Ayah Untuk Putri Ku

Ayah Untuk Putri Ku
PR Nara.


__ADS_3

Satu es krim cone rasa strawberry di tangan Nara sudah habis termakan. Gadis kecil itu Pun beranjak dengan sedikit melompat. Karena bangku taman itu cukup tinggi.


"Bunda, Nara sudah selesai. Kita pulang yuk." Ajak Nara.


"Boleh, anak bunda ini pasti sudah lapar juga kan?" tanya Jennie. Nara mengangguk. Yang di balas dengan senyuman sang bunda.


Excel turut beranjak. "Jejen—" panggil Excel.


Jennie menoleh. 'kenapa dia suka sekali memanggil ku Jejen sih?'


"Iya Tuan?"


"Kau tahu tata Kramanya kan?"


"Tata Krama? Maksud Tuan?"


"Jika kau sedang bersama seseorang. Dan kau ingin pulang, seharusnya kau berpamitan,"


"maaf Tuan, emmm terimakasih sudah membelanjakan kami es krim ini. Saya permisi pulang dulu Tuan." ucap Jennie sopan, lalu melanjutkan langkahnya.


"Hei...!" Seru Excel. Jennie kembali menghentikan langkahnya.


"Apa lagi Tuan?"


"Kau ini benar-benar tidak sopan sekali ya?"


'lah... lah... Tidak sopan bagaimana aku kan sudah berpamitan.'


"Maaf Tuan, apakah masih ada yang harus saya lakukan lagi?"


"Ckckck selain pemalas kau ini tidak peka sekali ya Jejen."


"Tidak peka?"


Excel garuk-garuk kepala. "Apa kau tidak bisa apa? Berucap basa basi seperti ajak aku mampir ke rumah mu begitu?"


'lah, harus ya? saya menawarkan anda mampir? Bos gila ini benar-benar ya.'


"Tapi saya pikir anda tidak akan Sudi mampir ke kediaman saya."


"Siapa bilang? Kau kan belum menawarkan." Melipat kedua tangannya di depan dada.


'emang bisa nih orang ya.'


"Baiklah. Maaf Tuan saya harus pulang, apakah Tuan muda Excel Sudi berkunjung ke rumah sempit saya. Akan sangat bahagia hati saya jika tuan bersedia berkunjung."


'puas! Puas kan sekarang anda?' hanya bisa mengumpat dalam hati. Terlebih melihat senyum Excel tersungging.


"Okay, ini kau yang meminta ya. Jadi dengan sangat terpaksa saya akan menurutinya. Aku akan berkunjung." Tersenyum penuh kemenangan.


'Apa? Aku yang memintanya? Bilang terpaksa pula, dasar bos kurangajar!' masih berusaha tersenyum.


Karena mereka menggunakan kendaraan masing-masing.


Jennie pun melaju lebih dulu dengan mobil Excel yang mengikuti di belakang.


"Bunda, om jelek itu beneran ikut kita ya?" tanya Nara.


"Ya, begitu lah nak." jawab Jennie.

__ADS_1


"Kasian ya, om itu pasti mau minta makan juga. seperti kucing tetangga yang datang lalu minta makan setelah bertemu di jalan." jawabnya.


Jennie pun hanya terkekeh.


Kini mereka sudah sampai, mobil Excel sudah terparkir di tepi jalan gang yang lumayan lebar. Sedangkan Jennie tengah membuka kunci rumahnya.


Excel menyempatkan melihat-lihat halaman rumah Jennie. Sembari menggendong tangan di belakang.


'bunga nya indah-indah sekali. Luar biasa. wanita ini pandai berkebun juga ya.' batin Excel.


"Tuan silahkan masuk." ucap Jennie menawarkan.


"Hmmmm." jawabnya singkat lalu berjalan dan berdiri di depan pintu.


"Ini pintu masuk kurcaci ya, pendek sekali."


'Pintar Menghina ya orang ini, sepertinya bukan pintunya yang pendek tapi tinggi anda itu yang di luar batas wajar Tuan.' hanya bisa tersenyum, sembari mengamati pria itu masuk dan membidik setiap sudut ruangan.


'sederhana tapi tertata rapi. Wanita ini rajin juga dan pandai menata ruang, terlebih dengan hiasan-hiasan dinding itu.' mode arsiteknya mulai on, mengamati setiap sudut ruangan dan ornamennya.


"Silahkan duduk Tuan Excel."


"Terimakasih," Jawabnya sembari duduk.


'tau kata terimakasih rupanya.' masih berdiri sembari memperhatikan bos gondrong yang masih terlihat seperti orang bingung.


"Hei, kau ini ya? Kenapa malah diam saja. Kasih saya minum lah. Saya kan tamu."


