
Setelah berbicara yang mengarah ke hal-hal konyol. Jennie paham, begitulah cara mereka saling menunjukkan kasih sayangnya. Agak ekstrim memang, namun Mamih Excel sepertinya adalah orang yang baik, dia pun tak memandang kasta lawan bicaranya.
Seperti saat ini, posisi duduk Nyonya Miranda sudah berpindah menjadi di tengah-tengah antara Jennie dan Excel, tak canggung beliau merangkul gadis yang malah justru semakin merasa tidak enak hati. Bercerita tentang pengalamannya saat berhubungan dengan mendiang ayah dari Excel. Ya... Walaupun Jennie tidak bisa fokus mendengarkan akibat rasa tegang, tapi ia tetap berusaha tertawa hanya untuk menanggapi lawakan Nyonya Miranda.
–––
Beberapa jam berlalu...
Gadis itu bersyukur, ketika ia sudah bisa keluar dari gedung hotel tersebut.
Setelah berdebat perihal pulang. Excel menginginkan Jennie pulang bersamanya, sementara Jennie hanya ingin pulang sendiri saja. Lagi pula nanti malam mereka juga akan bertemu lagi di rumah orangtuanya. Dan beruntung ketika Excel akhirnya mengalah, karena ia harus menghadiri acara penting di salah satu cabang hotel milik ibunya.
Jennie memasang helmnya. Setelah semalaman menginap, akhirnya skuter maticnya bisa ia bawa pulang lagi.
Ia menekan tombol power, di mana mesin mulai menderu, dan sepeda motor miliknya pun mulai melaju, dengan kecepatan sedang menyusuri jalanan yang sedikit ramai. Karena sudah masuk jam makan siang juga.
Suasana gerimis sisa hujan tadi pun masih menghantam bagian atas helmnya.
Menghirup nafas lebih dalam, di sepanjang jalannya, menikmati aroma tanah yang basah. Menurutnya itu sangat nikmat, polusi seolah berkurang. Di gantikan dengan hawa sejuk, serta udara yang lebih sehat karena lembab. Itulah kenapa Jennie lebih suka ketika turun hujan, dimana ia lebih bisa menikmati kesendirian dengan perasaan tenang.
'Aku akan memberitahukan kabar ini pada Ayah, agar beliau pulang cepat.' tersenyum tipis, sebenarnya agak ragu sih. Apa Bu Miranda tidak salah memilihnya?
Dan Excel...? Pria itu, sisi kekanak-kanakan masih sering nampak. Apakah dia bisa lebih dewasa dan bertanggung jawab, ketika benar-benar menjadi suaminya?
Gadis itu menggeleng pelan, lalu mengangguk. Sepertinya perdebatan batin sedang berjalan sengit di benaknya. Namun akhirnya ia menarik nafas panjang, lalu membuangnya sama panjang seperti ketika ia menariknya.
Ia hanya berharap, semua akan berjalan lancar. Yang terpenting adalah... Perjuangan Excel untuknya. Ya... Dia harus melihat lagi, sebelum benar-benar menentukan tanggal pernikahan.
Motor terus melaju menuju sekolah Nara, hingga dia mendapati sebuah momen yang tidak pernah ia bayangkan akan datang.
🍂
🍂
🍂
Di rumah pak Ridwan...
Jennie duduk melamun di kursi ruang tamu. Menopangkan sikunya pada pinggir sofa, pandangannya lurus mengarah ke luar.
Sinar mentari yang masih terik menjadikan hawa di sana terasa panas. Tak lama suara motor pun terdengar, masuk ke dalam pelataran rumah. Pak Ridwan dengan seragamnya sudah tiba, setelah mengurus Andi RSCM. Karena kondisinya yang memburuk membuatnya harus di rujuk ke rumah sakit besar.
"Assalamualaikum," seru Beliau seraya masuk kedalam rumah.
"Walaikumsalam," Jennie menjawab lirih. Di mana pak Ridwan sudah masuk kedalam rumah itu sembari menurunkan resleting jaketnya.
"Nara mana?" Tanya Beliau, saat menerima kecupan di punggung tangannya dari Jennie.
"Tidur, Yah."
"Owh... Ibu?"
"Ibu ke fresh market, belanja. Karena malam ini, Mamihnya mas Excel akan tiba."
__ADS_1
"Excel?"
"Iya, pria yang kemarin datang."
Pak Ridwan membulatkan bibirnya sembari menghempaskan bokongnya di sofa.
"Yah, apakah boleh Jennie bertanya?"
"Boleh."
"Bagaimana keadaan kak Andi?" Ragu-ragu.
"Dia harus di rujuk ke rumah sakit besar. Dan akan menjalankan operasi, karena bagian tulang rusuk yang patah itu mulai membengkak."
