
Beberapa hari berselang, Jennie baru saja mengakhiri panggilan telfonya bersama sang putri sekitar pukul setengah tujuh malam, ia kembali mengerjakan tugasnya.
Saat seorang wanita memesan sesuatu dari hotel tersebut dan meminta untuk di Antar.
Jennie pun berjalan sendirian menghampiri kamar 544, karena pesanan yang di minta wanita itu tidak banyak ia bisa mengantarkannya sendiri.
Jennie berdiri di depan pintu kamar itu, merapikan sejenak pakaiannya. Lalu mengetuk pintu tersebut sebanyak tiga kali.
"Permisi Room service." Seru Jennie.
Cklaaaaaak, seorang pria dengan handuk melingkar di pinggangnya keluar.
Degg Jennie membulatkan bola matanya, begitu juga dengan pria di hadapannya.
Tidak menyangka dengan apa yang ia lihat.
Praaaaaaang. Tidak sengaja Jennie menjatuhkan nampannya yang berisi beberapa handuk di sana.
"Ka... Kak Andi?" Gumamnya.
Andi pula sama-sama mematung, menatap kearahnya.
Hingga tak lama Seorang wanita keluar sembari memeluk Andi dari belakang. "Hei, kenapa diam saja?" tanya wanita itu pada Andi.
"Se... Selly?" Jennie beralih pandang pada wanita yang bersama Andi itu.
"Ohhhh Jennie? Kau benar Jennie kan? Astaga kebetulan sekali, Jadi kau kerja di hotel ini?? Wah...wah...wah..." tuturnya. Tatapan Andi masih tertuju pada wanita di hadapannya, masih membisu.
"Kau tahu? Aku akan segera menikah dengannya. Lihat." Selly memamerkan cincin di tangannya.
Jennie menghela nafas. "Oh...Selamat." Tersenyum. Ia lantas berjongkok memunguti handuk yang tergeletak di dekat kakinya. Dan dekat juga dengan kaki Andi.
"Maaf, aku sudah menjatuhkan handuknya. Aku, akan menggantinya."
"Tidak perlu." jawab Andi datar. Andi meraih handuk di tangan Jennie, namun tangannya seperti tengah sengaja menyentuh tangan Jennie. Lantas berbalik masuk.
Selly tersenyum sinis. "Tidak di sangka ya, gadis pintar seperti mu seharusnya menjadi wanita karier bukan? Ternyata hanya menjadi seorang pelayan hotel. Kasihan sekali." Selly membuka dompet di tangannya lalu mengeluarkan uang nominal seratus ribu.
"Ambil ini." Selly melemparkan uang itu ke wajah Jennie. "Tips untuk pelayan seperti mu." Ia tersenyum senang lalu kembali masuk ke dalam kamar itu. Braaaaaakkk. Dan menutupnya dengan kasar.
Jennie mengepalkan satu tangannya. Sudut matanya mulai menggenang.
"Pria itu masih sama saja!! Seorang predator yang gemar tidur dengan wanita." runtuk Jennie.
Ia pun memeluk nampan itu tanpa memungut uang yang tadi di lemparkan Selly kepadanya, lalu berjalan menuju sebuah tangga darurat.
__ADS_1
Dengan berjalan cepat ia terus menaiki anak tangga itu hingga sampai ke atap gedung. Ia berlari sampai ke ujung atap tersebut.
'Kau, tahu? Kau gadis paling cantik yang sangat aku cintai Jennie. Mau kah kau menjadi pacar ku?'
Kata-kata di masa lalu tiba-tiba terngiang-ngiang.
Hingga ingatan saat pertama Andi mengecup bibirnya.
"Kak Andi mencium ku?"
"Itu tanda cinta sayang. Aku hanya mencium satu gadis yaitu kau, semua karena aku mencintaimu." Andi kembali mengecup bagian bibir Jennie.
Jennie mengerang. "Pembohong....!! Lelaki brengsek!! Penjahaaaaaat!! Aaaarrrrrggghhhhh...!!" Tangannya berpegangan pada pembatas ujung atap tersebut, menangis tak terkendali.
"Jennie kau bodoh!! BODOH KARENA MASIH MENGINGAT SEMUA HAL MANIS BERSAMANYA..!!" pekik Jennie.
"Bodoh...! Bodoh karena masih mencintainya... Pria yang sudah mencampakkan mu!! Membuat mu putus sekolah!! Dan menjadi ibu tunggal!!!" Jennie berjongkok ia memeluk lututnya, menangis sesenggukan sendiri di sana.
