
Di sisi lain, Excel melepaskan pelukannya. Ia pun mengusap pipi Jennie, rona bahagia terpancar di wajahnya.
Akhirnya setelah sekian lamanya, Jennie kini sudah menerimanya. Hingga senyum itu terus tersungging di bibirnya.
"Berarti kita pacaran dong?" Ucapnya asal, Jennie pun terkekeh.
"Apa sih mas, seperti anak muda saja." Hendak masuk ke dalam namun di tahan oleh Excel.
"Jangan dulu masuk, aku itu masih betah melihat wajah mu."
"jangan melihat ku seperti itu." Terkekeh, seraya mendorong wajah itu agar menoleh ke samping saja.
Excel pun tergelak. Ia hendak mendekati wajah Jennie, entahlah keberanian dari mana dia berniat mencium Jennie di depan rumah calon bapak mertuanya.
Tinggal beberapa senti lagi bibir mereka menyatu, namun sepertinya urung akibat teriakan Nara.
"Bundaaaβ" Jennie pun mendorong tubuh Excel sekencang mungkin, hingga Excel hampir terjengkang ke belakang.
"Iya sayang?" Merasa salah tingkah. Sementara Excel mengelus dada.
"Ayo pulang, Nara mengantuk." Gadis kecil itu sudah mengusap-usap matanya.
"Ya Ampun kasihan. Yuk kita pamit dulu sama kakek dan nenek." Ucap Jennie sembari menggendong tubuh Nara, ia pun menoleh ke arah Excel. "Sebentar ya mas."
"Iya." Jawabnya, 'aaahhh, sesaat aku lupa jika masih di area yang tak aman, saking hanyutnya.' batin Excel. Ia pun kembali merona rasanya masih tidak percaya jika Jennie sudah menerimanya.
Hingga kedua orang tua Jennie keluar setelah Excel menunggu sedikit lama.
Ia pun berpamitan pada ibu dan ayah Jennie, saat menjabat tangan ayah Jennie, pak Ridwan mulai berbicara.
"Kau harus bawa orang tua mu kemari, jika kau ingin menjalin hubungan dengan putri ku."
"Pasti pak. Saya akan datang, secepatnya." Ucap Excel. Ayah Jennie pun menepuk-nepuk pundak Excel keras.
"Ku tunggu ya, jika tak datang juga? Akan Ku tembak kau menggunakan senapan ku."
Gleeeekkk. "Hehehe iya pak."
Setelah berbincang singkat Jennie, Nara dan Excel pun pulang. Posisi Nara di bangku tengah karena gadis kecil itu sudah sangat mengantuk sekali, hingga ia pun tertidur di sana.
Perlahan mata Excel melirik ke arah Jennie, dan setelahnya tangan itu mulai bergerak mendekati tangan Jenni yang berada di pangkuannya.
__ADS_1
Meraihnya tangan itu hingga Jennie pun menoleh ke arah pria yang masih fokus menatap jalan.
'ya ampun, jantung ku berdebar sekali.' Jenni merasakan getaran hebat di hatinya, terlebih saat Excel mengangkatnya lalu membawanya mendekati bibir Excel, dan mengecup tangan itu.
Mata Jennie melebar, ia pun kembali tertunduk. Sembari tersenyum.
"Aku masih tidak percaya kau kekasih ku sekarang." Ucap Excel. Mengecup-kecup tangan itu sampai beberapa kali. Membuat Jennie semakin merasakan getaran tak biasa seraya terkekeh.
Excel terus saja menggenggam tangan itu sampai mobil yang di tunggangi mereka hendak memasuki gang rumah Jennie. Ia pun melepaskannya sejenak, seraya mengatur laju mobilnya.
Hingga deru terakhir sebelum mematikan mesin mobil itu mulai terdengar. Excel Keluar lebih dulu, lalu membuka pintu samping meraih tubuh Nara, sementara Jennie jalan di depan guna membukakan pin rumahnya.
Setelah merebahkan tubuh Nara di atas ranjang, Excel pun mendekati Jennie.
Tangannya mulai menyentuh sehelai rambut yang menjuntai keluar dari ikat rambut Jennie, lalu menyelipkannya di telinga.
Mata Excel masih saja terarah kepadanya.
"Aku mencintaimu Jen." Ucap Excel.
Ada sedikit kekhawatiran di benak Jennie, Excel akan berbuat yang tidak-tidak. Ia pun memalingkan wajahnya saat Excel hendak mengecup bibirnya.
"Sudah malam mas, sebaiknya kau pulang."
