
Waktu di mana pintu kamar hotel tersebut di tutup oleh Selly.
Dia pun kembali menghampiri Andi, langkahnya terhenti tidak jauh dari posisi Andi berdiri.
Selly menatap kearah punggung pria yang tengah terdiam menghadap dinding kaca di mana gedung-gedung tinggi dan lampu-lampu jalan terlihat.
Ia pun tersenyum mendekati Andi. Memasukan kedua tangannya ke sela-sela tangan Andi memeluknya dari belakang.
"Lepaskan aku!" Ucapnya datar.
"Tidak mau, aku betah memeluk mu."
Andi menghela nafas. "Kau pasti sengaja kan? Sudah pasti kau tahu, kalau Jennie bekerja di sini. Lalu sengaja mengundang ku kemari. Menyiram pakaian ku agar aku bisa melepaskannya. Setelah itu bilang padanya kalau kau calon istri ku, apa kau puas sekarang?" tanya Andi.
Selly terkekeh, "Sayang, kau ini kenapa sih? Selalu saja berfikiran buruk tentang ku. Kau tahu aku mencintaimu kan?"
Andi menyunggingkan senyum seringai di bibirnya.
lantas melepaskan kasar tangan itu. Lalu memegangi bahu Selly dan mendorongnya hingga membuat tubuh Selly membentur ke sebuah dinding kaca.
Selly terkesiap. Ia sedikit merasa takut dengan mahluk buas di hadapannya.
Andi sedikit mencondongkan tubuhnya. "Jangan pura-pura tidak tahu, kalau hanya ada satu wanita di hati ku!"
Andi melepaskan cengkraman nya, berjalan menuju ranjang dan meraih jubah mandi yang di bawa Jennie tadi lalu menggunakannya.
"Kau yang sudah membuangnya kan? Apa kau masih menganggap itu adalah cinta??" Seru Selly.
Andi hanya diam saja. Tangannya masih berkutat pada tali jubah mandi itu.
"Cih!! Sejak SMA, kak Andi mendekati ku, Apa semua itu hanya untuk membuat Jennie panas?"
"Tidak usah membahas masa lalu, aku sudah bilang pada mu. Aku mendekati mu bukan atas dasar aku memiliki perasaan cinta pada mu."
"Tapi kau bilang, kau akan menikahi ku kan?" tanya Selly.
Andi terkekeh. "Bodoh! Memang aku pernah apa menganggap mu sebagai kekasih?" Andi melangkahkan kakinya.
Secepat itu pula Selly menahan Andy.
"Kau bisa lihat diri ku ini kak Andi?aku sampai rela memberikan semuanya jika kau menginginkan ku untuk memenuhi hasrat mu, kurang apa diri ku?"
"Menyedihkan, aku tidak pernah meminta itu. Bagiku, wanita yang bisa melepas dahaga ku hanya Jennie. Camkan itu!" Andi melepaskan tangan Selly. Ia pun melanjutkan langkahnya mendekati pintu kamar.
"APA AKU HARUS PUNYA ANAK DARI MU SEPERTI JENNIE?? BARU KAU BISA MENCINTAI KU??" seru Selly.
__ADS_1
Andi menoleh sejenak. "Jangan memaksakan, karena aku pun tidak mau mempunyai anak dari mu, wanita murahan!" Braaaaaakkk Andi membanting pintu itu sesaat setelah dia keluar dari kamar tersebut.
Selly meremas kepalanya, lantas mengerang dan menangis sekeras mungkin.
Teramat kesal ia dengan pria itu. Pria yang sudah membuatnya segila ini mencintainya. Bahkan sampai rela menanggali harga diri demi mendapatkan cinta dari Andi.
Yang semenjak anak dari Jennie itu terlahir ia seperti berubah menjadi pria yang tidak mau di dekati oleh wanita lagi.
***
Di rumah Jennie...
Motor Jennie baru saja tiba, hanya butuh waktu kurang lebih dua puluh menit untuk mereka tiba di rumah kontraknya dari rumah sang Ayah.
