Ayah Untuk Putri Ku

Ayah Untuk Putri Ku
jangan kau sentuh putri ku


__ADS_3

Beberapa jam sebelumnya...


Andi dan Arya berdiri saling berhadapan, di sebuah gedung yang belum rampung di bangun.


Suasana yang yang lembab dan berlumut. tak terjamah sinar matahari, akibat semak belukar yang meninggi dan pohon-pohon yang tinggi menjulang di sekitarnya.


Ctaak...ctaak... Suara pemantik korek api yang tengah di nyalakan Arya untuk menyalakan ujung rokoknya. Ia pun menghisap rokok yang sudah menyala lalu menghembuskan asapnya ke arah Andi.


Sementara Andi hanya diam saja.


Andi mendesah, karena lama menunggu nya hanya diam saja, "sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan?"


Arya tersenyum sinis, seraya menghembuskan asap rokok dari mulutnya. "Proyek mu."


"Aku tidak mau." Langsung menjawab sebelum Arya melanjutkan ucapannya.


"Hahahaha... Andi, Andi. Aku bukan ingin membicarakan proyek pengeboman itu. Hanya saja ada hal lain. Ini tentang satu ton ganja yang akan datang melalui pelabuhan."


"Lagi-lagi, kau ingin aku mengalihkan para pekerja Bea cukai? Arya, aku sudah tidak ingin lagi ada di lingkaran hitam ini. Aku ingin bebas!"


"Ssssssttt, tidak ada yang bisa keluar semudah itu dari grup ku. Termaksud diri mu."


"Kalau begitu bunuh saja aku. Toh hidup ku juga tidak akan lama lagi." Tantang Andi, ia sudah tidak peduli dengan nyawanya, karena pada kenyataannya dia sudah sekarat, itulah yang di pikirkan Andi.


Tertawa. "Haduuuuhhh kau membuat ku jengah" berkacak pinggang. "baiklah! aku itu sebenarnya tidak suka melakukan ini sih? Namun bagaimana jika, Nara mu itu? yang ku bunuh lebih dulu."


Mendengar ucapan itu Andi langsung mencengkram baju di bagian dada milik Arya.


"Kau jangan sekali-kali menyentuh putri ku!" Menatap tajam.


"Putri mu?" Tergelak. "Hei! Bukankah kau dulu membuangnya? Seharusnya kau senang jika aku membunuhnya kan, lalu mengirim mayatnya kepada mu, mungkin itu akan jadi kado spesial sebagai tanda keluarnya kau dari grup ini."

__ADS_1


"Bedebah kotor!" Buaaaaack menghajar wajah Arya dengan keras hingga tubuh itu sedikit terpelanting.


Pria itu pun terkekeh, sembari mengusap darah di bibirnya. Hingga datang lima pria kekar lain yang langsung menyerang Andi.


Perkelahian pun tak terelakkan, satu lawan lima, hingga datang lagi beberapa orang mengeroyok pria yang sudah mulai melemah staminanya.


Baaakk buuuuuk braaaaaaaaakkk suara seseorang terlempar hingga menimpah peti kayu dan hancur seketika. Andi pun meraih peti-peti itu dan melempar ke arah mereka.


Namun akibat perkelahian yang tak seimbang, ia pun tertangkap, dan seseorang itu langsung membanting tubuhnya ke lantai yang kotor. Andi mengerang hingga suaranya menggema di gedung kosong itu.


Dua orang lainnya menahan kedua lengan Andi ke belakang, saat tubuh itu sudah di gulingkan dengan posisi tengkurap.


"Aaaaaarrrggghh! Lepaskan aku, B*ngs*t!!!" Teriak Andi meronta. Dengan kedua lengan yang di pegangi mereka, dan kepala yang di tekan ke lantai, ia benar-benar tidak bisa berkutik lagi.


Arya terkekeh ia pun berjongkok, dengan satu kaki di tekuk. Lalu menyalahkan lagi puntung rokoknya, dan menyulutkan bara api itu di belakang daun telinga Andi, menekannya hingga api itu padam. Tentu saja apa yang ia lakukan membuat Andi berteriak akibat panas dari puntung yang menyala itu.


Tidak puas hanya satu kali, ia pun melakukannya lagi. Hingga kelima kalinya.


Arya mencengkram rambut Andi kuat, lalu mendongakkan kepalanya, "Ku tanya pada mu Andi? Bisakah kau tetap mengabdi kepada ku?"


