Ayah Untuk Putri Ku

Ayah Untuk Putri Ku
berkabung (ending chapter)


__ADS_3

Beberapa tahun yang lalu, di antara dentang waktu paling sempurna. Jennie mengenal sosok pria yang memaksa dirinya membuka benteng pertahanan hati yang dengan rapat ia kunci agar tak mudah di masuki oleh pria manapun.


Demi sebuah cita-cita yang cerah di masa depan. Menjadi seorang dokter hebat, itulah impiannya.


Namun semua harus kandas, ketika bunga satu-satunya yang ia miliki harus patah begitu saja. Hingga menyisakan benih hidup yang tak bisa ia keluarkan sebelum khalayak ramai mengetahuinya.


Dia memang sudah berusaha untuk tidak tergoda. Namun, sebuah dongeng romansa yang di bangun pria itu membuatnya terbuai.


Dari sebuah pujian manis, menatap dengan satu tangan yang bertopang pada dagunya, bahkan tanpa berkedip. Pria berseragam putih abu-abu itu, mengenalkannya pada cinta yang sejatinya amatlah indah, namun langkah yang salah membuatnya hancur. Hingga cidera parah membuat dia jera untuk mencintai lagi.


Tahun yang terus saja berganti ini, tak pernah sekalipun mampu menghapuskan segala rentetan cerita manis yang berujung kelam di masa lalu. Namun rupanya benar kata orang, cinta toxic itu memang amat sulit untuk di lupakan, itulah kenapa orang-orang seperti itu di anggap bodoh oleh mereka yang tidak pernah merasakan di cintai oleh pria yang sejatinya selalu menyakiti.


Cinta yang masih ada untuk Andi memang belum lah berkurang, dan hadirnya Excel dalam hidup Jennie seolah menjadi menguat hati, untuk mampu membantunya bangkit dari penjara hati sang pria mengerikan itu.


Harapan pasti adalah, dia bisa menghapus jejak Andi.


Dengan begini, dia tidak akan lagi mengingat segala ke sakitnya. Ia bisa menyerahkan seluruh hatinya untuk pria baru, dan Andi bisa pergi dari hidupnya saat itu juga.


Lantas pada kenyataannya, dia benar-benar pergi saat ini. Jauh... Bahkan tidak akan pernah kembali. Menuju sebuah alam keabadian, dan hanya mereka-mereka yang sudah bertemu ajal mereka sajalah yang tahu, seperti apa tempat itu.


***


Esok harinya...


Pemakaman yang hanya di hadiri segelintir orang saja, dengan di temani gugurnya beberapa bunga Kamboja di area tersebut, sunyi senyap. Bersisakan cuitan burung-burung kecil yang bertengger di antara ranting-ranting pohon.


Menambah suasana berkabung di antara tiga hati, ibunda dari Andi, Jennie yang hanya diam saja sembari menatap nanar ke arah sebuah pusaran yang masih basah. Dan Isak tangis Nara yang masih belum mempercayai kenyataan jika sang pria gagah yang ia panggil dengan sapaan Ayah, sudah benar-benar tiada.


Jennie mengusap-usap kepala sang anak yang melingkari pinggangnya dengan kedua tangan memeluk.


"Kita pulang?" Excel yang sedari tadi berdiri di sebelah Jennie, seraya mengusap bahunya, menawarkan. dimana wanita itu hanya tersenyum tipis lalu mengangguk. Ia berjongkok sesaat, mengusap kedua pipi Nara yang basah.


"Sayang, kita pulang yuk," ajaknya, serak.


"Bunda, ayah sendirian? Kalau ayah takut bagaimana?" Tanyanya polos.


"Ayah itu pemberani... 'Kan ayah sendiri yang sering bilang, kalau ayah itu hebat." Jennie berusaha meyakinkan.


Gadis kecil itu masih murung, ia menoleh ke arah Excel yang sudah melebarkan senyumnya, lalu kembali menatap ke arah makam.


Pertemuan yang singkat membuatnya tidak percaya di awal, bahwa Om gagah itu adalah ayahnya. Namun ia bahagia, sempat bertemu walaupun tidak lama menjalin kedekatan. Nara mengusap air matanya sendiri, lalu berpamitan pada neneknya. Iya... Ibu dari Andi.


"Nenek, Nara pulang dulu ya. Besok-besok Nara akan berkunjung ke rumah Nenek."


"Cucu ku yang cantik. Terimakasih ya." Beliau mencium pipi Nara cukup lama lalu melepaskannya. "Janji ya, besok-besok? Kamu harus menemui nenek, dan menginap di rumah Nenek."


"Iya Nek, Nenek jangan sedih ya? Kata bunda, Ayah Andi sudah tidak sakit lagi."

__ADS_1


Semua yang di sana terkekeh pelan. Merasa gemas dengan anak itu. Sementara ibunda Andi hanya tersenyum lalu memeluk lagi tubuh cucunya.


"Hati-hati ya, Nak."


"Iya Nek."


