
Di ruangan kerja , Excel duduk menyandar di sebuah kursi empuknya.
Melamun sembari memainkan Bolpoin ditangannya.
Ia masih tidak percaya tentang fakta yang baru ia ketahui, selama ini ia mengira wanita itu masih gadis, belum menikah apalagi memiliki anak.
Dan dari hal itu Excel merasa separuh kehidupannya runtuh.
Perjuangannya mendekati Jennie terasa sia-sia.
Tunggu? Mendekati dengan cara narsis maksudnya. Yaaa betul itulah cara Excel yang tidak bisa romantis apalagi lemah lembut. Hal seperti itu sudah termaksud cara dia memberi kode suka pada gadis incarannya. Itu juga sih yang membuat dirinya tidak kunjung memiliki pacar hingga saat ini.
Di samping cuek dengan wanita, sekalinya suka ia malah justru akan terus menjailinya.
Excel masih termenung di kursinya. Melamun kan apa yang ia dengar tadi.
"Gadis secantik Jennie sudah punya anak? Jejen ku sudah punya anak?" Terus saja ia bergumam tanpa henti. Menatap dengan pandangan kosong.
"Pria beruntung mana yang bisa menikahinya sih? Aaahhh sial." Excel meremas kepalanya.
Braaaaaaakkk... Sebuah pintu terbuka kasar, membuat Excel terperanjat. wanita berambut pendek dengan kacamata bulat tengah berjalan mendekatinya.
"Hei, bisakah ibu melihat wajah mu itu lebih Segeran dikit?" tanya ibunya.
"Apa sih mamin, Excel itu tengah berfikir ini."
"Berfikir apa?"
"Berfikir bagaimana caranya menjadi pembinor yang baik dan berakhlak."
Plaaaaaaakkk. "aaaaarrrrrrrggghhh!" Excel mengusap-usap kepalanya. "Tidak bisakah mamih lebih halus sedikit? Semakin tua semakin ringan pula tangan mamih itu. Astaga..."
"Ini...ini nih jawaban kenapa dulu aku ingin membuang mu ke kloset saat baru ku lahirkan... Ternyata aku membesarkan seorang pria berotak dangkal."
__ADS_1
"Ck, memang benar aku telah salah lahir dari rahim mu ya mamih?"
"Itu kau paham. Haduuuuhhh kenapa pula kau hidup sampai seusia ini sih?"
"Cih! Sepertinya hanya ibu Miranda lah, seorang ibu yang selalu mengharapkan hari kematian anaknya itu tiba."
"Iya lah, karena saat itu terjadi mamih akan sangat bersyukur." Tuturnya yang langsung membuat Excel menoleh sekaligus mendengus sebal.
(ku kasih Visual Excel versi halu aku)
Excel pun mengelus dada. "Malang sekali nasib ku, kematian ku malah akan menjadi sebuah anugerah untuk mu ya mamih?"
Ibu Miranda tergelak. Ia pun kini sudah berdiri di samping Excel. Dengan siku menopang di bahu putranya.
"Kau ini kenapa? Masam sekali kelihatannya."
"Hei putra jelek ku. Mamih juga pernah muda tahu, tampang seperti ini sudah jelas, kau pasti habis di tolak seorang wanita kan?" tembak ibunya. Excel mematung. "Benar kan? Haha, aku sudah menduganya. Pria buruk rupa seperti mu sudah pasti sulit mencari pasangan hidup ya?"
"Mamih!"
"Hahaha, iya...iya... Mau ku Carikan jodoh lagi untuk mu?"
"Tidak mau, mamih itu tidak pernah pas mencarikan pasangan untuk ku."
"Tidak pernah pas bagaimana?"
"Mamih lupa kemarin mamih menyuruhku kencan buta dengan Laura? Dia itu Waria mih, sudah gila apa? Mamih ingin aku adu pedang dengannya?"
"Ya Ampun, jadi Laura itu Waria ya?" Mengusap-usap dagunya. Berfikir.
"Dan lagi sebelumnya. Mamih menyuruh ku untuk menemui Dina?"
__ADS_1
"Dia pasti cantik kan? Soalnya pas di foto profil, wajahnya sangat imut, mirip aktris Korea." Potong ibu Miranda.
"Ckckck jaman sekarang masih percaya muka di Foto ya, mamih tahu dia itu pakai Filter muda. Saat bertemu bukannya imut mih tapi amit. Mamih tahu?
Usia dia bahkan lebih tua dari usia mamih itu... Haduh mamih ini."
"Setidaknya dia wanita kan?"
"Cih mamih ingin aku nikah dengan nenek-nenek apa?"
"Tapi kan lagi musimnya Excel."
"Musimnya, Musim durian baru enak." Excel bersungut-sungut. "Intinya Excel tidak mau lagi di jodohkan oleh mu mih. Mamih itu terlalu percaya aplikasi biro jodoh. Bisa jadi mamih nantinya akan menjodohkan ku dengan Kuyang."
"Ide bagus itu Excel. Luar biasa, kau pasti akan terkenal jika bisa mempunyai keturunan setengah kuyang."
"Apa?" Excel mendesah sinis. "Lebih baik mamih membunuh ku dari pada terus berusaha melepaskan ku kepada wanita-wanita seperti itu."
Ibu Miranda semakin tertawa terbahak-bahak. Plaaaaaaakkk ia memukul bahu Excel saking gemasnya.
"Pukul saja terus. Gemar sekali ya memukul ku."
"Haduh perut ibu sakit, walaupun kau beban hidup ku, tapi bersama mu stres mamih seketika sirna."
"Cih..."
Bu Miranda pun mengusap matanya yang sedikit basah akibat terlalu banyak tertawa. "Sudah ya mamih tinggal dulu, ada meeting soalnya." Tuturnya, walau tidak di jawab Excel, wanita itu pun keluar dari ruangan tersebut.
"Haduh putra ku... Putra ku..." gumamnya.
Excel pun geleng-geleng kepala. Kembali pada pekerjaannya walau sesekali masih teringat Jennie. Namun pekerjaan merekap data belum rampung ia garap. Untung saja mamih nya tadi tidak menanyakan pekerjaannya itu dan menyuruh nya untuk segera mengirim data tersebut secara tiba-tiba seperti biasa. Excel menghela nafas tangannya pun mulai berkutat pada keyboard dan mouse.
Bersambung....
__ADS_1