Ayah Untuk Putri Ku

Ayah Untuk Putri Ku
bos aneh


__ADS_3

Pagi berselang.


Mobil ibu Miranda sudah tiba di pelataran hotel, mengecek kondisi di hotel A.


"Selamat pagi ibu Miranda." Sapa seorang security yang tengah membukakan pintu mobilnya.


"Selamat pagi." Jawabnya sembari melanjutkan langkah kakinya.


Beberapa staf dan resepsionis pun berdiri menyapa beliau.


"Selamat pagi ibu Miranda." Sapa mereka bebarengan.


"Pagi." Bu Miranda menghentikan kakinya. Dan menoleh ke arah meja resepsionis.


Beliau melepas kaca matanya, lalu menampar pipinya sendiri saat melihat seorang pria gondrong sudah berdiri dengan sopan turut menyapanya.


"Apa aku sedang bermimpi?" Bu Miranda mendekati pria yang tengah tersenyum manis itu, lalu menyentuh wajah pria gondrong tersebut menarik kedua pipinya.


"Sa... Sakit mamih, le lepaskan." Excel meraih kedua tangan mamih nya.


"Astaga," Ibu Miranda menyentuh kepalanya. "Aku pasti berhalusinasi."


"Berhalusinasi apanya mamih?"


"Tidak! Tidak mungkin, kau pasti siluman yang menyamar jadi Excel. Anak ku itu tidak mungkin ada di sini, terlebih sepagi ini?"


"Haduh, mamih ini apaan sih? Anak berubah baik di bilang bukan Excel. Ini aku mih, pria paling tampan. Excel Pradiithaa. Anak satu-satunya dari Ibu Miranda Siregar. Yang berasal dari Medan." Excel merapikan jasnya dengan wajah sok cool.


"Cih, anak buruk rupa seperti mu. Dari mana tampannya?"


"A... Apa? Buruk? Mamih ini."


"Sudah, katakan pada ku? Kau mau apa kemari, aku tidak yakin kau berniat baik kala datang menemui ku."


"Hei... Mamih ini, selalu saja berfikiran buruk. Excel itu sedang berhenti menerima proyek design untuk beberapa bulan ke depan. Excel ingin belajar dan membantu mamih di sini. Jeeeeeng bangga dong mih. Harusnya ada bunga-bunga sakura di belakang Excel ini hahaha."


Bu Miranda menyentuh kening Excel. "Apa kau sakit? Apa kau salah minum obat?"


"Jiaaaahhh di kira salah minum obat pula? Mamih, Excel ini sungguh-sungguh, dari hati ini."


"Oh Tuhan, terimakasih tanpa aku me rukiyah dirimu, kau sudah berubah dengan sendirinya." Bu Miranda berbinar. "Aku rasa Jin yang memasuki mu sudah kabur ya? Tidak betah dengan tubuh manusia buruk rupa ini Hahaha"


"Terus saja menghina anak mu sendiri."


Bu Miranda mengusap-usap lengan Excel. "Haruskah aku mengadakan Syukuran?"


"Mamih!"


"Hahaha iya... iya... Aku tidak percaya di balik otak mu yang bodoh itu, hati mu masih waras rupanya."


Excel menatap sebal. "Sepertinya Excel berubah pikiran."


"Aaahhh putra ku yang buruk rupa tapi baik hati. Ibu mu hanya bercanda sayang."


"Apa itu memuji seperti itu." Excel semakin sebal.


"Ohh, baiklah. Adam—" Seru bu Miranda, pada seorang manager hotel.


"Saya, Bu Miranda."

__ADS_1


"Tolong ajari anak bodoh yang tengah waras ini ya."


"Cih." Excel mengumpat.


"Baik Bu Miranda."


"Dan ingat, kalau dia berbuat salah? Aku dengan sangat senang akan mengizinkan mu untuk menghajarnya."


Excel membulat kan kedua bola matanya. "Apa? Apa? Mamih ini ya?"


"Hahaha... Senangnya punya anak waras. Semoga kewarasan mu ini istiqomah ya putra ku." Ibu Miranda menepuk-nepuk bahu Excel yang masih menatapnya kesal.


memakai kembali kaca matanya lalu melanjutkan langkahnya sembari bersenandung senang.


"Lihat itu? Apa seperti itu seorang ibu? Dasar. Tidak waras nya diri ku juga karena mu mamih."


Excel menoleh kearah para staf dan resepsionis di sana. Mereka terlihat menahan tawanya.


"Terus saja menertawai ku!" Seru Excel pada semuanya, sontak yang ada di sana pun bungkam.


Pandangan Excel beralih pada manager hotel yang tadi. "Siapa nama mu tadi?"


"Adam Tuan Muda."


"Ahhh iya. Aku ingin bertanya. Kau tahu karyawan sini, gadis yang bekerja di bagian room service, siapa namanya?"


