
Hari berganti hari minggu pun turut berganti. Kini rumor tentang adanya siswi kelas sepuluh yang hamil di luar nikah mulai santer terdengar.
Namun sebagian dari mereka masih bertanya-tanya. Yang mana siswi itu? Dan seperti apa rupanya? Masih jadi pertanyaan bagi mereka-mereka yang mendadak seperti seorang pemburu berita valid.
Hingga tak sedikit dari mereka yang mendadak menjadi seorang paparazi yang terus saja mengamati gerak gerik Jennie. Terutama di bagian dada dan perutnya itu.
Di dalam kelas seorang guru memanggil Jennie ke depan kelas untuk mengerjakan soal matematika. Jennie pun berjalan maju dengan buku tulis ia letakan di bagian perutnya. Tentu saja hampir semua mata para siswa lain mengarah ke perut Jennie. Sedikit Jennie merasakan itu namun ia berusaha cuek saja. Di depan kelas Jennie mengerjakan soalnya dengan lancar dan guru mapel tersebut mengoreksinya.
Sekali lagi pujian keluar dari bibir guru matematika tersebut yang selalu bangga di buat Jennie.
Biasanya Jennie akan merasa bahagia namun tidak untuk saat ini, yang merasa kepintarannya akan jadi sia-sia setelah ini. Karena ia pun tidak tahu, sampai kapan ia bisa menyembunyikan semua ini. Toh saat ini ia sadar. Bahwa dirinya sudah benar-benar menjadi trending topic seantero sekolah ini. Berita kehamilannya sudah mulai menyebar hanya tinggal menanti dirinya di panggil oleh guru BP saja dan mengakui semuanya.
Di dalam bus Jennie kembali menangis. Hingga seseorang mengulurkan tissue kepadanya.
"Kak Alvian?" tanya Jennie. "Kak Alvian disini?" tanyanya bingung soalnya tadi ia tidak merasa ada Alvian di sana.
"Menangis lagi?" tanya Alvian datar sembari menatap lurus ke depan.
"Seluruh sekolah sepertinya sudah tahu." tutur Jennie.
"Itu sudah jelas. Bagi orang yang mengamati sih." jawab Alvian. Jennie pun terdiam.
Hening sejenak. "Sudah beritahu orang tua?" tanya Alvian. Jennie menggeleng.
"Kenapa belum."
"Aku masih takut." tuturnya.
"Beranikan dirimu, dan katakan semuanya pada ayah dan ibu mu."
"Aku belum mampu melihat ekspresi mereka kak. Membayangkannya saja tidak berani" jawab Jennie.
Alvian menghela nafas. "Hari ini juga. Kau harus bisa mengatakannya." titah Alvian.
"Tapi?"
"Katakan semuanya dengan cepat dan Jangan menyiksanya terlalu lama dengan korset yang kau pakai itu. Kasihan dia." ucap Alvian tiba-tiba membuat Jennie membulatkan bola matanya.
__ADS_1
"Ba...bagaimana kak Alvian tahu?"
Alvian menyeringai sinis. "Aku hanya menebaknya rupanya kau benar-benar menggunakan itu ya?"
Wajah Jennie berubah pias ia menunduk.
"Kenapa kau pakai itu?" tanya Alvian.
"Baru beberapa hari ini karena perutku sudah terlihat semakin buncit." Jennie bergumam. Alvian pun menghela nafas
Bus terus melaju dan berhenti di sebuah halte bus di mana Jennie dan Alvian turun dari sana.
"Kenapa kak Alvian ikut turun?" tanya Jennie.
"Tidak apa. Aku mau ke rumah salah satu teman ku." tuturnya. "Pulang lah Jen, dan utarakan semuanya pada orang tua mu. Jangan kau tunda lagi. Jika kau benar-benar menyayangi orang tua mu dan anak yang ada di kandungan mu itu tentunya. ucap Alvian.
Air mata Jennie kembali menetes.
Alvian mengusapnya. "Jangan menangis. Aku ingin kau menjadi wanita yang kuat, agar anak mu bisa bangga pada mu." tuturnya. Jennie tersenyum.
Dan segera meredam tangisnya. Ia bahkan belum bisa kembali. Sejujurnya, ia masih ingin di dekat Alvian. Rasanya sangat tenang di dekatnya. Alvian tersenyum.
"Terimakasih kak Alvian. Terimakasih sekali." ucap Jennie.
"Sama-sama." Alvian mengusap-usap kepala Jennie sesaat lalu melenggang pergi menuju JPO (Jembatan Penyeberangan Orang)
Jennie masih terus mengamati pria jangkung berseragam putih Abu-Abu itu berjalan menjauh meninggalkannya.
