Ayah Untuk Putri Ku

Ayah Untuk Putri Ku
panggil aku ayah.


__ADS_3

di waktu bersama Andi sudah berada di depan sekolah Nara, Tidak hanya itu, di setiap ada kesempatan Andi pun selalu menemani Nara bermain, entah bermain karet ataupun bermain petak umpet bersama teman-teman Nara yang lain.


Merasa lucu terkadang dia dengan apa yang akhir-akhir ini ia lakukan bersama Nara dan para anak-anak kecil lainnya.


Karena Masa kecilnya dulu tidak pernah di habiskan untuk bermain Seperti mereka. Ia hanya akan belajar, belajar, dan belajar.


Walaupun tetap saja ia mendapat nilai yang jelek. Dan berakhir pada hardikan ayahnya yang menghajar dirinya tanpa ampun.


Saat ia memutuskan untuk kos dulu pun karena ia kabur dari rumah. Namun percuma saja, pria bernama Iskandar itu akan tetap menemukan keberadaannya dan menghadiahkannya dengan pukulan hingga babak belur.


wajahnya seketika sumringah saat melihat Nara keluar dari gedung sekolah.


Andi melambaikan tangan sembari tersenyum pada gadis kecilnya.


"Om gagah di sini?" tanya Nara, entah mengapa sekarang ia malah senang jika Andi datang menemuinya.


"Iya dong, om kan teman Nara. Jadi harus datang menemui Nara setiap hari."


Nara tersenyum. Ia benar-benar suka dengan pria jangkung di hadapannya itu. Kini Andi sudah tidak menakutkan lagi bagi Nara, om itu baik, itu yang ada di pikiran Nara saat ini.


"Aaawwww..." Andi meringis menyentuh bagian samping perutnya.


"Kenapa om."


"Aaahhh tidak tahu ini Nara, sepertinya ada sesuatu di dalam saku om. Bisa tolong ambil kan? Dia ingin keluar sepertinya." Andi menunjuk saku jas yang ia kenakan.


Nara pun semakin mendekati Andi sedikit berjinjit ia memasukan tangan kecilnya ke saku jas Andi.


Ia pun menemukan sesuatu sebuah coklat panjang di dalamnya.


"Coklaaaatโ€”" Nara tersenyum girang.


"Wahhhh, coklat Nara hebat bisa menemukan itu di saku om."


Nara terkekeh. "Saku om itu seperti kantong Dora ya? Kemarin ada permennya, hari ini ada coklatnya."


Andi terkekeh. "Kantong ini lebih hebat dari pada kantong Dora. Nara bisa minta apapun loh dari saku ini."


"Oh ya? Apa saja?"


"Iya, apa saja." Andi mengusap-usap kepala Nara.


Gadis kecil itu terlihat senang. "Kalau begitu Nara ada permintaan."


"Boleh, tapi pakai mantra mintanya ya."


"Mantra? Mantra nya apa om?"


"Contohnya seperti ini. 'wahai kantong ajaib Nara ingin es krim' coba katakan seperti itu ayo." pinta Andi.


Gadis itu tertawa kecil saat melihat ekspresi Andi saat tengah mengucapkan mantra. Ia pun menirukan gaya Andi mengangkat satu tangannya dan memejamkan mata.


"Wahai kantong ajaib. Nara ingin ayah Nara ada di hadapan Nara saat ini!"


Deeggg Andi menarik senyumnya. Saat mendengar kata-kata itu dari Nara.

__ADS_1


Perlahan mata kecil itu terbuka, ia menoleh ke kiri dan ke kanan. Lalu murung.


"Kantongnya tidak bekerja. Om bohong ya."


Andi tersentuh. Ia pun berjongkok, mengusap lembut kepala putri kecilnya. "Nara, memang Nara sangat ingin bertemu ayah Nara ya?" tanya Andi.


Nara mengangguk pelan. "Bunda selalu janji akan mempertemukan Nara dengan ayah Nara namun bunda tidak kunjung mempertemukan ku dengan ayah." Nara terlihat sedih.


Andi tersenyum kecut 'ini ayah mu sayang. Yang ada di hadapan mu adalah ayah mu.' ingin sekali Andi mengatakan itu pada Nara.


"Om," panggil Nara. Andi terkesiap.


"Iya sayang?"


"Apa om punya anak?" tanya Nara tiba-tiba.


"Kenapa Nara tanya itu?"


"Om baik sekali pada Nara. Jika om tidak punya anak, bolehkan kita berperan ayah dan anak?"


'ya Tuhan, aku tidak tahan lagi. Aku memang ayah mu nak.' Andi memeluk tubuh Nara.


"Bagaimana om?"


Andi masih memeluk Nara ia mengusap matanya yang basah. "Panggil aku ayah." Pinta Andi.


"Boleh?"


Andi melepaskan pelukannya "Iya sayang, panggil aku ayah mulai dari sekarang ya." ucap Andi.