"Astaga. Se...sebenarnya ada apa? Ada apa dengannya?"
Pak Ridwan terdiam sejenak, lalu mulai menceritakan semuanya.
"Dan sepertinya akibat perkelahiannya? Dia jadi seperti itu."
"Ya ampun," gumam Jennie. Hal yang tidak aneh, pria itu memang gemar berkelahi.
"Dan satu lagi, dokter menemukan fakta adanya penyakit lain yang memang sudah di deritanya."
"Penyakit?" Jennie mengerutkan kening. Sementara pak Ridwan langsung mengeluarkan sebuah kertas dari saku jaketnya. Jennie meraih itu pelan, membacanya.
"Dokter bilang, terdapat sel abnormal di tubuh Andi. Membuat operasinya harus di tunda, sampai menemukan penyakit apa yang sebenarnya ia derita. Dan jika sebuah penyakit yang cukup parah, mungkin akan menimbulkan efek yang sedikit fatal, paska operasinya."
"Astaga..." Jennie menutup mulutnya, sudut matanya tiba-tiba saja menggenang. Bersamaan dengan hati yang merasakan adanya hentakan. "Pak, bolehkah? Jennie ke rumah sakit?"
Terdiam sejenak, ia berusaha berfikir. "Aku akan berbicara pada mas Excel lebih dulu."
"Jen?"
"Dia ayahnya Nara... Dan aku harus tahu kondisinya, Nara pasti sedih jika ayahnya sakit."
"Emmm... Kalau begitu, izinlah dulu pada pria itu. Jika kau ingin mengunjungi Andi, ayah tidak mau keluarga Excel jadi beranggapan buruk tentang mu."
Jennie tersenyum, lalu mengangguk. Di mana dia langsung beranjak menuju kamarnya dulu.
Di dalam kamar itu, Jennie duduk kursi meja rias. Ia menatap bayangan Nara dari pantulan cermin di hadapannya, melamun. Lalu meraih telfon genggamnya, mencari nama Excel guna menghubungi pria itu.
Tidak menunggu waktu lama, panggilan telepon sudah di terima.
"Hai... Kau rindu aku kah?" Belum juga Jennie menyapa Hallo, Excel sudah memotongnya. Ia tersenyum tipis.
"Mas, apakah aku mengganggu mu?"
"Tidak... Aku baru saja keluar dari ruangan meeting."
"Oh..."
"Ada apa? Kau pasti tidak sabar ya, kau mau tanya aku suka makan apa untuk jamuan nanti malam? Tenang saja... Asalkan kau yang masak, aku pasti akan menyukainya."
__ADS_1
Jennie terkekeh. "Maaf, sepertinya kedatangan mu ke rumahku harus di tunda."
"Eh... Kenapa?"
"Aku?" Tertahan, ia ragu ingin mengatakannya.
"Katakan saja."
"Bisa kah kau berjanji untuk tidak memarahi ku."
"Tergantung, sudah cepat katakan. Jangan membuat ku marah lebih dulu sebelum kau mengatakannya."
"Emmm.... Itu, aku harus ke rumah sakit."
"Rumah sakit, memang siapa yang sakit?"
"Kak Andi."
Deg...! Excel terdiam di sebrang.
"Tuh kan, kau diam saja."
"Untuk apa kesana?"
"Ceritanya panjang. Kau tidak akan ada waktu untuk mendengarkannya."
"Jelaskan, apa alasan mu hendak menemuinya," potong Excel.
"Tapi...?"
"Ku bilang jelaskan, baru aku akan mengizinkan mu."
Jennie menatap sang anak dari pantulan kaca di hadapannya lagi.
"Nara, sudah tahu siapa ayah kandungnya. Dan tadi pria itu pingsan di hadapan kami... Dokter bilang, dia harus di operasi karena mengalami patah tulang rusuk yang mulai membengkak akibat peradangan. Namun, operasinya harus di tunda, Karena adanya komplikasi sel abnormal pada tubuhnya."
Excel yang di sana masih terdiam, sepertinya pria itu bimbang.
"Mas?"
"Jam berapa kau akan datang?"
"Sekarang juga."
"Tidak bisa kah kau menunggu ku, dan kita datang sama-sama."
"Memangnya mas Excel, ada waktu?"
"Tunggu aku. petang nanti aku akan datang dan kita kesana bersama."
"Baiklah, aku akan menunggu mu." Mengiyakan, karena ia tidak mau terjadi masalah antara dirinya dan Excel.
"istirahat lah." PIK...
__ADS_1
Jennie menurunkan ponselnya, lalu menghela nafas. "Aku rasa dia sepertinya tidak suka, aku mengunjungi Andi. Hal wajar sih," gumamnya. Yang lantas beranjak dari kursi itu, beristirahat sejenak di ranjang itu bersebelahan dengan Nara.