
Beberapa jam sebelumnya...
Ketika mentari baru saja meninggi, Jennie menatap cahaya yang hangat dari sebuah dinding kaca, dalam salah satu kamar di hotel tempatnya bekerja. Senyum manis tersungging cerah, secerah Arunika di ufuk timur.
Pagi ini ia awali dengan rasa syukur berlebih. Bahagia yang tidak bisa dia ukir hanya dengan rentetan kata-kata indah. Bunga-bunga pun seolah bermekaran di hatinya, tatkala merasakan jantung yang kembali berdebar tak beraturan. Iya... Semua sebab hati yang mulai terisi kembali, setelah bertahun-tahun kosong terguratkan luka.
Tiiing... Sebuah pesan chat masuk, Jennie membukanya.
(Jejen ku... Kau di mana? Cepat lah datang ke ruangan ku, aku rindu. Tertanda, pria paling beruntung di dunia ini.)
"Ya ampun... Mas Excel." Jennie terkekeh. Dia tak berniat membalasnya, karena pekerjaannya belum selesai. Lagi pula meladeni Excel hanya akan membuang-buang waktu. Ia pun melanjutkan pekerjaannya lagi yang hanya tinggal sedikit, lalu membawa troli tersebut keluar dari ruangan yang sudah bersih itu.
Di depan kamar 123.
Jennie terkesiap, pria itu sudah berdiri dengan satu tangan menyandar di dekat pintu. Tepat ketika dia baru saja membuka pintu kamar tersebut.
"Astaga...!"
"Apa kau tidak punya paket data?"
"A...ada kok. Kenapa tanya itu."
"Lantas kenapa pesan chat ku tidak di balas."
"Aku hanya sedang sibuk. Niatnya akan ku balas saat sudah sampai gudang."
"Ck...! Aku tidak mau. Balas sekarang juga," titahnya.
"Lah... Haruskah aku membalas lagi, sedangkan kau sudah ada di sini?"
"Ku bilang balas pesan ku!" Memaksa.
"Tapi?"
"Sayang...? Kau mau aku meminta mu untuk membalas pesan chat ku menggunakan pengeras suara?"
"Eh, Ba... Baiklah..." Jennie mengalah, ia pun mengeluarkan ponselnya. Ngeri juga jika pria gila ini datang ke bagian informasi hanya untuk memerintahnya membalas pesan chat. Dan ia percaya Excel pasti akan melakukan itu.
"Balas sesuai isi chat ku ya." Menunggu.
Gadis itu melirik kesal, mengetik sesuatu, lalu lmengirimkannya. 'tuh ku balas, puas kan kau?'
Tiiing... Excel bergegas mengeluarkan ponselnya dari saku jas.
"Wah... Wah... Ada pesan," tersenyum songong.
(Aku sedang di kamar 123, iya mas aku akan datang. Tunggulah...)
Excel tersenyum lebar, lalu mengetik sesuatu.
(Jangan pakai lama, aku akan menghitung tiga puluh detik dari sekarang.) Kirim. Ia melirik ke arah Jennie yang masih diam saja, belum membaca pesan chatnya.
"Kenapa diam saja, baca."
"Ampun ya... Mas kan bisa ngomong langsung."
"Jejen...! Ku perintahkan kau untuk membacanya."
"Tapi...?"
"Ini perintah dari atasan mu...!"
'pria gila ini memanfaatkan seratusnya sekali sih.' batinnya sembari menatap sinis, lalu membaca isi chattingnya. Sesaat mata itu melebar.
"Tiga puluh detik?" Protes.
"Tulis di aplikasi chatting mu. Jika kau mau protes."
"Mas... Aku ini?"
"Tulis...!"
"Sungguh ya..." Jennie mulai lelah, karena baginya ini konyol. Mereka berdiri berhadapan, namun saling mengirim pesan chat.
__ADS_1
Ketik... Ketik... Ketik... Kirim. Excel kembali membukanya.
(Tiga puluh detik? untuk mengembalikan troli ini saja butuh waktu beberapa menit. Lalu ke ruangan mu, aku membutuhkan waktu lebih mas.)
Excel mengetuk-ketuk dagunya, seolah-olah tengah memikirkan sesuatu, lalu mulai mengetik lagi. Membuat Jennie mendesah konyol. Padahal kan lebih cepat ngomong langsung.
Tak lama pesan chat kembali masuk, membuat dia langsung membacanya.
(Kalau begitu tinggalkan saja troli mu disini, dan datang lah ke ruangan ku sekarang juga.)
Jennie yang merasa ingin protes lagi mulai membuka mulutnya, untuk berbicara.
"Ehhhh... Tulis." Menunjuk ke arah ponsel Jennie.
"Ini konyol tahu...! Aku tidak mau." Ia memilih untuk memasukan ponselnya kedalam saku baju, lalu mendorong troli itu menjauh.
"Tiga puluh...!!" Seru Excel, membuat langkah kaki Jennie terhenti. "Ku hitung dari sekarang. Jika tidak kau turuti kemauan ku, habis kau." Mengancam.
Jennie menoleh.
"Mas...?" Merengek sebal, seraya menghentakkan satu kakinya.
"Dua puluh sembilan...!"
"Aku harus bekerja."
"Dua puluh delapan..."
"Sepuluh menit ya."
Excel menutup kedua telinganya. "Dua puluh tujuh..."
"Lima menit deh."
Pria gondrong itu berjalan semakin mendekati Jenni, dengan kedua tangan masih menutupi telinga.