Ia menyesali pertemuannya dengan Andi saat ini. Jujur saja ia memang sangat ingin melihat wajahnya lagi. Semua karena kerinduan yang terpendam.
Namun bukan seperti ini, terlebih pria itu tidak memakai pakaian selain handuk itu.
Sesaat ia kembali teringat permintaan Nara tadi kala tengah menelfon dirinya.
"Iya sayang. Bunda Janji."
Jennie menggeleng cepat. Ia meremas pakaian di bagian dadanya. "Nara tidak boleh bertemu pria bejat seperti Andi. Dia bukan ayah Nara. Hiks... Dia bukan ayah dari putri ku." Isak nya.
***
Pukul tujuh dua puluh menit ini, Jennie baru saja pulang dari tempatnya bekerja. Ia membawa laju motornya cepat menuju kediaman orang tuanya untuk menjemput Nara terlebih dulu barulah kembali ke kontraknya.
Sesaat motornya terhenti di sebuah perempatan jalan dimana lampu merah membuat semua pengendara yang sejalur harus berhenti.
Hujan gerimis di sana membuat Jennie menatap langit sembari menanti angka detik yang masih berjalan mundur.
"Haaaahhh." Jennie menghela nafas. Sudah cukup puas ia menangis tadi menumpahkan segala sesak yang tertampung.
Ia bahkan berkali-kali membasuh mukanya agar mata sembab nya itu tidak nampak.
Sesaat sebuah motor berhenti di sebelahnya. Jennie menoleh sekilas Sepasang muda mudi berseragam SMA, yang sudah pasti mereka adalah sepasang kekasih.
Dengan sang wanita tengah menggelayut manja. Melingkari tangannya di pinggang sang kekasih.
Tangan sang pria mengusap-usap tangan wanitanya.
__ADS_1
Terlihat mesra bukan? Itu lah yang ia rasakan saat berpacaran dengan Andi dulu.
Saat menjadi kekasihnya. Andi memang sangat romantis. Ia selalu memakaikan jaketnya kepada Jennie. Terlebih kala hujan mereka akan berteduh di depan sebuah toko yang tutup, berdua.
Mendengarkan banyolan Andi yang selalu sukses membuatnya tergelak.
Siapa yang menyangka pria itu akan memangsanya lalu kabur begitu saja.
Tin... Tin... Tin... Suara klakson di belakang membuyarkan lamunan Jennie yang menyadari bahwa lampu sudah berubah hijau. Ia pun segera melanjutkan perjalanannya.
Sesampainya di rumah putri kecilnya itu sudah menghampiri Jennie. Menunjukan gambar yang ia buat tadi.
"Bunda lihat. Nara membuat gambar, bagus tidak??"
"Wahhh bagus sekali. Pintar anak Bunda." Jennie mengecup pipi Nara. Sembari meraih gambar di tangan Putrinya.
Jennie tertegun di dalam gambar itu tidak hanya gambar dirinya dan Nara. Namun ada satu orang lagi di sana.
"Nara ingin seperti ini saat bertemu ayah Nara nanti." tuturnya polos. "Jalan-jalan bersama bunda, dan Ayah ke taman hiburan." Jennie pun tertohok.
Sungguh ia ingin menangis lagi rasanya. Namun Jennie segera menggerakkan bola matanya. Lalu kembali tersenyum.
"Kita pulang sekarang?" tanya Jennie.
Ayah Jennie pun keluar. "Jennie? Kau sudah pulang?" tanya Pak Ridwan.
"Iya ayah." Jennie meraih tangan ayahnya dan mengecup punggung tangannya.
"Menginap saja di sini Jennie. Ayah masih senang bersama Nara." pintanya.
Jennie pun tersenyum. "Jennie tidak bawa baju ganti ayah. Dan lagi besok Jennie masih harus bekerja."
Pak Ridwan menghela nafas pasrah.
"Besok, saat Jennie off, Jennie akan menginap kok."
Pak Ridwan tersenyum lalu mengangguk.
"Ya sudah Jennie pulang ya ayah. Ibu." Tutur Jennie saat melihat ibunya keluar dari rumah itu.
Jennie memakaikan jaket dan helm kepada Nara. Mereka pun berjalan keluar pagar menuju motor mereka. Nara menyempatkan diri melambaikan tangan pada kakek dan neneknya. Yang di balas dengan lambaian tangan ke duanya. Motor pun berjalan menjauh.
"Putri ku." Gumam pak Ridwan lalu masuk kedalam rumahnya. Sedangkan bu Sukma hanya mengusap sudut matanya yang basah lalu kembali masuk kedalam rumah mereka.
Bersambung....
__ADS_1