
Jennie hanya diam saja, karena bingung. Ia lantas menunduk.
'apa yang harus aku lakukan? Aku hanya berdua?' batin Jennie yang masih membisu.
"Kau melihatnya?" gumam Andi, masih pada posisi memunggungi.
"Eumm...?" Jennie mengangkat kepalanya.
"Kau melihat kelemahan ku. Dan kau mendengar ocehan ku yang kekanak-kanakan," berusaha tertawa, walaupun terdengar serak.
"Tidak... Tidak seperti itu, kak."
Andi mengulum bibirnya sendiri yang merasa getir. Mengusap air matanya, lalu membalikan posisi tidurnya perlahan.
Membuat Jennie reflek mendekati lalu membantunya. Posisi wajah yang dekat membuat mereka mematung seketika.
Tatapan hangat terpancar dari keduanya. Jennie berdeham, ia hendak beranjak dari posisinya yang sedikit membungkuk itu, namun tangan Andi menahannya.
"Aku tidak salah kan? Excel loh yang meninggalkan mu sendiri disini," menyematkan rambut Jennie yang tergerai itu ke salah satu telinganya. Lalu menyentuh pipi Jennie lembut.
Jantungnya kini mendadak berdebar, Jennie merasakan gugup dengan posisi yang sangat dekat itu.
"Apa kau bahagia?" Bisiknya, pelan. seraya mengusap bibir Jennie lembut. "Jika tidak, jadilah istri ku saja."
"Kak, Andi?" Tangan Jennie mendadak gemetaran.
"Emmm?" Kembali menatap mata yang sedari tadi nampak tidak tenang. Ia pun terkekeh, lalu melepaskan Jennie. "Kau takut ya?"
Jennie diam saja, ia hanya tidak mengerti apa yang sebenarnya tengah di rasakan Andi. Terlebih saat melihatnya tertawa setelah tangisnya tadi.
"Aku tidak akan macam-macam... tadi itu aku hanya menggoda mu saja." Andi masih memaksakan untuk tertawa.
"Kau baik-baik saja, 'kan?" tanya Jennie.
Andi tersenyum tipis lalu memiringkan tubuhnya pelan mengarah kepada seorang wanita yang statusnya adalah ibu dari anaknya itu. Meraih tangan Jennie, lalu meletakkan di pipinya.
"Kenapa? Kau mengkhawatirkan ku?"
"Katakan saja, jangan memaksa tersenyum."
"Iya... Aku tidak baik-baik saja. Itu kan jawaban yang kau harapkan?"
__ADS_1
Jennie terdiam, karena tangan Andi masih memegangi tangannya kuat.
"Jika kau ingin tahu isi hati ku yang sebenarnya? Di mana saat aku bilang selamat pada mu, tadi. Rasanya aku ingin mati saat itu juga."
Deg...! Jennie kembali menitikkan air matanya, ia menunduk.
"Hehehe...." Andi terkekeh, perlahan ia hapus air mata Jennie. "jangan memikirkan hal itu, aku sudah lebih baik. Karena melihat mu di sini. Bolehkah aku ucapkan ini?" Tanya Andi lagi.
"Apa?" suara Jennie terdengar serak.
"Mendekat lah... Karena aku akan membisikan sesuatu." Titah Andi. Yang langsung di turuti Jennie, ia pun mendekatkan telinganya.
Andi tersenyum, sangat ingin ia mengecup pipi wanita itu. Namu ia langsung menyadari, jika hal itu tidak pantas untuk di lakukan. Andi mulai berbisik.
"Aku masih mencintaimu, bahkan akan terus ku bawa hati ini, hingga aku mati. Berharap? Andai saja benar ada kehidupan selanjutnya, dan aku bisa terlahir kembali sebagai pria baik-baik dan kau berjodoh dengan ku."
Jennie mematung, ia mengangkat tubuhnya pelan. Di tatapnya pria itu yang tengah tersenyum lemah di hadapannya.
