Ayah Untuk Putri Ku

Ayah Untuk Putri Ku
roti lapis


__ADS_3

Di Malam harinya.


Jennie tengah mencuci piring bekas makan malam mereka. Sedangkan Nara yang tengah duduk di kursi meja makan masih asik bermain dengan ponsel milik bundanya.


Setelah selesai Jennie pun membuatkan segelas susu hangat untuk Nara, dan kembali mendekati sang putri. Menarik kursi di sebelah Nara lalu duduk di sana.


"Sayang jauh sedikit nanti mata mu bisa sakit." Jennie sedikit menjauhkan ponselnya dari pandangan Nara. Anak itu pun hanya diam saja menuruti bundanya.


"Nara, di minum susunya nak." Titah sang bunda.


"Iya bunda." Nara pun meletakkan ponselnya lalu meraih gelas yang ada di hadapannya. Melihat itu Jennie pun tersenyum saat sang putri tengah menengguk susu hangat buatannya.


"Nara? Tadi Nara seharian ngapain saja?" tanya Jennie, tangannya membelai lembut rambut Nara.


"Bermain bola kasti bunda." jawab Nara. Susu di gelasnya sudah habis hampir separuhnya.


"Oh ya? Seru tidak?" tanya Jennie.


"Emmm." Jawab Nara mengangguk sembari tersenyum.


"Tapi, Nara harus janji ya, jika main Nara harus hati-hati, jangan lupa juga ijin sama nenek. dan jika ada orang asing yang mendekati Nara, jangan mudah ikut ya sayang." Jennie memperingatkan Nara.


Nara terdiam sejenak. Ia kembali teringat dengan pria gagah yang terlihat baik hati itu.


"Bunda, tadi Nara bertemu dengan orang asing."


"Benarkah?" Tanya Jennie.


"Iya bunda, om itu gagah sekali tapi sedikit seram, dia juga meminta berteman sama Nara. apa boleh Nara berteman dengan om gagah itu?" tanya Nara polos.


"Om gagah? Siapa dia nak? Apa bunda? Ataupun kakek mengenalinya?"


Nara menggeleng pelan. "Nara belum pernah melihat om itu sebelumnya bunda."


Jennie memeluk tubuh Nara karena sedikit merasa khawatir. "Sayang, sebaiknya? jika Nara tidak begitu kenal dengan orang itu, Nara harusnya menghindarinya ya. Untung Nara tidak di apa-apakan."


"Tapi bunda, om itu sepertinya baik." ucap Nara. Jennie pun melepaskan pelukannya.


"Pokonya bunda minta Nara untuk tidak sembarangan berbicara dengan orang yang baru Nara kenal ya. Janji?"


Nara tersenyum. "Iya bunda." jawabnya.


Jennie pun membalas senyumnya lalu mengecup kening Nara sebentar. "Sekarang habiskan susunya ya. sudah malam ini."


"Iya bunda." Nara menghabiskan susunya.


Setelah itu keduanya menuju kamar mandi untuk menggosok gigi bersama, cuci kaki, cuci muka, cuci tangan lalu bergegas menuju kamar mereka.


"Bunda, besok kalau bunda libur kita makan di restoran ayam goreng ya." Pinta Nara.


"Iya sayang, sekarang bobo ya." titah Jennie.


Nara pun mengangguk senang, matanya mulai terpejam di dalam pelukan sang bunda.

__ADS_1


"Om gagah? Siapa ya?" Jennie masih memikirkan hal itu.


"Aku harap, dia bukan kak Andi. Sepertinya tidak mungkin sih, pria itu kan sudah menolak kehadiran Nara." gumam Jennie yang lantas mengecup kening sang putri.


Rasa lelah yang teramat setelah seharian beraktivitas di hotel membuatnya tidak bisa menahan kantuk lebih lama lagi. Sehingga tanpa sadar matanya yang mulai sayu itu akhirnya mulai terpejam. Membawa Jennie pada alam mimpi yang indah.


Itu lah dia, yang lebih merasa alam di mimpinya itu jauh lebih memihak kepadanya dari pada kehidupan dia yang sesungguhnya.


***


Pagi itu Jennie baru saja tiba. Ia belum sempat sarapan tadi karena sedikit kesiangan. Ia pun hanya bisa menyiapkan sebuah roti lapis untuk di bawa Nara dan dirinya.


Merasa bersalah memang, jika Nara tidak di siapkan sarapan yang lebih berat sedikit.


Namun itu jauh lebih baik dari pada tak membawakannya apapun.


Di sebuah tangga darurat Jennie duduk di sana. Kotak bekalnya ia letakkan di atas pangkuannya. Masih ada waktu tiga puluh menit sebelum jam kerjanya, masih sempat lah untuk memakan sarapannya.


