Ayah Untuk Putri Ku

Ayah Untuk Putri Ku
duka Andi


__ADS_3

Dalam kesendiriannya itu, mata Jennie masih berlinang. Tidak tahu kenapa dia harus menangis, karena ungkapan perasaan Excel itu, atau mungkin karena kecupan yang di berikan Excel padanya.


Ia mengusap bibirnya dengan kasar.


"Aku benci dengan mereka, kenapa mudah sekali menyentuh wanita dengan mengatasnamakan cinta?" Terisak. Ia lantas menghela nafas, lalu mengusap air matanya. "Jennie, kau bukan Jennie yang dulu. Kau tidak boleh semudah itu menerima ungkapan cinta dari siapapun, tidak kak Andi ataupun Tuan Excel." Berusaha menguatkan diri sendiri. Lalu berjalan sedikit tertatih menuju toilet guna membasuh wajahnya, dan membenarkan riasannya, karena dia harus kembali bekerja.


Sementara itu di luar, Andi sudah menunggu cukup lama di luar gedung hotel tersebut, menunggu Jennie keluar karena dirinya tidak di izinkan masuk untuk mencari sosok Jennie di dalam gedung tersebut, oleh security di sana, karena keributan tadi.


Dengan telfon genggam di tangannya Andi terus berusaha menghubungi nomor Jennie, namun tidak ada jawaban sama sekali.


Andi mulai geram, ingin rasanya ia membantai semua security di hadapannya itu, dan segera menarik keluar Jennie dari sana lalu membawanya pergi, namun ia sadar hal itu malah akan membuat Jennie semakin membencinya.


"Uhukkk...uhukkk..." Andi terbatuk-batuk. "Sial kenapa beberapa bulan terakhir ini aku terus batuk sih. Uhukkk...uhukk..." Menepuk-nepuk dadanya.


"Hei Tuan, sebaiknya anda pulang saja sana—," titah salah seorang security tersebut.


Andi tersenyum sinis. "Kau pikir aku akan pergi? Sebelum gadis ku keluar dari hotel ini? Cih! Tidak akan." Andi tetap bertahan, sementara beberapa satpam yang berjaga hanya bisa diam saja.


Di saat yang bersamaan, telfon genggam Andi berbunyi. Andi pun meraihnya, dan mendapati panggilan dari sang ibu, seperti biasa ia hanya mengabaikannya saja, dan kembali memasukkan ponsel tersebut ke sakunya, namun kembali dering notifikasi pesan chat berbunyi.


Sehingga Andi harus mengeluarkannya lagi lalu membaca isi pesan singkat tersebut, entah apa yang terjadi karena disaat itu pula Bola mata Andi seketika melebar, sehingga membuatnya segera berlari meninggalkan tempat tersebut menuju rumah orang tuanya.


***

__ADS_1


Dalam rumah yang besar itu, mobil Andi baru saja tiba, ia melihat banyak orang berkumpul di sana.


Terlihat beberapa karangan bunga bertuliskan turut berdukacita berjajar di sekitar pelataran rumah besar yang sudah lama tidak ia datangi itu.


Andi berjalan lunglai melewati orang-orang yang tengah memandanginya, orang-orang yang berpakaian serba hitam, dan beberapa di antara mereka ada yang menangis.


Namun sepertinya tatapan Andi lebih tertuju pada seorang wanita yang tengah duduk menatap nanar ke arah jenazah seorang pria yang selama ini ia sebut dengan sebutan Ayah.


Sedikit terseret kaki Andi menghampiri wanita itu. Lalu berdiri di belakangnya, dan menurunkan tubuhnya guna memeluk sang ibu dari belakang.


Barulah wanita itu menitikkan air matanya, mengusap kepala sang anak, dengan pandangan masih tertuju pada jasad di hadapannya, dari sana semakin deras pula air yang keluar dari sudut matanya itu. "Kau datang..?" Ucap sang ibu dengan suara parau nya.


"Kau datang putra ku? Kau benar-benar datang setelah ayah mu tiada." Terisak.


Andi hanya diam saja membenamkan wajahnya di bahu sang ibu. Turut menangis karena apa yang ia ucapkan benar-benar menjadi nyata, sebelum itu dia pernah bilang pada ibunya? Kalau Ia akan kembali jika Iskandar Lutfi sudah tiada. Namun kata-kata itu terlontar hanya sebatas kata-katanya saja yang kala itu tengah memendam kebencian di hatinya.


