
Di tempat lain...
Excel memarkirkan mobilnya di depan sebuah jembatan jalan layang, kedua tangannya bertopang pada pagar pembatas jalan itu. Menatap kebawah, Dimana mobil-mobil di sana tengah berlalu lalang.
Tak lama mobil Alvian menepi dan berhenti di belakang mobil Excel.
Braaaaakkk ... Pria itu berdiri di dekat Excel, terpaku sesaat melihat sahabatnya tengah terdiam dia sana, lalu kembali melangkahkan kakinya berdiri di sebelah Excel, sama-sama menopang kedua tangannya.
"Kau jangan loncat ya, ini tinggi sekali loh. Bisa-bisa kau menjadi hantu sultan di sini." Ledek Alvian, dan terlihat Excel Terkekeh.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Alvian.
"Menurut mu?"
"Tidak." Jawab Alvian.
Excel pun menghela nafas menghalau rasa sesaknya. "Aku belum memulainya, namun aku sudah terluka." Menunduk sembari terkekeh.
"Apa yang terjadi?" Tanya Alvian. Dia tahu, mata sahabatnya itu basah.
"Mereka?" Terhenti sejenak karena kembali mengingat apa yang ia lihat tadi.
"Katakan saja."
Excel menoleh. "Apa yang kau lakukan jika melihat wanita yang kau cintai berciuman dengan pria yang pernah ada di hatinya dulu?"
"Maksud mu, Jennie dan Andi?" Tanya Alvian yang sudah bisa menebaknya.
Excel mengangkat kepalanya, sudut matanya sudah benar-benar menggenang. "Mungkin nggak sih mereka akan kembali bersatu? Aku tahu mereka ada anak yang mengikat keduanya, Sementara aku?" Mengusap sudut matanya yang menetes.
Alvian menepuk-nepuk bahu pria gondrong di hadapannya.
"Aku mencintainya Vian, dan tidak hanya Jennie, namun anaknya juga. Sungguh." Terlihat Excel memaksakan sekali tersenyum. Dan menahan tangisnya, wajahnya terus berpaling dari pandangan Alvian.
"Kau sudah menyatakan perasaan mu padanya?"
Excel menggeleng.
"Itu kesalahan mu. Kenapa kau tak kunjung menyatakannya."
"Aku hanya ingin membuatnya nyaman dengan diriku yang seperti ini Vian?"
"Yang seperti ini apa maksud mu."
"Aku bukan pria yang mudah menyatakan perasaan dengan serius. Kau tahu itu kan?"
Alvian terkekeh. "Jangan bilang kau mendekatinya dengan kesombongan mu itu."
Excel diam saja. Pria itu lantas mengacak-acak rambut Excel, membuat Excel mendelik kesal.
"Hei bodoh! Bagaimana kau bisa mendapatkan seorang wanita jika kau mendekatinya dengan cara songong dan tengil?"
__ADS_1
"Aku hanya ingin ada kesan di hatinya."
"Kesan apa? Jika dia ilang feeling bagaimana? Ckckck."
"Lalu aku harus apa?"
"Nyatakan perasaan mu padanya bodoh. Masa iya aku harus memberitahukan mu hal seperti itu?"
Excel menoleh ke arah jalan di bawahnya lagi. "Sepertinya aku sudah terlambat."
"Terlambat bagaimana?"
"Mereka sudah kembali balikan."
"Dari mana kau bisa menyimpulkan itu?"
"Tadi mereka berciuman."
"Kau yakin itu bukan paksaan Andi? Aku kenal Jennie, wanita itu sangat terluka sekali. Ya walaupun aku sudah lama tidak dekat dengannya, namun aku rasa, dia tidak akan semudah itu menerimanya kembali."
Excel menunduk. "Mungkin iya Jennie. Jika Nara lebih nyaman dengan ayahnya bagaimana? Sedangkan dengan ku? Kita malah selalu bertengkar."
"Hahaha.... Kau bahkan bertengkar dengan anak kecil juga? Kau ini benar-benar ya."
"Mau bagaimana lagi walaupun anak itu manis namun ucapannya menyebalkan. Sama persis dengan ayahnya." Tersenyum. Di hati Excel dia gemas sebenarnya dengan anak itu, bukan perasaan tidak suka.
"Nyatakan perasaan mu Excel. Katakan jika kau benar-benar mencintainya."
"Bagaimana caranya? tidak mungkin kan? aku tiba-tiba menyatakan perasaan ku padanya."
"Pasti aneh sekali itu."
"Aneh bagaimana?"
