Ayah Untuk Putri Ku

Ayah Untuk Putri Ku
cinta yang sudah kau lebur.


__ADS_3

Sementara itu di dalam rumah.


Jennie hanya berdiri di depan pintu kamar Nara, menunggu Andi keluar dari kamar itu.


Setelahnya pria itu berdiri di sebelah Jennie menyandar ke kerangka pintu kamar tersebut.


"Sudah malam, saatnya kau pulang." ucap Jennie pada pria di sebelahnya.


"Tidak mau." jawab Andi santai, masih terus memandangi Jennie, sedangkan wanita itu sama sekali tidak menoleh ke arahnya.


"Kau jangan aneh-aneh ya kak. Ku bilang pulang sana. Perjanjiannya tidak seperti ini kan tadi?"


"Rambut mu sangat indah, masih sama seperti dulu." Mengalihkan, Andi pun melepaskan ikat rambut Jennie, sehingga membuat Jennie menoleh cepat.


"Apa yang kau lakukan sih? Sudah pulang saja sana." Ketus.


Pria itu terkekeh, "Aku sudah bilang aku tidak mau." Melipat kedua tangannya di depan dada.


"Kau ini maunya apa sih?"


"Menikahi mu. Itu saja."


"Jangan gila ya kak Andi. Ku bilang pergi sana." Titah Jennie. Namun Andi masih tidak mau bergerak.


Jennie mulai kesal, "iiiissshhh, kau ingin kita di gerebek atau bagaimana sih?"


"Biarkan saja, enak lah malah langsung di nikahi malam ini juga kan?" Menaik turun kan alisnya sembari tersenyum.


"Isssssshhh, kau ini." Menghentakkan kakinya.


"Jennie? Tatap lah aku sini."


"Aku tidak mau. Sudah sih sana pulang kak. Aku tidak mau kau terlalu lama di sini. Orang akan menganggap ku semakin buruk."


"Aku kan calon suami mu."


"Jangan mulai lagi ya, aku bilang aku tidak mau."


"Aku akan menunggu sampai kau mau."


Menoleh ke arah Andi. Pria itu langsung tersenyum lebar. "Nah gitu dong, lihat ke arah ku." Andi meraih rambut Jennie lalu memainkannya.


'dia masih sama ya, senang sekali memainkan rambut ku. Menyebalkan.' Jennie beringsut menghindari wajah Andi yang semakin dekat dengan pipinya.


"Kau masih menganggap ku murahan ya?" Tanya Jennie.


"Tidak."


"Kalau begitu sana pergi."


"Tidak mau."


"Kak Andi kau ini ya."

__ADS_1


"Terima dulu diri ku ini menjadi kekasih mu lagi, dan kita menikah. Baru aku pulang."


Membulatkan bola matanya. "Sinting."


"Apa? Kau mengatai apa tadi?" Nada Andi sedikit Tinggi sehingga membuat Jennie terperanjat.


Ia pun reflek menggeser tubuhnya selangkah. Namun tangannya langsung di tarik Andi hingga membuatnya terjatuh ke bagian dada Andi.


"Siapa yang menyuruh mu menjauh?" Tanya Andi.


"Aku... Aku masih takut pada mu. Jadi tolong pergi lah."


Andi pun kembali tersenyum.


"Aku merindukan mu." Bisik nya di dekat telinga Jennie, Jennie pun segera mendorong tubuh itu karena menurutnya terlalu dekat. Namun Andi malah justru melingkari kedua tangannya di pinggang Jennie.


"Apa yang kau lakukan, lepaskan aku." Sedikit meronta.


"Apa kau tak merindukan ku?"


"Tidak." Jawab Jennie ketus.


Andi pun merubah posisinya menjadi Jennie yang kini menyandar di sana.


"Kau yakin?" Andi mendekatkan wajahnya.


"Kak.... kak Andi tolong, lepaskan mmmp." Sebuah kecupan lembut mendarat di bibirnya, tepat saat Excel sudah berdiri di depan pintu rumah Jennie.


Tangan Jennie berusaha mendorongnya, namun Andi masih enggan melepaskannya.


Excel memutar tubuhnya, tidak ingin terlalu lama melihat hal yang menyesakkan di depannya. Karena mungkin saat ini hatinya lebih hancur ketimbang PSPnya dulu.


'mereka?' Excel mengepalkan tangan. Ia pun melenggang pergi.


Di depan pagar itu. Ia kembali menoleh kebelakang. "Apa aku akan kalah lagi darinya?" Gumam Excel. Ia menyentuh dadanya yang terasa semakin tersayat, "sakit." Gumamnya kemudian, lalu memutuskan untuk kembali menuju mobilnya.


Di sisi lain Andi telah melepaskan kecupannya dengan perlahan. Matanya masih tertuju pada bibir manis Jennie.


