
Di malam yang penuh dengan gemerlap lampu kota, dan angin yang berhembus sangat kencang, hingga menyibak rambut Andi yang tengah duduk sendirian di atap gedung sebuah hotel.
Ponsel dalam genggamannya pun terus berdering. Iya itu panggilan dari ibunya. Sudah kesekian kali dia di minta untuk kembali ke rumahnya, akibat rindu yang teramat.
Hingga sebuah pesan singkat pun masuk membuatnya membuka pesan tersebut.
π² (Putra ku, apa kau sama sekali tidak ingin bertemu dengan ku? Aku tahu, kesan ku sangat lah tidak baik. Namun, sejatinya? aku tetap lah seorang ibu yang menginginkan mu untuk kembali menemui ku, aku merindukan mu Putra ku, kembali lah dan temui ibu mu.)
Begitu lah isi pesannya.
Andi mulai mengetik-ketik sesuatu namun berkali-kali tulisan itu di hapusnya.
Hingga akhirnya ia memutuskan untuk mengabaikannya saja. Tidak bisa di pungkiri, dia pun sangat merindukan sang ibu, namun mau bagaimana lagi. Kembali ke rumah sama saja bunuh diri, dia mungkin bisa membantai semua ajudan ayahnya namun tidak untuk ayahnya sendiri, Andi akan lebih memilih menerima tubuhnya di pukuli hingga mati dari pada harus melawan pak Iskandar Lutfi, itulah Andi sebenci apapun dia dengan sosok sang ayah, tetap saja tangannya itu tidak bisa membalas pukulannya, mungkin karena soal hati seorang anak pada ayahnya.
Andi menghela nafas sejenak, kepalanya terangkat menatap langit yang terlihat cerah berbintang di hadapannya. Telapak tangannya pun naik seolah hendak menggapai bintang-bintang itu.
"Kau terlihat dekat. Namun nyatanya kau itu jauh dari ku," gumam Andi. Bibirnya tersungging tipis.
Ia mengibaratkan bintang-bintang itu pada sosok gadis yang di cintainya.
Kembali ia menoleh ke arah Ponselnya, membuka menu kontak. Ia pun menekan tombol call pada kontak bertuliskan 'wanita ku.'
Di sisi lain... Jennie tengah menidurkan Nara. Mendapati ponselnya tengah berdering.
"Ck! Mau apa lagi sih dia?" Jennie menolak panggilan Andi tanpa berfikir cepat.
Namun sepertinya pria itu tidak mau menyerah, ia terus saja menelfon Jennie.
Hingga tidak ada pilihan lain untuknya menerima panggilan itu.
π "Hallo!" Sapa Jennie ketus.
π "Aku merindukan mu." Ucap Andi tanpa basa-basi. "Aku boleh main?"
π "Tidak! Ini sudah malam, aku mau istirahat!"
__ADS_1
π "Sayangβ"
π "Jangan sebut aku dengan sebutan itu!" Seru Jennie tidak suka, terdengar suara kekehan dari sebrang.
π "Kenapa sayang? Tapi aku suka kok."
π "Akan ku tutup panggilan telepon ini."
π "Okay, jika kau tutup aku akan datang Sekarang juga."
π "Kak Andi stop!! Kau ini mau apa sih?"
π "Apa lagi? Mengobati kerinduan ku dengan anak dan calon istri ku."
π "Ck!"
π "Sayang?"
π "Aku sudah bilang jangan sebut aku dengan sebutan itu."
π "Karena panggilan itu akan mengingatkan ku pada luka masa lalu."
π "Jen, aku sudah bilang jangan membahas itu lagi, aku sudah minta maaf kan? Kau juga bilang, kau sudah memaafkan ku." Ucap Andi dari sebrang. Jennie pun hanya menghela nafas.
π "Ya aku akan datang ke rumah mu."
π "Iiiissshhh mau apa sih? ini sudah malam. Jadi kau tidak perlu datang ke sini, aku tidak akan membukakan pintu rumah ku untuk mu."
π "Besok bagaimana? Nara libur kan? Aku akan mengajak kau dan Nara ke taman hiburan."
π "Besok aku bekerja. Sudah ya aku tutup ini sudah malam, aku mau istirahat."
π "Jennieβ, Aku mencintaimu." Terdengar tulus dari sebrang. Jennie pun mematikan sambungan teleponnya.
"Cinta? Masih bisa di berkata seperti itu?" Jennie menoleh ke arah Nara, dan duduk di sebelahnya.
__ADS_1
"Nara, bunda sangat mencintai ku. Maka tetap lah bahagia ya, walaupun hanya tinggal berdua sampai kau menemukan pria yang baik untuk mu." Tersenyum kecut, lalu mengecup kening putrinya.
Entah mengapa, saat ini hati Jennie seolah mati untuk menerima hadirnya seorang pria di kehidupannya.
Sesaat ia mengingat kecupan di keningnya dari Excel.
"Aku masih bingung dengan bos itu. Dia selalu menggangguku, namun kenapa dia berkata seperti itu ya? Dan lagi kecupan itu?" Jennie masih memikirkan maksudnya, dia sama sekali belum menyadari perasaan Excel padanya.
"Sepertinya pria itu sama seperti pria lain. Yang menganggap ku murah, karena aku adalah seorang ibu tanpa suami, terlebih aku karyawannya. Saat ini, aku harus bisa melawannya jika dia kembali kurang ajar pada ku." Jennie pun merebahkan tubuhnya, segera tertidur, karena waktu sudah semakin malam.
***
Siang itu Andi tengah berada di sebuah kafe outdoor, dekat dengan hotel tempat Jennie bekerja.
Dengan pena dan Kertasnya, dia tengah mengatur siasat, dimana saja titik penanaman ranjau yang aman, dan jauh dari jangkauan CCTV.
Terlihat bingung Andi, karena ia sebenarnya tidak ingin melakukan ini lagi.
Berkali-kali Andi merobek-robek kertas itu lalu membuangnya, ia menyandar dan menatap ke atas.
'Haaaaahhh, aku tidak bisa menanamnya, sedangkan Arya menginginkan ku merakit BomΒ berjenisΒ TNT seberat 1 Kg.' batin Andi.
(SejenisΒ bom RDX berbobot 50-150 kg, di mana ledakan bom tersebut mampu menghancurkan satu gedung sekaligus.)
Andi benar-benar bimbang saat ini, di sisi lain ia tidak ingin menghancurkan tiga gedung itu, yang sejatinya tujuan utama Arya pasti adalah kantor Kodim X tersebut.
'aku tidak bisa membunuh orang-orang yang tidak bersalah. Bagaimana ini? Namun Jika aku tidak menurutinya. Jennie dan Nara dalam bahaya.' Andi meremas kepalanya. 'tapi aku tidak bisa mengorbankan ratusan nyawa demi dua nyawa. Sial!!!' Andi terus bergumam dalam hati.
"Arya pasti sengaja sekali ini? Dia pasti tahu, ayahnya Jennie bertugas di sana." Gumamnya. Ia pun meraih segelas jus di hadapannya, lalu meminumnya.
Sesaat matanya tertuju pada hotel tempat Jennie bekerja. Ia pun meletakkan gelas itu kembali, lalu menata semua alat-alat tulisnya.
Ia menoleh ke arah jam tangannya, tersenyum sejenak. "Aku akan mendatanginya dan mengajaknya makan siang." Andi beranjak, setelah meletakkan beberapa uang lembaran ratusan ribu di atas meja.
__ADS_1
Ia mulai melangkahkan kakinya berjalan mendekati hotel A milik Excel itu.