"Aku tidak seperti kau yang mudah berkata manis pada wanita. Ya? Bagaimana ya, itu sudah tabiat ku, bahkan cara bicara ku pada mamih ku juga tidak bisa manis kan?"
"Iya... Iya aku tahu kau kasar sih. Tapi kau itu penyayang."
"Pengemis ini memuji ku, aku itu tidak ingin membelikan mu ayam goreng tepung loh ya." Wajah Excel memerah.
"Cih!!! Strategi ku sudah tidak berhasil." Keduanya terkekeh.
"Kita ke kaffe yuk." Ajak Alvian.
"Kau yang mentraktir ya."
"Bedebah ini...! Sedih ya sedih tapi masih bisa pelit juga ya."
"Hahaha, ayo... Ayo kapten Alvian." Tangan Excel melingkar di bahu Alvian. Lalu mengajaknya pergi dengan mobil mereka masing-masing.
Dan di kaffe itu mereka saling bercerita, termaksud rasa lelah Alvian yang seperti ingin menyerah dengan istrinya yang tak kunjung mencintai Alvian itu sendiri.
__ADS_1
Karena bila bisa jujur, saat ini mereka pun habis bertengkar. Mungkin lebih tepatnya Alvian yang baru saja memecahkan gelas di depan Katrina istrinya itu.
"Kenapa bisa kau melakukan itu?"
"Entahlah, aku terbawa emosi saja, karena ada dokter lain yang seperti tengah mendekatinya."
"Memang terlihat istri mu meladeninya?"
Alvian menggeleng pelan.
"Sial, jadi kau keluar menemui ku setelah bertengkar dengan istri mu?"
"Aku melihatnya masih takut dengan ku, itu kali pertama aku benar-benar marah padanya, padahal dia sudah menjelaskan semuanya pada ku."
"Kau hanya terbawa suasana Alvian. Sekarang kau pulang saja, peluk istri mu."
"Lalu kau?"
"Saat ini, istri mu lah yang lebih membutuhkan mu." Ucap Excel. Alvian terdiam sejenak.
"Jangan menyesal jika dia pulang ke rumah orang tuanya Sekarang. Lalu menuntut cerai dari mu, bagaimana?"
Degg, Alvian beranjak. "Baiklah aku pulang dulu." Alvian pun bergegas pergi dari kaffe itu.
"Ckckck, ku suruh kau menemaniku malah kau sendiri tengah ada masalah. Dasar Vian." Geleng-geleng kepala.
Dan masih di malam yang sama pria itu benar-benar menyelesaikan masalahnya. Terlihat sang istri menyambutnya di depan pintu, yang saat itu membuat Alvian memeluk langsung tubuhnya. sedangkan Katrina kembali menangis.
"Jangan marahi aku lagi mas. Aku takut." Ucap Katrina saat itu. Alvian pun mengeratkan pelukannya.
Malam itu keduanya lantas berakhir pada malam pertama mereka yang tertunda lama. Karena akhirnya Katrina siap memberikan tubuhnya pada sang suami dengan ikhlas.
***
Di pagi yang cerah. Jennie kini tengah berhadapan dengan sang manajer hotel tersebut.
Tuan Adam tengah menegur Jennie yang tiba-tiba keluar dan tidak kembali lagi selama seharian kemarin. Di sana Jennie hanya menunduk tanpa membela diri, karena dirinya memang bersalah.
"Saya akan memberikan mu SP satu Nona Jennie." ucap Tuan Adam, saat itu juga Jennie melemas. Karena itu kali pertamanya dia mendapatkan surat peringatan.
"Tunggu!" Excel berseru. Adam pun membungkuk. "Tidak perlu kau memberikannya surat peringatan." lanjut Excel.
"Maaf Tuan, saya harus melakukan itu. Jika tidak? semua karyawan akan merasa ada perbedaan antara Nona Jennie dengan karyawan yang lain."
"Aku yang mengajaknya Adam,"
"Tapi tetap saja Tuan, nona Jennie pergi tanpa izin."
Excel berkacak pinggang. "Apa jabatan mu lebih tinggi dari ku?" Tanya Excel. Adam pun bungkam.
"Ma...maaf Tuan Excel, tapi hukuman itu pantas saya dapatkan kok." Ucap Jennie.
__ADS_1
Excel menoleh kearah Jennie yang langsung menundukkan kepalanya. "Kau kembali saja bekerja Adam, dia biar menjadi urusan ku." Excel meraih pergelangan tangan Jennie dan membawanya pergi dari sana.
Bersambung...