Ayah Untuk Putri Ku

Ayah Untuk Putri Ku
malaikat penolong


__ADS_3

Pukul sepuluh malam, mobil Andi sudah berhenti di dekat rumah Jennie.


Biasanya ia akan datang di pagi hari, namun entah mengapa malam ini ia merindukan Jennie dan Nara.


Ia ingin melihat mereka berdua tanpa menunggu hari esok.


Sudah lebih dari satu Minggu lamanya dia terus datang, menunggu dan mengamati kegiatan Jennie dan juga Nara, setiap harinya. Walaupun secara diam-diam.


Andi memeluk setirnya matanya masih tertuju pada halaman rumah Jennie yang tertata rapi dan bersih.


Jennie memang rajin, dan suka kebersihan. Itu sebabnya, walau hanya kontrakan sederhana. Namun tetap terlihat elegan.


Dengan sentuhan bunga-bunga dan tanaman hias yang berada di sekitar halaman rumahnya.


Andi menghela nafas, ada perasaan kecewa karena malam ini Jennie tak keluar rumah.


Wajar lah, sudah pukul sepuluh malam Jennie dan Nara mungkin sudah tidur.


Andi memutuskan untuk menyalakan mesin mobilnya berniat pergi dari sana. Namun seketika urung karena matanya menangkap seorang pria yang sedikit mabuk memasuki halaman rumah Jennie.


Tok tok tok...


Pria itu mengetuk pintu rumah Jennie, Andi pun kembali mematikan mesin mobilnya.


"Mau apa pria itu?" gumamnya. Yang masih terus mengamati pria mencurigakan di sana.


Di sisi lain Jennie yang sudah terlelap sedikit terkejut, saat mendengar ketukan pintu di luar.


Ia beranjak duduk, lalu sedikit menyibak selimutnya saat ketukan itu masih terus terdengar.


Sedikit ragu Jennie untuk keluar. Karena waktu yang sudah lumayan larut membuatnya takut untuk keluar.


Lagi pula tamu siapa? Yang datang malam-malam begini, walaupun orang tua Jennie, dia pasti akan berseru memanggil namanya.


Tok... tok... tok... Suara ketukan itu semakin kencang.


Jennie pun beranjak melangkahkan kaki keluar.


Secara berindik ia melangkah menuju pintu utama.


Tok tok tok.... "Mbak Jennieโ€”" suara pria berseru memanggil namanya. Jennie pun semakin takut.


"Seorang pria? Astaga."


"Mbak Jennie buka pintunya...!" Braaaaaaakkk braaaaakkk braaaaakkk. Suara ketukan pintu itu semakin kasar terdengar.


"Hei!!!! CEPAT BUKA PINTUNYA BANGS*T!!!!"


kaki Jennie gemetaran. "Bagaimana ini, sepertinya dia salah satu preman yang suka nongkrong di depan gang." gumamnya.


"Mbak Jennie, ayo buka pintunya, aku ingin menemani mbak Jennie malam ini hahaha." Terdengar suara tawa yang mengerikan khas seorang pria yang tengah mabuk.

__ADS_1


"Ya Tuhan, bagaimana ini."


"Jika kau tidak mau membuka pintunya? Maka aku akan mendobrak pintu ini. BUKA!!!"


Jennie semakin ketakutan. Ia ingin berteriak namun mulutnya seolah tidak bisa mengeluarkan suaranya.


Jika di TV mungkin akan mudah para pemain itu berteriak dalam situasi seperti ini. Lain halnya jika tengah berada di dalam dunia nyata.


Mungkin ia akan lebih memilih rumahnya untuk di masuki hantu menimbang orang asing.


Atau tidak dua-duanya.


"Ku hitung sampai tiga mbak Jennie, jika kau tidak keluar membukakan pintu aku akan mendobrak nya."


Jennie semakin kalang kabut terlebih saat pria itu sudah mulai berhitung.


"Satu...! Dua...! Ti?" Buaaaaaaackkkk.


"Aaaarrggghhhh..." Jennie mendengar teriakan dari luar, dan suara orang tengah di pukuli Baaak buuuuukkk baaaakkk.


Sedikit takut namun juga penasaran. Ia pun memberanikan diri mendekati jendela rumahnya menyibak Gorden.


Seorang pria bertopi dengan masker menutupi mulutnya tengah menghajar pria kurus yang sudah terlihat lemas. Menendangnya, dan kini mencengkram baju bagian belakangnya lalu menariknya maju hingga tersungkur. Pria kurus itu pun lari tunggang langgang pergi menjauh dari tempat itu.


Jennie masih menatap punggung pria kekar yang masih berdiri membelakangi. Pria itu menyentuh tengkuk lehernya lalu menggerakkan kepalanya ke kiri lalu ke kanan.


Jennie tidak tahu kalau pria itu adalah Andi.


Terpaku cukup lama Andi dengan posisinya.


Sedangkan Jennie masih menatap bingung, seperti ada keinginan dia untuk keluar namun ragu.


