
Malam itu keluarga Jennie tengah berkumpul di ruang TV. Pak Ridwan tengah asik bermain lego bersama Nara, sedangkan ibu Sukma dan Jennie menonton acara kesukaan mereka yaitu sebuah reality show.
Jennie melirik ke arah ayahnya, ia benar-benar ingin mengatakan sesuatu yang mungkin akan menjadi ceramah panjang sang ayah setelah ini.
Namun, jika di tahan terlalu lama pun akan semakin membuat ganjalan di hati. Hingga akhirnya, keberanian untuk membuka suara pun muncul kala sang ayah duduk di kursinya, meraih secangkir kopi yang ada di atas meja.
Jennie menghela nafas sejenak. "Ayah?"
Panggilnya sedikit ragu. Pak Ridwan pun menoleh, kembali ia letakan cangkir kopi itu di atas meja.
"Ayah, Jennie ingin bicara." tuturnya.
Bu Sukma beranjak ia mendekati Nara. Bergantian bermain dengan gadis kecil yang masih asik bermain dengan lego nya.
"Bicara lah." jawab sang ayah.
"Aku? Aku tidak tahu ini akan membuat ayah marah atau tidak, tapi? Jennie ingin mandiri, tinggal berdua bersama Nara."
Kedua suami istri itu menatap Jennie, lebih-lebih sang ayah yang langsung mengerutkan keningnya. "Apa maksud mu meminta izin untuk tinggal berdua dengan Nara? Memang rumah ini tidak cukup luas untuk kalian?" tanya sang ayah.
"Tidak, bukan begitu yah. Jennie hanya?"
"Kau masih sekolah kan? Jika kalian tinggal berdua, bagaimana dengan Nara, Saat kau pergi untuk belajar?" Pak Ridwan meraih cangkir kopinya lalu menyeruput nya lagi.
"Tidak usah macam-macam!" Tuturnya kemudian sembari menutup cangkir gelas itu dengan penutupnya. Beliau kembali beranjak.
"Jennie hanya tidak ingin, terus-menerus menjadi sebuah kotoran di wajah kalian." gumamnya sembari tertunduk.
Pak Ridwan pun urung beranjak ia kembali pada posisinya. Menatap lurus kearah Jennie.
"Aku tahu, selama ini semua tentang Jennie selalu menjadi perbincangan hangat di kompleks ini, bahkan selalu menjadikan Jennie sebagai contoh buruk untuk anak-anak mereka. Mungkin itu tidak masalah untuk Jennie karena Jennie memang seperti itu? Seperti apa yang mereka pikirkan tentang Jennie. Namun jika harus melukai ibu dan ayah dengan cara menjadikan kalian sebagai contoh orang tua yang gagal Jennie tidak bisa terima itu." Jennie mulai menitikkan air matanya.
"Sudah bicaranya?" tanya Pak Ridwan. Pak Ridwan menghela nafas sejenak.
__ADS_1
"Jennie, saat ini kita itu seolah tengah menjadi seorang publik figur yang tengah melakoni peran, sedangkan mereka hanya menonton. Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di belakang layar. Dan hanya bisa menghujat kita semaunya, menghina, bahkan menghakimi.
Itu sudah kodratnya mereka yang hanya bisa menonton di depan layar, jadi biarkan saja."
"Tapi Jennie ingin nama ayah dan ibu kembali bersih. mungkin jika mereka tidak lagi melihat Jennie, mereka akan segera lupa, dan dengan begitu ayah dan ibu akan kembali terpandang seperti sedia kala."
Pak Ridwan mendesah. Ia tidak berkata apapun lagi. Beliau hanya beranjak dan berjalan mendekati Nara lalu menggendongnya. "Kau akan memisahkan seorang kakek dengan cucunya?" tanya pak Ridwan. Ia mengecup pipi Nara.
"Ayah, Jennie akan tinggal tidak jauh dari rumah ini. Ayah masih bisa berkunjung ke rumah Jennie dan Nara."
"Datang dan hanya menemuinya beberapa jam saja, lalu berpisah lagi?? Kau tahu alasan ayah sekarang sudah jarang tugas di luar kota? Ayah lebih menikmati di sini, bisa pulang setiap hari bertemu dengan cucu tercinta ayah ini." pak Ridwan mengecup pipi Nara lagi.
"kau tidak tahu rasanya kala ayah tengah rindu dengan Nara, Jennie?