Jennie menggigit roti lapisnya, mengunyahnya lalu menelannya. "Kurang kenyang sebenarnya. Maklum perut orang Indonesia sudah pasti tidak akan kenyang jika belum mengkonsumsi nasi. Namun dari pada perut ku kosong?" gumam Jennie, setelahnya ia kembali menggigit rotinya.


Braaaaakkk. "Astaga!" Jennie terperanjat saat pintu di belakangnya terbuka.


"Tu.. Tuan?"


"Disini kau rupanya?" tanya Excel, ia berjalan menuruni lima buah anak tangga mendekati Jennie.


'pria ini mau apa lagi sih?' runtuk Jennie.


"Sedang apa kau?"


Mata Excel tertuju pada roti lapis di tangan Jennie. "Itu kau bawa dari rumah, atau beli?" tanya Excel.


"Saya bawa dari rumah Tuan,"


"Buatan mu sendiri?"


Jennie mengangguk.


Excel berkacak tangan. "Hei!! Coba ku lihat roti yang ada di tangan mu."


"Roti ini Tuan?"


"Iya, cepat angkat!"


Jennie mengangkat tangannya dan mendekatkan ke arah Excel dengan sopan. Excel pun mencondongkan tubuhnya mengigit tepat di bekas gigitan Jennie. Mata Jennie membulat.


"Kyaaaaa!" Jennie reflek berteriak membuat Excel terperanjat kaget.


"Hei!! Apa sih mengagetkan saja?"


"Tuan, Anda makan roti saya? Anu maksudnya, bekas saya?"


"Memang kenapa? Kau ini seenaknya membawa makanan dari luar, sudah pasti aku harus mencicipinya. Siapa yang tahu kalau roti ini beracun."

__ADS_1


'beracun? Sudah gila ya, mana mungkin aku meracuni roti yang akan ku makan sendiri?' batin Jennie yang hanya diam saja.


"Sini berikan roti itu pada ku. Akan ku sita roti ini."


"Ta...tapi Tuan, apa salah saya? Saya hanya sarapan Tuan. Kenapa makanan saya di sita?"


"Ckckck! Pakai bertanya. Salah mu fatal lah, siapa suruh membawa bekal dari rumah."


"Tuan, tapi setahu saya tidak ada larangan karyawan membawa bekal dari rumah."


"Hei...hei... Ingat aku ini siapa?"


"Putra dari ibu Miranda." jawab Jennie.


"Ibu Miranda itu siapa?"


"Bos sekaligus, Pemilik hotel ini."


"Dan sudah pasti aku ini adalah?"


"Bos di sini juga." jawab Jennie.


"Cakep! Jadi sini berikan bekal itu. Pokoknya ini saya sita." Excel merebutnya.


"Tapi Tuan, saya belum sarapan."


"Aku tidak peduli. Datang saja ke pantry minta makanan di sana. Salah sendiri kau membawa makanan dari luar." Excel pun melanjutkan langkahnya sembari membawa kotak bekal milik Jennie.


Jennie pun hanya bisa menghela nafas, baru dua gigitan ia memakannya namun sudah raib di sita bos gila yang baru saja melenggang pergi.


Dengan lesu ia pun berjalan menuju pantry setelah beberapa menit ia terdiam memegangi perutnya yang sedikit lapar.


Di sana seorang OB memberikan sebuah bungkusan pada Jennie. "Mbak Jennie, ada kurir yang mengantar makanan untuk Mbak Jennie."


Jennie merasa kebingungan sembari tangannya meraih makanan tersebut. "Dari siapa ini kak?" tanya Jennie.


"Entah lah, yang pasti katanya untuk Mbak Jennie. Ya sudah Mbak saya permisi dulu."


"Iya kak terimakasih." jawab Jennie masih dengan kebingungannya.


Jennie membuka bungkusan tersebut. Dan mendapati bento dari salah satu restoran Jepang.


"Ya Ampun. Siapa yang memberikan makanan ini?" gumam Jennie.


Perlahan ia menarik kursinya dan duduk di sana. Tangannya mulai berkutat pada bungkusan tersebut. Mengendusnya sejenak.


"Sepertinya enak." gumam Jennie, satu suapan nasi dengan chicken teriaki itu mulai masuk ke mulutnya.


Jennie tersenyum. "Enak sekali." Hingga tanpa sadar satu demi satu suapan. Terus saja masuk ke dalam mulutnya menikmati makanan yang entah datang dari mana.


Dan merasa bersyukur saja Jennie saat mendapati makan lezat setelah roti lapisnya di sita oleh sang Bos gila.


Di sisi lain, di sebuah ruang kendali CCTV Excel berdiri. Mengamati layar yang tengah menangkap ruang pantry tersebut sembari menikmati roti lapis yang ia sita tadi.

__ADS_1


"Roti ini sangat enak. Sayang jika hanya kau yang memakannya." Gumam Excel yang masih terus mengunyah sembari memandangi gadis dari layar LCD TV di hadapannya.


__ADS_2