
Setiap harinya Andi hanya merasa tidak ada orang baik di sekitarnya.
Ia menjadi pria bringas yang rela menghajar siapapun.
Hingga akhirnya ia bertemu dengan seorang pria kaya raya yang sepertinya bukan pria biasa.
Pria itu takjub melihat kemampuan Andi yang bisa mengalahkan para kelompok preman yang mengepungnya hanya dengan tangan kosong.
Ia menawarkan kerja sama pada Andi untuk menjadi kurirnya.
Awalnya Andi ragu karena menjadi kurir Narkoba itu sangat beresiko, namun tidak ada pilihan lain selain mengiyakan. Karena mau bagaimana pun juga ia membutuhkan uang untuk bertahan hidup.
Hari-hari Andi berjalan normal, pria itu sangat licin. mengirim setiap barang pesanan bosnya tanpa tercium pihak kepolisian.
Bahkan dengan kemampuannya Andi bisa mengirim hingga satu kilogram sabu dan daun ganja.
Itu sebabnya Andi semakin di sukai bosnya.
Hingga pundi-pundi uang pun sanggup ia kantongi.
Dan mampu membuatnya menjadi pria berduit dan tinggal di sebuah hunian yang layak. Tanpa sepengetahuan ayahnya.
Di suatu sore, Andi mendatangi rumah Jennie. Ia mengamati dari jauh, sang putri kecilnya tengah bermain dengan Jennie.
"Kau benar-benar ibu yang baik untuknya. Kau bisa menjaga anak ku hingga tumbuh menjadi gadis yang cantik." gumam Andi. Pria itu tersenyum ia pun melanjutkan laju motornya dan pergi meninggalkan kawasan tempat tinggal Jennie.
Itu adalah saat terakhir Andi mengunjungi Jennie dan anaknya dari jarak jauh.
Setelahnya Andi pun pergi jauh ke Negara tetangga guna kabur dari kejaran para polisi yang mulai mencium keberadaannya.
Hingga hari di mana ia kembali ke negara ini, dan mengiyakan ajakan Selly untuk menemuinya di Hotel A. Saat itu lah Andi bertemu lagi dengan Jennie, secara tidak di duga-duga hatinya yang telah ia bunuh dari dulu seolah kembali hidup, ada perasaan senang saat melihat Jennie dalam keadaan baik-baik saja, namun bukan seperti itu pertemuan yang ia harapkan, dimana situasinya kala itu akan membuat Jennie semakin membencinya.
Andi sempat tertegun kala menyadari wanita itu masih cantik seperti dulu, hingga membuat rasa rindunya kembali mencuat.
Secara diam-diam ia kembali mengikuti setiap kegiatan Jennie dan Nara lagi.
Seolah tidak ada kerjaan lain untuk Andi, ia malah justru betah menjadi stalker dua malaikat yang ia cintai itu.
(Flasback is off)
***
Di suatu sore, Nara tengah asik bermain bersama teman-temannya di sebuah taman komplek yang tak jauh dari tempat tinggal neneknya.
Gadis itu bermain bola kasti di sana, berlarian ke sana kemari bersama para anak-anak lainnya.
Tak jauh dari tempat Nara bermain, mobil Andi berhenti.
__ADS_1
Seperti biasa Andi hanya akan melihat Nara dari jauh, dan sesekali terkekeh kala Nara terjatuh.
"Hebat anak ku. Kau jatuh? namun tidak menangis." Andi tersenyum. Pandangannya masih tertuju pada anaknya yang tengah tertawa riang, sangat ingin rasanya Andi menghampirinya, namun ia harus menahan itu semua.
Hingga suatu ketika bola tenis itu terlempar dan sedikit membentur bagian samping mobil Andi.
Andi sedikit terkejut terlebih saat Nara berlari mendekat ke arahnya.
"Nara berlari ke arah ku?" gumam Andi. "Apa ini saatnya aku menemuinya?"
Anak itu sekarang sudah berada di dekat mobilnya, dengan posisi berjongkok Nara berniat meraih bolanya namun terlalu jauh masuk ke kolong mobil Andi.
Andi menghela nafas, lalu membuka pintu mobilnya. Sesaat Nara terperanjat. Ia tidak tahu jika di dalam mobil itu ada orangnya.
"O... Om? Maaf... Maaf ya om, Nara hanya ingin mengambil bola." tuturnya sedikit takut, karena tubuh Andi yang tinggi, besar, kekar, berotot, dan memiliki kumis tipis di atas bibirnya.
