
Sudah lima bulan berlalu paska kepulangannya dari rumah sakit.
Gadis bernama Jennie itu semakin mencintai peran barunya sebagai ibu muda.
Walaupun masih di bantu oleh ibunya namun dengan tangan mudanya itu ia sudah bisa di bilang lues dalam hal mengurus bayi.
Di atas ranjang yang tidak terlalu besar, Jennie menyusui putri kecilnya. Pandangannya menatap kosong kearah langit yang mampu ia lihat dari balik jendela di dekat ranjang tidurnya. Terdengar sayup-sayup suara anak-anak gadis yang tertawa cekikikan di luar. Sepertinya mereka baru saja merayakan hari kelulusan mereka.
Jennie menyunggingkan senyum. Ia teringat akan satu hal. Mungkin hari ini Andi juga sudah lulus.
Dia punya niatan untuk iseng-iseng menghubungi Andi. Kali saja nomornya masih aktif kan??
Sesaat bibir mungil itu melepaskan hisapannya Jennie kembali menutup bagian dadanya lalu menyelimuti tubuh Nara dengan selimut bayi.
Ia kembali beranjak duduk memandang layar ponselnya.
"Aku ingin menghubunginya, namun aku takut ia tidak akan menjawab panggilan telfon ku." Gumam Jennie.
Jujur saja semenjak melahirkan, ia malah justru terus saja terbayang wajah Andi, mungkin karena garis wajah Nara benar-benar mirip dengan Andi, dari mata, hidung, hingga bibirnya.
Semua mengingatkan Dia akan kekasih pertamanya itu.
Jennie menekan tombol memanggil pada kontak Andi.
Sembari menggigit kuku. Ia menunggu dering dalam ponselnya.
"Nomornya masih aktif." gumamnya.
Panggilan pertama tidak di angkat. Semangat Jennie meredup, senyum kecut ia Sungging kan dari bibirnya yang tipis dan polos itu.
"Aku tahu, dia tidak akan menerima panggilan telfon ku. Tapi? Kenapa hati ini masih saja merindukan suaranya?" Sudut matanya mulai menggenang.
Bukankah Andi akan semakin menganggapnya tidak tahu diri ya? Jika ia masih saja mengubungi Andi setelahnya mendapatkan penolakan memalukan dari keluarga Andi?
__ADS_1
Namun karena cinta itu lah yang membuatnya seolah rela menanggalkan harga dirinya.
Wajah Nara yang ia lihat seolah memintanya untuk kembali mengemis cinta ayahnya.
Jennie menggeleng pelan ia meletakkan telfon itu. Baru beberapa detik ia meletakkannya.
sebuah panggilan masuk dari nomor yang tak di kenal.
Awal mulanya Jennie tidak menggubris itu. Namun telfon genggamnya terus saja berdering sehingga membuatnya memutuskan untuk menerima panggilan telepon tersebut.
"Hallo?" Sapa Jennie. Hening... Tidak ada jawaban dari sebrang.
"Hallo, maaf siapa di sana ya?" Jennie mencoba menyapanya terus. Namun tetap hening. Tidak ada jawaban.
"Jika Anda hanya diam saja di sana? maka aku akan mematikan panggilan telfon ini."
Dan benar, sepertinya si penelepon hanya iseng saja. Karena ia pun tetap diam walau Jennie sudah mengancamnya.
Pik... Sambungan terputus. "Orang iseng." gumam Jennie.
(Ku harap kau tetap tersenyum dalam kebahagiaan mu, Jennie.) tulis pesan singkat tersebut.
Jennie mematung. 'Mungkinkah si penelepon ini kak Alvian??' batinnya. Karena memang sudah sekian lama ia tidak berjumpa. Namun jika benar kak Alvian tidak mungkin hanya diam saja bukan? Dan lagi dia pun sepertinya tidak memiliki nomor ponselnya. Lalu siapa orang yang mengirim pesan ini??