Hingga proses pemakaman berjalan dengan lancar, dan kini Andi tengah berdiri di depan sebuah bingkai foto besar, dimana potret yang terpajang adalah dirinya, ibu dan ayahnya.


"Foto itu masih terpajang. Dimana dulu kau masih remaja. Tidak ada foto wajah baru, dirimu. Itu yang membuat ku rindu." Ibu Mona sudah berdiri di sebelah Andi dengan tangan terlipat di Depan dada.


Andi diam saja, ia masih mengamati wajah garang sang ayah, yang sangat gagah dan perkasa itu.


"Andi?" Panggil ibu Mona. Andi pun menoleh. Terlihat mata yang sedikit menganak itu menatap nanar ke arah sang ibu. "Apa selama ini kau hidup dengan baik?" Tanya ibu Mona, menyentuh wajah sang anak. Yang saat itu di raihnya tangan sang ibu lalu mengecupnya.

__ADS_1


"Aku hidup dengan baik. Seperti yang ibu lihat ini." Jawab Andi sembari tersenyum, "aku ingin tahu, sebenarnya apa yang terjadi pada ayah?" Tanya Andi.


"Ayah mu. Kembali tersandung kasus Mega korupsi, namun kali ini lebih berat, ia tidak bisa lagi lolos seperti dulu. Semalam, pihak KPK datang ingin menjemput ayah mu, namun beliau izin untuk ke kamar kecil, setelah itu terdengar suara tembakan di dalam kamar mandi itu, dan saat itu juga ayah mu di temukan meregang nyawa dengan luka tembak di kepalanya. Dia bunuh diri Andi. Karena tidak bisa menahan beban dimana dia harus mendekam di sel dan semua aset kita di sita oleh negara, bahkan rumah ini. Besok ibu sudah tidak bisa menempatkannya lagi." Terisak, terlihat tangan Andi terangkat menyentuh bahu ibunya.


"Boleh kah Andi memeluk mu lagi ibu?" Tanya Andi. Ibu Mona pun mengangguk, maka di peluklah sang ibu oleh putranya itu.


"Janganlah sedih Bu, masih ada aku, aku akan menjaga mu, dan menggantikan ayah." Ucap Andi dalam pelukan ibu Mona, tangan ibu Mona pun mengusap-usap punggung kekar putranya.


"Tolong maafkan ibu dan ayah mu Andi. Tolong maafkan lah kami yang tidak bisa memberikan mu kasih sayang sejak kau kecil, hingga kau harus membenci kami. Bahkan sampai ayah mu tiada." Ibu Mona terus menangis. Andi melepaskan sejenak pelukannya, ia lantas mengusap air mata sang ibu.


"Sudah lupakan, lupakan semua masa lalu itu Bu. Andi pun sudah merubah hidup Andi untuk menjadi lebih baik lagi, kita akan menjalani hidup bersama. Aku berjanji pada mu bu. Aku tidak akan meninggalkan mu lagi."


"Berjanji lah pada ku nak, kau tidak akan meninggalkan ibu."


"Iya, Uhukkk...uhukkk.." Andi terbatuk.


Ibu Mona melepaskan pelukannya. "Kau kenapa? Apa kau sakit?" Tanya ibu Mona. Andi pun hanya tersenyum.


"Tidak, hanya batuk biasa Bu. Tenang saja." Ucap Andi, ibu Mona pun bernafas lega, lalu mengusap-usap lengan sang anak.


"Gagahnya putra ku ini. Ibu Benar-benar merindukan mu."


"Aku juga bu. Sebaiknya kita istirahat. Karena besok aku akan membawa ibu ke rumah ku." Ucap Andi. Ibu Mona pun mengangguk.

__ADS_1


Malam itu mereka beristirahat di kamar mereka masing-masing. Sementara Andi sempat bernostalgia dengan kamarnya di masa lalu, semua masih utuh tak berubah, dan yang paling membuat Andi senang. Kamar itu tetap bersih walau ia tidak lagi menggunakannya. Andi meraih gitar akustik kesayangan dulu dan memainkannya sebentar, hingga dirinya kembali terbatuk-batuk, dan membuatnya menghentikan kegiatannya lalu merebahkan tubuhnya beristirahat.


Bersambung....


__ADS_2