"Sudah puas kan?" Ucap Jennie sembari menitikkan air matanya. "Sudah puas kau menikmati bibir dari gadis bodoh dan murahan seperti ku." Sambung Jennie.


Andi pun melepaskan pelukannya. "Aku tidak menganggap mu demikian." Ucap Andi.


Jennie pun mengangkat kepalanya.


"Aku memang rendah sekali ya," terkekeh sinis. "sangatlah rendah. Sehingga dengan mudah kau melakukannya lagi, setelah ini apa? Tubuh ku? Kau mau merasakannya lagi?" Tanya Jennie sembari menatapnya bengis.


"Jen, bukan seperti itu, aku?"


"Ayo lakukan, dan habisi aku lagi. Lalu tinggalkan diri ku seperti dulu."


"Jennie, aku tidak akan lagi melakukan itu dengan mu, sebelum kita benar-benar ada ikatan pernikahan. Sungguh, aku mencium mu karena aku benar-benar merindukan mu."


"Aku ingin kau keluar kak Andi." Titahnya.

__ADS_1


Andi pun menyentuh kedua bahu Jennie. "Bisakah kau melihat keseriusan ku? Aku sama sekali tidak melihat mu dengan nafsu saat ini sayang. Sungguh."


Jennie melirik dengan sinis. "Sayangnya aku masih tidak bisa melihat itu."


Andi menitikkan air matanya. "Kau sudah menyentuh dada ku kan Jennie? Aku benar-benar berdebar, bahkan saat mencium mu tadi aku merasakan getaran itu, aku mencintaimu Jennie. Aku mencintaimu."


"Keluar kak Andi."


"Jen?"


"Apa harus aku mengusir mu lebih dari ini? Aku tidak suka... Aku tidak suka apa yang kau lakukan tadi pada ku." Menangis.


"Baiklah aku minta maaf. Aku hanya tidak bisa menahan kerinduan ku Jen. Sungguh, tolong percayalah."


Jennie menggeleng. "Keluar." Titah Jennie. "Karena aku sudah tidak ada perasaan apapun padamu."


Deg. Andi membulatkan bola matanya.


"Perasaan ku sudah mati kak. Bahkan bertemu dengan mu lagi saat ini, sebenarnya aku tidak mau."


"Jennie, apa ciuman tadi tidak membuat mu bergetar sedikit pun?"


Jennie menggeleng. "Tidak ada. Aku tidak merasakan apapun lagi, selain merasa diri ku ini tengah kau lecehkan."


"A...apa?"


"ku harap jawaban ku saat ini cukup untuk mu kak Andi. Jadi pergilah."


Tangan Andi merenggang. Ia melepaskan tubuh Jennie, wanita itu bahkan tidak menatapnya sama sekali.


Ia menyentuh wajah Jennie, "lihat aku Jennie. Tolong lihat diri ku. Kau pasti masih mencintai ku, 'kan?"


Jennie menatapnya dengan terpaksa "Tidak." Jawabnya singkat.


"Katakan sekali lagi. KAU MASIH MENCINTAI KU KAN JENNIE?"


Tersenyum sinis. "Aku tidak ada rasa apapun lagi pada mu, selain kebencian karena kau telah menghancurkan segalanya kak Andi." jawab Jennie.


"Dan kebahagiaan apa yang kau janjikan? Aku yakin kau tidak akan bisa menyembuhkan luka hati itu. Karena apa? hati ku tidak hanya kau rusak, tidak hanya kau hancurkan, namun kau sudah meleburnya di perapian yang sangat panas, hingga sudah tidak berbentuk apapun saat ini selain abunya."


Andi menggeleng. Ia pun meremas kepalanya dengan kasar. Berjalan beberapa langkah lalu berkacak pinggang.


"Jangan bilang kau ada rasa padanya?" Ucap Andi.


Jennie pun tidak mengerti maksudnya, padanya? Siapa? Namun dia memilih hanya diam saja.


Andi menoleh. "Aku tidak ingin kalah darinya." Ucap Andi. Lalu berjalan kembali mendekati Jennie, mengusap lembut kedua pipinya yang basah.


"Kau itu wanita ku. Hanya kau yang ada di hati ku Jennie. Hanya kau. Itu yang perlu kau camkan." Setelahnya Andi pun melenggang pergi dari sana.


Setelah memastikan Andi telah pergi, Jennie pun segera menutup pintu rumahnya. Dan menyandar di balik pintu itu, memegangi dadanya,


"aku pun merindukannya. Aku juga merasakan dia mencium ku dengan cinta bukan nafsu seperti dulu. Namun dada ini sudah terlalu sakit untuk kembali menerimanya. Aku tidak mau lagi kecewa karena itu kak Andi. Aku tidak mau lagi." Terisak kembali.

__ADS_1


__ADS_2