Ayah Untuk Putri Ku

Ayah Untuk Putri Ku
lihat aku


__ADS_3

Dalam langkahnya yang panjang itu, ia tidak sadar jika ada langkah kaki pendek yang tengah setengah berlari mengikutinya.


'ya Tuhan, dia mau membawa ku kemana sih?' batin Jennie sudah tidak kuat untuk melangkah lagi rasanya. Sedangkan pria yang masih menggandengnya sama sekali tidak peduli. Dan masih saja asik dengan langkahnya.


Sesaat langkah Excel terhenti didepan pintu atap gedung tersebut, membukanya dan melangkah keluar.


Ia pun menatap dalam-dalam Jennie. "Puas kau?"


'puas? Apanya?'


"Puas sudah membuat hati seorang insan jadi terluka."


'waduh, maksudnya apa itu? Dapet kata-kata dari mana sih dia?' batin Jennie, namun wanita itu masih diam saja.


"Kapan sih, otak mu itu di gunakan?"


Jennie mengangkat kepalanya, 'o...otak? Dia ini kenapa sih?'


"Maksud anda apa Tuan?" Tanya Jennie, memberanikan diri.


"Ku tanya pada mu? Perasaan apa yang ada pada dirimu?"


"Pe... perasaan?" Mengangkat satu alisnya.


"Perasaan mu! Perasaan mu!!! Apa kau tidak merasakan apapun?" Mulai meninggikan suaranya.


'apa sih nih orang, pagi-pagi? Salah makan kayanya. Apa dia habis sarapan menggunakan rebusan daun kecubung?'


"Hei!!! Kenapa diam? Apa selama ini kau tidak berfikir tentang seseorang yang ada di sekitar mu?"


"Anu...? Saya benar-benar tidak mengerti maksud Anda. Orang di sekitar? Saya rasa selama ini saya selalu sendiri."


Greeeeepp Excel mencengkram kedua bahu Jennie. "Jangan pura-pura bodoh ya? Aku tahu kau selama ini gadis cerdas."


"Tuan, aku?"


"Benar-benar tidak mengerti? Apa kau setidak peka itu dengan perasaan orang lain??"


Gleeeekkk... 'kok dia tiba-tiba serius? Maksudnya apa sih?'


"Jawab!!!" Sedikit mengguncangkan tubuh Jennie.


Jennie pun menepis kedua tangan Excel. Ia mulai merasa tidak nyaman.


"Hentikan Tuan!!!" Ucap Jennie. Excel pun terdiam.


"aku heran pada mu? Kenapa kau selalu marah pada ku, menghukum ku tanpa alasan? Sebenarnya kau ini kenapa? Apa yang salah pada ku?"


"Kau!" Jawab Excel.


"Aku? Aku salah apa?"


"Kau bersalah, karena telah memenjarakan ku di sana." Excel menunjuk bagian dada Jennie. Hati maksudnya.


Jennie terpaku...


"Kau selalu merasa kan? Kau itu sendiri, semua orang berpaling pada mu, semua orang menepis tangan mu, dan semua orang acuh pada mu." Excel maju selangkah.


Cuuuppphh ia mengecup kening Jennie membuat Jennie terkejut bukan kepalang, seketika ia mundur satu langkah.

__ADS_1


"Kau tidak pernah sadar, jika ada orang yang selalu menemani mu." Maju satu langkah, Cuphhh satu kecupan lagi di kening ia luncurkan. Kembali Jennie memundurkan langkahnya.


"Kau tidak pernah sadar jika ada satu hati yang tidak akan pernah meninggalkan mu." Maju lagi, cuuuupph. Jennie semakin memundurkan langkahnya.


"Kau tidak pernah sadar jika ada tangan yang selalu bersedia menggandeng tangan mu untuk melangkah bersama." Maju lagi, Cuuupph. Jennie berniat mundur lagi namun dia sudah mentok. Tangan kanan Excel sudah menopang di sebelah Jennie dekat dengan telinganya.


"Dan lagi!!! Kau tidak pernah sadar jika ada satu orang yang sangat peduli dengan mu." Cupppphhh, semakin membulat bola mata Jennie. Gadis itu berusaha kabur lewat sisi kiri Excel, namun kini tangan yang satunya sudah bertopang. Sehingga tidak ada lagi ruang untuk Jennie kabur dari kungkungan Excel.


"Masih tidak mengerti? Siapa orang itu? Kau Masih tidak menyadarinya?" Lagi Excel mengecup kening Jennie lagi namun kali ini lebih lama, lalu melepaskannya.


"kecupan di kening mu itu, agar kau sadar, bahwa Orang itu adalah aku...! Paham kan sekarang?" Excel hanya mengatakan itu, dia pun melepaskan kungkungan nya, putar haluan dan langsung melenggang pergi begitu saja meninggalkan seorang wanita yang tengah mematung di sana.


