Ayah Untuk Putri Ku

Ayah Untuk Putri Ku
ungkapan hati Excel


__ADS_3

"apa yang tengah kalian lakukan?" Tanya Excel pada kedua orang yang sudah salah tingkah itu. "Adam!"


"Maaf Tuan, saya tidak sengaja mendengar teriakkan Nona Jennie, jadi saya pikir, kalian telah?"


"Apa? Mesum?"


"Maaf Tuan saya telah salah,"


"Kau tidak salah kami memang tangah mesum," ucap Excel. Jennie pun membulat kan bola matanya, hingga dengan cepat ia memukul kepala Excel dengan bantal sofa di tangannya.


"Hei!!! Kurangajar sekali kau?" Seru Excel.


"Kau yang kurangajar Tuan," Jennie pun menoleh ke arah Adam. "Tuan Adam sungguh kami tidak ngapa-ngapain. Kaki ku hanya terkilir dan Tuan Excel sudah membantu saya." Berusaha menjelaskan, panjang kali lebar, karena Jennie tidak ingin di tuduh berbuat yang tidak - Tidak. Excel pun sedikit Terkekeh.


"Begitu lah Tuan ceritanya." Jennie selesai menjelaskan semuanya.


"Begitu ya?" Manggut-manggut.


"Sudah dengar kan? Saatnya kalian keluar." Titah Excel.


"Ti...tidak Ruby, tolong bantu aku keluar ya." Seru Jennie.


Ruby yang hendak melangkah maju terhenti, saat Menajer hotel Itu udah meraih kerah bajunya. "Ini urusan Tuan Muda Excel, jadi kita keluar saja." Ajak Adam.


"Tunggu... Tunggu Tuan Adam, jangan bawa Ruby, Ruby jangan pergi... Kau ingat bakso rusuk di dekat sini kan? Aku akan mentraktir mu." Jennie berusaha membujuk Ruby, yang saat itu membuat Ruby hendak mendekat.


"Ruby, menurut lah apa kata Adam, keluar dari sini, lalu kau bisa makan bakso rusuk mu itu seumur hidup mu, atau mungkin biaya kos mu selama lima bulan akan ku bayar." Tutur Excel tersenyum licik. Jennie pun menoleh sebal ke arah Excel.


'sialan pria gondrong ini ya.' batin Jennie.


"Maaf mbak Jennie, aku tidak bisa membantu mu."


"Tolong jangan jadi pengkhianat Ruby, kita itu teman kan?"


"Hmmmm bagaimana ya? Tapi saya lebih tertarik dengan tawaran Tuan Excel."


"Cakep!" Excel mengacungkan ibu jarinya.


"Pengkhianat!" Umpat Jennie.


"Selamat bersenang-senang mbak Jennie, Tuan Excel? ingat janji Anda ya." Tutur Ruby sebelum keluar, bersama Adam yang tengah tersenyum tipis.


"Hei Ruby... Ku tambah dengan es kacang merah kesukaan mu... Ruby—, hiks!" Sudah sia-sia Jennie berteriak, karena dua pria yang berada di pihak Excel itu sudah pergi.


Kini hanya tinggal Excel dan Jennie yang ada di ruangan tersebut. Excel pun mencondongkan tubuhnya mendekati Jennie. "Kita lanjutkan?"

__ADS_1


Beringsut menjauh dari wajah Excel. "A...apanya?"


"Main pijat-pijatannya." Ucap Excel tersenyum jail. Jennie pun menggeleng.


"Sudah cukup Tuan, kaki ku?" Jennie menyadari sesuatu. 'tunggu?' ia menggerakkan kakinya, lalu menoleh ke arah Excel.


"Bagaimana? Kau merasakannya kan?"


"I...ini? Kaki ku?" Masih terus menggerakkan nya. "Tidak sakit lagi." Gumam Jennie.


"Apa ku bilang? Aku bisa."


Jennie sedikit tersenyum. "Wah... Tidak ku sangka."


Excel pun berjongkok di hadapannya, meraih kaki Jennie dan meletakkan di atas lututnya yang tertekuk itu.


"A...anda mau apa lagi?"


"Aku punya sesuatu untuk mu."


"Apa? Sesuatu?" Jennie mengerutkan keningnya. Terlebih saat Excel sudah mengeluarkan satu kotak kecil dari sakunya.


"Ini gelang murah dan jelek, sepertinya akan cocok untuk kaki mu yang jelek." Ucap Excel. Jennie pun melebarkan bola matanya.


'apa? Jelek? Dari mana gelang itu bisa di bilang jelek? Itu sih indah sekali.'


"Apa?" Mengangkat bola matanya melirik ke arah Jennie.


"Kenapa anda kasih saya gelang?"


"Sudah ku bilang kan, gelang ini jelek, jadi ku kasih kan untuk kaki jelek mu ini."


'alasan yang tak masuk akal.' terdiam. Excel sudah mengaitkannya, hingga gelang itu terpasang sempurna.


