku mual sekali. kenapa bisa seperti ini? Kalau ibu tahu aku hamil bisa gawat." Gumamnya. Ia masih dalam posisi menyandar di dinding. Entah kenapa saat mual itu ia justru merindukan pelukan Andi. Ia ingin sekali di dekap Andi, mungkin ini yang di namakan ngidam. Ia sangat ingin berada di dekat kekasihnya seorang pria yang menghamilinya. Dan mengingat Andi membuatnya kembali menangis.
"Kenapa nasib ku begini? Hiks kak Andi." Jennie tidak bisa menahan rasa rindu itu, rindu akan kasih sayang pria yang mengajari semua hal tentang tentang sentuhan cinta, pria yang sudah menjerumuskan dirinya pada lubang penyesalan.
Cukup lama ia di dalam kamar mandi, setelah bebersih. Jennie duduk di meja makan. Semua menu yang terhidang seharusnya menjadi makanan favoritnya. Namun sepertinya ia tidak ingin makan semua itu. 'Mual, aku tidak ingin makan itu.' batin Jennie menahan rasa ingin muntahnya.
"Jen? Kok diam saja?" tanya Ibu. Yang sudah mulai makan hidangan makan malamnya.
"Emmm, Jennie sebenarnya masih kenyang bu." jawabnya berbohong. Tidak tahu lagi ingin menjawab apa. Ia ingin sekali masuk kedalam bilik kamar mandi dan memuntahkannya apapun yang ingin keluar dari dalam perutnya walau hanya air karena sedari siang ia belum menyentuh makanan apapun.
"Jennie tidak sakit bu, sungguh." jawabnya. 'Aku hanya hamil bu. Hanya hamil.' Jennie meremas tangannya sendiri dibawah meja. Sangat ingin ia mengutarakan semuanya namun bagaimana caranya? bagaimana cara ia memulainya.
"Kau yakin?" tanya ibunya meyakinkan, sembilan bulan ia hamil Jennie, melahirkannya, merawatnya hingga sebesar sekarang. Tidak mungkin ia tidak bisa mengamati perubahan fisik ataupun psikis yang di alami Jennie. Jennie mengangguk lirih.
"Kalau begitu makan sayang." pintanya.
Jennie menelan ludah. 'Aku mual, sangat mual ibu.' tidak ada pilihan lain, ia menyiduk sedikit nasi, mungkin sekira dua atau tiga sendok nasi yang berada di atas piringnya.
"Jen? Bukannya kau suka sayur nangka yang di masak santan ini ya? Kenal makan mu sedikit sekali?"
"Seperti yang Jennie bilang bu. Jennie masih kenyang." Jawabnya.
__ADS_1
"Ya sudah. Makan saja. Nanti kalau kau lapar lagi bisa kau lanjutkan setelah belajar nanti ya." ucap Ibu Sukma memberi kelegaan bagi Jennie yang tidak ingin banyak pertanyaan dari ibunya yang seperti tengah menyelidiki kondisinya itu.
***
Pagi hari yang ceria sepertinya bagi orang lain. Tidak bagi Jennie yang masih saja berjalan lunglai menyusuri lorong sekolah menuju kelasnya. Ia menghentikan langkahnya melirik kearah Gazebo yang terletak di taman sekolah terlihat Alvian yang tengah merebut makanan milik sahabatnya itu, Lalu memakannya.
Terlihat dari sisi pendiam Alvian ia sangat iseng sekali dengan temannya itu. Karena sikap mudah marah pria yang bernama Excel membuat Alvian gemar sekali melihatnya bersungut-sungut. Jennie sesekali tersenyum melihat Alvian yang terus saja menjauhkan makanan itu dari Excel yang nampak semakin geram kepadanya.
Namun sepertinya pandangan Jennie harus berubah. Kala melihat seorang pria yang baru saja tiba di lantai atas arah jam tiga. Tempat dimana segerombolan itu langsung menjadi riuh saat pria itu datang. Benar pria yang sangat ia benci namun ia rindukan pelukannya.
Sesaat mata Andi menangkap ke arah Jennie di bawah. Namun secepat itu pula ia memalingkan wajahnya kembali asik bersenda gurau dengan teman-temannya.
Jennie menghela nafas, tidak seharusnya kan ia kenal dengan pria itu. Kenapa harus ia menjalin cinta dengan laki-laki pengecut seperti Andi. Ia pun kembali melanjutkan langkahnya menuju ruangan kelasnya. Seiring dengan suara bel sekolah yang berdering.
Ruangan kelas itu mulai sunyi saat seorang guru tengah menerangkan sebuah materi pada para muridnya. Jennie merasakan ada sesuatu yang bergejolak. Ia ingin muntah namun ia tidak mungkin tiba-tiba keluar kan? Ya morning sickness yang tidak tepat pada waktunya membuat Jennie mengumpat.
Jennie beranjak. "Bu, saya ingin ke toilet." seru Jennie sembari mengangkat tangan kanannya.
"Silahkan." jawab Guru tersebut. Dengan Jennie yang langsung berlari keluar.
Dan dari dalam ruangan kelas itu Tiara mulai mendengar bisik-bisik para teman-temannya yang ada di kelas itu. Sempat sih Tiara menghiraukannya dan kembali fokus pada pelajarannya. Hingga Gladis wanita yang duduk di belakangnya mulai berbisik pada teman sebangkunya.
"Lihat perut Jennie kan?"
"Iya"
Hanya sebatas itu yang ia dengar. Namun dengan mengangkat bahunya sesaat ia tidak peduli. Orang-orang sudah biasa bergosip kan? Lebih-lebih tentang Jennie. Ya gadis itu seolah tidak pernah absen dari perbincangan. Entah mereka yang menganggap kecerdasan Jennie melebihi rata-rata lah. Atau kecantikan luar biasa. Dan rasa iri mereka karena Jennie bisa menjalin hubungan dengan kakak kelas sekeren Andi. yang pasti ia sudah tidak asing dengan bisik-bisik mereka tentang Jennie.
__ADS_1