
Hari itu, satu sekolah riuh dengan di keluarkan nya Jennie dari sekolah. Dan bahkan Andi pun di kabarkan pindah sekolah. Itu berita yang Jennie dengar dari Tara yang datang berkunjung.
Matanya menatap iba pada sahabatnya itu. Sedikit tidak menyangka wanita secerdas Jennie, bahkan dengan kecerdasannya itu Jennie sering masuk peringkat paralel kelas. Bisa mengalami kecelakaan seperti ini.
"Jen, terakhir kali kau berangkat, kita ada pelajaran olahraga, 'kan? Lompat tinggi lagi. Apa kandungan mu tidak apa-apa?" tanya Tara.
Jennie menggeleng sembari tersenyum. "Kau tahu Tara? Kata orang, jika kita hamil di luar nikah. Bayi akan lebih kuat, mungkin dia ingin menunjukkan kesalahan ayah dan ibunya. Padahal aku sempat berfikir bayi ini bisa gugur. Namun ternyata memang hal itu benar. Mau sekuat apa kau melompat, ia tetap bertahan." jawab Jennie. Tara tahu, sudut mata Jennie mulai menganak.
"Jen, bagaimana dengan kak Andi?" tanya Tara.
"Bagaimana apa?"
"Dia mau bertanggungjawab, 'kan?" tanya Tara.
Jennie menghela nafas. "Kau sudah memutuskan untuk tidak meminta pertanggungjawabannya."
"Kenapa?"
"Dia tidak pantas menjadi ayah darinya." Jennie mengusap perutnya. Sesaat ia merasakan sebuah denyutan di dalam perutnya itu. Jennie terkekeh. "Kau setuju sepertinya nak." tuturnya.
Tara mengamati, Jennie sudah terlihat lebih dewasa dari sebelumnya. Bahkan sosok keibuannya mulai nampak. Sesaat pandangannya teralihkan dengan buku matematika yang ada di atas meja teras.
"Jennie, ini?" Tara meraihnya.
"Ahhh, aku masih suka belajar. Kau tahu aku suka pelajaran matematika, 'kan? Walaupun aku sudah tidak sekolah, tapi aku tetap memakai jam sekolah ku untuk belajar di rumah. Dan ini?" Jennie memutar rekaman kegaduhan kelas.
"Sebelum keluar, aku sempat merekam momen-momen terakhir di sekolah. Demi bisa merasakan suasana kelas yang riuh. Aku sengaja memutar ini setiap kali aku belajar."
Tara menitikkan air mata. "Aku benci sekali pria itu." Runtuknya.
"Tara, sudah biarkan saja. Aku tidak apa-apa kok."
"Kau tahu? Semalam aku ke salah satu toserba. Dan mendapati pria itu dengan wanita lain, bahkan ia masih mengenakan seragam sekolahnya." tutur Tara.
"Biarkan saja dia berbuat sepuasnya. Aku sudah melupakannya kok. Lagi pula, aku merasa beruntung tidak di nikahinya. Karena jika itu sampai terjadi. Aku tidak akan mungkin sanggup hidup bersamanya. Terlebih, Kak Andi itu kasar Tara."
"Kasar? Benarkah?" tanya Tara tidak percaya. "Kau pernah diapakan Jennie?"
Jennie terkekeh. "Sudah lah, aku tidak mau membahas lagi. Biar menjadi buku masa lalu yang akan ku tutup rapat dan ku kubur sedalam mungkin."
Tara menghela nafas. Lalu menoleh kebelakang. "Ayah mu bagaimana?" Bisiknya.
__ADS_1
"Sudah hampir satu bulan ini ayah tak menegur ku. Aku tahu beliau sangat kecewa pada ku."
"Lalu ibu mu?"
"Ibu masih bersikap biasa, namun diam-diam beliau juga menangis saat tengah melakukan ibadah solatnya." gumam Jennie.
Tara mengusap bahu Jennie. "Yang sabar Jennie, kau pasti akan mampu menjalani ini semua. Aku tahu kau wanita baik, kau pasti akan mendapatkan pasangan terbaik juga."
Jennie tersenyum. "Apa aku masih bisa berharap mendapatkan pasangan ya?" tanya Jennie.
"Pasti lah Jennie. Percayalah, akan ada ayah baik hati yang akan menerima anak mu." tutur Tara memberi semangat.
"Kak Alvian." Gumamnya sangat lirih sembari tersenyum.
"Eh... Siapa?"
Jennie menoleh. "Bukan siapa-siapa kok." jawab Jennie sembari tersenyum.
Mereka mengobrol sepanjang siang itu hingga sore menjelang, Tara pun berpamitan pulang.