'catik sekali, cocok di kaki mu jejen.' tersenyum tipis.


Sedikit canggung Jennie di buatnya, namun ia tidak bisa menolak itu.


"Kau dengar yang tadi ku katakan di depan Andi kan?" Tanya Excel.


Jennie pun hanya membalas tatapannya, ia tidak bisa menjawab apapun, namun ia masih ingat apa yang Excel katakan tadi.


Excel sedikit ragu menyentuh wajah Jennie. "Semua yang ku katakan itu adalah isi hati ku. Karena?" Terdiam sejenak, tadi padahal mudah sekali untuknya mengungkapkan itu, namun saat ini kembali tertahan.


Jennie paham, ia pun melepaskan tangan Excel. "Jangan pernah menyukai ku Tuan." Ucap Jennie lirih. "Karena aku wanita yang tak pantas di cintai." Sambungnya.

__ADS_1


"Kenapa kau katakan itu?" Excel Mulai serius, menatap Jennie dengan penuh cinta.


"Aku? Aku gadis yang sudah memiliki anak, terlebih tanpa pernikahan. Intinya? Aku tidak pantas mendapatkan cinta dari pria manapun." Tutur nya.


"Aku tidak pernah mempersalahkan itu, jika kau mau? Menikahi mu saat ini juga aku bahkan bersedia."


Deg... Jennie mematung. 'dia bilang apa tadi? Menikahi? Tidak...tidak... Dia pasti tidak serius, hidupnya kan di penuhi dengan hal yang tidak serius.' batin Jennie. Jennie terkekeh, ia menggeleng pelan lalu hendak berangkat.


Tangan Excel menahannya. "Aku menyukai mu, itu sungguhan. Kau, ataupun anak mu, aku akan menerima semuanya." Seolah tidak bisa lagi terbendung, Excel benar-benar mengutarakannya langsung, tanpa basa-basi, karena ia paham ada Andi yang sedang berusaha mendekatinya lagi.


Jennie menitikkan air matanya. "Aku tidak bisa Tuan."


"Kenapa?" Tanya Excel.


"Sudah ku bilang kan? Aku bukan wanita baik-baik, aku wanita rendah yang kotor."


Excel meraih tubuh itu dan memeluknya. "Bisakah kau jangan mengatakan itu? Aku tidak melihat masa lalu mu."


"Hiks, lepaskan aku Tuan. Jangan peluk tubuh yang hina ini. Aku wanita jalang, aku wanita mmmp." Excel mengecup bagian bibir Jennie, hanya sebatas menempelkannya saja.


Merasakan sentuhan di bibir, air mata Jennie semakin menderas. Karena tiba-tiba saja merasakan dadanya yang bergetar.


Excel melepaskannya perlahan. "Kau percaya aku mencintaimu kan?" Tanya Excel setelahnya.


Jennie pun tertunduk, lalu beranjak dari sana. "Aku harus keluar Tuan, terimakasih sudah membatu memijat kaki ku yang terkilir ini." Ucap Jennie. Ia lantas berjalan menjauh.


"Jen?" Panggil Excel, gadis itu pun menghentikan langkah kakinya. "Tolong pertimbangkan, dan terimalah aku sebagai ayah sambung untuk putri mu." Ucap Excel, baru kali ini ia berucap seserius ini, semua sebab cinta yang sudah menggebu-gebu di hatinya.


Jennie hanya mengusap air matanya lalu kembali melangkahkan kakinya Keluar dari ruangan itu, dengan bertelanjang kaki.


Pintu mulai tertutup seiring dengan menghilangnya Jennie dari pandangan Excel. Pria itu pun meremas kepalanya, lalu duduk di sofa. "Apa yang ku lakukan? Aku menciumnya? Apa aku salah? Apa dia akan membenci ku?" Pikiran Excel terus berputar di sana.


Sementara Jennie yang tengah berada di sebuah sudut yang sepi, dimana ia kembali menangis sembari menyentuh bagian bibirnya itu, ia tidak tahu harus apa.


Ia masih merasakan takut dan trauma dengan pria mana pun. Dan menganggap Excel akan sama dengan Andi, pria yang sudah menghancurkan masa depannya.


Bersambung...


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


jujur ya, nulis novel ini aku mood-moodan sekali, gimana ya? pengen ku stop tapi aku lebih ke menghargai kalian yang sangat setia menunggu aku up... 🥺🤗


tapi aku tetep bersyukur dan berusaha sampai novel ini tamat kok, walau agak ngap ya hehehe alias nyesek.


terimakasih untuk kesetiaan kalian yang masih bertahan walau aku jarang up novel ini.

__ADS_1


tapi dalam Minggu ini, aku akan fokus ke Jennie kok. dan buat novel baru ku yang ke up... tenang saja. itu novel pindahan dari platform lain jadi aku ttp fokus satu novel ini dulu.🤗🤗🤗 enjoy.


__ADS_2