'kau senang nak? Ayah pun sama.' batin Andi membalas pelukan putrinya.


Cukup lama keduanya saling berpelukan hingga ia memutuskan untuk melepaskan saat melihat motor Jennie dari kejauhan.


"Ayah pergi dulu ya. Daaa" Andi melambaikan tangannya.


Nara tersenyum, ia paham karena setiap kali ada kakek, nenek, ataupun bundanya Andi pasti akan pergi. Nara pun menoleh ke sebelah kiri. Dan benar saja ia melihat motor Jennie mendekat kearahnya.


Motor Jennie sudah berada di depan sekolah Nara ia sedikit terlambat. Terlihat Nara sudah berdiri di depan gerbang sekolahnya sendirian.


Jennie melepaskan helm di kepalanya lalu turun dari atas motornya dan menghampiri Nara. "Cantik, maaf ya bunda terlambat." ucap Jennie sembari tersenyum. Matanya masih sedikit sembab akibat menangis.


"Tidak apa-apa bunda. Nara tadi ada yang menemani kok." jawabnya.


"Menemani? Siapa?"


"Om gagah." jawab Nara polos, Nara benar-benar bahagia hal itu lah yang membuatnya melanggar perjanjian untuk tidak bercerita tentang om gagah pada bunda, kakek dan nenek.


"Om gagah?" tanya Jennie. Nara mengangguk cepat.


"Om gagah siapa sayang? Apa yang waktu itu Nara ceritakan pada bunda?" tanya Jennie lagi.


"Iya bunda,"


"Ciri-ciri nya seperti apa?"

__ADS_1


"Om itu tinggi, gagah, berkumis tipis." Jennie mengingat-ingat sosok yang di ungkapkan Nara seperti Andi yang ia lihat di hotel waktu itu.


"om itu baik sekali setiap hari selalu menemui Nara dia kasih Nara, permen, coklat dan es krim, Om gagah juga bilang pada Nara kalau Nara boleh menyebutnya ayah." Jennie membulat kan bola matanya lantas memeluk tubuh Nara.


'aku yakin, pria itu pasti kak Andi. Sudah jelas pria itu kak Andi, jadi selama ini kak Andi menghampiri Nara di belakang ku?' batin Jennie.


"Bunda, Nara boleh kan menyebutnya ayah?"


"Tidak." Jawab Jennie cepat. Ia melepaskan pelukannya.


"Kenapa bunda. Om itu baik. Nara senang berada di dekatnya."


Jennie menitikkan air matanya. Ia menyentuh wajah Nara. "Nara, bunda boleh meminta sesuatu?"


"Apa bunda?"


"Tolong, jika om itu datang lagi menemui Nara, bisakah Nara menjauh dari nya?"


"Memang kenapa bunda?"


"Tolong menurut lah sayang, bunda tidak ingin Nara bertemu dengan orang asing."


"Jennieโ€”" panggil seseorang yang keluar dari balik pohon tidak jauh dari tempat Jennie dan Nara berdiri.


Jennie melebarkan matanya melihat pria bertopi tengah menghampiri mereka.


"Ka..? Andi?" gumamnya lirih. Ia memegang kedua bahu Nara.


"Aku tahu, aku tidak seharusnya menunjukkan wajah ku di hadapan mu lagi. Namun, aku tidak bisa jika tidak bermain dengannya. Tolong jangan larang dia untuk menemui ku." ucap Andi, mata pria itu terlihat berlinang.


Jennie hanya diam saja. Ia lantas menunduk menghadap ke Nara. "Sayang kita pulang yuk." ajak Jennie.


"Jennie?" Panggil Andi lirih.


Namun Jennie memilih untuk tetap menaikan tubuh Nara ke atas motornya.


"Jennie aku menyayanginya... Tolong lah Jennie." Andi sedikit memohon.


Jennie sudah menyalakan mesinnya dan melajukan motornya. tanpa sepatah katapun ia keluarkan, Jennie pergi meninggalkan Andi yang masih berdiri menatap kearah mereka.


Terutama pada Nara yang tengah melambai kecil padanya.


"Anak ku Nara..." Andi tertunduk.


Membiarkan motor itu pergi menjauh meninggalkannya.


Andi menyadari, ia tidak bisa memaksakan Jennie untuk dekat dengan putrinya yang pernah dia tolak dulu.


Andi menghela nafas dan memutuskan untuk pergi dari tempat itu mengusap matanya yang basah.


Namun semua itu tidak akan membuatnya jera, ia akan tetap menemui Nara, walau Jennie akan. Marah besar padanya sekali pun. Ia tidak peduli.


Bersambung...


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ

__ADS_1


kali saja ada yang berkenan mampir akun Instagram ku @love_praka. itu khusus akun ku buat NT. soalnya aku bikin dua akun khusus untuk dua platform hehehe... maaf ya promo saya.


__ADS_2