Ayah Untuk Putri Ku

Ayah Untuk Putri Ku
fakta tentang Jennie yang baru di ketahui Excel.


__ADS_3

Petang itu Jennie baru saja melayani seorang tamu di salah satu kamar 030, ia pun berniat turun setelah tugasnya selesai, dan berdiri cukup lama dari dalam lift tersebut.


Tiiiiing lift terbuka, seorang pria dan wanita keluar dari dalam lift tersebut. Sepertinya mereka sepasang suami istri yang baru saja menikah.


Terlihat dari hena yang ada di tangan sang gadis. Terlebih keduanya nampak Mesra sehingga sedikit membuat Jennie iri.


Jennie melangkahkan kakinya masuk kedalam Lift. Sesaat ia melamun, membayangkan akan nasib dirinya yang masih sendiri hingga saat ini.


Manusiawi bukan jika ia mengharapkan memiliki pasangan hidup yang bisa mencintainya? Menerima dirinya dan juga Nara.


Penyebab Jennie hingga saat ini masih sendiri sebenarnya bukan karena Jennie tidak laku.


Faktanya tidak hanya satu dua yang berusaha mendekati Jennie. Namun beberapa dari mereka justru terobsesi ingin mencicipi tubuhnya. Karena menganggap bahwa Jennie adalah gadis murah yang akan dengan mudah menyerahkan tubuhnya lagi pada pria yang mau menyentuhnya.


Belum lagi akan trauma dimasa lalunya yang harus membuat Jennie kehilangan masa depannya karena embel-embel cinta itu sendiri sehingga membuatnya takut untuk kembali melabuhkan hatinya pada seorang pria.


Itulah yang membuat Jennie tidak mudah di dekati oleh siapapun setelah putus hubungan dari Andi.


di samping pengalaman masa lalunya yang pernah di campakkan.


Ia juga merasa, seorang wanita yang memiliki anak tanpa adanya pernikahan hanya akan mengundang pria-pria hidung belang itu sengaja mendekatinya.


ia menoleh ke samping di mana terdapat bayangannya sendiri dari pantulan Diding lift tersebut.


"Haaaaahhh bolehkan aku berharap? Saat pintu lift ini terbuka aku bertemu dengan jodoh ku?" tanya Jennie pada bayangannya sendiri.


"Tidak apa-apa kan jika aku berkhayal? hanya sekedar menghayal kok." gumamnya ia pun terkekeh aneh merasa lucu sendiri dengan dirinya yang malang. Jennie menghela nafas.


Tiiiiiiiiing ... Lift terbuka. Gadis itu menghadap ke depan lagi, dan terkejut saat mendapati Excel ada di hadapannya. Matanya melebar seketika.


"Tu...Tu...Tuan?" Jennie tergagap.


"Apa? Kenapa kau melihat ku seperti melihat hantu begitu hah? Mau menghina ku ya?"


Jennie tertunduk. "Ma...maaf Tuan. Aku hanya terkejut saja." ucap Jennie.


Excel pun masuk kedalam Lift itu.

__ADS_1


Kerena tujuan Jennie kelantai paling dasar ia pun masih berdiri di samping Excel yang sudah menutup pintu Liftnya.


Kini hanya ada mereka berdua di dalam lift tersebut. Hening.


'a...apa-apaan ini? Semoga hanya kebetulan, ini hanya kebetulan saja. Aku kan sedang bicara asal, tidak mungkin langsung di dengar malaikat kan?' batin Jennie yang tiba-tiba merasa kikuk.


Tak lama Lift tiba-tiba sedikit Oleng, membuat Jennie dan Excel terkejut.


braaaaaakkk "kyaaaaaaaa." Jennie menjerit dan Reflek mencengkram lengan Excel karena ketakutan, Paaaaattssss lampu lift pun padam.


Excel menoleh sejenak. Merasa gugup namun senang juga saat lengannya di peluk oleh Jennie yang ketakutan karena Lift yang tiba-tiba tidak jalan itu.


"Hei...hei...Tenangkan diri mu itu, kita pasti akan baik-baik saja. Jangan mencuri kesempatan dalam kesempitan ya! Seenaknya saja memeluk orang." ucap Excel. Yang seketika itu membuat Jennie melepaskan pegangannya.