"Terimakasih sudah menerima ku, Jangan berubah pikiran ya. Karena aku akan segera membawa ibu ku ke rumah mu." Ucapnya lembut. Lalu menurunkan kecupan itu di bibir Jennie. Karena gadis itu melamun.
Jennie pun tersadar, saat bibir mereka sudah menyatu, terlebih gigitan kecil itu mulai terasa. Dan mata Jennie mulai terpejam, menikmatinya.
'entahlah mungkin aku sudah mampu mengeluarkan kak Andi dari hati ku. Sehingga aku bisa menerima mu mas.' batin Jennie, saat keduanya masih bermain dengan kecupan di bibirnya. Tangan Jennie mendorong pelan dada Excel.
"Sudah cukup, saatnya kau pulang mas."
"Berikan aku sekali lagi sayang." Hendak mendekat lagi namun Jennie menahannya.
"Aku tidak mau. Aku takut melakukan kesalahan yang sama." Gumamnya lirih sembari menunduk.
Excel mengerti maksudnya. "Maafkan aku ya, aku tak bermaksud merendahkan mu."
Jennie tersenyum.
"Iya mas, aku mengerti. Bersabarlah, jika sudah waktunya? Jangankan kecupan di sini." Jennie menyentuh bibir Excel, "tubuh ku pun jadi milik mu." Sambungnya.
__ADS_1
Excel tersenyum senang, ia pun memeluk tubuh Jennie dengan sangat erat. "Aku mencintaimu Jejen. Pokoknya, kau harus jadi istri ku. Harus!!"
Jennie Terkekeh, "iya mas, semoga saja kita jodoh."
Setelah cukup puas memeluk tubuh Jennie, Excel pun berpamitan pulang. Dengan di antar Jennie hingga ke depan rumah.
Lalu melambai setelahnya saat mobil itu sudah melaju pergi.
"Ckckck, emang selera pelakor ya? Sukanya yang bermobil. Cih!" Ucap seseorang, Jennie pun menoleh ke arah suara itu berasal.
"Mbak Sasmi?"
"Hei! Berapa pria bermobil yang kau pacari? Wah wah... Sepertinya yang biasa datang bukan dia."
"Maaf, apa maksudnya ya?"
"Pria kekar yang setiap malam datang kemari? Siapa lagi? Jangan-jangan kau buka jasa kamar remang-remang ya?"
Jennie geleng-geleng kepala. "Maaf mbak, saya rasa pembicaraan ini sudah tidak enak di dengar, saya permisi masuk."
"Hei Jennie!!! Malu dong sama anak!! Kerja yang bener, mentang-mentang kerja di hotel, tamu hotel di bawa pulang!" Seru Sasmi pada wanita yang sudah melangkah masuk ke dalam rumahnya.
braaaaakkk menutup pintunya dengan kasar, dan di balik pintu itu Jennie mengepalkan tangannya. Sudah sangat geram dia rasanya dengan mulut-mulut para tetangga yang selalu saja merendahkan dirinya.
"Dasar mulut sampah tak bermoral!!! Mereka hanya bisa menghujat tanpa mau mencari tahu kebenarannya." Jennie menitikkan air mata. Lalu menyentuh dadanya.
"Semoga mas Excel menepati janjinya. Untuk segera menikahi ku." Gumamnya.
Sudah cukup lelah Jennie mendapati julukan wanita murahan, dan fitnah yang bertebaran di mana-mana. Dan menikah adalah jalan terbaiknya untuk menjalani hidup baru yang lebih baik.
Bersambung...
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
hai assalamu'alaikum teman-teman.
maaf aku Hiatus lama sekali untuk novel ini, bukan apa-apa karena satu dan lain hal, sehingga membuat ku beralih fokus ke novel baru bertema, Presdir. jika berkenan mampir aja, judul (SUAMI KU TERNYATA SEORANG PRESDIR)
maaf bgt ya... sebenarnya novel itu mau ku tunda sejenak, tapi lupa ngeset tanggalnya akhirnya ke update. makannya novel ini jadi mangkrak, dan lagi novel ini tuh, data statistik rendah bgt Setiap harinya, responnya juga kurang baik akhir membuat buku drop malas nulis. aku tahu sih itu nggak bisa di terima sekali kalau di jadikan alasan ya.
cuman aku kaya ngerasa malas aja. maaf ya.
__ADS_1
dan untuk kedepannya, suka ngga suka. aku tetep up tapi seminggu sekali. yang penting aku tetap tamatin Novel ini. maaf ya sekali lagi atas ketidaknyamanannya. πππ
cukup sekian dari ku. πππ wasallamualaikum.