
"Sayangnya bunda sudah wangi. Sudah makan belum?" tanya Jennie.
Putri kecilnya hanya mengangguk kecil entah benar atau tidak yang pasti Jennie hanya membalas itu dengan kekehan. Menggendongnya cepat lalu berjalan menghampiri sang ayah.
Jennie menurunkan Nara, ia beralih pada tangan sang ayah, meraihnya lalu mengecup punggung tangannya.
Mata sepuh itu masih saja berkaca-kaca setiap kali melihat Jennie. Dan langsung saja ia peluk tubuh itu dengan penuh kasih sayang. "Bahagia terus ya nak, jadi lah ibu yang bisa menjaga putri mu. Jangan lah gagal seperti ayah." gumamnya.
Jennie tersenyum. Dia membalas pelukan sang ayah dengan hangat. "Maafkan Jennie ayah. Sebenarnya disini bukanlah ayah yang gagal, hanya Jennie saja yang tidak bisa menjaga harta Jennie sebagai seorang wanita."
"Sssst jangan bahas itu. Ayah hanya ingin meminta mu menjaga cucu ayah ini. Bukan berarti harus menilik lagi ke belakang." tuturnya. Jennie pun mengangguk.
"Akan Jennie usahakan ayah." jawabnya. Pak Ridwan menepuk-nepuk bahu Jennie, lalu melepaskan pelukannya.
"Sama Kakek yuk,kita main lagi di dalam." ajak pak Ridwan pada Nara, yang masih betah memegangi rok Bundanya.
"Sepertinya mau sama Jennie dulu yah, lagi pula ayah lelah, 'kan? Sebaiknya ayah istirahat dulu."
Pak Ridwan berjongkok. Ia mengecup kedua pipi cucunya. Lalu kembali beranjak dan berjalan masuk menuju rumahnya.
Sedangkan Jennie masih betah berada di teras rumah bersama sang putri kecil. Nara menunjukkan boneka Barbie baru yang masih terkemas rapih. Sudah pasti boneka yang di pegang nya adalah pemberian dari kakeknya, Itu pikir Jennie.
ia pun mengecup pipi Nara dan mencoba membuka kotak berisi boneka baru itu.
"Waaahh cantik sekali ya. Mirip Nara tidak?" tanya Jennie pada Nara sembari menciumi pipinya. Nara pun hanya mengangguk senang.
Di sisi lain sebuah motor dari kejauhan mengamati mereka berdua terlihat senyum tipis dari sang pengendara motor tersebut. Ia pun kembali menyalakan mesin motornya dan pergi dari sana.
***
__ADS_1
Saat jam makan malam semua berkumpul, Jennie membantu ibunya menyiapkan hidangan di atas meja. Sang kakek masih saja bermain sembari tertawa dengan Nara.
Sangat hiburan yang menyenangkan bagi kakeknya itu semenjak Nara terlahir di dunia ini.
"Yuk, sudah dulu mainnya ya.. Kita makan dulu." ajak ibu Sukma yang langsung menggendong Nara. Membawanya ke meja makan.
"Nah cucu nenek mau nenek atau Bunda yang suapi?" Tanya ibu sukma.
"Bunaa." jawabnya polos sembari menunjuk ke arah Jennie. Mereka pun terkekeh.
"Sini bunda suapi ya." Jennie duduk di sebelah Nara. Ia menyuapi putrinya lebih dulu.
Di sela-sela makan malamnya. Ia pun membuka percakapan hanya percakapan basa basi saja.
"Emmm Jen? Kamu sudah dengar kabar dari pak Iskandar Luthfi?" tanya Ayahnya.
Jennie menggeleng. "Belum yah, memang kenapa?"
"Astaghfirullahalazim." jawab Bu Sukma. Sedangkan Jennie hanya diam saja.
"Dan sekarang kasus itu masih di tangani oleh pihak KPK." tuturnya.
"Turut Prihatin." Gumam bu Sukma.
"Memang sih, apalagi banyak aset yang di tarik. Belum lagi dengan dendanya."
'Kasian kak Andi.' Gumam Jennie dalam hati.
Jennie pun tersenyum, tatapannya mengarah kepada sang putri. "Nara sudah selesai, sini bunda bersihkan habis itu kita main di kamar ya." tutur Jennie.
__ADS_1
"Ayah, ibu kita ke kamar dulu ya." ucap Jennie sesaat setelah membersihkan wajah dan tangan Nara. Ia pun beranjak sembari menggendong Nara.
Ibu Sukma menatap kearah pak Ridwan. "Sebaiknya kita jangan bahas semua yang berkaitan dengan Andi dan keluarganya pak. Soalnya Jennie seperti masih sangat sensitif akan itu." tutur Bu Sukma. Pak Ridwan pun mengangguk.
***
Hari ini bu Sukma sedang tidak ada si rumah, ia tengah menghadiri acara arisan ibu-ibu yang berada di komplek tempat mereka tinggal.
Cklaaaaak greeeddd Jennie dan Nara terkesiap mendengar suara pagar besi yang sudah sedikit berkarat itu. Ia melihat ibu Sukma masuk dengan raut wajah sedih. Jennie beranjak.
"Bu? Ibu kenapa?" tanya Jennie.
"Tidak apa-apa Jennie, ibu masuk dulu ya." tuturnya. Beliau buru-buru masuk kedalam rumahnya. Meninggalkan Jennie yang masih menatapnya bingung.
"Nenek Kenapa ya? Masuk yuk sayang." ajak Jennie yang langsung menggendong anaknya.
Dia berjalan masuk mencari sang ibu yang sudah tak nampak di ruangan tamu, mungkin saja ibu sudah ada di kamarnya? Jennie terus melangkah Menuju kamar ibunya.
Kaki itu baru saja menginjakkan kaki di depan pintu belum sempat mengetuk. Namun ia sudah menghentikan langkahnya kala mendengar suara tangis ibunya. yang tengah duduk di atas ranjang dengan posisi membelakangi pintu.
"Hiks, memang apa salahnya memiliki putri yang sudah memiliki anak di luar pernikahan? Putri ku tetap sopan kok. Putri ku tetap anak yang baik." gumamnya sangat lirih namun masih bisa di dengar oleh Jennie yang turut bersedih, pasalnya tidak hanya satu dua kali ia melihat ibu ataupun ayahnya di cemooh tetangga, menjadi bahan gunjingan tetangga, jika hanya dirinya yang mendengar itu mungkin sudah tidak lagi membuatnya terluka, namun jika nama orang tuanya sudah di bawa-bawa dan di cap sebagai orang tua yang gagal? Hal itu lah yang membuat Jennie tidak bisa bertahan lagi di rumah ini.
Jennie mengecup pipi putrinya. Dan memutuskan kembali menjauh dari tempat tersebut.
Lalu masuk ke dalam kamarnya sendiri.
Jennie meletakkan Nara di atas ranjang mereka. Melamun sejenak di sana.
'Benar. memang tidak baik jika aku terlalu lama di sini. Ayah dan ibu, pasti akan terus mendapatkan cemoohan dari tetangga dan rekan mereka. Haruskah aku dan Nara mengontrak rumah sendiri?' batin Jennie ia menoleh ke arah Nara. Putrinya itu masih sibuk bermain dengan bonekanya. Jennie tersenyum, mungkin itu adalah keputusan terbaik. Ia harus mandiri mencari tempat tinggal sendiri.
__ADS_1
Berdua... Bersama Nara.