"A....aku...aku...ti...tidak mau. Cuiih!" Andi Meludahi wajah Arya. Pria itu pun memalingkan wajahnya, lalu beranjak. Setelah itu di tendang lah wajah Andi berkali-kali, bahkan hingga ada satu gigi depannya yang goyang akibat tendangan itu. Darah segar pun sudah mengucur di mana-mana memenuhi wajah Andi. "Aku tidak akan melepaskan mu sekarang! Namun tidak dengan Nara mu itu. Bersiaplah untuk menerima peti matinya."


"Ja... jangan, sentuh anak ku! Bunuh saja aku Arya! Tolong bunuh saja aku sekarang!" Ia masih berusaha menggoyangkan tubuhnya.


Arya pun menginjak kepalanya, tepat di bagian pipinya, karena posisi kepala Andi miring, menghadap ke samping. "Aku tidak akan puas jika hanya membunuh mu, karena itu bukanlah kehancuran untuk mu Andi. Aku tetap akan mengincar Putri mu, ooohhh dan lagi, ibu dari anak itu. Jika aku menggaulinya sebelum ku bunuh mungkin akan sangat menyenangkan bukan?"


"IBLIS!!! KAU JANGAN BERANI-BERANINYA MENCOBA MELAKUKAN ITU ARYA!!!"


"Hahahaha," Arya tertawa puas melihat kelemahan Andi sekarang.


Ia pun meraih sebuah besi knalpot yang sudah di panaskan oleh anak buahnya.

__ADS_1


"Aku ingin melihat, sekuat apa dirimu Andi," mengangkat besi itu tinggi-tinggi lalu menempelkannya di tengkuk leher Andi..


"Aaaaaaarrrrggggghhhhhhh!!!" Suara teriakan Andi benar-benar melengking di sana saat mendapati penyiksaan dari Arya, bahkan kulit itu mulai terlihat melepuh, bersamaan dengan asap dan suara seperti terbakar yang keluar. Pria itu pun tak sadarkan diri seketika, akibat tak bisa menahan rasa panasnya.


Klaaaaang... Arya melempar besi itu ke sembarang. "Ku harap kau bisa jera karena ini, dan kembali lah pada jalan mu Andi." Menendang sejenak tubuh itu lalu menyuruh orang-orangnya untuk pergi.


***


Hingga malam menjelang, tubuh itu mulai bergerak setelah pingsan selama hampir tiga jam lamanya.


"Ennnggg." Mata Andi mulai mengerjap, ia merasakan sakit di sekujur tubuhnya, terlebih di bagian tengkuknya seolah mati rasa, saking panas dan perihnya.


Andi berusaha beranjak. "Uhhukk... Uhhukk...!"


Menepuk-nepuk dadanya perlahan, rasa sesak akibat batuknya tidak lah berarti apapun, jika sampai Arya menyentuh buah hatinya, dia mungkin akan menjadi seorang ayah paling bersalah di dunia ini.


Andi pun berusaha bangun dan berjalan keluar, ia harus menemui putrinya sekarang juga, untuk memastikan jika Nara tidak di apa-apakan oleh Arya.


Kini Andi sudah berada di mobilnya, berusaha membawa laju mobil itu dengan kecepatan tinggi, walau rasa sakit di tubuhnya masih ia rasakan. Bahkan darah yang mulai mengering di wajahnya sama sekali tak ia pedulikan, karena yang ada di kepalanya hanyalah Nara... Nara dan Nara.


Tak lama ia pun sampai di kontrakan milik Jennie, rumah itu masih gelap dan sepi. Andi berfikir jika Jennie mungkin masih di rumah orang tuanya. Lalu memutuskan untuk mengunjungi rumah orang tua Jennie.


Namun di sana ia mendapati Excel dan Jennie tengah berdiri berhadapan.


Terlihat tangan Excel memegangi tangan Jennie, karena jarak yang lumayan jauh ia tidak bisa mendengarkan percakapan keduanya.


Hingga saat dia melihat Excel memberinya kecupan di kening Jennie. Membuatnya mengepalkan tangannya geram.


Namun yang lebih Membuatnya terluka adalah senyum Jennie, dan anggukan kepalanya. Barulah pelukan keduanya membuat Andi memalingkan wajah.


Ia mencengkram baju di bagian dada sebelah kirinya. Lalu kembali menyalakan mesin mobil itu dan pergi dari sana, karena dia sudah bisa menebak apa yang terjadi di sana.

__ADS_1


Mungkin saja, Jennie sudah memilih Excel sebagai ayah sambung Nara.


__ADS_2