Ayah Untuk Putri Ku

Ayah Untuk Putri Ku
di terima


__ADS_3

Dalam situasi kaku, Jennie duduk dengan sopan, bersebelahan dengan Excel di kursi panjang.


Sementara di hadapannya, ada Bu Miranda yang tengah menatap lurus kearah mereka berdua. Tak lama seorang pekerja pantry masuk, setelah mengetuk pintu lebih dulu. Membawakan tiga cangkir teh hangat dan meletakkannya di atas meja.


Kedua tangan Jennie saling meremas, ia bahkan tidak berani mengangkat kepalanya hanya untuk melirik saja. Ia mulai menyadari sesuatu, Excel memang menyukainya. Namun tetap saja dia punya ibu, dan ibunya adalah seorang komisaris yang memiliki beberapa gedung hotel dan apartemen. Ia tidak kepikiran jika ibu Miranda bisa menolaknya, secara kasta mereka berbeda jauh darinya.


Sraaaagggg... Suara cangkir di atas nampan yang di dorong pelan lebih mendekat kearah Jennie.


"Minumlah..." Titah ibu Miranda. Jennie yang di perlakukan seperti itu, langsung menelan ludah. Situasinya seperti dirinya tengah di suruh untuk meminum secangkir teh yang di campur dengan bubuk sianida.


"Te... terimakasih, Nyonya." Tangan itu gemetaran, meraih cangkir tersebut lalu menoleh sejenak ke arah Excel. Tampang pria itu masih biasa saja, seolah tak memiliki rasa takut sama sekali. Dia malah tengah sibuk dengan rambutnya yang berkali-kali di sibaknya ke belakang lalu meraih cangkir gelasnya menyeruput.


"Mantap," gumamannya setelah itu.


'dasar pria ini ya,' umpat Jennie dalam hatinya, yang merasakan pria itu seolah tengah bersantai ria tidak peduli kelinci mainannya tengah dalam bahaya.


"Nona Jennie."


Gadis itu segera menoleh kembali ke arah ibunda Excel.


"I... Iya Nyonya?" Tangannya masih gemetaran.


"Apa teh itu tidak nikmat? Apa harus aku menggantinya?"


"Ahh..." Ia menyeruputnya, lalu sedikit nyengir aneh. "Nikmat, tehnya sangat nikmat."


Ibu Miranda tersenyum tipis, yang entah apa arti senyumnya. Seolah-olah seperti pemeran antagonis yang merasa senang ketika berhasil menyuruh si protagonis meminum minuman yang sudah ia bubuhi dengan sesuatu yang mematikan.


"Excel... Bisa kau jelaskan lebih dulu, siapa Nona ini."


"Wanita, yang membuat pengap di otak ku, Mih."


'apa katanya, membuat pengap? Sejak kapan otak bisa merasakan pengap, pria ini gila atau bodoh sih sebenarnya.' gusar, Jennie hanya bisa menunduk.


"Garis besarnya dia calon istri, ku."


Deg...! Jennie menoleh.


'segampang itu dia menyebut ku calon istri?'


Ibu Miranda menurunkan kacamatanya, memperhatikan dari atas kebawah. Lalu memasang lagi kacamatanya dengan sempurna. Dengan kelima jarinya ia mengarahkan itu pada Jennie.


"Ini berapa?" tanya beliau.


"Emmm... Li...ma. Lima," jawab Jennie gugup, karena dia bingung berharap jawabannya benar. Itu yang di maksud Bu Miranda.


Wanita itu mendesah. "Lagi ya, ini berapa?"


Menunjukkan ketiga jarinya.


"Tiga..."


"Aaaaa... Kau bisa menebak?"


Jennie ingin terkekeh konyol, namun ia tahan. Ibu komisaris itu langsung menoleh kebelakang.


"Berikan map itu," titah beliau pada sang Manager hotel di belakangnya, iya Adam (bukan Adam Riansyah ya hahaha). Pria itu pun menyerahkannya dan langsung di terima oleh wanita paruh baya tersebut. "Ini warna apa?"


"Emmm, Me...merah?" Ragu-ragu.


"Kau pun tidak buta warna."

__ADS_1


Excel terkekeh, ia menutup mulutnya. Jennie Sebenarnya bingung ia ingin menoleh kearah Excel namun tidak berani.


"Excel...! Kau pakai dukun mana?"


"A...apa?" Jennie semakin bingung.


"Hei... Apa kau tidak salah menerima dia sebagai calon suami mu?"


Jennie garuk-garuk kepala.


"Astaga...! Kenapa bisa kau menerima pria buruk rupa ini."


"Mamih...?"


"Diam kau Excel...!" Hentak Bu Miranda. "Ancaman apa yang dia berikan pada mu? Katakan saja?"


"Ancaman?"


"Iya... Pria bodoh ini melakukan apa pada mu? Astaga... Kau pasti tertekan sekali ya?"


"Eh...."


"Mih... Berhenti meremehkan ku, dia itu benar-benar menerima ku. Karena memang aku ini mempesona."


Ibu Miranda berkaca-kaca "Pria jelek ini...? Akhirnya... Oh, Tuhan." Bu Miranda mengangkat kedua tangannya, seolah-olah seperti orang yang tengah bermunajat lalu mengusap wajah. Mata Jennie hanya mengerjap saja, dengan mulut yang sedikit terbuka. karena ia merasa semakin kebingungan dengan tingkah wanita paruh baya di hadapannya. "Baiklah... Untuk mu. Kemasilah barang-barang mu. Kau sudah tidak bekerja lagi di hotel ini."


Deg...!!! Mata Jennie membulat sempurna, ia terkejut.


"A...apa? A...aku di pecat? Tapi kenapa Nyonya?"


"Ya... kau sudah tidak layak bekerja disini."


