
Setengah berlari Jennie mengikuti langkah bos Aneh yang mengatakan akan menghukumnya.
Kini Tuan Excel sudah menekan tombol Lift dan masuk.
Sedikit terdiam saat pintu lift itu masih terbuka.
Jennie bingung, sebenarnya pria ini mau membawanya kemana?
"Cepat masuk! Kau ingin aku menahan pintu lift ini semakin lama ya?"
Jennie bergegas masuk saat mendapat perintah dari putra sang pemilik gedung hotel ini. Dan berdiri di belakang pria gondrong tersebut.
Hening sih, namun itu tak bertahan lama, Tuan Excel sudah berdeham sembari membenahi dasinya.
"Lihat bayangan ku di depan lift itu?" tanya Excel menunjuk ke arah bayangannya sendiri di pintu Lift.
Jennie mengangguk. "Iya Tuan."
"Kau, tahu? Banyak sebagian dari para wanita yang mengenal ku, dan mereka ingin sekali memiliki tubuh itu untuk di jadikan pasangan." Excel masih menunjuk ke arah bayangannya sendiri.
Jennie menutup mulutnya ia ingin menertawakan bosnya itu, namun tidak berani.
Ia hanya mengulum bibirnya berusaha menormalkan. 'Aku, tidak bertanya Tuan.'
"Tubuh yang sempurna, ketampanan yang ter hakiki. Sungguh! Kau harusnya bersyukur karena bisa berada satu lift dengan ku." tutur Excel dengan tingkat kepedean yang sudah overdosis.
'Astaga, aku benar-benar ingin menertawakannya. Ada ya orang seperti dia? Narsis tak ketulungan.' Jennie sedikit memalingkan wajahnya. Tidak tahan.
Excel memutar badannya. Menatap Jennie yang sudah bersikap Normal. "Sangat sulit loh mendapatkan aku." ucapnya tiba-tiba. Jennie pun hanya tersenyum,
karena tidak tahu lagi mau melakukan apa selain menyunggingkan senyum.
Excel tertegun. 'Astaga! Aku bisa diabetes. Manis... Manis sekali!!!' Excel kembali memutar badannya cepat menghadap ke depan.
Tiiiing... Pintu Lift terbuka beliau pun kembali melangkahkan kakinya ke luar. Dan melanjutkan perjalanan menuju pintu sebuah tangga darurat.
Jennie masih saja mengikutinya. Tanpa tahu apa yang akan Tuan Excel lakukan.
Excel pun membuka pintu atap gedung. Dan keluar.
Di sana dia berdiri sembari merentangkan tangan.
Rambutnya yang panjang sedikit berkibar tersibak angin.
Matanya pun terpejam menikmati terpaan angin yang masih saja menghujam tubuhnya.
"Hei kau? Siapa tadi nama mu? Jejen?" Masih pada posisi sama. Mata terpejam, kedua tangan di rentang kan.
"Jennie, Tuan."
"Ya, Jennie atau Jejen sama saja."
'Terserah Anda lah, Tuan.' Jennie garuk-garuk.
__ADS_1
"Coba deh, lakukan hal seperti ini. Sangat nyaman."
"Hehe, terimakasih Tuan. Aku sudah cukup menikmati angin ini kok."
'Tidak mungkin aku melakukan itu Tuan Excel. Yang ada-ada saja bos satu ini.' batin Jennie.
Cukup lama ia melakukan itu. Bahkan Jennie saja merasa tindakannya itu adalah suatu kebodohan yang membuatnya geleng-geleng kepala.
'Sebenarnya hukuman ku apa sih? Apa cuma untuk melihatnya bertingkah aneh seperti ini ya?' runtuk nya. Namun ia masih tetap berdiri di belakang Excel, menunggu bos bodoh itu berhenti melakukan kegiatan konyolnya.
Sudah cukup puas Excel menikmati itu. Ia pun mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya. Lalu memutar badan sedikit.
"Tangkap ini." Ia melemparkannya pada Jennie,
yang secepat itu menangkapnya hingga sedikit gelagapan.
Jennie menerima sebuah buku jenis Komik.
Matanya membulat saat membaca tulisan paman Gober.
"Ini?"
"Komik favorit ku." ucapnya.
Jennie bingung. Lalu kenapa dia memberikan komik itu padanya?
"Ikut aku." Excel kembali melangkah. Berjalan hingga ke ujung atap tersebut, ia memanjatnya lalu duduk di sana.
"Bacakan." Titahnya.
"Kenapa diam? Ayo bacakan."
"Tunggu, Tuan. Tadi Anda bilang ingin menghukum saya."
"Ini kau sedang menjalankan hukuman mu."
