Ayah Untuk Putri Ku

Ayah Untuk Putri Ku
pertandingan catur bagian 2


__ADS_3

Excel masih fokus mencarinya, dan di raihlah kuda namun karena Excel tidak bisa bermain catur, ia hanya bisa maju dengan lurus.


Plaaaakkk, di tepis lah tangan Excel membuat bidak di tangannya terjatuh. "Hei! Mana ada kuda jalan lurus hah!!!"


"Tidak lurus ya? Apa mundur?"


"Bodohnya anak muda satu ini, kuda itu L jalannya, seperti ini." Meraih kuda itu dan berjalan. Namun pak Ridwan malah justru memakan bidaknya sendiri. "Astaga!" Pias.


Excel tersenyum lebar. "Wooaaaahhh, kuda ku makan! Kuda ku makan punya mu pak hahahahaha"


Plaaaakkk, "dasar bodoh! Itu tidak sah namanya."


Mengusap lengannya yang terasa panas akibat sabetan telapak tangan pak Ridwan. "Tapi intinya kuda ku makan pak, hahaha."


"Cih!! Keberuntungan mu itu." Pak Ridwan pun asal memajukan bidaknya sembari bersungut.


Dan Excel pun berhasil memakan bidak itu.


"Hei!!!" Terkejut.


"Apa pak?" Melempar bidak itu ke atas tak terlalu tinggi, lalu menangkapnya lagi. "Tiga kosong ya." Terkekeh.


"Cecunguk ini ya!" Ia kembali menjalankan bidaknya. Hingga separuh main, hampir seluruh bidak itu sudah berada di luar papannya.


"Mas, mau pulang sekarang?" Tanya Jennie keluar.


"Nanti!!!" Seru keduanya serempak. Jennie pun terkejut.


'lah, sejak kapan mereka jadi akrab begitu?'


"Jalan cepat, bocah tengik!!"


"Tunggu sebentar pak Tua, ini sedang berfikir tahu!"


Plaaakkk, "kurangajar sekali kau memanggilku, itu?"


"Memang bapak mau saya panggil apa? Ayah mertua? Baiklah dengan senang hati."


"Cecunguk ini ya!!"


"Sudah jalan saja pak, semakin seru ini, penantian siapa yang akan kalah setelah ini, saya atau bapak."


"Cih! Percaya diri sekali kau anak muda?"


"Jelas dong pak Tua." Terkekeh.


"Panggil pak tua lagi ku gilas kau dengan motor ku."


"Ahhh iya... Iya bapak mertua."


Jennie terkekeh, ia pun Menyentuh bagian dada sebelah kirinya. Lalu membulatkan kedua bola matanya. 'astaga, kenapa bisa aku?' batin Jennie ia pun menoleh ke Excel yang tengah tertawa lepas karena bisa memakan bidak milik ayah Jennie yang langsung saja mendapatkan pukulan di lengannya lagi, tentu saja dengan Excel yang bersungut-sungut akibat pukulan itu.


'dada ku berdebar.' Jennie pun melangkah masuk cepat.


Lalu memukul-mukul dadanya dengan kepalan tangannya itu.


"Aaaiihhh apa ini? Apa ini? Gila! Nggak! Nggak mungkin!!" Masih menepuk-nepuk dadanya yang terus saja berdebar.


"Bunda?" Panggil Nara. Jennie pun menoleh.


"Iya sayang?"


"Bunda di panggil nenek, suruh ke dapur katanya."


"Oh, iya sayang." Mengusap-usap kepala Nara, lalu masuk. Sementara gadis kecil itu kembali menuju ruang tengah menonton serial kartun kesukaannya.

__ADS_1


Di dapur ibunda Jennie sudah membuatkan camilan berupa gorengan pisang dan dua cangkir kopi.


"Ibu memanggil ku?" Tanya Jennie seraya masuk.


"Iya, bawa ini keluar, untuk ayah dan calon mu itu."


"A...apa? Siapa calon? Dia bukan calon ku Bu."


"Halah sudah bawa saja, dia tampan sekali, seperti ayah mu waktu muda dulu." Terkekeh.


"Ibu ini bicara apa sih," menerima nampan berisi sepiring gorengan pisang dan dua cangkir kopi. Lalu membawanya keluar.


