
Mobil Andi terus melaju ke arah menuju lajur puncak.
Entah mau kemana ia pagi itu, yang pasti melarikan diri dari tempat persembunyiannya karena sudah tercium oleh orang suruhan ayahnya.
Pak Iskandar lutfi yang kini memiliki bisnis batu bara di pulau Kalimantan.
Beliau memang pernah tersandung kasus mega korupsi, namun statusnya yang sebagai saksi itu tidak berubah sehingga membuatnya tetap bisa bebas dari jeratan KPK.
Semenjak hari dimana Andi lulus, ia memilih untuk kabur dari rumahnya. Akibat tidak tahan dengan kekangan sang ayah.
Andi hidup menggelandang di jalanan. Berkelahi dengan anak jalanan, hingga menjadi seorang pengedar barang haram.
Kemampuan berkelahi Andi memang tidak bisa di ragukan lagi. Ia bahkan bisa dengan cepat menguasai kota dan menjadi pria yang cukup disegani di sana.
Mobil Andi berhenti di sebuah tebing perbukitan. Ia pun keluar lalu duduk di atas kap mobilnya.
Menatap lurus ke ujung tebing tersebut.
Andi sering datang ketempat itu. Lokasi yang sangat sepi, banyak suara jangkrik dan serangga yang entah apa. Tanaman ilalang pun tumbuh di sekitarnya.
Angin yang menerpa juga seolah menjadi teman asik setiap kali ia merasa jengah akan hidupnya.
Andi memainkan koreknya melamun.
Ia mengingat dua orang ibu dan anak yang ia amati tadi.
Hingga sampai pula ingatannya pada gadis yang tengah tersenyum manis padanya dulu, mengenakan baju putih Abu-Abu.
(Flashback in on)
Andi merebahkan kepalanya di pangkuan Jennie di bawah pohon rindang.
Gadis itu menutup luka di pelipisnya menggunakan plester.
"Sudah ku tutup luka mu. Jangan berkelahi lagi ya?" Ucap Jennie sembari tersenyum. Andi beranjak.
Ia meraih dagu Jennie dan mengecup bagian bibirnya. Jennie sedikit terkejut ia mendorong dada Andi, guna melepaskan diri dari ciumannya.
"Kak Andi mencium ku?" tanya Jennie sedikit ketakutan. Karena kala itu adalah hari pertama dirinya mendapatkan kecupan di bibir.
Andi terkekeh. "Itu tanda cinta sayang. Aku hanya mencium satu gadis yaitu kau, semua karena aku mencintaimu." Andi kembali mengecup bagian bibir Jennie, terlihat sedikit menghindar Jennie, namun tangan Andi menahannya dan terus melancarkan aksinya.
(Flasbak off)
Andi meremas kepalanya. "Kenapa aku merusaknya dulu?" Ia membodohi dirinya sendiri.
Ia menghela nafasnya. "Bohong jika hanya Jennie yang pernah ku cumbu, aku memang bejat memainkan setiap wanita, aku bahkan tidur tidak dengan satu wanita saja. tapi walaupun begitu semua wanita itu sama sekali tidak membuat ku merasakan kenyamanan seperti saat aku melakukannya bersama Jennie." Andi tertunduk.
"benar, aku telah merusaknya, bahkan membuangnya, dia dan putri ku." Andi mulai serak.
__ADS_1
"aku tidak menyangka aku akan benar-benar merindukan anak yang pernah ku tolak kehadirannya." Andi menutup mulutnya dengan satu tangan yang bertopang pada satu lututnya.
"Apa yang ku lakukan? Aku telah jahat pada mereka. Jennie tak seharusnya mendapatkan perlakuan itu dari ku." Andi merebahkan tubuhnya di atas kap mobil tersebut.
Tangannya terlipat di depan dada. Pandangannya tertuju ke arah langit "Tidak akan berani aku mendekati mu lagi. Karena kau? Pasti sudah sangat membenci ku." gumam Andi.
Kembali ingatan pada masa lalu.
Di mana Jennie menelponnya dulu.
(Flashback is on)
Ia baru saja mendapatkan hantaman dari sang ayah. Dengan wajah memarnya.
Andi mengemasi pakaiannya tepat di hari kelulusannya, ia sudah tidak tahan dengan kerasnya sang ayah yang berambisi menginginkan Andi menjadi pria yang hebat.
Namun memang Andi bukan anak yang cerdas dalam hal pelajaran sering kali ia mendapatkan nilai rendah. Itu juga yang membuatnya menjadi samsak ayahnya jika tengah melampiaskan emosinya.
Drrrrt drrrrrt drrrrrt ponsel Andi bergetar. Ia melihat nama Jennie di sana, pandangannya tertuju pada ponsel tersebut.