"Membaca komik?" tanya Jennie.
"Memang kenapa? Itu komik kesayangan ku. Dari dulu aku tidak pernah bosan membaca itu. Sekarang aku ingin kau membacakan ulang dan aku akan mendengarkan."
"Pa... Paman Gober?? Anda suka komik dari Disney ini? Kenapa harus paman Gober?"
"Haaaahhh, kau ini ya? Aku menyuruh mu membaca bukan bertanya!" Excel menuding kening Jennie.
Tertunduk. "Ma... Maaf Tuan."
"Ku maafkan! Sekarang baca komik itu sampai tamat, cepat!" titahnya. Jennie pun mengangguk.
Sedikit menyandar Jennie pada pagar pembatas itu. Dimana jarak Excel duduk hanya sekitar setengah meter.
Dengan pelan Jennie mulai membuka dan membaca komik tersebut.
Kisah kehidupan sang bebek terkaya McDuck.
__ADS_1
Yang masih satu seri dengan komik Donal duck.
Excel menikmati, suara Jennie yang sangat halus itu. Masih terus keluar mengikuti alur cerita, berbicara layaknya pendongeng profesional.
Bahkan tanpa terbata-bata.
'Wanita ini? keibuan sekali. Membaca komik benar-benar seperti tengah Mendongeng kan seorang anak. Aku bahkan jadi sedikit mengantuk, saking menikmati dongeng nya.' batin Excel, ia sedikit tersenyum. Namun pandangan masih menatap lurus ke depan.
Cukup lama Jennie membaca hingga buku itu habis.
Dan bisa bernafas lega, akhirnya hukumannya berakhir.
"Tuan, saya sudah selesai." Jennie mengembalikan buku tersebut pada Excel.
Dengan tangannya, Excel mendorong pelan. Menjauhkan buku itu darinya.
Dia beranjak lalu melompat turun dari sana. Dan berdiri di hadapan Jennie.
"Simpan. Dan bawa buku itu setiap hari. Karena sewaktu-waktu aku akan meminta mu untuk membacakannya lagi." Excel membenahi Jasnya. Ia pun kembali menoleh.
"Paham tidak? Kenapa diam saja?"
"Iya Tuan, paham."
"Bagus, sekarang kembali bekerja." titah Excel. Ia pun kembali melangkahkan lakinya menjauh dari Jennie.
Jennie mendesah heran. "Orang itu waras kan?" Jennie geleng-geleng kepala. Dia lantas memasukkan buku komik tersebut ke dalam tasnya. Lalu bergegas turun.
Ia sudah telat satu jam lebih akibat membaca komik tersebut.
Dan di sela-sela langkahnya, Jennie hanya berharap tidak akan lagi berurusan dengan bos Aneh seperti Excel, lalu bisa kembali bekerja dengan aman dan tentram.
****
Excel senyum-senyum sendiri di dalam lift, niat hati ia hanya ingin langsung pulang.
Namun saat pintu lift tersebut terbuka. Ia sudah berhadapan dengan sang mamih yang tengah berkacak tangan.
Mata Excel seketika membulat, terlihat dari gerakan tangannya yang langsung menekan tombol tutup pintu Lift. menandakan dirinya hendak kabur namun di tahan dengan kaki ibu Miranda sehingga pintu itu kembali terbuka.
Lalu di tariklah kerah jas Excel keluar, dan mendorongnya.
Tidak hanya itu tendangan demi tendangan ia dapatkan di kakinya dari sang ibu.
Tentu saja hal itu membuat Excel mengerang merasakan kesakitan.
"Dari mana saja kau? Baru saja aku memuji mu waras. Kau sudah kumat lagi? APA SETAN DALAM DIRI MU ITU SUDAH SELESAI LIBURAN??" pekik Ibu Miranda.
Excel mengusap-usap telinganya yang tiba-tiba berdengung akibat teriakan sang ibu. "Mih.aku itu baru saja menyelesaikan urusan masa depan ku tadi."
"Urusan masa depan apanya hah?" Bu Miranda memukul kepala bagian belakang Excel.
"Sudah tidak usah banyak mengatakan hal yang tidak-tidak! Sekarang keruangan mamih. Dan kita bicarakan tentang tugas mu di sini, sebelum mamih benar-benar menguliti mu Excel!!"
__ADS_1
Ibu Miranda pun melenggang pergi.
Sedangkan Excel menghela nafas. "Astaga, kalau bukan masalah Jejen aku tidak mau masuk ke kandang induk singa ini. Ck ck ck." Excel pun kembali melanjutkan langkahnya. Menyusul sang mami sebelum kembali berkoar.