"Haduh, senangnya. akhirnya Jennie membawa pria kemari juga, Nara sudah sangat ingin punya ayah." Terharu.


Sementara Jennie hanya geleng-geleng kepala karena masih mendengar apa yang di gumamkan ibunya di dapur.


Kini langkahnya sudah melewati ruang tamu menuju teras.


Sontak, di depan pintu Jennie terkejut saat melihat Excel tengah menghindari hantaman ayahnya, akibat berhasil mengalahkan pak Ridwan.


"Bocah tengik ini! Kau pasti pura-pura bodoh agar aku bisa bermain dengan santai kan?" Mengangkat papan caturnya tinggi-tinggi.


"A...apa maksudnya pak tua?"


"Panggil aku pak tua lagi? Benar-benar cari mati kau ya?"


"Ampun! Bu... Bukankah ini adalah sebuah kebetulan, atau mungkin bapak sendiri yang tidak bisa main." Menahan papan catur itu agar tidak mendarat di kepalanya.


"Kurangajar, bocah satu ini."


"Ayah, mas Excel sudah hentikan! Kalian ini ya." Jennie berseru. Pak Ridwan pun menurunkan papan caturnya, dan Excel kini bisa bernafas lega mengelus-elus dadanya.


'selamat aku.'


Jennie mendekat lalu meletakkan nampan itu di atas meja. Meletakkan kopi untuk ayahnya. Lalu pada Excel.


Jennie pun mengangkat piring berisi pisang goreng itu, dan meraih nampannya lalu meletakkan lagi piring itu di atas meja.


"Silahkan di nikmati dulu mas, tidak apa kan pulang saat langit petang?"


"Tidak masalah Jejen. Jangankan pulang petang, sampai larut bahkan menginap juga bersedia banget." Terkekeh.


"Gundul mu menginap!!! Kau ingin ku kubur hidup-hidup hah?" Seru pak Ridwan.


"Bapak tua ini, kan itu hanya perumpamaan. Kalau di izinkan." Ia melirik sementara pak Ridwan sudah menatapnya tajam. 'haduh tatapan menusukkannya benar-benar menakutkan.' batin Excel. Meraih gorengan pisang di piring.


"Aaaahhh, panas!" Mengibas-kibaskan tangannya.


"Cih! Dasar tangan celamitan, rasakan saja itu." Terkekeh puas. Jennie pun geleng-geleng kepala.


"Aku masuk dulu ya."


"Kenapa masuk Jen? Temani saja aku di sini. Kau tidak kasihan aku duduk sendirian di sini?"


"Hei...! Bocah tengik! Kau anggap aku apa? Jin botak hah!"


"Bapak sendiri loh yang bilang, walaupun kenyataannya begitu."


"Kurangajar!"


"Ayah sudah. Maaf mas, aku harus masuk dulu ya." Tersenyum lalu masuk kedalam.


Dan dari senyum manis Jennie itu Excel semakin tidak bisa menahan diri untuk segera mendapatkannya.


"Mata mu itu ya! Mau ku colok atau bagaimana?" Seru pak Ridwan, sembari menggigit pisang goreng di tangannya.

__ADS_1


"Aaaahhh bapak mertua ini benar-benar ya, apa sih rahasianya pak?" Tanya Excel menyomot satu pisang goreng itu, lalu menggigitnya. Kalian bisa bayangkan mulut saat mengunyah gorengan panas, nah seperti itu lah Excel saat mengunyah. Hehehe.


"Apa maksudmu?"


"Rahasia bisa punya anak perempuan secantik dia? Saya sampai tergila-gila karena itu."


"Cih! Apa lagi? Kau tak lihat aku tampan?" Memilin kumisnya.


"Dasar kumis lele." Gumamnya lirih sambil memalingkan wajah.


"Kau bilang apa tadi?"


"Bukan apa-apa pak." Menggigit lagi gorengan itu. Hening sejenak. "Sesuai janji ya pak, saya menang loh ini."


"Aaahhh, kau menyebalkan sekali sih. Memangnya apa alasan mu menyukai anak ku? Dia itu wanita yang sudah memiliki anak tapi tak bersuami."