'Kenapa akun harus mengenalmu lebih dekat dalam kondisi seperti ini kak Alvian. Andai saja aku hanya di khianati kak Andi dan tidak hamil. Mungkinkah aku masih bisa berharap lebih dekat dari ini? Karena kebaikan mu seolah mengobati luka ku karena pengkhianatannya.' Jennie menyeka air matanya. Sebelum Alvian menaiki anak tangga, ia menoleh sekilas ke belakang menatap ke Jennie yang masih bertahan pada posisinya. Alvian tersenyum dan melambai, setelahnya ia kembali menatap ke depan dan mulai menaiki anak tangga lalu hilang seiring banyaknya orang yang turut menaiki anak tangga. Dan ia pun sudah berbelok masuk ke dalamnya. Jennie menghela nafas. Ia menyentuh perutnya sendiri.
'Benar kata kak Alvian, kau tidak salah, namun aku dan ayah mu lah yang salah. Dan aku harus benar-benar memberitahukan hal ini pada Ayah dan ibu' batin Jennie. Berusaha tegar Jennie dengan semua ini. Ia pun melanjutkan langkahnya untuk pulang.
***
Di depan rumah ia melihat motor ayahnya sudah terparkir.
Sedikit gemetaran Jennie, ia pun memutuskan untuk menghentikan langkahnya sejenak. Berusaha menguatkan hati untuk berjalan masuk.
__ADS_1
"Jennie—" Ayahnya sudah keluar dari dalam rumah. "Sini nak." Jennie mendekati ayahnya, ayahnya baru saja pulang tugas di Pekanbaru seharusnya ia memeluknya dengan rasa rindu kan? Namun Jennie malah justru mematung di hadapan ayahnya.
"Tidak rindu ayah kah ini?" Ayahnya merentangkan kedua tangannya.
'Jennie rindu, sangat rindu ayah.' batin Jennie. Ia pun memeluk ayahnya dengan tubuh lunglai.
"Kenapa sayang, kau kelihatan tidak sehat?"
"Jennie baik-baik saja ayah." jawabnya.
"Benarkah?"
Jennie menitikkan air matanya. Ia ingin bilang jika ia tidak baik-baik saja namun lidahnya kelu, sehingga hanya anggukan kepalanya saja yang bisa ia lakukan sebagai isyarat bahwa ia baik-baik saja.
"Syukur lah kalau begitu. Emmm Ayah pulang dan Membawakan mu sesuatu loh, yuk masuk." ajak Ayahnya. Jennie menurut mereka berjalan masuk. Mata Jennie memburu.
"Ibu kemana yah?" tanya Jennie.
"Sedang ke warung tadi. Emmm ini terimalah." Ayahnya mengulurkan sebuah kotak mungil kepadanya.
"Ini apa?"
"Buka dong, hadiah dari ayah untuk mu, karena kemarin kau kembali berprestasi. Ayah itu sangat bangga sekali pada mu sayang."
'Hiks, bangga?' Jennie menghela nafas panjang sangat sesak rasanya dada ini mendengar ayahnya masih bisa berkata bangga padanya.
Perlahan tangannya bekerja membuka kota kecil yang di berikan ayahnya. Matanya menangkap sebuah kalung cantik berliontin menara Eiffel berada di dalamnya.
"Kalung?" tanya Jennie.
"Iya, kau bilang ingin sekolah di Paris kan," Degg. Jennie membeku.
'Tidak lagi ayah. Tidak lagi.'
"Belajarlah lebih giat sayang. Ayah percaya kau akan mampu mengambil study di Prancis kelak."
'Oh, kenapa seperti ini. Kenapa aku harus melupakan tujuan hidup ku, dan malah mengandung anak pria bejat yang sudah membohongi ku.' Jennie ingin berteriak rasanya. Ia ingin bersimpuh di kaki ayahnya. Meminta tolong agar bisa terbebas dari belenggu masalah yang tengah ia hadapi.
__ADS_1
"Jennie, kenapa kau hanya diam saja sih? Sepertinya ayah merasakan keanehan pada diri mu? Kau tak seceria biasanya. Dan lagi kau pucat nak." tutur Ayahnya.
Jennie tersenyum. "Jen...Jennie baik-baik saja ayah. Jennie hanya kelelahan sepertinya." jawabnya ia pun putar haluan baru beberapa langkah tubuhnya sudah ambruk ia pingsan di depan ayahnya yang langsung panik dan berusaha membangunkan putrinya itu.