
Tok tok tok...
Sebuah ketukan membuat Andi membuka kaca mobilnya.
Pria itu menopang kedua tangannya di bagian kaca yang sudah terbuka itu.
"Hallo Andi Prayoga?" Sapanya dengan senyum jahat tersungging di bibirnya.
"Apa yang kau lakukan sini?" Tanya Andi. Pria itu masih berada di dalam mobilnya.
"Setelah sekian lama tidak bertemu, dan kau bahkan membatalkan perjanjian kita, sepertinya kau terlihat tidak dalam kondisi baik-baik saja? Apa kau sakit?" Tanya Arya menyentuh dahi Andi. Andi pun menepis tangannya.
"Kita bisa bicara di tempat lain, jika ada yang ingin kau bicarakan dengan ku." Ucap Andi dingin.
"Kau memang pintar membaca isi hati ku ya... Hahaha." Terkekeh. "Baik, ikuti mobil ku. Dan kita bicara." Sambung Arya. Tanpa membalas ucapan Arya tadi, Andi sudah menekan tombol untuk menutup kembali kaca mobilnya yang perlahan mulai naik itu, secepat itu pula kedua tangan Arya menjauh, ia pun kembali berjalan menuju mobilnya sementara Andi yang sedikit meringis itu meraih obat di dekatnya dan mengkonsumsinya sejenak, karena rasa nyeri di dada yang mulai kembali muncul.
Baru lah dia menyalakan mesin mobil, dan mengikuti laju mobil di depannya.
***
Di hotel A
Excel benar-benar merasakan jika Jennie saat ini tengah menghindarinya.
Terasa sekali, sikap dingin Jennie yang hanya membungkuk sesaat lalu berjalan melewatinya.
Excel meraih pergelangan tangan Jennie dan menariknya pelan, sehingga membuat Jennie sedikit gelagapan kembali menghadapnya.
"Kau masih marah dengan ku?" Tanya Excel, tatapan seriusnya membuat Jennie sedikit takut. Ternyata Excel tidak jauh mengerikan dari pada Andi.
"Maafkan aku." Ucap Excel, Jennie pun mengangkat dagunya, namun tak membalas ucapan Excel tadi. "Kau tahu? Ketika hati sudah mengatakannya, aku tidak akan bisa menolak itu." Ucap Excel. Ia meraih tangan Jennie yang satunya.
"Aku benar-benar menyukai mu. Bisakah kau melihat kesungguhan hati ku dan menghargainya?" Excel menempelkan tangan Jennie di dadanya.
"Tuan, bisakah anda jangan mengatakan ini di sini?" Ucap Jennie, menoleh ke sekeliling, karena posisinya mereka tengah berada di sebuah lorong pintu-pintu kamar dimana ada banyak orang berlalu lalang di sana.
"Kenapa? Biarkan mereka tahu kan, kalo aku memang benar-benar menyukai mu."
"Tu...Tuan maaf, ini sudah waktunya saya pulang," berusaha mengalihkan, dan berharap Excel akan melepaskan tangannya.
"Akan ku antar."
__ADS_1
"Eh..." Jennie tercengang. "Maaf Tuan, saya kan bawa motor."
"Tinggalkan saja. Besok aku bisa menjemput mu lagi."
"Ti...tidak bisa. Aku kan?"
"Bersiap-siap lah, aku akan menunggu mu." Ucap Excel, ia lantas mengecup kening Jennie,
membuat mata gadis itu membulat sempurna.
'pria ini semakin berani.' batin Jennie, seraya mengamati Excel yang sudah berjalan lebih dulu.
Benar saja, baru saja Jennie selesai merapikan barang-barangnya, Excel sudah berdiri di depan pintu basecampnya.
"Sudah?" Tanya Excel pada wanita yang sudah berjalan mendekatinya.
"Saya rasa Anda tidak perlu mengantar saya." Ucap Jennie, berusaha untuk menolak sekali lagi.
Excel pun tak menggubrisnya sama sekali, ia hanya meraih tangan Jennie dan membawanya keluar.
Merubah sedikit posisinya sehingga tangan mereka bisa saling bertaut, Excel pun memasukan tangan mereka yang saling bertaut itu ke dalam saku jasnya, dan berjalan bersama.