Tubuh Jennie lemas, sesaat setelah Excel menghilang masuk kedalam pintu itu.


Bruuuuuukkk jatuh dengan posisi duduk.


Dengan tangannya yang gemetaran dia menyentuh keningnya.


"A...apa yang dia lakukan? Apa yang?" Masih tidak percaya. Ia lantas menampar pipinya sendiri, dan merasakan tamparan itu sakit. Jadi dia tidak mengkhayal saat ini.


"Kyaaaaaaaa, dia mencium ke...kening ku? Apa dia sudah gila mencium kening karyawannya sendiri?" Gumam...gumam...


Tubuhnya masih terasa lemas di sana, tidak percaya dengan apa yang di lakukan bos gondrong itu.


Sementara itu di sisi lain Excel masih berdiri di depan tangga. "Untung baku menahannya... Untung aku masih mampu menahannya." Dia tersenyum senang, sebenarnya dia berusaha kuat untuk tidak mengecup bagian bibir Jennie. Karena ia merasa dendam sekali karena kecupan Andi semalam.


Namun Excel ingin menahan itu, demi cintanya yang tulus pada Jennie. Bersih tanpa nafsu.


Ia menyentuh dada sebelah kirinya. Semakin berdebar terasa. "Aku mencintaimu Jennie." Gumamnya.


Ia pun menuruni anak tangga dengan semangat dan bibir yang masih saja tersungging bahagia.


Semenjak kecupan di atas atap itu. Jennie semakin merasa canggung dengan Excel, ia bahkan selalu menghindari bos itu.


Seperti saat ini, ia berpapasan dengan Excel dan langsung putar haluan begitu saja membuat Excel memegangi kerah bagian belakang Jennie, dan menahannya.


"Mau kemana?"


"Ke... Ke toilet Tuan."


"Kau baru saja keluar tuh."


"Mau masuk lagi... Kebelet lagi." Nyengir.


"Ckckck. Kau pikir aku percaya" masih memegangi kerah baju Jennie seperti tengah memegangi anak kucing.


Excel terkekeh, ia lantas meraih ponselnya di sakunya. "Seperti harus di abadikan." Ia mengangkat ponsel tersebut. Ckriiiiiiiikkk. Memotret keduanya, dalam gambar itu terlihat Jennie menoleh ke arah Excel, sementara Excel tengah tersenyum lebar.


"Lagi aaaahhh."


"Tuan anda ngapain sih?"


Ckriiiiiiiikkk. "Buat dokumentasi, kalo saya habis mungut kucing liar." Terkekeh, lalu memasukkan lagi ponselnya.


"Lain kali, jangan menghindari saya lagi ya? Kalo ketahuan? Habis kau. Karena yang ku tarik bukan hanya kerah baju ini. Namun nyawa mu."


"Nya...nyawa?"


"Iya lah. Mau merasakannya?"

__ADS_1


"Maksudnya?"


"Tutup mata mu."


"Hah?"


"Tutup mata mu."


"Memang mau apa?"


"Ayo menurut. Tutup mata mu."


Ragu namun tetap menutup mata.


"Siap-siap ya." Excel tersenyum jahil, "jangan dulu kau buka mata mu."


'astaga mau apa sih dia?' masih memejamkan mata.


Di hadapan Jennie, pria itu masih diam saja, tanpa melakukan apapun. Excel masih mengamati wajah Jennie itu.


'kau cantik.' batin Excel.


"Sudah, apa belum Tuan?" Tanya Jennie. Excel hanya diam saja.


"Tuan?" Mulai penasaran, ia sangat ingin membuka matanya.


"Tuan? Anda masih di sana kan?" Tanya Jennie masih memejamkan mata.


'gadis bodoh' Terkekeh dalam hati.


Jennie pun membuka matanya, sementara itu Excel langsung menarik senyumnya.


"Kau tidak menuruti ku ya?"


"Itu?"


Pletaaaaaaakkk sebuah sentilan di kening membuat Jennie mengerang sejenak lalu menunduk.


'pecah... kepala ku mau pecah, sakit... Sakit sekali. Dasar bos gila, sinting, tidak waras...' mengumpat dalam hati, namun hanya bisa membungkuk dari luar.


"Siapa yang menyuruh mu membuka mata mu?"


"Sa...saya pikir Tuan sudah pergi..."


'aaaarrrrrggghhh gila.. sakit!!!'


"Pergi ke pantry minta obat di sana."


"I...iya Tuan... Iya."


Excel pun melenggang pergi.


Di sisi lain Jennie menoleh lalu, mengusap-usap keningnya yang terasa pedas itu.


'terkutuk kau Tuan Excel. Hiks' berlari kecil menuju ruang pantry.


Bersambung...


Maaf hanya satu bab ya... Sedang ada kesibukan 😘😘

__ADS_1


__ADS_2