'Om ini seram sekali, Jangan-jangan dia penculik anak.' batin Nara gemetaran.
Andi tersenyum tangannya hendak menyentuh kepala Nara namun gadis itu beringsut memundurkan langkahnya.
"Kok mundur?" tanya Andi.
"Om... Jangan culik Nara ya, maaf bolanya tadi kena mobil om, Nara tidak sengaja." gadis itu semakin ketakutan, bahkan sudut matanya sudah mulai basah, hendak menangis.
Andi terkekeh. Ia lantas berjongkok. "Kok bisa sih, kamu ngira om akan menculik mu? Om tidak jahat kok. Tadi siapa nama mu? Nara ya?" Andi pura-pura tidak tahu. Gadis itu mengangguk pelan.
"Okay, om ambilkan ya." Andi pun mencondongkan tubuhnya dengan satu tangannya terulur kedalam kolong mobil, meraih bola tersebut, sedikit sulit namun akhirnya kena.
Bola itu kini sudah berada di tangan Andi.
"Lihat bolanya sudah om dapatkan."
Nara sedikit tersenyum, karena Om yang ada di hadapannya juga turut tersenyum.
"Mau bolanya kembali?" tanya Andi. Nara mengangguk.
"Ada syaratnya." Ucap Andi.
"Apa om?"
"Emmm gampang kok, om pengen jadi temannya Nara."
"Teman? Tapi om kan sudah besar."
"Memang kenapa? Om senang loh kalo Nara mau jadi teman om."
"Tapi?" Nara ragu-ragu.
__ADS_1
"Nara, om itu tidak jahat. Sungguh." Andi mengulurkan sedikit satu tangannya menengadah ke atas.
Nara hanya diam saja masih menatapnya bingung.
"Ayo coba sentuh tangan om." Pinta Andi. Nara menggeleng.
"Tidak mau?" tanya Andi, Nara menggeleng lagi.
"Kenapa?"
"Takut."
"Takut apa? Kan tadi om bilang, om tidak jahat. Coba dong, sebentar saja." Pinta Andi.
Sedikit ragu, Nara menyentuh telapak tangan Pria dewasa di hadapannya. Hati Andi sedikit terenyuh kala tangan kecil benar-benar menempel pada telapak tangannya, walaupun tidak lama.
"Pegang sini juga, mau?" Andi menyentuh bagian pipinya. Nara menggeleng.
Andi kembali tersenyum. Matanya sudah mulai basah. Ia benar-benar ingin memeluk Nara saat itu juga.
Namun tidak bisa ia lakukan. Karena hal itu hanya akan membuat gadis kecilnya ketakutan.
"Ya sudah tidak apa-apa. Tapi boleh ya, om jadi teman Nara?" tanya Andi.
Sebenarnya gadis itu ingin menolaknya, sesuai keinginan bundanya. agar Nara tidak sembarangan untuk dekat dengan orang asing.
tapi dari pada bola itu tak kunjung di berikan oleh pria di hadapannya Nara pun akhirnya mengangguk.
"Wahhh mau?" tanya Andi senang.
Nara hanya menjawab dengan anggukan kepalanya lagi.
Andi tersenyum haru. Ia menyentuh kepala Nara dan mengusapnya senang.
"Bo...bola Nara, om." pinta Nara.
"Oh iya... Ini." Andi menyerahkannya.
"Terimakasih Om, maaf Nara harus pergi. Daah." Nara berlari kecil menjauh dari pria yang menurutnya mengerikan itu.
Andi melambaikan tangannya,
Dengan bibir masih tersungging senang. Ia pun mengusap matanya, mendesah ringan. "Anak ku." gumamnya, Andi lantas beranjak dan memutuskan untuk pergi dari tempat itu, sebelum semakin merasakan sesak di dadanya.
Ini adalah kali pertamanya berbicara dengan Nara, yang sudah pasti akan semakin memacu rasa ingin lebih dekat lagi dengannya.
Awalan yang baik bagi Andi. Sedikit harapan ia bisa dekat dengan Nara, putri kecilnya, walau harus bermain di belakang Jennie. setidaknya ia bisa dekat dan sedikit mampu membuat Nara merasakan kasih sayang ayahnya. Meskipun Nara tidak tahu jika pria yang ia sebut om itu adalah ayah kandungnya sendiri.
__ADS_1