Ayah Untuk Putri Ku

Ayah Untuk Putri Ku
kekecewaan seorang ayah


__ADS_3

Pagi berselang Jennie sudah siap dengan seragam sekolahnya. Duduk di meja makan dengan hidangan yang sudah ada di sana.


Ayah Jennie melirik kearah Jennie. Dengan tangan masih memegangi surat kabar Ia pun melipat nya.


"Kau mau kemana?" tanya pak Ridwan.


"Sekolah ayah."


"Kau masih mau sekolah? Apa kau tidak punya rasa malu?" Seru pak Ridwan. Jennie pun tertunduk.


"Tapi, Jennie hari ini ada ulangan matematika ayah."


"Ganti pakaian mu, kau tidak perlu sekolah lagi mulai hari ini."


Mata Jennie menganak. "Tolong ayah, hanya dua hari terakhir ini."


Pak Ridwan melempar surat yang baru datang pagi tadi ke arah Jennie. "Baca itu."


Jennie membukanya. Sebuah surat panggilan orang tua yang meminta orang tua Jennie untuk datang hari ini.


"Ini?"


"Sudah jelas kehamilan mu itu pasti sudah tercium Jennie!" Seru pak Ridwan. Bu Sukma pun mengusap bahu suaminya, memintanya untuk bisa menahan emosinya.


"Lalu Jennie harus apa ayah, Jennie masih ingin sekolah." gumamnya.


"Kalau masih mau sekolah? KENAPA HAMIL?!" bentak pak Ridwan.


"Ayah, tenangkan diri mu jangan emosi terus yah, kasihan Jennie." Tutur ibu Sukma dengan lembut.

__ADS_1


"Cih, muak sekali rasanya. Punya anak satu, tapi tidak bisa menjaga harga dirinya. Sudah gitu masih bilang ingin sekolah. PAKAI OTAK MU ITU!!" pak Ridwan menuding kening Jennie, beliau beranjak lalu berjalan cepat menuju kamarnya, masuk sembari membanting pintu.


Jennie terkesiap, masih dengan posisi menunduk ia kembali menangis. Bu Sukma pun memeluknya.


"Sabar sayang, ayah mu hanya masih merasa kesal. Jangan di ambil hati ya."


"Bu, Jennie sadar kok. Memang Jennie yang bersalah." Isaknya.


"Sssst, sudah makan dulu ya."


"Jennie tidak nafsu makan."


"Tapi kau harus makan demi anak yang ada di rahim mu. Nanti kita cek ke bidan ya." ajak ibunya. Jennie pun mengangguk.


Bibir ibunya yang masih bisa tersenyum namum menitikkan air mata itu yang membuat Jennie merasa semakin bersalah. Sudah pasti sangat besar kekecewaannya namun ia harus berusaha tersenyum demi membuat Jennie tidak semakin tertekan akibat kondisinya itu. Terlebih ayah Jennie yang seperti tengah mendiamkan dirinya.


Dan benar saja di dalam ruangan kesiswaan beliau berhadapan dengan guru yang menangani kasus siswa bermasalah, wali kelas Jennie, dan seorang guru BK (bimbingan konseling).


Pak Ridwan di hujani banyak pertanyaan dari guru tersebut tentang kondisi Jennie, terlebih seantero sekolah sudah menyebar tentang kabar kehamilan siswi tersebut.


Tidak ada bantahan dari Pak Ridwan. Beliau mengakui semua bahwasanya putrinya Jennie memang hamil di luar nikah.


"Maaf Pak, apa benar Jennie hamil dengan siswa dari sini juga?" tanya guru BK tersebut. "Dan jika benar mungkin kami bisa membantu memberi tuntutan padanya."


Pak Ridwan terdiam, ia tidak ingin mengakui jika Andi adalah ayah dari anak yang di kandung putrinya. Lagi pula jika ia menyebut nama Andi, apa masih bisa mereka membatunya untuk memberi tuntutan? Sedangkan penyumbang terbesar adalah orang tua dari Andi itu sendiri.


"Pak Ridwan?" panggil wali kelas Jennie.


"Tidak perlu bu, karena pria yang menghamili anak saya bukan pria dari sekolah ini." jawab Pak Ridwan.

__ADS_1


"Anda yakin pak?" tanyanya lagi.


"Iya." jawabnya.


"Kalau begitu. Saya mohon maaf sekali ya pak. Dengan berat hati harus memberi surat pengeluaran Jennie dari sekolah ini."


"Iya saya sangat mengerti Bu."


"Mohon kuatkan hati bapak ya. Dan berilah bimbingan untuk anak bapak lagi di rumah, saya turut prihatin pak."


"Terimakasih banyak. Dan saya mohon maaf, putri saya sudah mencoreng nama baik sekolah." ucap pak Ridwan, matanya sudah berkaca-kaca.


"mohon tambahkan hati bapak, ini semua musibah. Dan semoga Jennie bisa menjalani hari-harinya dengan baik setelah ini pak." ucap guru BK tersebut.


Pak Ridwan pun mengangguk. Setelah pihak sekolah mengembalikan berkas Jennie, dan pulang dengan hati yang sangat hancur.


Kekecewaan tiada tara yang ia rasakan benar-benar membuatnya merasa gagal sebagai ayah.


Dirinya adalah seorang aparat TNI, bertugas sebagai pelindung Negara, yang terkadang bertugas di perbatasan negara. Melindungi dari para penyusup yang masuk tanpa izin.


Pak Ridwan juga termaksud prajurit yang disegani, ia bahkan sering mendapatkan pujian dari panglimanya karena semua prestasi yang ia raih.


Namun sepertinya semua itu tidak berlaku pada keluarganya. Ia mungkin bisa melindungi Negara, namun keluarga kecilnya? Ia tidak bisa melindungi itu. Hingga putri satu-satunya harus melakukan perbuatan tercela, yang mengakibatkan kehamilan. Bahkan dengan seorang pria bejat yang tidak ingin bertanggung jawab.


Di rumah. Ayah Jennie menurunkan semua bingkai foto dirinya yang terpajang di dinding dengan seragam TNInya.


"Tidak ada yang perlu aku banggakan lagi. Karena aku adalah ayah yang gagal." Gumamnya sembari duduk di sofa nya dengan bingkai-bingkai itu berada di atas meja.


Lunglai pak Ridwan di sana mengamati bingkai-bingkai itu. Hingga setitik air matanya menetes degan tangannya memijat keningnya. Bahunya bergetar menangis sesenggukan. Kecewa yang teramat benar-benar tidak bisa di ungkapan dengan kata-kata. Terlebih-lebih perasaan dirinya akan kegagalan mendidik anak.

__ADS_1


__ADS_2