
Setelah beberapa detik, Excel melepaskannya pelan. Lalu menyentuh pipi Jennie. Dengan tatapan lembut, penuh haru yang merambati relung hatinya.
"Jadi kau tidak terpaksa memilih ku?"
"Kau masih tanya itu?"
"Hahaha... Aku percaya sayang. Tapi aku harus mendengar lagi. Ayo katakan yang tadi."
"Yang mana?"
"Yang kau bilang mencintai ku."
"Hei... Sudah cukup jelas loh tadi."
"Lagi... Lagi, aku mau dengar." Excel mendekatkan telinganya. Membuat Jennie langsung mendorong tubuh itu. sementara Excel kembali tertawa lalu memeluk tubuh Jennie. "Aku mencintaimu... Segeralah kita mengucap sumpah pernikahan. Agar kau benar-benar menjadi milik ku."
Jennie tersenyum, membalas pelukan pria yang tengah mengecup kepalanya lembut.
***
Esok harinya...
Andi menatap nanar ke arah kaca jendela. Karena ruangan itu berada di lantai lima, ia masih bisa melihat jelas beberapa orang yang berlalu lalang di bawah.
Ada beberapa yang menjadi pusat perhatiannya. Yaitu sepasang suami istri yang berjalan bersama anak perempuan mereka.
Sepertinya anak itu sedang menangis, karena sang ayah kini mencoba merubah posisinya. Ia berjongkok di hadapan gadis kecil yang masih nampak jengkel. Lalu menepuk-nepuk pundaknya, meminta sang anak untuk naik.
Cukup lama, namun sepertinya anak itu menurut. Satu persatu kaki kecilnya naik, dan duduk dengan sempurna di pundak sang ayah. Dimana pria dewasa tadi langsung meraih kedua pergelangan tangan anaknya seraya bangun dari posisinya yang berjongkok tadi, berjalan dengan sedikit menghentak-hentak membuat tangis anak itu berubah menjadi tawa hingga terbahak-bahak.
Andi tersenyum tipis... Membayangkan pria dewasa itu adalah dirinya, serta anak dalam gendongannya adalah Nara, dan wanita di sisi mereka yang tengah tersenyum adalah Jennie.
"Uhukk... Uhukk..." Andi menutup mulutnya, menggunakan saputangan. Sementara satu tangan yang lain memegangi bagian sisa operasi. Batuk yang tak kunjung berhenti Membuatnya merasakan sakit di bagian yang ia sentuh. Andi berjalan pelan mendekati ranjangnya, lalu mencoba mencari sesuatu, sebuah obat pereda batuk. Tak membutuhkan waktu lama, setelah mengkonsumsi obat? batuknya mulai mereda. Ia menghela nafas, menepuk-nepuk dadanya yang masih sesak, seraya meringis.
Kedua tangannya bertopang pada bibir ranjang, mengamati bercak darah yang sepertinya semakin banyak. Tubuhnya juga seolah semakin lemas, ia menggeleng pelan.
"Sepertinya aku memang sudah tidak di perkenankan hidup dengan mereka. Batuk ini seolah membuktikan, jangankan untuk kembali membayangkan pun tidak layak." Tersenyum tipis, ia menghela nafas panjang lagi.
__ADS_1
Tok... Tok... Andi mengangkat kepalanya, di lihat pintu itu terbuka Excel dengan jas lengkapnya masuk.
Andi mencoba menegakkan tubuhnya, tak menunjukkan dirinya yang sedang menahan sakit di bagian luka yang masih belum kering. Ia mempersilakan Excel untuk duduk.
"Terimakasih sudah bersedia untuk datang kemari," ucapnya.
Excel hanya menatap prihatin. "Bagaimana kondisi mu?"
"Kau lihat aku sudah baik-baik saja. Sebentar lagi mungkin dokter sudah mengizinkan ku pulang."
"Jangan memaksakan diri. Kau benar-benar harus mendapatkan perawatan medis. Demi pemulihan mu."