"Dua puluh enam..!" Tersenyum sinis. "Ku tunggu kau di ruangan ku, kalau tidak kunjung datang? kau lihat saja nanti ya."
"Mas?" Memohon.
"Dua puluh empat... habis lah kau, hahahaha." Lift terbuka dia pun masuk.
"Aaaaahh... Aku bisa gila, bagaimana ini." Panik, Jennie menggigit kuku jarinya, menoleh ke kiri dan ke kanan. "Tadi sudah dua empat berarti sekarang sudah dua puluh tiga. Ayolah, siapapun tolong aku."
Tak lama Ruby keluar dari dalam lift sembari bersiul. Jennie pun tersenyum lebar.
"Penolong ku... Hahaha..." Ia mendorong troli itu, lalu mendekatkannya pada Ruby yang tengah membawa troli lain.
"Eh... Apa ini, mbak?" Bingung.
"Kau kemarin bilang ingin sepatu futsal kan?" Tanya Jennie. Ruby manggut-manggut. "Gajian besok, akan ku belikan."
"Wah... Wah... Rejeki nomplok. Kira-kira butuh bantuan apa nih...?" Ruby menggosok-gosok kedua telapak tangannya, bersemangat.
"Tolong bawa ini ke gudang, aku harus pergi."
"Hanya itu?"
"Iya..." Jennie menepuk-nepuk pundak Ruby, lalu menekan tombol di lift itu cepat.
"Serius nih?"
"Iya..."
"Dapat sepatu ya."
Lift terbuka... Jennie pun masuk, dan kembali menekan tombol tutup.
"Aku tidak janji sepatunya."
"Apa... Terus?"
"Tali sepatunya saja... Hahaha bye Ruby makasih ya." Taaaakkk pintu lift tertutup, sementara mulut Ruby langsung ternganga, tidak percaya. Seolah sepasang sepatu itu seperti memiliki sayap dan terbang begitu saja.
__ADS_1
"Cih...! Dia sepertinya sudah tertular sikap pelitnya Tuan Excel. Dan ini?" Ruby merasa bingung dengan dua troli di hadapannya. "Sial...!" Menggaruk kepalanya kasar.
***
Tak lama lift terbuka di lantai teratas, di mana ia langsung mengejar Excel yang sudah hampir masuk ke ruangannya.
"Maaaaas...." Berlari kecil. Excel langsung menoleh, ia tersenyum sinis dengan tangan menyilang di dapan dada.
Menunggu Jennie, hingga berhenti di hadapannya, ngos-ngosan.
"Su... Sudah berapa? Aku tidak telat kan?"
"Apanya?" Tanya Excel, dengan tampang sok bodoh.
"Hitungan mundurnya."
"Entah lah. Aku lupa."
"Kok?" Tercengang.
"Iya lah. Aku tidak menghitung lagi tadi saat di lift."
"Apa?" Gusar.
"Masuk lah karena kau sudah datang, mungkin kau rindu aku. Jadi akan ku persilakan kau untuk masuk."
'pria gila ini ya? Sepertinya aku salah menerima dia.' batin Jennie geram. "Sudah intinya saja, anda mau apa menyuruh ku datang?"
"Tidak ada apa-apa, hanya ingin kau datang saja. Tapi karena kau sudah datang ya sudah, kau bisa kembali."
"Apa kata mu?"
"Kenapa tampang mu terlihat kecewa sekali?"
"Siapa yang kecewa?"
"Itu diri mu. Ckckckck.... Jejen, Kau mikir yang tidak-tidak ya?" Menuding.
"Tidak kok."
"Mengaku saja." Tersenyum sinis.
"Lupakan... Karena kau sudah bilang aku bisa pergi setelah datang, aku akan pergi." Putar haluan. Namun dengan cepat tangan Jennie di raih olehnya. Menariknya pelan hingga jatuh kepelukan Excel, pria itu melingkari pinggang Jennie.
"Masuklah..." Titahnya.
"Tidak mau."
"Ku bilang masuk."
"Ck... Tadi kau menyuruhku untuk kembali lagi kan, ya sudah."
Cupp... Kecupan di kening pun mendarat sempurna, sehingga membuat Jennie terkejut. "Masuk..."
"Hei... Jangan?"
Cupp. Di pipi. Excel menyeringai.
"Aaaa... Mas!"
"Apa, mau lebih? Sini..." Excel menyetuh dagu Jennie. Yang secepat itu pula di tepis oleh sang gadis.
"Mas jangan main-main ya, itu?" Kata-katanya terputus saat sebuah lift terbuka.
Traaakkkk.... Beberapa berkas di tangan ibu Miranda yang mendadak membeku itu terjatuh. Saat melihat Excel dan Jennie.
Karena posisi tangan kiri Excel sedang melingkar di pinggang Jennie, sementara tangan kanannya memegangi dagu Jennie lagi.
"Kalian...?" Menunjuk kepada mereka berdua. Jennie yang menyadari itu langsung melepaskan diri.
"Bu... Bu Miranda... Sa... Saya bisa jelaskan." Jennie merasa takut.
"Diam...!" Titah Ibu Miranda, membuat Jennie bungkam. Ibunda dari Excel itu pun mulai melangkahkan kakinya, sedangkan Adam sedikit berjongkok membereskan kertas-kertas yang berserakan di lantai.
__ADS_1
"Kalian, masuklah dan jelaskan di dalam." Beliau pun masuk lebih dulu meninggalkan kepanikan pada diri Jennie, namun berbeda dengan Excel yang masih nampak santai saja, keduanya pun masuk.