Jennie tersenyum. "Maaf Tuan, saya sedikit melamun jadi lupa mau buatkan anda minum."


'sebenarnya saya sengaja biar anda cepat pulang Tuan.'


Jennie masih tersenyum dengan tangan kanan sedikit terkepal. 'pulang kek, pulang sana, saya sudah cukup depresi menghadapi kegilaan Anda di hotel tau.'


"Masih mau di situ?"


"Iya Tuan, saya buatkan minum dulu ya." Masuk ke dalam ruang tengah dan terus melaju sampai ke dapur.


"Haduuuuhhh repot ya jadi orang tampan." gumamnya. Menyandarkan kepala di sandaran sofa.


"Om jelek—" panggil Nara yang sudah mengganti pakaiannya.


"Ck, apa sih?"


"Om, Nara punya PR susah sekali. Om bisa bantu Nara tidak?"


"PR, om itu dulu pria tercerdas di sekolah, kau jangan meragukan ku ya sudah pasti om bisa."


"Tapi Nara tidak yakin om bisa membantu Nara. Soalnya ini PR bahasa luar."


"Bahasa apa? Inggris? Jepang? Korea? Om fasih bahasa-bahasa itu, mana biar om bantu."


"Ini tugas mengartikan Om. Nara yakin om tidak bisa sih. Soalnya ini tuh hurufnya beda."


"Hei bocah? Kau jangan meremehkan ku ya. Aku ini pandai semua bahasa dan huruf negara-negara itu. Mana sini ku lihat."


Nara pun duduk di sebelah pria gondrong itu. "Janji ya om harus bisa, jika om tidak bisa, berati om tidak secerdas bunda."


"Hahaha, kau lihat ya kehebatan ku dalam berbahasa asing."

__ADS_1


Nara pun membuka bukunya.



Doeeeeeeeng... 'mampus!' mata Excel membulat. Mode patung Pancoran tengah ia perankan. Sembari mengamati soal yang di tunjukkan Nara.


"Ba...bahasa apaan ini?"


"Bahasa Jawa Om."


"Ka...kau ada pelajaran seperti ini? Kau kan Sekolah di Jakarta bukan di Jawa."


"Di sekolah Nara ada studi bahasa Jawanya om." Jawabnya polos.


Excel melemas. "Baru tahu saya." gumamnya lirih.


"Bagaimana om, tadi om sendiri ya yang bilang kalau om itu hebat. Ini soal mudah loh."


'mudah kepala gundul pak ogah?' batin Excel pucat pasi.


Jennie keluar sembari membawa minuman dingin dan camilan.


"Silahkan Tuan." Menyuguhkannya di dekat Excel.


"Bunda, om Excel katanya hebat loh. Mau bantuin PR bahasa Jawanya Nara juga."


Excel melirik ke arah Jennie yang tengah memandang kagum padanya.


"Benarkah anda bisa Tuan?" tanya Jennie.


"Sebenarnya?"


"Wahhh Tuan, benar Anda bisa aksara Jawa? jika Anda bisa, berati anda luar biasa." puji Jennie.


'vangke. dia muji lagi, bisa mati gaya saya kalau tidak bisa mengerjakannya.' Excel garuk-garuk.


"Ba... bagaimana ya, ini sih pelajaran kecil sekali untuk saya." Sombong.


'mulut lucknut ini!' runtuk Excel dalam hati.


Jennie tersenyum penuh kekaguman. 'pucat sekali wajah Anda Tuan? saya tahu anda tidak bisa kan? Iya kan? Hehehe sekarang anda rasakan buah hasil kesombongan anda ini Tuan Excel yang hebat.' namun dalam hati Jennie tersenyum jahat penuh kemenangan.


"Ayo om kerjakan." titah Nara.


"Ini?" Menyipitkan matanya. Cukup lama dia membuka tutup halaman tersebut, Excel pun menutup bukunya. "Aku lapar. Apa kau ada makanan?" Mengalihkan.


Jennie mendengus kecewa. Terlebih saat Nara menghadap bundanya.


"Nara juga lapar bunda." Tutur Nara. Excel pun menyunggingkan senyumnya.


'bagus! kita makan saja jangan buat saya seperti orang bodoh di depan bunda mu yang cantik ini ya anak manis.'


"Nara beneran sudah lapar?" tanya Jennie.


"Iya bunda."


"Ya sudah, ayo kita makan."


'selamat juga akhirnya.' batin Excel merasa lega.

__ADS_1


mereka pun berjalan masuk. termasuk Excel yang tanpa disuruh itu. turut masuk kedalam ruangan tengah.


__ADS_2