"Jangan benci aku di kehidupan selanjutnya ya. Kau benar-benar harus bersama ku." Andi terkekeh lagi, namun seketika beralih pandang setelah melihat bayangan seorang pria di dekat pintu. "Owh teruntuk laki-laki di depan pintu... Apa kau mengizinkan ku, meminjam istri mu?"
cetus Andi yang langsung membuat Jennie membulatkan bola matanya, ia menoleh ke belakang.
Dan pria di balik pintu itu menghela nafas, lalu melangkah masuk.
"Hahaha..." Andi terkekeh. "Aku hanya minta di temani jalan-jalan ke taman saja."
"Di luar langit sudah gelap. Hawanya juga sedikit dingin." jawab Excel, yang merasa tidak yakin untuk menurutinya. Terlebih kondisinya saat ini, dia nampak tidak baik-baik saja.
"Tidak masalah... Tolong izinkan saja. Aku hanya ingin mengobrol dengannya."
"Tidak bisakah kau mengobrol di sini saja? Jika tidak ingin aku mendengarnya, maka aku akan keluar."
"Tidak... Aku yang mau berbicara di luar. Aku ingin menghirup udara malam. Izinkan aku ke taman rumah sakit ini."
"Tapi?"
"Mas...." Jennie menggenggam tangan Excel. Membuat pria itu menoleh, tanpa Jennie berbicara ia sudah paham maksudnya.
"Baiklah, tidak lama... Karena kau perlu istirahat."
Andi tersenyum tipis. "Terimakasih."
__ADS_1
"Iya, mari ku bantu." Excel berjalan menuju sudut ruangan guna meraih kursi roda di sana, lalu memapah tubuh jangkung yang nampak semakin kurus saja.
Setelah Andi duduk dengan sempurna di kursi rodanya, Excel membantu mendorong kursi roda tersebut hingga keluar.
Di salah satu kursi panjang, nampak ibu dari Andi beranjak.
"Kalian mau kemana?" Khawatir.
"Aku hanya ingin keluar," jawab Andi.
"Tapi Angin malam ini terasa lebih dingin. Tunggu sebentar." Sang ibu masuk ke dalam, hanya untuk mengambil sesuatu dan keluar dengan selimut di tangannya. "Pakai ini,"
"Bu, jangan membuat ku malu di hadapan mereka." Terkekeh.
"Tidak perlu memperdulikan itu. Cepatlah kembali, jangan lama-lama ya."
Andi mengangguk, dan ketika Excel hendak mendorongnya. Andi menahan pria itu, dan meminta Jennie saja.
"Jangan ada yang mengikuti ku dan Jennie. Bisa kan?"
"Kak Andi?" Excel merasa ragu.
"Apa kau khawatir istri mu akan ku goda?"
"Bukan seperti itu. Kondisi mu nampak tidak baik-baik saja."
"Aku baik-baik saja, aku kuat. Jennie, cepat dorong," titahnya dengan suara yang lemah.
Jennie menatap kearah Excel, pria itu tersenyum tipis sembari mengangguk sekali.
Excel pun sedikit menjauh, dengan Jennie yang langsung mendorong pelan kursi roda itu, menjauh dari ibunya Andi dan suaminya.
Sepanjang kursi roda itu berjalan, bibir Andi tersenyum tipis. Matanya sesekali terpejam, serta batuk yang tak kunjung berhenti.
Jennie menghentikan langkahnya, ia melihat kearah Andi. Saputangannya sudah penuh dengan bercak darah.
"Kita masuk saja ya." Menyarankan, karena perasaan khawatirnya.
"Tidak, sebentar lagi sampai. Ayo jalan lagi dan belok kiri."
"Tapi?"
__ADS_1
"Ayolah... Sebentar saja."
"Baiklah." Jennie kembali mendorong kursi itu menuruti kemauan Andi menuju tempat yang ia tunjuk tadi.