'wah mulai serius nih.' Excel melahap gigitan terakhir, lalu meraih tissue dan mengusap tangannya yang berminyak. Setelah itu menyeruput kopi miliknya.


Takkk meletakkan cangkir itu kembali di atas piring kecilnya. "Saya tidak pernah melihat Jennie dari sisi masa lalunya. Dia gadis baik, penyayang pula. Dan yang paling membuat saya semakin menyukainya, sikap sabar dan keibuannya dia pak." Ucap Excel bernada tulus.


Dan tanpa sepengetahuan mereka berdua Jennie masih berdiri di balik jendela samping pintu utama. Ia tersenyum mendengar ucapan Excel.


"Pria seperti mu, saya hapal sekali, pasti berucap seperti ini agar aku menerima mu kan?" Tanya pak Ridwan.


"Pak, saya hanya berusaha mencintainya dengan tulus, dan akan menerima Nara juga. Saya suka dengan anak itu, walau jahilnya kadang bikin saya geregetan. Cuman saya senang jika dia bisa menerima saya sebagai ayah sambungnya."


Jennie berkaca-kaca saat mendengar itu, kepalanya tertunduk, tangannya terangkat Menyentuh bagian dadanya. "Mas Excel," gumamnya lirih.


"Dan mumpung sekarang ada bapak, saya ingin menyatakan perasaan saya yang sesungguhnya. Saya serius mencintai Jennie dan Nara. Jika di perbolehkan? Saya ingin mempersuntingnya."


Degg. Mata Jennie membulat, saat mendengar itu.


Pak Ridwan pun tak bisa berbicara apapun lagi, dia hanya diam saja lalu mengusap matanya. "Haaaahhh, bawang dari mana ini," gumamnya merasa terharu.


Ia pun beranjak. Dan berjalan masuk tanpa memberikan jawaban apapun. Excel sedikit lesu. 'ayah Jennie tak menerima ku ya?'


Pak Ridwan berjalan masuk, dan terkejut saat mendapati Jennie berdiri di sana, sama halnya dengan Jennie yang hendak masuk ke ruang tengah. Namun Pak Ridwan menahan dengan menyentuh bahu Jennie.


"Keluarlah, dan berikan jawaban mu. Ayah akan menerimanya." Hanya itu yang beliau katakan, lalu masuk kedalam.


'apa maksud ayah?' ia pun keluar dengan perlahan.


"Mas Excel," panggil Jennie, pria itu pun menoleh. "Maaf, aku mendengarkan pembicaraan mu dengan ayah."


Excel tersenyum tipis. Ia pun beranjak lalu melangkah mendekati Jennie, seraya meraih kedua tangan Jennie.


"Bagaimana? Aku sudah melamar mu di depan ayah mu langsung. Aku keren bukan?" Ucapnya berbangga diri.


Jennie terkekeh, dengan setitik air mata yang menetes di sudut matanya.


"Jadi bagaimana? Apa kau masih meragukan ketulusan ku?" Tanya Excel, mengusap air mata Jennie. Lalu memberikan kecupan di keningnya. "Aku tulus mencintai mu Jejen. Sungguh."


"Hiks." Sedikit terisak. "Tapi tetap saja aku merasa tidak pantas untuk mu mas."


"Jangan berkata seperti itu, kau wanita yang sangat terhormat di mata ku, sayang. Jadi terimalah aku ya, ku mohon." Excel mengecup tangan Jennie. Lalu mengangkat lagi kepalanya menatap Jennie.


Gadis itu tersenyum, lalu setelah nya mengangguk pelan.


Excel membeku. "I...itu? Apa itu artinya?"


"Iya mas Excel, aku menerima mu." Ucap Jennie. Excel pun menitikkan air matanya.


"Sungguh? Sungguh kau menerima ku Jennie?" Bersemangat.


"Iyya mas." Terkekeh, Excel pun meraih tubuh itu dan memeluknya.

__ADS_1


Bersamaan dengan itu, seorang pria di dalam mobil dari kejauhan mengamati mereka berdua.


Pria itu terbatuk-batuk, seraya menepuk-nepuk dadanya. Ia pun memutuskan untuk menyalakan lagi mesin mobilnya dan pergi dari tempat itu.


__ADS_2