Saat itu Jennie pun hendak masuk, ia berpapasan dengan ayahnya yang saat itu juga membuat Jennie menunduk. Dan melanjutkan langkah kakinya. Sedangkan sang ayah mengamati putrinya itu lalu mengusap matanya yang basah dan kembali melangkahkan kakinya keluar rumah.
***
Pagi itu ada seorang pedagang sayur langganan ibu Sukma yang biasa mangkal di depan rumahnya.
Pedagang itu berseru memanggil ibu Sukma. Jennie pun beranjak dari kursi belajarnya.
"Haduh, ternyata hamil benar-benar melelahkan. Tubuh ku serasa berat saat ini." Jennie meraih sweater dan mengenakannya. Berjalan keluar kamarnya.
Ibu Jennie tadi berpesan kalau beliau ada urusan di bank dan jika ada pedagang sayur ia meminta Jennie untuk mengambil pesanan ibunya itu.
Sembari memegangi perutnya Jennie keluar. Baru saja satu langkah ia sudah berhenti. Gerobak sayur itu sudah penuh sesak dengan para ibu-ibu yang hendak berbelanja.
'Bagaimana ini? Banyak orang.' batin Jennie. 'Ahhh tidak apa. Mau bagaimana lagi, memang aku hamil kok. Aku harus memberanikan diri, tidak mungkin kan aku bersembunyi terus?' Jennie menghela nafas ia memberanikan diri melangkahkan kaki untuk keluar dari sana menghampiri gerobak sayur yang tengah mangkal itu.
"Permisi." ucap Jennie ramah. Seperti dugaannya semua mata para ibu rumah yang berbaur dengan Asisten rumah tangga turut mengamati perut yang membesar itu.
"Ya Allah Jennie, kamu benar-benar hamil ya?" tanya ibu A.
Jennie tersenyum. "Iya." jawabnya. Ia pun beralih pandang pada sang pedagang sayur.
__ADS_1
"Pesanan ibu saya pak." tuturnya.
"Oh iya neng." Pedagang itu. Mengambil bungkusan berisi hati ayam, sayur bayam dan tempe, juga beberapa bumbu lainnya. Lalu memasukkannya kedalam kantong keresek besar.
Di sela-sela itu, kuping Jennie mulai merasa tidak nyaman dengan suara bisik-bisik dari para wanita yang ada di sana, belum lagi dengan pandangan mereka.
"Ini neng," tutur pedagang tersebut sembari menyerahkan kantong belanjaan Jennie.
"Terimakasih pak." jawabnya sembari menyerahkan uang pada pedagang tersebut. Jennie pun berpamitan dengan para ibu-ibu yang ada di sana setelah menerima kembalian tersebut.
Tak lama seorang pria mengenakan seragam SMA datang.
"Permisi bu." Sapa anak laki-laki tersebut ramah.
"Jennie—" Panggilnya saat melihat Jennie hendak masuk.
"Kak Alvian?" Sangat tidak percaya. Bagaimana bisa ia tahu rumah Jennie?
"Jadi itu ya, pacarnya?? Kok masih bisa sekolah sih?" Salah satu dari ibu-ibu itu berbisik, namun masih bisa di dengar Alvian. Dan tanpa memperdulikan bisikan tersebut Alvian melangkah masuk kedalam pagar rumah Jennie yang hanya sebatas dada manusia. Tidak terlalu tinggi.
"Emm kak Alvian kok bisa tahu rumah Jennie?"
"Tanya-tanya." jawabnya sembari tersenyum. "Boleh kan?"
Jennie termenung lalu membalas senyum Alvian. "Boleh kok. Silahkan masuk." ajak Jennie.
Mereka pun duduk bersebelahan berbatas meja kecil yang terdapat di tengah-tengah mereka. Di sebuah teras rumah Jennie.
"Rumah mu asri ya, adem juga. Mungkin karena tanaman-tanaman ini." tutur Alvian. Jennie tersenyum.
"Ibu dan ayah suka tanaman hias. Maka dari itu banyak tanaman di sini." jawab Jennie.
"Begitu ya."
"Iya."
Hening sejenak. "Emmm kak Alvian mau minum apa?" tanya Jennie.
"Tidak usah repot-repot Jen, aku ada air mineral kok, lagi pula aku hanya sebentar. Hanya ingin tahu kondisi mu." tutur Alvian.
"Aku baik-baik saja kok kak." jawab Jennie.
__ADS_1
"Syukurlah kalau begitu. Aku sempat khawatir." jawabnya.
Tatapan Alvian terlihat lain bagi Jennie, namun juga Jennie tidak bisa semudah itu menafsirkan semuanya. Ia tidak ingin mudah bawa perasaan yang hanya akan membuat hatinya kembali sesak.