Ayah Untuk Putri Ku

Ayah Untuk Putri Ku
stempel cinta dari Mamih.


__ADS_3

Di sisi lain, Excel yang sedang berada di ruangan meeting kini tengah menyandarkan tubuhnya di kursi, fokus menatap ke layar ponsel di tangan.


Ya... saat ini dia tengah menjalani meeting dengan beberapa pegawainya. sementara yang sedang presentasi adalah Manajernya. Dan dia sendiri masih menatap ponsel itu menunggu balasan.


Tiiiiing.... Excel membukanya cepat.


📲 (👍👍👍)


Excel menganga. 'Apa? Hanya itu yang dia kirim untuk membalas foto mahal ku?' batinnya yang mulai mengetik sesuatu.


(Hei, Jejen... Hanya itu yang kau balas?) Kirim. Menunggu lagi, ia sama sekali tak mendengarkan presentasi Manajernya itu. Dengan tatapan masih tertuju pada ponselnya, ia justru fokus pada dunianya sendiri.


'sudah di buka, tapi kok tidak di balas?' batin Excel, karena memang Jennie belum keluar dari aplikasi chat itu saat meletakkan ponselnya lagi.


"Ck...!" Gusar... Membuat beberapa orang yang berada di dekatnya menoleh sebentar, lalu melirik orang lain di sebelahnya.


"Jadi bagaimana menurut Tuan Excel... Apakah Tuan setuju, dengan ide ini demi meningkatkan profitabilitas hotel?" Tanya Adam setelah selesai presentasi.


Braaaaakkk...! Excel menggebrak meja tiba-tiba, sehingga sukses membuat mereka terkejut termasuk Adam, bahkan hingga mengelus dada.


"Aaarrggghhh, apa-apaan ini?!" Pria itu mengetik sesuatu lagi lalu mengirimkannya pada Jennie.


"Tuan...?" Adam memanggil dengan hati-hati.


"Apa?!" Hentaknya.


"Emmm... Anu, apa ada yang salah dari presentasi saya?"


"Ck...!" Excel masih belum fokus. Membuat Adam menggaruk atas alisnya pelan menggunakan jari telunjuk.


"Tuan... Maaf, apa anda tidak mendengarkan Presentasi saya?" Bisiknya, dengan tubuh sedikit membungkuk. "kita ini sedang rapat."


Deg... Excel baru sadar ia melirik ke depan, mengerjap seketika setelah mendapati tatapan semua pegawai yang tertuju kepadanya. Ia pun berdeham sembari menggaruk kepalanya.


'sial, aku lupa. Kalau aku sedang meeting.'


"Lanjutkan. Jadi, intinya bagaimana?"


Adam menghela nafas, ia memang harus ekstra sabar menghadapi bos satu ini. Adam kembali menerangkan ulang, sementara Excel manggut-manggut memberi saran sedikit, lalu melakukan voting persetujuan pada orang-orang yang berada di ruangan meeting itu. Setelah masalah terselesaikan meeting pun selesai.

__ADS_1


Excel menghela nafas, ia menyandarkan kepalanya menatap ke langit-langit.


"Tuan, apa ada masalah?" Adam duduk di kursi sebelah Excel.


"Tidak ada," jawab Excel lirih.


"Tuan, kemarin pihak WO sudah menghubungi saya. Persiapan pernikahan anda dengan Nona Jennie sudah selesai seluruhnya."


"Emmm..." gumamnya, menanggapi. Matanya terpejam saat ini.


'Tuan Excel, sepertinya tengah banyak pikiran. Sebaiknya, ku biarkan dia sendiri dulu saja.' batin Adam yang hendak beranjak.


"Dulu waktu kau hendak menikah, apakah kau merasa gugup?" ucap Excel tiba-tiba.


"Oh... Iya Tuan, dan saya rasa hampir semua calon pengantin akan merasakan hal yang sama."


Excel kembali terdiam, dengan bibir tersungging. Entah apa yang ada di pikirannya, yang pasti pria itu tidak lagi membuka suaranya. Ia kembali meraih ponsel di saku jas. Membaca sebuah pesan permintaan maaf Jennie, serta penjelasannya perihal pesan chat yang tak ia balas.


"Aku memang butuh dia yang lebih sabar menghadapi ku," bergumam sendiri, sembari mengetik sesuatu, lantas menempelkan ponsel itu di telinga.


"Hallo... Aku akan menghukum mu, cepat bersiap karena aku akan datang." PIK... Hanya itu yang di katakan Excel setelah selesai menghubungi Jennie, dan melenggang pergi begitu saja keluar dari ruangan di sana.