"Anu..." Jennie menoleh ke arah Excel, ia melotot kearah pria itu. 'hei pria gila, bantu aku... Ayo bantu aku.' begitu lah kurang lebih maksud dari isyarat mata Jennie pada Excel. Namun Excel malah justru mengeluarkan ponselnya, dan membuka aplikasi game online.


"Nyonya... Ku mohon." Menelungkupkan ke-dua telapak tangannya di depan dada. "Jangan keluarkan saya."


"Apa kau sedang memberikan ku perintah?"


'siapa yang memberikan Anda perintah, ini sebuah permohonan. Anda ini sebelas dua belas kah dengan anak mu?' batin Jennie.


"Bukan begitu Nyonya. Begini... Saya tahu Anda pasti tidak setuju kan saya dekat dengan anak Anda? Hehehe sebenarnya saya pun tidak begitu mau kok, saya tahu diri sekali saya hanya wanita berkasta rendah tidak pantas untuk Tuan muda Excel... Kalau Anda mau saya menjauh dari Tuan Excel saya akan melakukannya, dengan senang hati. Asal saya jangan di keluarkan dari sini."


"Hei... Kenapa kau bilang seperti itu sih?" Excel protes.


"Apa? Memang sebaiknya seperti itu, aku lebih memilih menjauh dari mu dari pada kehilangan pekerjaan ku."


"Apa kata mu? Hei Jejen...!"


Plaaaaaakkkk.... Sebuah gulungan majalah di lemparkan ke arah Excel.


"Mamih...!!! Aaaarrggggg hidung ku." Mengusap-usap.


"Turunkan nada bicara mu, aku sudah menduga wanita ini pasti tertekan. Dia pasti di paksa oleh mu." Ibu Miranda sudah beranjak dari posisi duduknya.


"Demi Tuhan, tidak Mih...." Menghindari hantaman kedua dari ibunya yang sudah mengambil ancang-ancang dengan satu kaki yang di naikan keatas meja. "Hei Jejen... Katakan pada rubah betina ini. Jika kau tidak tertekan oleh ku."


'dia menyebut ibunya rubah betina?' Jennie ternganga, bengong melihat kedua orang aneh itu.


"Masih mau mengancamnya lagi, Hah!!"


"A...anu? Nyonya, aku... Aku tidak di ancam. Tapi aku hanya, merasa tahu diri dengan status ku. Itu saja."

__ADS_1


Ibu Miranda menurunkan satu kakinya itu, lalu merapikan jas itu dan kembali duduk.


"Baiklah... Ku tanya sekali lagi. Apakah kau benar-benar mau dengannya?"


"Emmmm itu?"


"Ayo jawab...! Katakan tidak, jika kau tidak mau."


'apa yang harus aku jawab? Kalau aku jawab iya nanti aku akan kehilangan pekerjaan ku, kalau aku jawab tidak? Pria itu pasti akan di hajarnya lagi... Kenapa hidup begitu sulit sih.' bergumam dalam hati.


"Nona Jennie..."


"I... Iya, iya Nyonya saya tidak terpaksa. Masalah hati, saya benar-benar berdebar saat bersamanya. Tapi? Saya tidak ingin di keluarkan dari hotel ini."


"Kenapa?"


"Sebab saya punya anak, yang harus saya hidupi." Menunduk.


"Anak?" Bu Miranda menoleh ke arah Excel.


"Aku sudah pernah bilang, aku akan memberikan Mamih calon menantu beserta cucu sekaligus," jawab Excel.


Bu Miranda kembali menatap ke arah Jennie. "Kau punya anak?"


"Iya Nyonya, dia... Anak yang lahir tanpa pernikahan." Sudah pasrah saja, dia menceritakan semuanya pada ibu Miranda. Yang langsung menengadahkan tangannya pada Adam, meminta tissue lalu meletakkannya di pangkuannya.


Beberapa menit kemudian...


"Laki-laki memang brengsek...!" Mengusap air matanya.


'dia menangis hanya untuk mendengarkan ini?'


"Sudah kemasi saja barang-barang mu. Kau sudah tidak di perbolehkan kerja di sini," tutur Ibu Miranda.


Deg...!! Jennie menggeleng cepat.


"Nyo... Nyonya... Ku mohon jangan pecat saya. Saya tahu, saya memang tidak layak untuk Tuan Muda Excel." Menelungkup kan kedua tangannya lagi, memohon.


"Kau ini bicara apa? Saya hanya tidak mau calon menantu saya masih bekerja di hotel ini, sebagai pelayan kamar."


"Eh..."


"Kau pulanglah... Dan katakan pada orang tua mu. Malam ini aku dan pria bodoh ini akan datang."


"Apa?" Masih tidak percaya.


"Kenapa? Apa kau masih kurang jelas? Mamih ku menerima mu, bodoh."


"Saya... Saya di terima? Begitu saja? Hahaha... Nyonya pasti salah."


"Aku tidak salah... Aku malah berterimakasih, kau sudah bersedia meringankan beban ku. Dengan memilihnya sebagai suami mu."


"Astaga Mamih... Aku ini anugrah untuknya."


"Diam kau Excel... Untuk mu, Nona Jennie?" Bu Miranda meraih kedua tangan Jennie. "Bertahanlah selama hidup dengannya ya?? Jika kau sudah bosan kau boleh meleburnya di perapian. Hahaha"


"Mamih...!!!"


"Hahaha... Senangnya, akhirnya aku punya menantu."


Jennie yang di sana hanya Haha hehe saja, memang benar? Ibu dan anak ini sebelas dua belas rupanya.

__ADS_1


Ya... Begitulah awal mula Jennie bisa pulang cepat hingga bisa mendatangi Nara saat itu.


Bersambung...


__ADS_2