"Naahhh sudah sampai, sini bunda lepas pengait helmnya." Jennie melepaskan pengait tersebut beserta helmnya juga.
Nara tersenyum, ia pun menutup mulutnya karena menguap.
"Yeeee si cantik sudah mengantuk ya?" tanya Jennie sembari terkekeh. Nara pun mengangguk sembari mengangkat kedua tangannya.
"Bunda, gendong." Pintanya.
Jennie pun membopong tubuh Nara. "Astaga, anak bunda sudah seberat ini." ucap Jennie sembari tersenyum.
"Oh ya?"
"Eeemmm."
"Tapi kok bunda lihat? Lebih cantikan Nara dari pada bunda ya?" Nara terkekeh, begitu pula dengan Jennie.
"Masuk yuk." Ajak Jennie Nara pun mengangguk.
Mereka berdua kini sudah berada di kamar, setelah membasuh muka, tangan dan kakinya.
Tidak lupa Jennie mengajarkan sang putri untuk menggosok gigi sebelum tidur.
Barulah keduanya bisa beristirahat.
Di bawah cahaya lampu, Nara bercerita banyak hal tentang apa yang ia lakukan di sekolah.
Entah saat dia mendapat bintang karena sudah mengerjakan tugas dengan baik dari gurunya.
Atau mungkin bermain dengan teman-temannya.
"Bunda? Bunda tahu tidak? Semua Teman-teman ku, saat pagi hari di antar papahnya loh."
__ADS_1
Jennie tersenyum, "tapi Nara juga kalau pagi kadang di antar kakek kan?"
"Iya sih, tapi tadi sofi jahat,"
"Jahat kenapa?"
"Kata sofi begini? 'Nara tidak punya ayah ya? Kok tidak pernah di antar ayah?' Nara jawab saja, Nara punya ayah kok, yang tampan dan gagah. Dan saat mereka bertanya nama ayah Nara, Nara tidak bisa menjawab, Nara jadi di tertawakan oleh sofi dan teman-temannya." Nara bercerita sembari bersungut-sungut.
Membuat Jennie sedikit merasa sedih, ia mengecup kening sang anak.
"Bunda, Nara ingin tahu nama Ayah Nara, kasih tahu dong bunda."
Degg, Jennie membisu. Ia mengulum bibirnya sendiri.
"Bunda? Kok diam?"
Jennie tersenyum. "Bobok yuk, bunda sudah mengantuk." Jennie memeluk tubuh Nara.
"Tuh kan bunda selalu seperti itu. Memang salah jika Nara ingin tahu nama ayah Nara?" Nara sedikit jengkel.
Mata Jennie sudah mulai berkaca-kaca. "Sayang, belum waktunya Nara tahu, nanti jika sudah saatnya Bunda pasti akan kasih tahu kok."
"Benar ya bunda?"
Jennie mengangguk pelan.
"Janji jari kelingking?" Nara mengangkat jari kelingkingnya.
Mata Jennie semakin basah, 'ya Tuhan, aku tidak ingin membuat anak ku sedih, namun aku juga tidak ingin Nara tahu, bahwa ayahnya adalah seorang pria bejat.'
"Ayo lakukan janji jari kelingking bunda." Pinta Nara sekali lagi.
Jennie tersenyum ia pun mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking milik Nara. Nara pun tersenyum.
"Sudah sekarang bobok ya." Pinta Jennie. Nara pun mengangguk.
Ia sempatkan untuk mengecup pipi bundanya.
"Selamat malam bunda."
Jennie tersenyum, dengan air mata yang menetes. "Iya sayang selamat malam." balas Jennie serak.
'Maafkan bunda Nara. Mungkin bunda hanya bisa berjanji dan berjanji saja. Bunda tidak tahu apakah bunda bisa menepati janji bunda pada mu. Saat ini Bunda hanya berharap kau bisa melupakannya, cukuplah untuk hidup berdua bersama bunda sayang. Karena hanya kau penyemangat hidup bunda saat ini.' Jennie mengecup kening Nara.
Hingga mata yang basah itu mulai terpejam dan tertidur.
__ADS_1