Lebih ke takut sih. Kakinya bahkan masih sedikit gemetaran.


Mata Andi sedikit menggenang. Ia pun kembali memutar tubuhnya membelakangi Jennie.


jika masker itu di buka, terlihat Andi tengah tersenyum senang. Ia bisa melihat wajah itu walau terhalang kaca jendela dengan jarak tiga meter dari posisinya berdiri.


Menghela nafas sejenak, lalu mulai melangkahkan kakinya.


Claaaaaakkkk, "tunggu Tuanโ€”". Seru Jennie yang membuka pintu rumahnya. Andi menghentikan langkahnya. Namun tetap membelakangi Jennie.


"Terimakasih banyak." ucap Jennie.


Andi menyentuh dadanya. Getaran di hatinya masih ada.


Bahkan tercampur dengan sesak dan kerinduan yang teramat.


'suara yang ku rindukan, masih halus seperti dulu.' batin Andi.


"Terimakasih banyak karena Anda telah mengusir nya. Saya jadi merasa tertolong karena itu." ucap Jennie terdengar sangat tulus.

__ADS_1


Andi tertunduk lalu kembali mengangkat kepalanya menggerakkan bola matanya agar tidak semakin banyak genangan di sudut matanya.


masih pada posisinya ia pun mengangkat satu tangannya membentuk lingkaran dari ibu jari dan jari telunjuknya.


Yang mengartikan 'okay' lalu kembali melangkahkan kakinya pergi dari halaman rumah Jennie.


'pria itu siapa ya? Dari punggungnya aku seperti mengenalnya.' Jennie bergumam dalam hati, mengamati pria yang semakin melangkah menjauh darinya.


Jennie tersenyum, merasa lega. Seolah-olah seperti kedatangan seorang malaikat pelindung yang menolongnya dari suatu bahaya.


Jennie kembali menutup pintu rumahnya. Dan menguncinya dari dalam.


Andi terus melangkah lunglai, dan masuk kedalam mobilnya.


Perlahan dilepaskannya masker yang menutupi mulutnya, juga topi di kepalanya.


Ia memeluk setir mobil di hadapannya. "Jennie ku, aku merindukan mu. Sangat merindukan mu."


"Aaaaarrrrrggggghhhh....!" Andi mengerang lalu membentur-benturkan keningnya ke setir tersebut.


sungguh sangat merasakan sesak, ingin sekali rasanya menghampirinya tadi, lalu memeluk tubuh wanita yang sangat ia rindukan itu. namun ia tidak mampu melakukannya. "Aku sudah membuangnya... Bahkan menginjaknya. Aku...? Aaaarrrrrrrggghhhhh...!!!" Andi terisak di dalam mobilnya.


"Bodoh!!! Kau mencintai nya Andi! Tapi kau membuangnya...! Kau sudah membuangnya." Suaranya semakin serak. Ia kembali membenturkan keningnya. "Aku masih mencintaimu Jennie." gumamnya lirih dengan suaranya yang parau itu.


Malam itu ia benar-benar menyesal tengah merusak dan bahkan meninggalkannya.


Jika waktu dapat ia putar, mungkin setidaknya hidupnya akan merasa jauh lebih tenang, jika ia memutuskan untuk bertanggung jawab. Walaupun ayahnya akan membunuhnya setelah saat itu juga.


Itu jauh lebih baik, dari pada hidup bebas namun di kejar rasa bersalah, yang mungkin akan ia bawa seumur hidupnya.


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


Hai... Author lagi sedikit kurang semangat deh nulis ini. Kenapa ya? Lapak ku sepi, percaya sih penulisan ku memang belum rapih huhu...


Atau mungkin dari judul kurang pas kah? Atau memang cerita yang kurang greget?


Kadang ingin rasanya berhenti, itu yang membuat ku kadang cuma up satu bab, atau mungkin tidak up.. tapi kalau ingat masih ada pembaca yang setia aku sayang kalau nggak lanjutin.๐Ÿฅบ๐Ÿฅบ๐Ÿฅบ


Buat yang sering komentar, terimakasih ya sudah Sudi menyuntikkan semangat untuk ku.


Ini masih konflik awal ya, belum puncak. Belum masuk konflik intinya malah, nanti akan ada masa dimana Jennie akan bingung memilih di antara keduanya hehehe ku kasih bocoran itu.


Kira-kira hati Jennie akan berlabuh pada siapa ya? Akankah Excel yang akan menjadi ayah sambung Nara, atau Jennie akan kembali pada Andi sang ayah biologis dari Nara?


Intinya Aku pastikan insyaallah akan membangun konflik semenarik mungkin.


Supaya kalian tidak bosan membacanya sampai End.


Okay Satu bab dulu ya untuk hari ini.๐Ÿค—๐Ÿค—๐Ÿค— terimakasih.


aku belum bisa crazy up. nunggu pembaca rame dulu๐Ÿ˜

__ADS_1


__ADS_2