***


Hari kembali berganti...


Tiba di malam sebelum pernikahan, Jennie yang sedang duduk menyandar di ranjangnya dengan tangan mengusap lembut kening Nara. Ia menatap lurus kedepan melamun, karena saat ini jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.


Ya... Besok adalah hari pernikahan dia dengan Excel. Hari di mana dia akan melepaskan status lajangnya, dan merubah menjadi seorang istri.


Drrrrrrt.... Drrrrrrt... Ponselnya bergetar membuat Jennie terkesiap lalu menoleh kearah meja, dan meraih telfon tersebut kemudian.


Ia membuka pesan chat yang di kirim Excel, yang tak lain adalah foto dirinya yang sedang makan. Dengan menunjukan lauk makannya seraya melebarkan senyum. Jennie terkekeh, sungguh dia gemas dengan tingkah Excel sekarang. Baru saja ia hendak membalas, panggilan telepon darinya sudah masuk.


Ia pun menghela nafas dan menerimanya.


"Ha... Halo?"


"Kenapa kau hanya membaca pesan ku?" tanya Excel

__ADS_1


"Baru saja aku hendak membalas. Kau tampan," puji Jennie yang membuat Excel tersenyum dari sebrang.


"Benarkah?" tanya Excel


"Iya mas, aku sedang memandangi foto mu, membuat ku semakin berdebar. Itu yang membuat perhatian ku teralihkan sehingga aku lupa hendak membalasnya saking mengagumi mu," Jawab Jennie hingga membuat Excel berbunga-bunga dan tidak bisa menahan waktu menunggu esok hari. Padahal itu cara Jennie agar pria itu tidak banyak bertanya lagi.


"Malam ini aku pasti akan kesulitan tidur sayang," ucap Excel.


"Aku juga mas," jawab Jennie kemudian. Hingga membuat keduanya terdiam dalam perasaan yang campur aduk.


"Kau besok akan menjadi istri ku, aku benar-benar tidak percaya itu," tutur Excel membuat Jennie tersenyum.


"Maaf ya mas mungkin aku bukan wanita sempurna, tapi aku akan berusaha mengabdi untuk mu."


"Siapa bilang kau tak sempurna, kau itu sangat sempurna untukku," balas Excel membuat Jennie tersipu "haaaahhh aku ingin cepat-cepat bertemu pagi dan segera bersanding dengan mu di kursi pelaminan," ujar Excel.


Mereka mengobrol lama sampai-sampai tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul satu dini hari.


"Tidurlah sayang, ini sudah menjelang pagi besok aku akan memelukmu sepuas hati ku," titahnya ketika menyadari waktu tidur sudah lewat.


"Iya mas, selamat malam ya," jawab Jennie yang lantas mematikan panggilan telfonnya lalu berusaha merebahkan tubuhnya dan memejamkan matanya, mereka berdua benar-benar tidak bisa tidur karena terlalu memikirkan hari bahagia besok.


–––


Esok harinya, dering alarm jamnya sudah berbunyi, sedangkan Excel masih pada posisi nyamannya yang menungging memeluk guling itu, ibunda Excel terkejut ketika membuka pintu kamar anaknya.


"Astaga mahluk ini," seru Bu Miranda sembari berkacak tangan, ia pun mendekati tubuh putranya itu dan menoel punggungnya.


"Excel bangun... Hey... Bangun, Excel!" Serunya, tubuh Excel mulai menggeliat, ia pun meraih tangan ibunya itu, menarik sedikit lantas memeluknya.


"Apa sih sayang? Kau jangan berkoar seperti mamih ku ya?? Nanti kau cepat tua, Lebih baik tidur lagi saja dan lakukan lagi, ayo Aku mau lagi... Aku mau lagi," gumamnya dengan suara serak dan mata yang masih terpejam itu. Ia bahkan mencium tangan ibunya, membuat ibunda Excel mendelik lalu menarik tangannya cepat merasa geli.


"Anak gila ini? Benar-benar ya kau lihat saja nanti," Bu Miranda melepaskan salah satu sandal yang ia kenakan, mengambil ancang-ancang seraya berhitung dari satu sampai tiga.


Plaaaaaakkkkkkk.....!!!!


"Aaaarrrrrhhhhhhhhhhhhhh....." Teriakan Excel seketika, memenuhi kamarnya yang berantakan itu. Dan begitulah drama pagi hari yang menyebabkan Excel mendapati stempel cinta dari Mamihnya itu di pipi.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2