Ayah Untuk Putri Ku

Ayah Untuk Putri Ku
Hari yang di nanti


__ADS_3

Beberapa detik berlalu, pintu itu terbuka dengan kasarnya. membuat mereka berdua terkesiap lalu melepaskan ciuman mereka.


Alvian berkacak pinggang, ia geleng-geleng kepala dengan seorang wanita yang berada di sampingnya, nampak anggun dan cantik. Ia tersenyum menyapa Jennie, yang di balas ramah juga oleh sang mempelai wanita.


"Ckckckck... Kami semua menunggu di altar pelaminan. Sementara kalian malah di sini?" Alvian mendekati Excel, meraih kerah bagian belakangnya, lalu menariknya keluar dari ruangan itu.


"Hei... Hei... Bedebah ini ya?" Mengikuti langkah Alvian, sementara Jennie hanya menatap mereka berdua sembari geleng-geleng kepala.


"Tahan hasrat mu untuk nanti, dan selesaikan acara mu sekarang juga. Kami semua sudah lapar dan ingin segera pulang tahu."


"Hei...! Iya aku bisa keluar sendiri, bedebah...!! Lepaskan...!"


"Tidak akan ku lepaskan, biar istri mu berjalan dengan istri ku. Dan kau dengan aku?" Masih menyeretnya di bagian kerah jas bagian belakang.


"Apa kata mu?? Hei...!" Excel berusaha keras melepaskan diri dari cengkeraman Alvian, yang tengah tersenyum jail.


Sementara Katrina yang di sana sudah bergandengan tangan dengan Jennie berjalan keluar dari ruangan itu.


–––


Di altar pelaminan...


Excel keluar melewati karpet merah dengan posisi yang sama, di seret Alvian.


Terlihat Bu Miranda tertawa puas melihat pemandangan tersebut, karena itu adalah perintahnya juga yang meminta Alvian memanggil Excel dengan cara sebrutal mungkin bila perlu.


"Lihat mereka semuanya menyambut mu dengan meriah." Alvian masih melebarkan senyumnya.


"Menyambut apanya? Mereka menertawakan ku, bodoh!! awas kau ya... Akan ku balas perlakuan mu ini."

__ADS_1


Alvian menyunggingkan separuh bibirnya.


"Akan ku tunggu hari pembalasan mu itu." jawabnya sementara ia semakin menyeret Excel lalu menjatuhkannya di kursi pelaminan.


"Sialan manusia bekantan ini...!" runtuk Excel kesal pada pria yang hanya terkekeh melihat penderita Excel di hari pernikahannya.


Excel kembali beranjak ia membenahi jasnya lalu menoleh ke depan, seraya tersenyum senang menunggu Jennie yang sedang berjalan anggun bersama Katrina di atas karpet merah. Riuh suara tepuk tangan serta kilatan dari blitz lampu kamera mulai menghujani kedua wanita itu.


Pujian datang silih berganti dari para tamu undangan yang menjadi saksi acara tersebut lewat bisik-bisik mereka.


Hingga sampailah Jennie di panggung pelaminan. Excel pun mengulurkan tangannya pada sang istri, di mana Jennie langsung tersenyum lalu meletakkan tangannya di atas telapak tangan Excel yang langsung membawanya menuju kursi mereka.


Sama halnya dengan Excel, Alvian pun melakukan hal yang serupa. Mengulurkan tangan pada Katrina, yang tersenyum malu-malu lalu membawa sang istri pada kursi mereka.


Acara pun berjalan dengan lancar, hingga tiba pada puncak acara. Jennie yang baru engeh mulai menyentuh pipi Excel yang memerah.


"Pipi mu kenapa mas?" Tanya Jennie yang baru menyadari.


"Apa? Kok bisa?"


"Iya... Rubah betina itu pelaku, tadi pagi dia seperti mengerahkan seluruh kekuatannya untuk membangunkan ku dengan sandal miliknya."


"Ya ampun?" Jennie ingin tergelak menertawakan pria di sebelahnya. Namun ia sendiri takut berdosa, jadi sudah diam saja lah. Pura-pura prihatin.


"sudah jangan di bahas, aku masih kesal karena itu," jawab Excel yang tengah menyalami tamu undangan mereka, membuat Jennie kembali menoleh kearah tamu yang menyalami mereka.


Hingga semua tamu yang hadir sudah selesai menjabat tangan mereka. Tiba giliran Alvian dan Katrina sebagai tamu terakhir yang hendak berpamitan.


Kedua pria itu saling berpelukan.

__ADS_1


"Senangnya, kau sudah tidak jomblo lagi."


"Ya... Ya... Aku sudah bilang pada mu, pesona ku luar biasa."


Keduanya saling menepuk-nepuk punggung antar satu sama lain.


"Terserah kau lah, memang pria yang tak memiliki kaca itu selalu membanggakan dirinya sendiri, aku yakin jika sekalinya kau bercermin pasti dia langsung retak."


"Hahaha... Si brengsek ini." Menepuk-nepuk makin kencang, namun Alvian tak mau kalah ia melakukan cara yang sama.


Hingga acara saling ejek itu usai, mereka berdua berpamitan. Hingga tersisa kedua orang tua Jennie dan Excel.


Bu Miranda memeluk erat tubuh sang menantu, bergoyang-goyang ke kiri dan kanan saking bahagianya.


Cantik mamih benar-benar tidak menyangka kau mau menikah dengan si buruk rupa ini, senangnya... Senangnya... Senangnya..." ucap Ibunda Excel yang membuat Excel menoleh cepat.


"A..apa? Si buruk? Masih saja mamih memanggil ku itu?" seru Excel


"Berbahagialah ya nak, semoga kau tak menyesali pernikahanmu dengan anak bodoh ini, dan jika Excel berbuat aneh-aneh padamu mamih rela kau memutilasi nya," ucap Ibunda Excel lagi tanpa memperdulikan protes dari Excel tadi yang membuat Jennie tertawa aneh.


"Mamih! Mamih tuh bicara apa sih?" Seru Excel.


Bu Miranda melepaskan pelukannya pada sang menantu lalu menatap tajam kearah putranya.


"Kau..." menunjuk kearah Excel, "kau itu yang seharusnya menyadari bahwa kau memang anak jelek yang paling mamih sayang," ucap beliau yang lantas mengusap air matanya lalu memeluk Excel dan menciumi kedua pipinya.


"Hiks... Putra ku," uyel-uyel di pipi Excel.


"Mamih aku bukan bayi lagi, tapi aku suka di cium mamih," ucap Excel yang juga membalas pelukan ibunya itu, membuat Jennie tersenyum haru.

__ADS_1


'dasar anak Mamih yang manis.' batin Jennie.


bersambung...


__ADS_2