Ayah Untuk Putri Ku

Ayah Untuk Putri Ku
terkilir


__ADS_3

Sesampainya di lantai sepuluh Lift pun terbuka.


Di sana Jennie memutuskan untuk keluar dari bilik lift tersebut. Dan berjalan pelan menuju tangga darurat.


Sejujurnya tangga darurat itu adalah tempat favorit Jennie, dimana jarang ada orang yang melintas di sana.


Tempat yang lumayan sepi dan tenang, sangatlah cocok untuknya menyendiri.


Selama ini Jennie memang jarang sekali turut nimbrung dengan teman-teman yang lain, entah mengapa dia lebih nyaman sendirian,entah itu untuk makan siang atau saat beristirahat sejenak.


Semua bukan karena dia tidak memiliki teman, namun bagi Jennie, kesendirian adalah cara baik untuknya bertahan hidup, agar tidak ada sedikit pun rasa untuk bergantung pada orang lain.


Di sana Jennie terus melangkahkan kakinya menuju pintu yang sudah tinggal selangkah lagi untuk nya mampu meraih gagang pintu tersebut, Kraaaaakkk tiba-tiba salah satu hak sepatu Jennie patah sehingga membuat Jennie hampir terjatuh namun secepat itu pula ia meraih tembok dihadapannya guna menopang tubuhnya.


Akibat patahnya hak sepatu tersebut, bibir Jennie sedikit meringis, kakinya terasa sakit sekali bahkan ia sedikit tertatih-tatih untuk tetap berjalan masuk menuju tangga darurat tersebut.


Di salah satu anak tangga itu Jennie duduk sembari memijat sedikit kakinya.


"Ya Ampun, kaki ku sakit sekali, aku pasti terkilir, sepatu ini memang sudah lama ku gunakan. Mungkin sudah saatnya ganti. Tapi? Biaya untuk les Nara jauh lebih penting." Gumam Jennie masih memijat-mijat kakinya, hingga pintu pun terbuka, Jennie pun sedikit terkejut.


"Ketemu!" Seru Excel yang terlihat ngos-ngosan.


"Tu... Tuan?" Terperanjat, ia tidak menyangka pria itu bisa menemukannya. Jelas saja Jen? Sebelum ini dia mengecek CCTV lebih dulu.


"Bagus, haaaah... Haaahh... Bagus kau ya? Kabur dari ku?" Berjalan mendekati Jennie.


"Bu...bukan begitu Tuan , aku hanya tidak nyaman saja." Menyeret tubuhnya naik ke anak tangga satunya, karena Excel mulai mencondongkan tubuhnya mendekati Jennie. Pria itu lantas meraih kaki Jennie yang sakit itu.


"Aaaaawwwwhhh, sa...sakit Tuan."


"Kau kenapa?" Reflek melepaskannya.


"Itu... Aku sedikit terkilir." Jawabnya lirih. Excel pun beranjak lalu mengangkat tubuh Jennie secara tiba-tiba, sehingga membuat gadis itu gelagapan.


"Tuan... Tuan jangan."


"Jangan apa? Kaki mu terkilir itu. Kau harus mendapatkan penanganan." Sudah mulai melangkahkan kakinya.


"Tapi...? Saya bisa sendiri, saya bisa jalan sendiri Tuan."


"Tidak usah berisik, jangan menambahkan beban ku dengan suara bising mu itu, kau pikir tubuh mu tidak berat apa?"


"Kalau berat kenapa tidak melepaskan ku? Sungguh Tu... Tuan aku masih bisa berjalan sendiri."


"Bicara saja terus! Ku sentil lagi kening mu itu, mau!!" Mendengar itu Jennie menggeleng cepat, ia lantas mempererat pegangan tangannya di leher Excel.

__ADS_1


'kenapa rasanya canggung sekali sih, di gendong seperti ini olehnya, tapi?' Kepala Jennie sedikit naik, matanya tertuju pada wajah Excel, Excel pun membalas lirikannya ke arah Jennie hingga mata keduanya saling bertemu.


Jennie reflek memalingkan wajahnya. Sedangkan Excel hanya tersenyum tipis dengan wajahnya yang memerah itu.


Tidak hanya itu wajah Jennie pun sedikit memerah, karena saling pandang tadi. Excel pun terus saja melangkah menuju ruangan kerja Excel, dengan tubuh Jennie yang masih berada pada gendongannya itu.


Di ruangan kantor...


"haaahh gila! Beratnya kau ini." Gerutu Excel yang tengah meletakkan tubuh Jennie diatas sofa. Hal itu justru membuat Jennie semakin merasakan canggung, karena karyawan biasa sepatutnya tidak duduk di sofa mahal ini.


"Tuan kenapa anda membawa saya ke sini?" Tanya Jennie.


"Memangnya kau mau aku bawa kemana?"


"Tentu saja basecamp para pelayan hotel lah. Kalo di sini aku sedikit agak merasa tidak enak." Ucap Jennie. Matanya masih memburu ke sekeliling, karena ini kali pertama dia masuk ke ruangan seorang direktur.