"Kau pikir aku pria lemah?"
Excel diam saja, sikap angkuh pria itu masih sama.
"Terserah kau saja. sebenarnya, apa tujuan mu memanggil ku?"
"Aku hanya ingin bertanya pada mu, seberapa besar cinta mu pada Nara?"
"Aku tidak akan membiarkan, Jennie menikah dengan pria yang hanya mencintai dia saja."
"Aku paham... Dan kau tidak perlu khawatir akan itu."
Andi menunduk. Terdiam sejenak, menyiapkan hati untuk mengutarakan, sesuatu yang sudah ia siapkan sejak semalam.
"Dia sudah menderita selama ini."
Excel mengamati pria di hadapannya, yang tengah duduk di ranjangnya sendiri.
"Semua sebab aku." Andi mengangkat kepalanya, menatap langit-langit kamar. Matanya mulai mengembun. "Maaf... Aku tidak pandai berkata-kata. Terlalu malu rasanya untuk mengakui kekalahan ku. Tapi aku percaya pada mu, kau bisa menjaga mereka berdua."
Excel masih mendengarkan, ia memahami hatinya yang hancur itu. Dan dirinya tidak bisa melakukan apapun saat ini selain diam saja.
"Aku tidak akan merebutnya dari mu, karena aku menyadari kondisi ku. Yang sudah menjadi setengah bangkai."
"Jangan bicara seperti itu," tepis Excel, tidak suka dengan ucapan Andi.
__ADS_1
Andi terkekeh, bibirnya yang pucat bergetar seraya mengusap matanya yang basah.
"Aku tidak ingin banyak bicara lagi, intinya? Aku ingin memohon kepada mu." Andi menelungkup kan kedua tangannya di depan dada. "Tolong jaga Jennie, dan putri ku. Tolong bahagiakan mereka. Tolonglah."
Excel beranjak, ia berjalan mendekati Andi lalu menyentuh pundaknya.
"Kau pasti akan sembuh," ucap Excel menenangkan. Sementara Andi kembali terkekeh.
"Tuhan memang adil... Dan aku menerima semua hukuman ku. Namun aku lega, sebelum kematian itu datang, mereka berdua sudah mendapatkan malaikat pelindung seperti diri mu."
"Kak Andi... Kau pasti akan sembuh, aku yakin."
Bibir itu tersenyum. "Maaf, perkenalan kita terkesan tidak baik. Karena aku yang dulu telah?"
"Jangan bahas itu lagi. Aku sudah melupakannya."
Andi menunduk, "sungguh aku malu pada mu, kau melihat semua kelemahan ku."
"Kau tetap Kak Andi yang hebat. Nara pasti bangga memiliki ayah seperti mu."
"Cecunguk ini, apa kau sedang mengejek ku? Mana mungkin dia bangga dengan ayah brengsek seperti ku." Terkekeh.
"Tidak itu faktanya." Membalas kekehan Andi. "Kau ayah yang baik."
Tangan pria di hadapan Excel terulur. Membuat Excel menatap bingung.
"Ayo jabat tangan ku."
"Ah..." Excel menjabatnya.
"Selamat untuk mu. Ku berharap kalian bahagia," ucapnya dengan berat hati, mengikhlaskan sesuatu yang sejatinya tidak akan pernah rela ia serahkan pada siapapun, namun demi kebaikan keduanya dia pun merelakan mereka. Sementara Excel hanya menjawab dengan senyumannya.
Ya... masa lalu adalah sebuah catatan rapih yang tidak akan pernah bisa kita coret dan kita ganti dengan tulisan yang baru. Hal yang terjadi di masa depan adalah imbas dari perbuatan kita sendiri di masa lalu.
Seperti halnya Boomerang yang kita lempar pergi, sejauh apapun itu ia akan tetap kembali, mengenai diri kita sendiri di kemudian hari.
Bersambung...
__ADS_1