"Maaf Tuan, gadis yang bekerja di bagian itu ada banyak. Ciri-cirinya seperti apa?"


Excel mencondongkan tubuhnya, berbisik. "Langsing, cantik."


"Saya rasa hampir semuanya seperti itu Tuan."


"Tuan, karyawan yang sift pagi, jam kerjanya pukul delapan pagi, sedangkan Tuan datang pukul lima pagi."


"Ck." Excel pun kembali menunggu. Hingga tak lama seorang pelayan pria yang ia kenal datang.


"Ahaaaaa! Hei kau sini... Sini cepat." Panggil Excel.


Pelayan pria itu pun mendekat. "Ada apa Tuan?"


"Siapa nama mu?"


"Ruby."


"Haduh nama mu terlalu bagus untuk wajah seperti ini. Tapi lupakan, aku ingin bertanya, gadis cantik yang waktu itu di bawa masuk ke dalam kamar oleh tiga pria bule itu, siapa namanya?" tanya Excel tangannya sudah nyaman merangkul bahu Ruby.


"Mbak Jennie maksud Tuan."


"Iya pokoknya dia yang waktu itu ku tolong."


"Iya Tuan, namanya mbak Jennie Elvira."


Excel tersenyum. "Ehmmm, dia dimana? kenapa belum datang?"


"Mungkin sebentar lagi Tuan."


"Ck, lama sekali sih sudah dua jam lebih aku menunggu, dia masih belum datang juga." gumam Excel.


Ruby garuk-garuk. Tak lama matanya menangkap seseorang yang tengah berjalan memasuki area hotel. "Tuan itu, itu mbak Jennie datang."

__ADS_1


Excel melepaskan lengannya yang tadi tengah melingkar nyaman di bahu Ruby. Ia bergegas merapikan rambutnya lalu jasnya.


Jennie pun masuk menyapa mereka yang ada di sana. "Selamat pagi." Membungkuk. Senyum manis Jennie sedikit membuat Excel terpukau.


Jennie pun melanjutkan langkahnya.


"Hei tunggu! No... Nona?" Excel melirik ke arah Ruby.


"Jennie, Tuan."


"Nona Jennie!!" Seru Excel. Jennie pun menghentikan langkahnya lalu menoleh.


"Kemari kau." Excel menjentikkan jarinya.


"Sa... Saya Tuan?" tanya Jennie.


"Kau pikir nama Jennie ada berapa di sini?"


Jennie pun berjalan pelan mendekati Excel dan berdiri di hadapannya dengan kepala sedikit tertunduk.


"Ada apa Tuan?" tanya Jennie.


"Jam berapa sekarang?" tanya Excel.


Jennie pun menoleh ke arah jam tangannya. "Jam tujuh kurang seperempat, Tuan."


"Kau tahu? Kau itu sudah terlambat!" Seru Excel. Jennie pun menatap bingung.


"Maaf Tuan, saya rasa Nona Jennie ini belum terlambat." tutur Adam.


Excel menendang tulang kering Adam sehingga sedikit mengerang. Lalu mengusapnya.


"Bagi ku wanita ini sudah terlambat."


"Maafkan saya Tuan, tapi. Saya itu biasa berangkat jam segini jika tengah sift pagi. Karena jam kerja saya jam delapan pagi."


"Hei... Hei.... Kau mau membantah kesalahan mu?"


'Haduh ada apa dengan pria ini? Aku kan tidak salah apa-apa? Kenapa jadi seperti terdakwa seperti ini?'


"Jangan diam saja! Kau itu harus di hukum atas kesalahan mu itu."


"Hu...hukum? Maaf Tuan, tapi saya tidak merasa berbuat kesalahan."


Excel mendekati Jennie. "Hei, siapa dirimu itu? Aku ini anak pemilik hotel ini, sudah jelas aku atasan mu juga kan? Jadi Kalau aku bilang kau salah ya salah. Kalau aku bilang akan memberi mu hukuman ya kau harus ku hukum, paham!"


Jennie mengangguk cepat.


"Bagus. Kau memang harus di hukum karena membuat ku berdiri lama di sini." Ia pun berjalan lebih dulu.


"Ruby, aku ini salah apa sih?"


"Mungkin Karena Tuan Excel sudah menunggu lama mbak Jennie yang katanya gadis can mmmmpp." Di luar dugaan Excel kembali hanya untuk membungkam mulut Ruby.


"Sudah cepat kau ikut aku. Dan jalani hukuman mu sekarang juga." titah Excel. Ia pun melepaskan bungkamnya lalu berjalan lebih dulu.


Jennie yang masih kebingungan di sana hanya bisa mengikutinya. Dan menjalani apa yang akan beliau suruh setelah nya.


"Haaaahhh, Belum apa-apa Tuan Excel sudah melakukan hal konyolnya." Adam geleng-geleng kepala.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2