Jennie memutuskan untuk menghubungi nomor ponsel tersebut. Sedikit kecewa Jennie karena nomor itu sudah tidak aktif lagi. Kembali ia mencoba menghubungi nomor Andi.
Dan sama saja...
Nomor itu kini turut tidak aktif juga. Jennie menghela nafas.
"Sudah lah. Hanya orang jahil mungkin. Dan Kak Andi? Sudah jelas menganggap panggilan telepon ku sebagai sebuah panggilan yang mengganggu." Gumam Jennie, gadis itu kembali meletakkan ponsel miliknya ke atas meja. Setelahnya beranjak dari ranjangnya.
Ia belum mandi pagi ini, dan memutuskan untuk mandi sebelum si kecil Nara terjaga dari tidurnya. Tidak lupa Jennie memberi kecupan untuknya. Sangat cantik bayinya itu, membuatnya betah memandang wajah tenang yang suci tanpa dosa kala tengah tertidur.
__ADS_1
Jennie tersenyum. "Memang tidak ada sosok ayah untuk mu Nara, namun Bunda. Akan memberi cinta tulus yang akan membuat mu merasa beruntung terlahir di dunia ini." Mengusap kepala kecil yang masih terpejam.
Cinta mendalam ia curahkan untuk sang putri. Walau kekosongan hati masih menusuk di relung hatinya yang seorang ibu tunggal.
Demi kebahagiaan Nara, Jennie akan berusaha keras menutupi air mata menyesakkan itu dengan senyum hangat untuknya.
***
Dua tahun...
Tidak terasa waktu sudah berputar begitu cepat, menyisakan beberapa coretan hitam di masa lalu yang tentu saja membekas di diri Jennie yang masih mendapatkan pandangan buruk sebagai seorang remaja yang hamil di luar nikah.
Sore itu Jennie baru saja kembali setelah seharian belajar di salah satu sekolah terbuka. Ya benar, Jennie mengambil pendidikan paket C.
Dia kembali melanjutkan sekolahnya, semua demi dirinya bisa mendapatkan pekerjaan yang layak sebagai seorang ibu tunggal yang harus menghidupi putrinya.
Ia melihat pria paruh baya di teras rumah yang masih menggunakan seragam TNI, tengah bermain bersama sang cucu perempuannya.
Tertawa riang keduanya sampai-sampai tak menyadari sebuah ojek online baru saja tiba dan pergi lagi setelah mengantar Jennie.
Bibir manis Jennie tersungging. Ia bahagia, walaupun sempat mendapatkan tatapan dingin akibat kekecewaan yang ia buat sendiri. Namun sepertinya ayahnya sudah mulai melupakan kesalahan yang pernah ia lakukan di masa lampau. Bahkan pak Ridwan kini menjelma menjadi seorang kakek yang sangat menyayangi cucu pertamanya itu. Terlihat saja di setiap beliau pulang bertugas.
Yang di cari pertama adalah Nara cucu yang mungkin sempat beliau tolak kehadirannya kala awal mendengar kabar kehamilan Jennie.
Dan sepertinya Jennie bisa bernafas lega. Saat melihat keduanya tertawa riang bermain bersama.
'Benar kan? Tanpa kak Andi aku pun bisa bahagia bersama putri ku, dan kedua orang tua yang menyayangi Nara pastinya.'
Jennie membuka kunci pagar Rumahnya.
Barulah si kecil Nara menyadari bahwa sang bunda yang ia rindukan sedari tadi sudah kembali dan langsung berlari kecil menghampiri Jennie yang sudah merentangkan kedua tangannya sembari berjongkok.
"Bunaaa—" (Bunda—) serunya. Kebahagiaan tiada tara Kala mendengar teriakan rindu dari gadis kecilnya.
__ADS_1
Dan jika di ingat hampir saja dengan kebodohannya itu, Jennie berniat membuang malaikat kecil yang kini sudah berada di pelukannya.