
Di dekat rumah orang tuanya Jennie, mereka menyempatkan mampir ke sebuah taman karena Nara sering bermain di sana dengan teman-teman sebayanya.
"Bunda—" seru Nara yang langsung berlarian ketika melihat Jennie keluar dari mobil itu dan melambai ke arahnya.
Terlihat Jennie langsung memeluk putrinya. "Ya ampun kamu bau keringat sekali sayang, belum mandi ini pasti kan?" Tanya Jennie.
"Iya bunda, kan Nara maunya di mandiin sama bunda." Ucap anak kecil yang masih betah di pelukan bundanya itu.
Sementara Excel hanya tersenyum sedikit mengamati keduanya.
Pria itu terus mengamati mereka, terlihat dekat sekali Jennie dengan putrinya membuatnya sedikit berfikir, bagaimana caranya agar bisa membuat anak itu betah di dekatnya juga dan bersedia menerimanya.
Mata Nara tertuju pada Excel. "Bunda, kok om jelek ini ikut ke sini?"
Excel merengut. "Kenapa betah sekali kau memanggilku om jelek?"
"Habis om gondrong sih?"
"Aku sudah memotong sedikit rambut ku loh. Apa ini kurang."
"Pria tampan itu harus seperti ayah Andi." Tuturnya. Jennie pun menoleh ke arah Excel memastikan ekspresi wajahnya saat mendengar Nara menyebut ayah Andi di depannya.
"Hoho... Aku bisa lebih tampan darinya, akan ku pastikan itu, tenang saja." Mengibas-kibaskan tangannya.
"Oh ya?" Nara berjalan mendekati Excel, lalu berkacak pinggang di hadapannya. "Kalau begitu gedong aku." Mengangkat kedua tangannya.
"Hahaha dasar kau bocah! Sudah mengatai ku jelek minta gendong kau sekarang ya."
"Nara, jangan seperti itu. Ayo biar bunda saja yang menggendong mu."
"Tidak apa-apa Jejen, calon ayah yang baik itu harus seperti ini siap menggendongnya setiap saat. Bukan begitu Tuan putri?"
__ADS_1
"Hehehe, tapi kita jajan bakso di sana dulu ya om." Nara menunjuk ke arah kedai bakso di dekat kawasan situ.
"A...apa? Tidak Nara, kita kan harus?"
"Ayo, om juga ingin makan bakso," sudah menggendong Nara saat ini.
"Tapi Tuan?"
"Kau sebut aku apa, Sayang?" Jennie membulat kan bola matanya.
"Maksud ku, mas. Ya mas Excel," jawabnya langsung. Excel tersenyum.
"Nah di ingat-ingat ya," Excel membawa Nara menuju kedai bakso terdekat. "Memang sepertinya kau suka di panggil sayang ya." Gumamnya saat melewati Jennie.
Jennie pun mengepalkan kedua tangannya geram, ia menghela nafas sejenak lalu berjalan cepat menyusul pria yang sudah melangkah jauh itu.
Di sebuah kedai bakso, seorang pelayan sudah menyajikan tiga mangkuk bakso di hadapan ke tiganya.
"Om...om.. biar Nara yang kasih sambalnya ya." Nara menawarkan.
'Jangkrik! Andi, anak mu tak jauh beda dengan mu ya?' batin Excel yang sudah pucat pasi.
"Astaga Nara," Jennie merasa tidak enak, sementara Excel masih memandangi mangkuk baksonya itu yang sudah penuh dengan sambal di dalamnya.
"Om, maaf ya om... Maafkan Nara, Nara tidak sengaja."
"Hehehe, ada dendam apa kau dengan ku nak?" Gumam Excel sembari menunjukkan giginya.
"Mas, mohon maafkan anak ku, aku akan menggantinya, tukar saja dengan mangkuk ku ini." Jennie hendak menggesernya, namun di tahan oleh Excel.
"Tidak usah, kau tidak tahu ya? Aku bisa makan sambal lauk kuah bakso seperti ini." Ucap Excel.
"Tapi mas?"
__ADS_1
"Hei...hei... Apa kau sedang meremehkan ku? Kau lihat ini." Excel menusukkan satu butir bakso tersebut lalu memakannya. "Lihat aku makan kan? Aku itu biasa seperti ini" Excel mengunyah dengan sangat terpaksa. 'sialan, cabe apa ini pedas sekali!!! Mulutku seperti terbakar!' batin Excel.
"Mas, sungguh itu pasti pedas sekali."
"Jangan ajak aku bicara Jejen, jika kau tak ingin aku semakin merasa kepedasan." Gumamnya namun masih memasukkan butiran bakso tersebut ke dalam mulutnya.
"Om Excel hebat, doyan pedas. Hebat ya bunda."
"Hehehe" membusungkan dadanya sembari menepuk-nepuk dadanya. 'vangke, tubuh ku mati rasa, rasanya sudah seperti nyawa ku melayang.' masih memaksakan senyum walau keringat bercucuran.
Sementara Jennie hanya semakin merasa tidak enak pada pria di hadapannya, yang kini mulai cegukan.
Dengan cepat Jennie mengulurkan air minumnya, bukan punya Excel ya.
"Minum dulu mas," menyodorkan botol yang sudah terbuka penutupnya.
Excel meraihnya cepat lalu meminumnya sampai habis.
"Terimakasih," masih terlihat kelabakan dia akibat kepedasan. Jennie pun menarik mangkuk bakso Excel.
"Sudah cukup mas jangan makan lagi. Makan saja punya ku, untuk menetralisir pedesnya." Titah Jennie.
"Aku tidak apa Jen sini, berikan pada ku. Kau pikir aku tidak kuat apa?"
"Tidak mas, pokoknya jangan makan lagi, kalau kau memaksa aku akan turut makan yang itu juga." Tegas Jennie.
"Baiklah...baiklah." Excel mengalah. 'syukurlah...' batin Excel merasa lega. Jennie pun mengulurkan sebutir bakso ke arahnya.
"Makan punya ku ini. Ayo." Titah Jennie.
Excel menoleh ke arah Nara, gadis itu menutup wajahnya sembari terkekeh. Saat itu pula Excel tersenyum ia pun melahap bakso dari tangan Jennie itu.
Setelahnya satu mangkuk itu pun habis di makan Jennie dan Excel secara bersamaan. Karena kemauan Excel juga yang meminta Jennie juga turut memakannya sehingga secara tidak langsung Jennie dan Excel pun berbagi sendok saat memakan bakso tersebut.
__ADS_1
Bersambung....