Dan memutuskan untuk tidak menerima panggilannya.
Hanya satu kali Jennie menghubunginya, Andi pun menelfon Jennie dengan nomor lain.
"Hallo?" Terdengar suara Jennie dari sebrang, Andi tersenyum.
Ia terus mendengarkan suara yang ia rindukan, namun tidak berani mengeluarkan suaranya.
"Jika Anda hanya diam saja di sana? maka aku akan mematikan panggilan telfon ini."
Andi masih terdiam, hingga panggilan telfon itu terputus.
Dia menurunkan ponselnya perlahan, lalu mengetik sesuatu.
Harapan agar Jennie bisa hidup bahagia setelahnya. Sedikit ragu saat Andi hendak menekan tombol send dan akhirnya ia kirim pesan tersebut. Lalu mematikan ponselnya.
Mencabut kedua kartu tersebut dan membuangnya ke tong sampah.
Ia memasukan kembali ponselnya kedalam tas ransel miliknya. Lalu menggendongnya.
Secara diam-diam Andi pergi dari rumah itu hanya membawa uang saku senilai seratus ribu rupiah.
Luntang-lantung entah kemana ia akan pergi. Hingga akhirnya memutuskan untuk ke kafe tempat tongkrongannya, bertemu dengan beberapa teman-temannya.
Niat hati ingin meminta bantuan menginap untuk beberapa hari.
Namun sebagian besar dari mereka menolak, dengan berbagai macam alasan.
Andi menghela nafas, ia sedang tidak ingin mengancam atau apapun. Tenaganya sudah habis terkuras setelah tadi berusaha melawan ayahnya. Walau tetap saja ia masih kalah.
__ADS_1
Kala dirinya tengah merasakan hatinya mulai tenang. Jennie malah justru datang dan mengabarkan tentang dirinya yang baru saja melahirkan.
Ada perasaan senang karena dia bisa melahirkan dengan selamat.
Namun sikap pengecutnya masih ada. Dia tetap tidak ingin Jennie mendekatinya hingga dengan kasar Andi mengusirnya. Bahkan kembali menghinanya.
Saat itu Andi terus mengamati Jennie yang tengah mengusap air matanya lalu pergi.
"Maafkan aku Jennie. Masa depan ku masih panjang, aku tidak ingin Terbebani oleh istri dan anak." gumamnya kala itu.
Beberapa hari berselang. Andi hanya tidur di sembarang tempat.
Itu saja ia harus berkelahi lebih dulu dengan para preman yang menguasai daerah tersebut. demi bisa tidur dengan nyaman.
Hingga akhirnya ia benar-benar kehabisan uang.
Langkah lesunya terhenti di depan sebuah resto siap saji. Ia berdiri di sana mengamati pengunjung resto yang tengah melahap makanan mereka.
Kruuuuuuukkk Andi menyentuh perutnya. "Aku lapar." Gumamnya.
Di sana dua orang pria keluar dari resto tersebut.
"Alvian?" Gumamnya, ia pun memutuskan untuk bersembunyi. Menghindari Alvian yang tengah berdebat kecil dengan salah satu temannya.
"Ingat punya mu dua ya, aku yang empat."
"Hei Excel! Rakus sekali kau ini? Mamih mu memberikan uang juga karena aku kan?"
"Cih, tapi aku yang mengusulkannya. Soalnya jika tidak dengan mu, wanita pelit itu tidak akan memberikan uang pada ku."
"Makannya bagi adil, kau itu seharusnya sadar, jika kau adalah anak yang tidak di anggap. Aku justru yang pantas jadi anaknya." Alvian terkekeh.
"Brengsek bedebah ini." Excel bersungut-sungut.
"Hahaha hanya bercanda. Ayo kita pulang, dan makan ini sembari main PlayStation di rumah mu."
"Kenapa harus di rumah ku sih? Gemar sekali memanfaatkan ku?"
"Hahaha. Kau tahu? Aku punya sahabat kaya untuk apa jika tidak di manfaatkan?"
"Cih!! Dasar sahabat laknat."
"Haha sudah... Sudah muka mu yang buluk itu semakin jelek Excel."
"Siapa yang buluk hah!!" Pekik Excel. Alvian pun hanya geleng-geleng kepala lalu merangkulnya untuk kembali jalan walau terus di tepis oleh Excel. Mereka pun berjalan bersama.
Andi pun keluar dari tempat persembunyiannya.
"Setidaknya dia punya teman yang baik, sedangkan aku? Haaaah." Andi menghela nafas.
__ADS_1
Karena tidak ada satupun dari teman-temannya yang bisa di mintai tolong.
Ia pun memutuskan untuk pergi dari tempat itu.