Di sisi lain Excel sudah meraih kaki Jennie yang terkilir tadi. Jennie pun menoleh.


"Tuan anda mau apa?"


"Menarik kaki mu yang terkilir ini."


Jennie terkekeh ngeri. "Tuan, apa anda tengah bercanda?"


"Bercanda apa? Kaki mu ini perlu di tarik agar urat-uratnya kembali normal."


"Memang tidak, tapi aku yakin pasti bisa kok." Sudah hendak menariknya, namun secepat kilat Jennie menepis tangan Excel, membuat Excel menoleh cepat.


"Apa yang kau lakukan sih? Beraninya kau menepis tangan ku."


"Tapi kaki ku itu benar-benar terkilir Tuan, anda tidak ada pengalaman, jadi saya khawatir anda malah akan mematahkan kaki ku."


"Apa kata mu? Kau meremehkan aku ya?"


"Bukan meremehkan memang seperti itu kan?"


"Dasar! Intinya aku bisa menangani kasus seperti ini, kau jangan khawatir." Hendak menyentuh kaki Jennie lagi. Jennie pun kembali menepisnya.


"Hei!!" Excel membulatkan bola matanya.


"Tuan sungguh, aku tidak mau di pijat oleh mu, saya ngeri Tuan, bukan apa-apa." Sedikit merengek sembari menutupi kakinya yang sakit itu.


"Diam tidak, singkirkan tangan mu itu."


"Tidak Tuan, ku mohon, cari saja tukang pijat untuk ku. Asal jangan anda."

__ADS_1


"Memang kenapa sih, aku itu bisa."


"Saya tidak yakin Tuan." Masih terus saja menepis tangan Excel. Sementara Excel masih terus berusaha meraih kaki Jennie.


"Tuan saya mohon jangan, jangan Tuan."


"Diam! Ku bilang diam!" Seru Excel masih bertarung dengan tangan Jennie itu.


Sementara keduanya masih terus berkutat dengan masalah kaki Jennie. Ruby yang tengah melintas di depan ruangan Excel pun mendengar suara teriakan "jangan!" Dan "diam!" Dari dalam sehingga membuat otak kotornya itu bekerja.


Ruby pun menempelkan telinganya di dekat pintu ruangan Excel.


"Tuan jangan saya mohon itu sakit Tuan, sungguh sakit sekali."


"Sudah ku bilang aku bisa, tidak akan lama kok, sebentar saja." Itu yang Ruby dengar dari luar, tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi, seketika matanya membulat.


"Astaga, apa yang tengah di lakukan Tuan Excel dan?" Mendengarkan lagi dengan seksama, suara wanita di dalam ruangan itu. "Mbak Jennie, iya? Itu mbak Jennie, Jangan-jangan?"


Sedikit kalang kabut Ruby, sehingga membuat dirinya memutar haluan hendak meminta bantuan, namun kini dia sudah di hadapkan dengan Adam yang tengah berdiri tegap di hadapannya itu.


"Apa yang tengah kau lakukan?" Tanya Adam dengan tatapan menghunus.


"Tu... Tuan Adam, maaf... Maafkan saya. Tapi sepertinya di dalam, Tuan Excel tengah berbuat sesuatu yang tidak baik Tuan."


"Maksudnya?"


"Mbak Jennie ada di dalam, dan dari tadi saya. Mendengar teriakannya, jangan-jangan?"


"Tidak usah berfikir yang?"


"Kyaaaaaaaaaaaaaaaa!!!" Teriak Jennie sangat kencang dari dalam. Sehingga membuat mata Adam membulat sempurna, ia pun turut menempelkan telinganya, di dekat pintu ruangan Excel.


Sementara di dalam, "Sakiiiiit!!! Sakit Tuan,sakiit!!!hiks!!!" Tangisan Jennie,


"Aaaarrrrgggghhhhh...." Excel mengerang, sesaat setelah Jennie menggigit bahu Excel, reflek karena saking tidak tahannya dengan rasa sakit itu.


"Kenapa kau mengigit bahu ku sih? Kau kanibal ya?" Seru Excel, Jennie pun meraih bantal sofa di sebelahnya lalu memukuli tubuh Excel.


"Sudah ku bilang itu sakit!!! Sakit Tuan!"


"Hei...hei...hei... Hentikan!!! Apa yang kau lakukan sih? Sudah ku tolong malah memukuli ku." Menangkis dengan lengannya


"Menolong apa? Anda mau membunuh ku ya? Hiks, jahatnya kau Tuan! Sudah ku bilang kaki ku sakit! Sakit! Kenapa tetap kau tarik juga hah!!!" Masih terus memukuli Excel dengan brutal.


Krieeeeeeetttt Hingga pintu itu pun terbuka karena dorongan dua tubuh pria dewasa yang tengah menguping di luar.

__ADS_1


Excel dan Jennie pun menoleh, tentu saja hal itu membuat Ruby dan Adam salah tingkah, karena kepergok tengah menguping di luar.


__ADS_2