"Maaf Tuan, sungguh... Maaf kan saya. Saya beneran takut."


"Takut...takut... tapi tidak memeluk juga dong. Kau pasti terkesima dengan ketampanan ku kan? Makanya merasa kesempatan sekali tuh pasti, kita terjebak di dalam lift ini sekarang, dan kau merasa kita jadi bisa berduaan, benar begitu kan?"


'pria ini sudah benar-benar tidak waras ya, sempat-sempatnya dia narsis dalam kondisi genting seperti ini?' batin Jennie. Matanya mengarah kepada Excel. Lebih ke tatapan heran sih.


"Hellooow!" Excel mengibas-kibaskan tangannya di depan wajah Jennie. "Benaran suka ya? Astaga, ckckck biar ku catat ya, kau itu masuk daftar ke seribu tiga ratus empat puluh tujuh wanita yang menyukai ku. Masih sangat sulit untuk mendapatkan ku, sebaiknya usah berharap sebelum patah hati."


"Sssstttttt, jangan menyatakan cinta pada ku. Aku khawatir setelah ini kau malah bunuh diri, karena aku menolak mu."


Jennie semakin merasa konyol. "Saya tidak ada niatan untuk menyatakan perasaan apapun?"


"Lalu apa? Aku tahu modusnya gadis seperti mu. Pura-pura ketakutan supaya aku mau memeluk mu seperti adegan pada drama saat mereka terjebak di dalam lift berdua. Setelahnya melakukan kissing, iya kan?"


"Astaga, Tuan Excel?"


"Apa? Tidak usah memuji ku tampan, itu sudah biasa ku dengar dari para fans seperti mu. Karena memang seperti itu kenyataan." Excel mengibaskan rambutnya.


Jennie menghela nafas, merasa lelah meladeni pria di sampingnya. 'diam kan saja lah, dari pada urusannya malah tambah panjang.' batin Jennie yang hanya geleng-geleng kepala.


Lift itu masih belum terbuka namun terdengar suara dari luar yang tengah berusaha membuka pintu lift tersebut.


Hening beberapa saat....

__ADS_1


"Duh, Nara pasti menunggu ku ini." gumam Jennie lirih. Excel menoleh.


"Nara? Siapa Nara?" tanya Excel. Jennie menoleh.


"Dia, anak saya Tuan."


Deeeg, Excel membeku. Kala mendengar kata anak dari mulut Jennie.


Ia pun terkekeh. "Kau bergurau ya?" tanya Excel.


"Saya tidak bergurau, memang benar saya adalah seorang ibu." jawab Jennie.


Tubuh Excel melemas ia bahkan hampir jatuh dari posisi berdirinya membuat Jennie terkesiap dan ingin membantunya.


"Anda baik-baik saja Tuan?"


Excel menoleh. "It's okay, tapi tidak untuk....hati ku." gumamnya. merasa kebingungan.


"Jadi? Jadi kau sudah? Me...menikah?" tanya Excel.


Baru saja Jennie akan menjawab pintu Lift itu sudah terbuka. Jennie tersenyum lega.


"Syukurlah." Jennie membungkuk pada Excel lalu bergegas keluar dari dalam lift tersebut.


"Jejen sudah menikah?" gumamnya, masih membeku.Tubuh Excel pun melorot jatoh dengan posisi duduk sehingga membuat petugas dan juga Adam yang ada di sana menolongnya.


"Anda tidak apa-apa Tuan muda?" Adam berjongkok.


"Sakit Adam, Sakit sekali." Pandangan nya nanar.


"Mana yang sakit Tuan?" Adam mengecek bagian tubuh Excel.


"Sakiiit... Sakit sekali rasanya, hiks." Excel merengek.


Sedangkan Adam masih fokus mencari bagian tubuh mana yang sakit.


"Tuan saya tak menemukan luka, haruskah?"

__ADS_1


"Di sini...di sini bodoh! Di sini!!!" Excel menyentuh bagian dadanya. "Sakit!!! Tapi tak berdarah...!!" Excel beranjak. Dengan tubuh sedikit oleh ia pun berjalan meninggalkan beberapa orang yang masih merasakan bingung.


'haduh Tuan muda bisakah Anda tidak menunjukkan kebodohan Anda di depan orang ckckck.' batin Adam yang lantas menghela nafas.


__ADS_2