Beberapa yang melihat pun merasa iri dengan pemandangan itu, bahkan ada pula di antara mereka yang saling berbisik antar satu sama lain.
Membuat Jennie semakin canggung dengan itu, berbeda dengan pria yang tengah mengusap-usap pelan tangan Jennie yang berada di dalam sakunya itu menggunakan ibu jarinya. Ia justru tengah tersenyum senang saat ini.
Hingga mereka pun sampai di sebuah parkiran, Excel membukakan pintu untuk Jennie.
"Te... terimakasih." ucap Jennie.
"Sama-sama ratu ku." Jawab Excel, Jennie sempatkan menoleh sejenak pada pria yang tengah tersenyum kepadanya.
"Jangan sebut saya seperti itu Tuan."
"Jangan membuat ku ingin mencium mu di sini ya? Sudah cepat masuk," titah Excel yang tidak ingin ada penolakan apapun dari Jennie.
Gadis itu pun menurut dan mulai masuk ke dalam mobil milik Excel.
Setelah pintu di tutup oleh Excel pria itu mengepalkan tangannya dan mengayunkannya dari atas ke bawah. 'yeeees!' batin Excel girang, ia pun berdeham lalu kembali melangkahkan kaki menuju kursi kemudi dengan tingkah cool, sementara Jennie tersenyum tipis di dalam mobil itu melihat tingkah Excel di luar tadi.
Mobil pun mulai berjalan, menyusuri jalan ibu kota, terlihat semangat sekali pria satu ini. Ia bahkan tidak henti-hentinya menyunggingkan senyum di bibirnya.
__ADS_1
Sedangkan wanita di sampingnya hanya duduk dengan tenang, kedua tangan saling meremas di pangkuannya.
'ayah marah tidak ya? Aku membawa pria kerumah. Aku takut kasus kak Alvian dulu terulang, dan Tuan Excel akan di usir olehnya.' batin Jennie yang masih belum siap membawa Excel ke rumah orang tuanya, karena Nara ada di sana. Ia pun menoleh sejenak.
"Tuan, sepertinya? Saya agak berubah pikiran, sebaiknya anda tidak usah mengantar saya, soalnya saya harus menjemput Nara di rumah orang tuan saya."
"Jejen, itu bagus kan? Aku jadi bisa langsung bertemu calon mertua ku." Ucapan Excel sukses membuat mata Jennie membulat. "Dan lagi, Aku ingin kau jangan panggil aku dengan sebutan Tuan jika di luar seperti ini. Panggil saja aku mas... Mas Excel hahaha. Manisnya jika di sebut itu oleh mu." Ucapnya terkekeh.
'mas? Mas apanya? Tidak enak sekali memanggil mu dengan sebutan itu.' batin Jennie.
"Ayo coba panggil aku Jejen." Titah Excel.
"Tidak mau Tuan, aku lebih nyaman dengan sebutan itu."
"Ya sudah aku akan memanggil mu sayang di depan orang tua mu." Ancam Excel.
"Tuan jangan bercanda ya, ayah ku itu galak, jadi sebaiknya anda jangan macam-macam."
"Segalak apa sih? Pokoknya panggil aku mas... Ayo... Ayolah Jennie." Merengek manja.
Jennie mendengus. "Mas." Dengan sangat terpaksa dan sesingkat-singkatnya.
"Apa?" Mendekatkan telinganya.
"Mas!" Memekik sedikit sembari mendorong bahu pria di sampingnya agar lebih fokus menyetir lagi.
"Mas siapa? Mas-mas itu banyak. Sebut namanya juga."
"Memaksa sekali sih anda ini."
"Cepat...cepat..."
"Mas Excel."
"Pake embel-embel dong."
"Embel-embel apa?" Merengut.
"Mas Excel sayang mungkin?" terkekeh. Ia menoleh ke arah Jennie yang sudah terlihat kesal. "Hahaha hanya bercanda. nyonya Excel." Menyolek dagu Jennie dengan gemas.
'apa sih? nyonya Excel katanya? dia itu tingkat kepedean nya benar-benar tinggi ya, Menyebalkan!' Jennie menatap sebal ke arah Excel yang masih terkekeh itu.
__ADS_1