
Alvian kembali merangkulnya. "Aku memang miskin, dan ingin berteman dengan mu yang kaya. Cukup seimbang kan?"
"Apa maksud mu?"
"Iya lah, kali saja aku bisa kecipratan kaya seperti mu, dengan terus mendapatkan jajan gratis." Ucap Alvian sembari terkekeh.
"Pengemis." Umpatnya.
"Iya benar aku pengemis. Maka dari itu berikan aku makanan ya tuan muda." Ucap Alvian.
"Cih." Excel melepaskan lengan Alvian lagi, lalu berjalan lebih cepat di depan Alvian. Sekilas bibir Excel tersenyum tipis merasa senang. Terlebih saat Alvian terus saja mengikuti langkah kakinya menuju kantin.
"Asiiiikkk di jajanin beneran loh ini?" Tanya Alvian.
"Pede sekali? Kau bayar saja makanan mu sendiri."
"Loh saya kan pengemis, Tuan muda, anda harus memberi saya makan. Ya Tuan?" Menelukupkan kedua tangannya.
Excel hanya diam saja. Namun dia tetap membayar dobel makanannya, untuk dirinya dan anak laki-laki SKSD di sampingnya itu.
Di meja kantin keduanya duduk berhadapan, Excel melihat ke arah Alvian yang sudah memulai memakan semangkuk bakso di hadapannya.
"Hei, memangnya itu tidak panas apa? Kau tidak menunggu itu dingin dulu?"
"jika aku memakannya menunggu dingin? keburu bel masuk berdering tahu. Sudah makan saja." Alvian melahap sebutir bakso sekaligus. Terlihat dari dia mengunyah sepertinya dia kepanasan.
"Ckckck, dasar tidak berkelas." Ucap Excel, ia meraih sendok dan garpu mengelap satu persatu dengan tissue.
Alvian yang melihat itu merasa heran. "Kenapa harus di lap sih? Itu kan bersih."
"Kau tahu? Ini sama sekali tidak higienis tahu."
"Repot sekali ya menjadi kau Tuan muda? Ckckck."
Excel hanya diam saja, tidak perduli dengan Alvian yang masih mengejeknya.
Setelah selesai membersihkan sendok dan garpu nya. Kini tiba saatnya menyantap semangkuk bakso itu dengan tenang.
Namun sejenak ketenangannya berubah menjadi ketegangan, saat Andi dan teman-temannya masuk. Excel langsung menunduk.
Andi yang mendapati Excel pun menyeringai, dan melangkah mendekati anak laki-laki yang tengah tertunduk itu.
"Wah...wah... Anak sultan makan bakso di kantin?" Ucapnya, Andi berdiri di dekat Excel.
Alvian pun mengangkat dagunya menatap ke tiga orang yang ada di sana.
"Hei, pecundang? Kau mau tahu racikan kuah bakso yang nikmat?" Tanya Andi. Excel hanya diam saja.
"Sini biar ku bantu meraciknya." Ucap Andi meraih mangkuk sambal di dekat mangkuk Excel.
Awalnya hanya satu sendok, lalu dua, tiga dan akhirnya satu mangkuk sambal di tuangkan semuanya ke mangkuk bakso Excel.
"Woooaaaaaahhh hahahaha." Tawa teman-teman Andi.
"Aduk dulu..." Andi mengaduk kuah bakso yang sudah penuh dengan biji cabai. Dan lagi ia meraih botol cuka.
"Nikmatnya orang makan bakso pakai cuka." Andi menuangkan sebotol cuka dengan cara menekannya hingga isinya keluar semuanya.
"Aduk lagi booosss." Seru salah satu teman Andi.
"Hahaha, aduk lagi... Benar." Andi mengadukannya.
"Mantap buahahahahaha." Tawa teman-teman Andi.
Andi pun menatap Excel "Ayo makan, racikan ku enak sekali loh."
Excel diam saja kedua tangannya terkepal. Alvian yang berada di depan Excel masih menanti respon Excel.
"Ayo makan." Titah Andi. Sedangkan Excel masih diam saja.
__ADS_1
"Ku bilang makan bedebah! Ayo makan!"
Dengan gemetaran Excel meraih sendoknya, terlihat dari gerakan tangannya yang memasukkan sendok itu ke mangkuk bakso, ia benar-benar hendak memakannya.