Setelah berpamitan, satu persatu pelayat yang turut mengantarkan Andi ke tempat peristirahatan terakhirnya mulai pergi dari tempat itu.


Di perjalanan, Jennie masih diam saja. Bertopang dagu menatap ke samping, di lihat satu persatu toko-toko yang berjajar di pinggir jalan, memamerkan setiap dagangan mereka masing-masing.


Saat itu, Excel tidak ingin banyak bertanya, dia hanya berusaha untuk memahami kondisi mereka berdua. Walaupun Jennie berusaha terus tersenyum. Namun mimik wajahnya seolah membuktikan bahwa dia tidak baik-baik saja sejak semalam.


Mobil terus melaju hingga sampailah mereka di salah satu hunian yang lumayan besar.


Nara menempelkan kedua telapak tangannya di kaca, mengamati bangunan yang benar-benar bagus, sangat jauh berbeda dari tempatnya tinggal sebelum ini.


Hingga mobil pun berhenti di pelataran, Excel melepaskan seat beltnya.


"Ayo turun. Ini rumah kita," ujar Excel bersemangat.


Jennie mengamati sejenak, rumah itu nampak sepi.


"Apa Mamih juga tinggal di rumah ini?" Tanya Jennie.


"Tidak, ini rumah ku. Jauh sebelum aku mengurus hotel, rumah ini adalah tempat tinggal ku."


Excel garuk-garuk kepala. "Iya, aku kan dulu designer properti. Aku butuh ketenangan saat bekerja, kalau aku tinggal bersama Mamih? Hidup ku tidak akan bisa tenang."


Jennie manggut-manggut saja, dia paham. "Lalu, apa tidak ada pekerja?rumah ini sepi sekali."


"Ada, mereka bekerja saat aku tidak ada. Jadi biasanya saat aku di rumah mereka tidak akan membersihkan rumah ini, dan akan datang saat aku keluar."


"Oh..."


"Tapi tenang saja, nanti mereka tetap akan datang. Aku tidak akan membiarkan mu memegang pekerjaan rumah."


"Ah... tapi tidak apa kok. Aku juga tidak akan bisa diam saja di rumah ini."


"Hei... kau pikir rumah ini seperti kontrakan tempat tinggal mu, yang sumpek itu?"


Jennie mendengus. 'dih... Mulutnya ya.'


"Rumah ini luas tahu. Jika kau mengerjakan semuanya, yang ada kau tidak akan ada waktu untuk menyambut kedatangan ku."


'eh... perlukah kau di sambut, tuan manja?' batin Jennie yang hanya bisa tersenyum di luar. Setelahnya Excel menoleh kebelakang.


"Apa kau suka, Tuan putri?" Tanya Excel.

__ADS_1


Gadis kecil itu hanya mengangguk pelan, masih fokus melihat air mancur di dekat pintu masuk utama itu, dari dalam mobil yang mereka tunggangi.


"Baiklah, ayo kita turun," ajak Excel sembari membuka pintu mobilnya. Yang langsung diikuti oleh Jennie, tak lupa setelahnya Excel membukakan pintu tengah.


"Kau mau aku jadi apa? Burung onta, atau kangguru?" tanya Excel pada Nara.


"Bedanya apa?"


"Kalau kau mau, Ayah jadi kangguru, maka akan ku gendong di depan, jika maunya burung onta maka kau akan ku gendong di belakang, aku ini pari cepat."


"Hahaha... Benarkah?" Mood Nara seakan kembali.


"Kau meremehkan ku ya?"


"Sedikit, karena tubuh ayah Excel kan kurus," jawab Nara polos, membuat Jennie menutup mulutnya terkekeh.


"Enak saja kau bilang aku kurus." Excel pun memasang punggungnya. "Ayo naik, jika kau ingin menguji kuatnya punggung ayah."


"Baiklah... Tapi berlari secepat ninja Konoha ya."


"Siap, cepatlah naik." Menepuk-nepuk punggungnya, dimana Nara langsung naik.


"Astaga... Kau berat juga ya."


"Katanya kuat."


"Ehemmm... Benar aku kuat, tapi kau memang benar-benar berat." Mulai melangkahkan kakinya.


"Ayah Excel, jalannya yang cepat."


"Jalan kata mu? Ini aku sedang berlari."


"Berlari? Ini mas seperti siput yang sedang merangkak."


"Ckckck... Pintar menghina ya anak ini."


"Hahaha... Cepat ayah."


"Iya... Iya..." Excel mempercepat langkahnya, sedikit berlari masuk.


Jennie tersenyum haru melihat mereka berdua masuk ke dalam rumah itu, sembari tertawa bersama. Dan berharap, semoga saja? Excel dan Nara bisa terus seperti itu.


Dengan penuh harapan pada Excel yang akan bisa menjadi ayah yang baik untuk putrinya.


'kak Andi, semoga kau pun di sana bahagia.' batin Jennie, yang lantas melangkah masuk ke dalam rumah besar itu.


💮💮💮💮💮 TAMAT....💮💮💮💮💮

__ADS_1


__ADS_2