Ayah tidak setuju! Kau dan Nara harus tetap di sini!" Tegasnya.
"Ayah, tolong mengerti lah."
Jennie pun mengusap air matanya yang kembali menetes. Sedangkan bu Sukma berjalan mendekati Jennie, dan duduk di sampingnya. Membelai lembut rambut Jennie yang sebatas bahu itu.
"Sayang, kenapa kau tiba-tiba ingin pindah dari sini? Bukankah kau tahu? Kami sangat mencintai kalian. Kami tidak mungkin tega membiarkan kalian tinggal berdua saja. Terlebih-lebih Nara masih berusia dua tahun. Kau pun masih butuh banyak bimbingan untuk merawat Nara."
Jennie terisak. "Jennie tidak ingin menyusahkan ayah dan ibu terus. Jennie juga tidak ingin ayah dan ibu selalu di hina karena Jennie yang memiliki anak namun tidak memiliki suami."
"Ibu tidak pernah merasa seperti itu sayang, ayah pun sama."
"Tapi kenyataan, ibu sering menangis karena hal itu kan? Bahkan tadi ibu pun pulang cepat, lalu menangis sendirian di kamar. Semua sebab siapa? Sebab mereka menghina ibu yang memiliki putri seperti Jennie!"
Bu Sukma pun memeluk tubuh Jennie, menenangkan Jennie yang tengah menangis itu.
"Tolong bantu Jennie berbicara dengan ayah bu. Jennie dan Nara memang harus tinggal berdua saja."
"Jennie. Kami hanya khawatir pada kalian jika harus tinggal berdua sayang."
__ADS_1
"Jennie akan baik-baik saja bu. Jennie janji, Jennie tetap akan berkunjung. Tolong bantu Jennie meminta izin pada ayah bu." Pinta Jennie.
Bu Sukma pun terdiam. Beliau saja tidak ingin Jennie dan Nara pergi dari rumah ini apa lagi harus membantunya memintakan izin pada suaminya.
Malam semakin larut Jennie dan bu Sukma menghampiri pak Ridwan yang tengah berada di kamarnya bersama Nara.
Terlihat di kamar itu pak Ridwan langsung mengusap matanya yang basah kala melihat Jennie dan istrinya masuk.
"Ayah maafkan Jennie ya. Jennie tak bermaksud membuat ayah sedih." tutur Jennie. Sedangkan pak Ridwan hanya diam saja memangku cucunya.
"Nara, kita bobok yuk, sudah malam sayang." ajak Jennie. Nara pun mengangkat kedua tangannya meminta di gendong oleh Jennie. Dengan senyum tersungging di bibir pak Ridwan ia mengecup pipi Nara.
"Nara Bobok dulu ya, besok main sama kakek lagi." titahnya pada sang cucu.
Terlihat Nara membalas kecupan kakeknya lalu mengoceh tak jelas pada sang kakek sehingga membuat ketiganya terkekeh.
Jennie pun menggendong Nara membawanya keluar dari kamar kakek dan neneknya.
***
Di pagi harinya. Entah bagaimana cara ibunya itu berbicara. Sang ayah pun luluh, dan memberikan izin pada Jennie untuk mandiri.
Namun dengan catatan saat Jennie tengah menjalani belajar Nara harus ada di rumah orang tuanya. Dengan itu Jennie pun menyanggupi.
Beberapa hari berselang, mereka sudah menemukan rumah kontrakan yang pas untuk Jennie, rumah yang nyaman walau tidak terlalu besar. Kawasannya pun tertata apik.
Pak Ridwan juga sudah mengisi rumah kontrakan itu lengkap dengan ranjang, rice cooker, dan berbagai macam benda juga alat elektronik penting lainnya yang paling di butuhkan Jennie.
"Ayah harap kamu hanya sesaat saja ingin mandiri Jennie. Dan kembalilah tinggal lagi bersama kita." Ucap sang ayah.
Jennie tersenyum. Ia hanya diam saja karena yang ada di hatinya adalah untuk selamanya sampai dia memiliki hunian miliknya sendiri.
Karena setelah ini Jennie akan benar-benar mencari uang untuk mencukupi kebutuhan dirinya dan Nara. Karena? Sudah cukup banyak dirinya merepotkan sang ayah kini giliran Jennie yang harus benar-benar belajar menjadi seorang ibu tunggal yang harus bertanggung jawab atas sang anak.
__ADS_1