"Buhahaha benar mau dimakan loh. Waaahhh gila." Seru salah satu teman Andi. Sedangkan Andi mulai terkekeh senang.
Baru saja Excel akan memasukkan satu butir bakso ke mulutnya, Alvian sudah menepis tangan Excel hingga bakso itu mental mengenai baju Andi.
"Bangs*t!!!" Gumam Andi sembari mengibas-kibaskan bajunya yang terkena noda. "Hei...!!! Kau berani sekali melakukan ini pada ku?" Tanya Andi sembari meraih kerah baju Alvian.
Tersenyum sinis. "Kau baik sekali meracik bakso untuknya? Karena kau yang meracik? Alangkah lebih baik jika kau yang mencicipinya dulu, tadi itu niatku ingin melempar masuk ke mulut mu atau mungkin ke mata mu. Tapi malah meleset dan mental ke baju mu. Maaf ya kak Andi." ucap Alvian.
Terkekeh sinis. "Bedebah sialan ini songong sekali. Sepertinya kau tak mengenal ku?"
"Aku mengenal mu, seorang siswa yang sama sekali tak memiliki prestasi, selalu berbuat keributan dan lagi."
Alvian mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. "Wahhh, rokok ini?" Alvian mengangkatnya tinggi-tinggi.
"Brengsek!!! Kau cari mati ya?" Andi ingin meraihnya. Namun malah di remas oleh Alvian hingga hancur.
"Oh tidak maaf kak, terlalu keras aku memegangnya." Tersenyum.
Andi pun meraih kepala bagian belakang Alvin dan membenturkannya kemeja.
Braaaaaaakkk.
"Kyaaaaaaaa!" Terdengar suara teriakan siswi perempuan yang langsung merasa ketakutan.
"Kau punya masalah apa dengan ku hah? Kau tidak tahu aku ini salah satu anak dari penyumbang terbesar di yayasan ini. Aku bisa sangat mudah mengeluarkan mu saat ini bedebah!!!" Masih menekan kepala Alvian.
"A...aku tidak takut!" Ucapnya.
Excel masih tertunduk, ia ingin sekali membantu Alvian namun tidak berani.
"Kau tidak takut ya?" Andi pun mengangkat kepalanya dengan cara menjambak rambut Alvian.
"Hei, bawa pecundang itu. Dan aku membawa bedebah ini!" Titah Andi.
Namun pukulan terparah di dapatkan Alvian dari Andi. Hinga memar dan darah segar keluar dari bibir, hidung dan pelipisnya.
Setelah puas Andi menghalau teman-temannya untuk pergi dari sana. Meninggalkan dua adik kelasnya yang sudah terbatuk-batuk, menahan sakit di bagian perut dan sekujur tubuhnya yang lain.
Excel mengulurkan tangannya. "Biar...? Ku bantu." Meringis.
Alvian tersenyum. "Aku bisa sendiri." Meringis juga.
Keduanya saling papah menuju taman belakang tepatnya di bawah pohon. Kedua remaja itu merebahkan tubuhnya di atas rumput.
"Kau kenapa membela ku?" Tanya Excel.
"Kan kita teman." Ucap Alvian.
"Tapi kenapa kau tak melawannya? Apa kau tidak bisa berkelahi?"
"Aku bisa."
"Tapi kenapa diam saja?"
"Aku punya alasan."
"Apa?"
"Mau tahu? Bayar dulu pakai ayam goreng tepung sepulang sekolah nanti."
"Cih! Dasar pengemis."
Alvian terkekeh. "Tapi, ngomong-ngomong kenapa kau diam saja saat dia mengerjai mu tadi?" Menoleh ke arah Excel.
Excel terdiam sejenak lalu menghela nafas. "Selama ini, aku tidak di izinkan untuk sekolah umum oleh mendiang ayah ku.
__ADS_1
Beliau ingin aku tetap homeschooling karena aku adalah calon pewaris Pradiitaa Sanjaya Group. Jadi beliau ingin aku tidak bersosialisasi dengan siapapun. Yang akan memicu diriku untuk tidak fokus sebagaimana semestinya calon seorang pemimpin."
Alvian mendengarkan dengan takjub. Remaja pria di sampingnya adalah keturunan garis biru yang bahkan jauh di atas Andi levelnya.
"Dan saat itu aku benar-benar jenuh dengan sekolah di rumah, tidak punya teman, apa lagi kenal lawan jenis. Membuat ku akhirinya memberontak, aku mengurung diri di dalam kamar selama berhari-hari. Tidak mau makan dan tidak ingin bertemu siapapun termaksud papih dan mamih ku. dengan bujukan mamih ku, akhirnya aku di izinkan oleh mendiang ayah ku itu. Dengan catatan, aku harus berkelakuan baik di sekolah,"
Excel menatap ke langit sembari mengangkat tangannya menutupi Cahaya matahari yang menerobos masuk dari dedaunan pohon di atasnya hingga mengenai mata Excel.
"Awalnya ku pikir mudah bisa bersekolah, dan akan punya banyak teman. Namun ternyata tidak. Mereka menganggap ku sombong dan bermulut kasar."
Alvian terkekeh. "Kau memang kasar, untung aku tidak mudah bawa perasaan, coba kau menyebut kak Andi dengan pengemis. Sudah mati kau di Hajarnya lebih dari tadi."
"Hahahaha." Excel tertawa. "Itu kenapa aku diam saja. Biar dia melakukan apapun, yang penting aku bisa tenang di sekolah ini."
"Kau yakin?" Tanya Alvian.
"Iya. Mereka kan sudah memukul kita hingga puas."
"Haduh, kau tidak tahu apa yang akan kita dapatkan setelah ini." Ucap Alvian.
Excel menoleh. "Memang apa?"
"Kau lihat saja nanti." Pria itu beranjak, lalu mengulurkan tangannya pada Excel.
"Aku Alvian Pratama. Kau siapa?"
Sedikit ragu Excel pun meraih tangan Alvian yang langsung di tarik oleh pria itu Agar sama-sama duduk.
"Excel... Excel Pradiitaa."
"Okay kita teman sekarang ya?" Ucap Alvian.
"Tidak kau pelayan ku, dasar pengemis."
"Wah dia mulai lagi... Okay lah, aku pengemis setia mu Tuan muda, nanti berikan aku ayam goreng tepung ya." Ucap Alvian. Keduanya pun terkekeh bersama, bahkan memutuskan untuk bolos di satu jam pelajaran sekolah.
Ya itu awal persahabatan dua manusia berbeda kasta itu, walaupun Excel kasar dengan omongannya namun dia sebenarnya baik hati. Itu yang di rasakan Alvian.
Dan benar saja apa yang di katakan Alvian. Mereka berdua malah justru menjadi bulan-bulanan Andi dan kawan-kawannya, biasanya Excel akan memberikan uang untuk teman-teman Andi itu atau membeli barang-barang aneh yang di minta Andi, salah satunya yang paling ekstrim adalah pengaman kontras*si. Itu sebabnya Alvian paham jika pria itu adalah predator.
(flashback is off)
Excel mengepalkan tangannya, karena Andi Belum juga keluar dari dalam rumah Jennie.
"mungkin dulu aku akan diam saja, saat kau merebut dan merusak PSP ku, namun tidak untuk kali ini. aku akan meraih dan mendapatkan milik ku," Excel pun membuka pintu mobilnya, keluar, dan berjalan menghampiri rumah Jennie.
Bersambung...
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Assalamualaikum terimakasih atas kesetiaan kalian, atas doa dan segala supportnya... Tanpa setiap dukungan dari kalian mungkin aku sudah kehilangan semangat dalam hal menulis.
Terimakasih juga atas doa kalian yang selalu membuat saya merasa selalu sehat hehehe. Semoga kalian juga selalu di limpahkan kemuliaan, kebahagiaan, dan kesehatan ya....
Salam sayang dari ku... π€π€π€π€ππππ
oh iya ku ganti visual Ayah Andi nya... nggak jadi Kim Nam Gil hehehe, agak ke tuaan juga sih.
versi halu saya aja loh ini... semoga suka ya.
(Andi Prayoga)
(Tuan Muda Excel Pradiitaa) catat beliau cukur rambut loh nanti, tunggu aja momennya hhhh
__ADS_1
(kali aja ada yang penasaran, sama Alvian Pratama) hehehehe.